“Audiens Bukan Ukuran Sukses”
Wawancara Krisnadi Yuliawan dangan Philip Cheah

Dua tahun berturut-turut Philip Cheah menjadi kurator di Jogjakarta Asian Film Festival (JAFF). Selain memilih film-film terbaik Asia untuk JAFF, Direktur Festival dari Singapore International Film Festival ini juga telah bertahun-tahun mengamati pertumbuhan generasi baru sineas Indonesia. Baginya, sinema Asia, termasuk Indonesia mengalami perkembangan yang luarbiasa sepuluh tahun belakangan ini.

Di Yogya, Krisnadi Yuliawan sempat berbincang dengan Phillip Cheah ditengah-tengah kesibukannya. Berikut petikan percakapan RumahFilm dengan Board Member of NETPAC (Network for the promotion of Asian Cinema) ini:

Dua tahun terakhir Anda menjadi kurator dari Yogya Netpac Asian Film Festival. Apa yang bisa Anda catat dari perkembangan film-film yang ambil bagian di festival ini?

Pertama-tama, mungkin harus saya katakan bahwa saat ini festival film internasional sudah menjadi hal yang biasa. Dimana-mana Anda bisa menemukan festival film internasional. Yang belum biasa adalah sebuah festival film khusus (film) Asia. Saat ini adalah fakta bahwa sinema Asia sangat asing dan aneh bagi mata sesama warga Asia. Maka saya kira tujuan dari JAFF adalah untuk membuka mata terhadap sinema Asia. Tahun lalu, kami membuka mata khusus untuk sinema dari Timur Tengah, kawasan yang film-filmnya tak cukup dilihat warga Asia lain. Tahun ini kami membuka mata mereka yang hadir terhadap sinema dari wilayah yang juga tak cukup kita kenal, meskipun sama-sama berasal dari kawasan Asia Tenggara. Yang saya maksud adalah sinema Vietnam, yang memiliki sejarah dan ragam sangat kaya. Saya berani bertaruh, hampir semua orang di kota ini belum pernah menyaksikan satupun film bermutu dari negeri itu.

Melihat audiens yang datang cukup banyak, apakah Anda merasa JAFF sukses?

Saya tak memakai audiens sebagai ukuran sukses. Sinema bisa sangat popular, tapi juga bisa sangat spesial. Saya percaya, sebagian sinema tetap tidak akan popular, tetapi hanya akan jadi terspesialisasi. Maka masukan tak hanya harus anda dengar dari khalayak, tetapi juga dari para kritikus yang paham. Kalau keduanya memberi apresiasi terhadap apa yang Anda lakukan, itu berarti setidaknya Anda telah melakukan sesuatu dengan benar.

Apa beda fokus Singapore international film festival dengan apa yang anda lakukan di Yogya Jaff?

The Singapore International Film Festival, sesuai namanya memiliki jati diri internasional sehingga disana ada aspek non-asian sinema yang tak saya lakukan di sini. Pekerjaan saya di SIFF boleh dibilang lebih luas. Juga, karena bekerja dengan karakteristik local dari Yogyakarta, saya bekerja sangat berbeda disini. Kota Yogyakarta ini punya karakter yang lebih muda, dan lebih berbasis kelompok (community based) maka kita perlu bekerja dengan manner yang lebih berorientasi grass-root. Di Singapore, apa yang saya lakukan lebih bersifat mendokumentasikan, seperti menyelenggarakan eksebisi, atau mencoba menggelar program restropeksi khusus, lalu mengkoleksi esai-esai yang menjelaskan restropeksi itu. Hal-hal semacam itu. Ini sangat berbeda dengan apa yang saya lakukan di sini.

Di sini Anda tak hanya mengkuratori film di kompetisi?

