
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() |
![]() Liew Seng Tat (kanan) bersama Edwin Liew Seng Tat: Liew Seng Tat jelas punya selera humor yang tidak biasa. Dia menangkap kelucuan seorang gadis kecil yang ogah-ogahan dalam sebuah parade taman kanak-kanak di dokumenter pendeknya, Matahari. Hal yang mungkin terabaikan dari pandangan kita ditengah kerumunan anak-anak. Di tengah kebosanan menunggu syuting film karya seorang rekannya, Seng Tat iseng bikin cerita tentang pria dengan 4 tangan dan 4 kaki di Man In Love. Film-film pendeknya memang tidak lantas bikin kita terbahak-bahak tapi pasti bikin kita tertawa geli dan geleng-geleng kepala sambil bergumam: “ada-ada saja...”. Sutradara yang lahir pada 20 September 1979 ini memang terlihat lucu dan menyenangkan sekaligus bisa sangat serius. Tidak heran jika film panjangnya yang pertama, Flower In The Pocket juga lucu, menggemaskan sekaligus sangat serius menyoroti kehidupan sosial di Malaysia. Film ini sudah ditunggu sejak lama setidaknya oleh para programmer festival di Asia dan Eropa. Tahun 2007, Seng Tat ‘menjajakan’ film ini dalam rangka mencari dana sehingga Flower otomatis masuk dalam radar banyak festival. Film ini ternyata memang tidak mengecewakan, sehingga para pemberi dana pun tidak ragu-ragu lagi membantu sutradara lulusan Multimedia University Cyberjaya, Silicon Valley Malaysia ini. Selain itu, Seng Tat jelas punya misi dan visi serius untuk berkiprah di dunia film, khususnya, dunia film di Malaysia. Walaupun mengaku nyaris tidak bisa membagi waktu lagi antara kegiatan membuat film dan pekerjaan tetapnya sebagai animator, Seng Tat tetap bertahan. Alasannya: “Kalau saya berhenti dari pekerjaan tetap saya dan hanya fokus membuat film, saya tidak akan punya sumber inspirasi lagi untuk menulis skenario. Saya tidak bisa hanya duduk merenung dan menulis. Saya harus bertemu banyak orang untuk bisa membuat film,”. Berikut adalah percakapan RumahFilm.org dengan Seng Tat di Rotterdam Film Festival 2008: RF: Ada adegan yang sangat subversif menurut saya di Flower yaitu saat Li Ah lagi e’e kemudian meminta buku pelajaran bahasa Melayunya disobek saja untuk jadi ‘toilet paper’. ST (Seng Tat): hooo, subversif itu kata yang terlalu menyeramkan…, kamu seperti badan sensor saja. Saya tidak dengan sengaja mencoba mengkritisi siapa-siapa dengan film ini. Adegan itu adalah spontanitas dalam sebuah situasi yang mengharuskan mereka bertindak sesuai yang memang seharusnya mereka lakukan. RF : Tidak ada masalah dengan adegan itu di Malaysia? ST : Hmmm…, ya saya harus memotong kata ‘Melayu’nya jadi hanya ‘bahasa’. RF : Kamu ingin ‘protes’ terhadap ‘jarak’ yang sengaja dibuat dalam masyarakat Malaysia soal ras dengan cara yang lebih halus yaitu dengan memilih karakter-karakter utama yang innocent: anak-anak plus seekor anjing kecil. ST : Hahaha…kamu menonton film saya terlalu serius. Jangan berpikir macam-macamlah. Tapi terima kasih sudah menonton film saya dari sudut seperti itu. Saya memang suka sekali dengan anak-anak. Saya suka bermain dengan mereka dan selalu terpesona dengan cara pandang mereka yang ‘lugu’ terhadap hidup. RF : Bukankah ‘jarak’ antar ras itu yang kamu garis bawahi dalam Flower? ST: OK, saya akan lebih serius sekarang. Flower memang tentang jarak antar ras di Malaysia. Ini menyakitkan bagi saya sebagai orang Malaysia. Masalahnya selalu sama, karena kami berbeda budaya, beda warna kulit, beda bahasa dan blah blah blah! Walaupun kami hidup di negeri yang sama, di bawah langit yang sama. Karena itu, dalam film ini, saya ingin mendekatkan jarak itu kalau tidak mungkin ditiadakan. RF : Semacam gambaran ideal soal hidup rukun dalam perbedaan? ST : Yup, Flower memang gambaran ideal yang ada di kepala saya tentang kehidupan multiras. Tidak mudah memang. Bahkan saat menulis skenarionya pun saya menemui masalah untuk mendekatkan jarak itu tapi sekaligus juga menceritakan fakta sosial yang terjadi. RF: Masalah seperti apa? pemilihan karakter? Representasi dua keluarga? ST: Saya ingin menceritakan bahwa jarak itu ada dengan membuat Ayu datang dari keluarga Melayu. Dalam draft awal, Ayu seharusnya adalah anak lelaki juga yang kemudian berteman dengan dua anak lelaki Cina ini. Tapi di tengah jalan, saya pikir anak lelaki tidak pernah menemui masalah dalam bergaul, mereka bisa saja bertemu dan langsung akrab. Jadilah kemudian saya menggantinya jadi karakter anak perempuan, dengan adanya perbedaan gender ini tentu akan menambah arti dari persahabatan mereka dan banyak elemen yang bisa saya mainkan ketika menggabungkan mereka. Mungkin benar juga kamu bilang, bukan saja saya suka bermain dengan anak-anak, tapi di alam bawah sadar, saya memilih karakter-karakter anak-anak agar film ini tidak terlalu terbebani dengan pikiran orang dewasa yang cenderung rumit. Dengan anak-anak, semua masalah terlihat sederhana. RF : Karena hanya anak-anak yang tidak punya masalah dengan perbedaan? ST : Hubungan antara anak-anak ini adalah apa yang ada di kepala saya tentang kehidupan multikultur di sebuah negeri. Begitulah yang saya bayangkan. Daripada sibuk membicarakan berbagai perbedaan agama, ras, warna kulit, yang selama ini jadi jarak, mengapa tidak membicarakan alternatif untuk menjembatani perbedaan itu? Sebagai Muslim, Ayu tidak boleh menyentuh anjing, tapi apakah karena tidak bisa menyentuh anjing itu lantas tertutup sudah kemungkinan untuk berkomunikasi? Saya ingin mereka mencari jalan, jangan hanya karena Ayu tidak bisa menyentuh anjing, lantas ia hanya berdiri dikejauhan dan tidak mau mendekat. Jika ia hanya berdiri dikejauhan, tidak akan tercipta komunikasi. Saya tidak ingin seperti itu. Saya ingin, mereka berusaha. RF : Flower ini kan bayangan kamu tentang masyarakat yang ideal. Bagaimana dengan kehidupan nyata? ST : Kenyataannya, mereka tidak akan pernah berada dekat seekor anjing. Saya punya anjing, biasanya, mereka tidak akan bicara dengan saya, apalagi ingin berteman. RF: Di Flower, perbedaan ini juga terlihat dari stereotipe hunian, rumah susun untuk orang Cina dan rumah kampung untuk orang Malay. ST: Soal hunian, sebetulnya sekarang perbedaan itu tidak terlalu jelas lagi, semua orang berbaur di KL. Tapi secara tradisional, selama pendudukan Inggris, hunian di Malaysia memang dibedakan berdasarkan ras. Orang Cina selalu ditengah kota, orang Malay di kampung dan orang India di kota tua, selain itu lapangankerja juga dibedakan. Perbedaan ini memang sudah ada dan ditegaskan sejak jaman penjajahan. Sekarang di Kuala Lumpur, semua berbaur walaupun sisa-sisa pembagian wilayah hunian itu masih ada jejaknya sampai sekarang. Pilihan hunian untuk Flower mungkin memang berakar di kepala saya sejak kecil, orang Malay ya dirumah kampung dan orang cina ya dirumah susun. Dan tidak susah untuk menemukan rumah kampung di Malaysia. RF : Ada beberapa symbol yang cukup menonjol di film ini. Dewi Kwan Im dan Manekin, yang menurut saya sangat kontras kalau tidak bisa dibilang kontra. Kwan Im adalah dewi yang agung sementara manekin adalah simbol perempuan binal yang bisa ditelanjangi kapan saja. Tapi di Flower keduanya berfungsi sebagai pengganti figur yang hilang. Apakah dua simbol perempuan ini kamu pilih karena percaya bahwa perempuan lebih bisa mendekatkan jarak, lebih bijak? ST: Dalam keluarga China, jika mereka penganut Tao, ada banyak dewa yang biasanya ditempatkan di atas altar di bagian rumah yang dianggap suci. Waktu saya kecil, saya selalu takut dengan dewa-dewa itu kecuali satu, Dewi Kwan Im. Yang lain menyeramkan, ada