Saya melakukan hampir semua hal di sini. Pada program film pendek misalnya, saya memilih film-film pendek Singapura, Korea, juga Filipina. Tapi tidak film Indonesia. Karena buat saya, jika berada di sebuah negara, tuan rumah akan selalu lebih paham dengan sinema mereka sendiri, dan kata putus dalam memilih adalah hak mereka. Saya juga tak percaya orang asing bisa mengelola sebuah festival film bagi orang local di sebuah negeri, terlebih lagi di Indonesia. Saya percaya, di negeri ini tingkat bakat sumberdayanya sangat tinggi. Di sini, dengan mudah Anda bisa menemukan orang berbakat.

Saya yakin, berada di region yang sama, tentu Anda sejak lama sudah mengamati film-film Indonesia, komersial maupun independen. Apa yang anda lihat?

Saya mengikuti perfilman negeri ini sejak 1991, ketika Garin muncul. Saya juga melihat kemunculan “generasi baru” film Indonesia ketika Kuldesak lahir. Hingga kini, tingkat pertumbuhan film Indonesia sangat intens dan luar biasa. Pada tahun Kuldesak muncul, kita ingat sepanjang tahun itu hanya ada satu film panjang yang muncul. Sementara sekarang, pada 2007, saya kira film Indonesia bisa mencapai jumlah 45 feature film. Ini luar biasa. Dalam jangka waktu yang sangat pendek, jumlah film sudah berlipat. Hanya saya kira, karena era globalisasi saat ini, selalu ada ancaman. Mereka, para filmmaker ini begitu ingin sukses, sehingga mereka membuat semua (film) sama. Mereka percaya, untuk sukses mereka harus mengikuti formula tertentu, melakukan hal tertentu yang sama. Maka, peluang yang harus Anda pertahankan saat ini adalah dengan mempertahankan diversity dari sinema Anda, dan menolak dibajak oleh kepentingan komersial. Tapi maksud saya, sinema komersial memang akan selalu ada, tapi seharusnya sinema komersial itu bukanlah satu-satunya yang ada.

Meski produksi film Indonesia tak bisa diblang minim, tapi di festival-festival film Internasional sangat sedikit film Indonesia yang terpilih seleksi, apalagi yang memenangkan penghargaan.

Saya kira, keadaan seperti yang anda sebut itu telah sedikit berubah. Lihat saja Kala yang terpilih menjadi film penutup di Phucheon Film Festival tahun ini. Kala juga terpilih untuk diputar di international film festival di India. Film Ravi Bharwani juga diputar di banyak festival. Dan sekarang saya tengah menanti-nanti dimanakah film The Photograph-nya Nan akan mendapat tempat.

Tapi film Indonesia sangat jarang menjadi semacam tilikan khusus, tak seperti film Iran, atau beberapa tahun belakangan film Thailand, dan terakhir film Malaysia?

Sulit menjawab pertanyaan ini. Tapi, kalau bicara soal film festival di manapun di dunia, Anda jangan lupa bahwa ada sesuatu yang disebut the flavor of the month, or the flavor of the year. Lima tahun lalu, film-film Iranlah yang menarik perhatian siapapun, dan dua tahun belakangan film-film Malaysia. Jadi, kadang ini bukanlah sesuatu yang menunjukkan adanya masalah dalam sinema Indonesia, tapi ini masalah mereka yang melihat sinema tapi tak berfikir jangka panjang. Saya sendiri, saat ini memandang sangat positif sinema Indonesia, karena sebagai contoh documentary scene Indonesia sangat-sangat menarik. Ada banyak karya bagus di situ. Masalahnya cuma sebagian Asia tak menempel bagi bagian Asia yang lain. Dengan Netpac kita ingin terus meluaskan selera Asia untuk warga Asia.

Masalah sinema Indonesia, selain copycat, apakah mungkin karena belum bersedia berpindah memakai digital?