yang dengan pedang, ada yang bermuka bengis, dll. Dewi Kwan Im tentu saja paling menonjol dibandingkan dewa yang lain. Kwan Im ini cantik, anggun, suci, mengenakan gaun putih dan bagi saya, adalah simbol ibu. Dan saya memang selalu percaya bahwa seorang ibu selalu jadi figur penengah, figur bijaksana yang selalu memperlakukan anak-anaknya tanpa membeda-bedakan. Kwan Im juga adalah simbol ideal khususnya bagi saya. Manekin juga sama. Saya ingin karakter bapak dari anak-anak ini adalah seorang penyendiri yang selalu mengisolasi diri sendiri, tapi disaat yang sama saya tidak ingin dia kesepian. Jadi bagaimana pun, dia suka atau tidak, bagaimanapun usahanya untuk menjaga jarak dengan orang-orang disekitar khususnya perempuan, dia tidak bisa lari dari sosok itu. Dia berjarak tapi sekaligus juga tidak berjarak. Dia selalu takut berhubungan dengan perempuan, tapi dia selalu dikelilingi ‘perempuan’, memoles kakinya, mengelus wajahnya dan menyentuh tubuh perempuan. Manekin adalah satu-satunya objek di mana kita bisa melihat bentuk perempuan tanpa prasangka cabul. Kalau difilm memperlihatkan perempuan telanjang, pasti dikira cabul, tapi manekin beda. Seksi tapi tidak terlihat cabul. (Seng Tat menjelaskan ini dengan wajah yang serius). RF: Di antara banyak ‘jarak’ entah itu fisik maupun simbolis, kamu juga mendekatkan jarak ini dengan membuat banyak ‘jembatan’. Salah satunya adalah komunikasi dengan selimut, yang menurut saya sangat menyentuh. Anak-Bapak yang nyaris tidak pernah berkomunikasi lewat kata, dan memilih berkomunikasi dalam bentuk lain. Ini gambaran ideal kamu juga rupanya. ST : Dalam skenario saya memang tidak banyak dialog. Tapi seperti yang saya bilang, jika kamu tidak berkomunikasi dengan kata-kata, carilah cara lain. Berkomunikasi tidak harus selalu dengan kata-kata. Saya percaya ekpresi manusia tidak hanya bisa dilihat lewat wajahnya, tapi juga gerakan-gerakan kecil, bahasa tubuh, gerakan tangan adalah juga bentuk komunikasi. Ada banyak cara untuk menjembatani perbedaan. Saya juga percaya, bahwa komunikasi yang efektif tidak harus selalu dengan kata-kata. RF: Kok memilih James Lee sebagai bapak? ST: Dia pernah bermain film sebelumnya di Lips To Lips karya fitur pertama Amir Muhammad. Saya pikir dia bermain sangat jelek di film itu, dan James juga mengakui. Setiap orang yang nonton film itu bilang kalo James bermain buruk. Hahahaha. Jadi saya bilang sama dia, “James, karena reputasimu buruk, maka saya akan membuat reputasimu kembali, saya akan membuatmu terkenal lagi,”…hahaha, dia langsung setuju lah… Selain itu, sebetulnya saya menulis karakter bapak ini berdasarkan karakter James. Dalam kehidupan sehari-hari, kurang lebih, James Lee memang seperti itu. Jadi saya rasa dia tidak mengalami kesulitan apa-apa berperan sebagai bapak. RF: Bagaimana proses kolaborasi antar sesama anggota Da Huang? ST: Bisa dibilang, proses pembuatan Flower In The Pocket ini sangat terbantu dengan adanya teknologi internet. Waktu mulai masuk pra-produksi tahun 2007, saya masih sibuk mencari dana di sana-sini. Saya disini (Rotterdam) lalu ke Berlin, selain untuk cari dana juga untuk program talent campus dan kompetisi film pendek. Jadi secara fisik, saya tidak di Malaysia ketika proses itu berlangsung. Tan Chui Mui sebagai eksekutif produser juga sedang berada di Perancis untuk program beasiswanya. Semua proses itu kami komunikasikan via email. Asisten saya yang melakukan audisi, memotret ratusan anak, mengirimkan foto mereka berikut deskripsi via email. Saya bersyukur karena kami tim yang solid dan kuat dan sudah tahu apa yang menjadi tugas masing-masing. Jadi waktu saya kembali, sebagian proses itu sudah selesai, kemudian kami syuting 10 hari. Selebihnya, saya dan dibantu asisten yang