Kalau anda bersikap tidak realistic, dalam bisnis itu akan selalu menimbulkan masalah. Makin realistic anda akan bakat, akan cara dan alat produksi anda, makin baik bagi anda. Tapi, di Indonesia, pembuatan film secara digital telah masuk jauh ke sector documentary. Saya selalu mengikuti karier dari Lexi Rambadetta, aryo danusiri and Andi Bachtiar Yusuf. Dimata saya mereka cukup punya komitmen dan terus berkarya setelah bertahun-tahun.

Menurut Anda apakah ada kesamaan yang jelas pada sinema ASEAN?

Selalu ada kesamaan, meski juga selalu ada perbedaan. Lihat saja sinema Vietnam sebagai contoh. Ada karakteristik Asia Tenggara di situ. Sangat emosional, namun juga sederhana dan tulus, sebagaimana sinema Asia Tenggara lain. Tetapi pengaruh yang masuk ke sinema Vietnam sangat berbeda karena banyak filmmaker Vietnam yang dididik di Uni Soviet. Jadi gaya sinematografi mereka sangat dekat pada sinema rusia.

Bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah sinema Indonesia memiliki karakteristiknya yang khas? Sesuatu yang bisa dibilang Indonesia?

Ingatan saya tentang Kuldesak adalah bahwa para pembuatnya sangat terpengaruh gaya US Indie cinema. Mereka sangat terpengaruh oleh Tarantino misalnya. Saya kira para filmmaker Kuldesak sudah memantapkan gaya pribadi mereka. Lihat Riri Riza misalnya, ia punya gaya yang khas. Ia bisa melakukan beberapa hal berbeda dengan mudah. Ia membuat film digital Eliana, Eliana. Ia juga membuat bio-epik dengan Gie. Ia juga membuat road movie dengan Tiga Hari untuk Selamanya. Nan juga sudah membuktikan diri bisa menangani banyak hal berbeda. Di Wishpering Sand ia sangat mythic. Di Bendera ia bikin film anak-anak dengan political twist.

New talent is people like Joko Anwar. Saya suka Kala lebih dari Janji Joni. Tapi sayang, Kala gagal di sepertiga akhir. Ending Kala sangat buruk menurut saya karena ia kehilangan atensi pada detail pada akhir film. Di dua pertiga awal film, Joko sangat in control, dia build up suspens dengan baik, matanya sangat baik untuk detail. Namun, di mata saya dia seperti membuang semuanya di sepertiga akhir. Benar-benar sayang.

Anda melihat karya-karya Edwin?

Saya kira Edwin ditakdirkan untuk hal besar. Saya lihat filmnya, dan saya kira dia an amazing director. Saya tak sabar menunggu debut film panjangnya.

Bagaimana pentingnya festival film seperti ini?

Saya kira trend di masa depan adalah regionalism. Alih-alih international film festival, anda lebih membutuhkan festival film regional. Anda bisa lihat JAFF sangat berpengaruh di kawasan sekitar yogya, karena semua komunitas film tertarik pada apa yang berlangsung di sini. Karena jika sebelumnya anda harus pergi jauh ke pusat Indonesia, ke Jakarta untuk mencari tahu perkembangan terakhir, kini anda punya tempat yang sebenarnya jauh dari pusat, yang melakukan sesuatu yang penting yang bisa diakses mudah oleh masyarakat sekitar. Mereka bisa langsung melihat bakat-bakat terbaik negeri lain, bisa membangun kontak internasional tanpa harus pergi ke pusat.

Tetapi, Indonesia memang sangat miskin festival film

Apapun faktanya, sesuatu itu harus dimulai. Saya kira banyak kelompok, atau organisasi lain atau kota lain akan berfikir untuk menyelenggarakan festival film mereka sendiri. Indonesia membutuhkan lebih banyak festival film. Kebhineka-an negeri ini luar biasa, dan karenanya sangat kurang jika negeri ini cuma punya satu festival film di Ibukota. Ada banyak hal berlangsung di seluruh Indonesia, dan setiap kali, hampir semuanya begitu berbeda. Saya kira Anda bahkan perlu punya festival film di Irian.

Wawancara lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org