menyelesaikan editing dan pasca produksi lainnya. RF: Saat itu kamu tidak lagi kesulitan dana dong? ST: Kesulitan sih tidak, kelebihan juga tidak. Cukuplah. Mui ikut membantu dalam hal dana. Tapi seberapapun dana yang kami miliki, kami pasti berusaha untuk mewujudkan film ini. Rasanya dana bukan masalah disini. RF: Ngomong-ngomong, berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat Flower? ST: Sekitar kurang lebih 30.000 ringgit (sekitar Rp. 85 juta). RF: Wah, murah ya. Kameranya sama dengan yang digunakan oleh Mui ya di Love Conquers All? Itu pilihan atau terpaksa? Kenapa nggak pake kamera kayak yang digunakan Yasmin Ahmad di film-filmnya? ST: Kalau dibilang pilihan juga tidak, terpaksa juga tidak. Untuk sementara peralatan yang kami miliki memang sebatas itu, dan kami sudah bersyukur. Tapi jangan dibandingkan dong dengan Yasmin. Yasmin kan bukan pembuat film independen. Kalau kami didukung oleh teman-teman, Yasmin didukung oleh studio. Bisa tersinggung Yasmin dibandingkan dengan kami yang masih belum apa-apa ini. Biaya filmnya mencapai 1 juta ringgit (sekitar Rp. 2,8 Milyar) dan film-film kami berkisar 30.000 ringgit dan paling mahal 70.000 ringgit. Sejauh itu perbedaannya. Bahwa Yasmin ingin membuat filmnya sendiri memang benar, tapi kalau membandingkan biaya, kami jauhlah di bawahnya. RF: Benar tidak sih rumor yang bilang bahwa karena pertemanan dan saling membantu kadang kalian menggunakan teman secara gratis? ST: Oh tidak..., tidak begitu. Walaupun teman, kami tetap profesional dan menghargai peran masing-masing. Enaknya, karena honor bisa ditawar, kita bisa saling kompromi dalam hal budget. Dengan begitu, kami bisa terus maju dan tidak kehilangan semangat. RF: Kalian tidak punya akses ke studio atau rumah produksi besar di Malaysia apakah karena memang kalian tidak mau, atau mereka yang belum tertarik? Kan film kalian sukses dimana-mana? ST: Film kita disukai orang tidak berarti bisa mendatangkan uang juga. Sementara studio hanya peduli dengan pendapatan. Jika kamu Tsai Ming Liang, mereka tidak akan menyewa kamu, walaupun Tsai Ming Liang itu sutradara terkenal, sutradara kelas dunia, tapi kalau filmnya seperti itu, studio mana mau? Apalagi dengan kami? RF: Dengan sukses di berbagai film festival, apakah sekarang kamu merasa ada dorongan membuat film sesuai yang diharapkan oleh sebuah festival? ST: Tidak sama sekali. Kami membuat film sesuai apa yang kami mau tanpa tekanan dari siapa-siapa. Dalam hal ini kami sangat bebas. RF: Bahkan setelah mendapatkan dana dari Prince Claus Funding? (Seng Tat memenangkan dana ini untuk film selanjutnya pada Festival Film Rotterdam 2008) ST: Hadiah dari mereka adalah uang untuk membuat film. Mereka tidak meminta apa-apa dari dana itu. Prince Claus ini bukan co-production. Mereka hanya memberi bantuan dana. RF: Apa sih rahasianya memenangkan dana itu? ST: Saya juga tidak tahu pasti. Kamu tahu tidak, proposal saya juga tidak sempurna, saya tidak punya skenario yang utuh, saya bahkan tidak punya treatment. Saya hanya punya sinopsis, satu halaman. Serius. Jadi mungkin juri tertarik dengan ceritanya. RF: Iya, saya dengar dari Garin karena memang ceritanya sangat jelas, proposalnya juga ringkas, padat dan efektif. ST: Pembuat film di Indonesia pasti bangga punya Garin Nugroho ya. Ada yang bisa dijadikan panutan. Kami tidak punya siapa-siapa yang bisa mengajari kami. Kami ini seperti bayi yang masih merangkak dan belajar cara berjalan tanpa ada yang memapah. Beruntunglah kalian punya orang yang bisa ditanyai. Sampai sekarang kami masih beruntung, dan semoga terus beruntung. RF: Amin. Bagaimana dengan proyek selanjutnya? ST: Saya janji, tidak akan ada anak-anak lagi di film saya selanjutnya. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |