“Kami Cuma Bekerja dan Berbuat”
Wawancara Krisnadi Yuliawan dan Ekky Imanjaya dengan Ho Yuhang

Jadi, kalau harus diucapkan, apa sih estetika baru dari film-film anda sekarang? Apa bedanya dengan estetika anda yang lama?

Saya pikir film-film saya sekarang lebih langsung, lebih precise.

Apa itu berarti akan menjadi lebih komersial?

Tidak. Saya kira hanya akan menjadi lebih accessible. Saya tak akan pernah bilang bahwa film-film saya berikutnya akan mengandung semua elemen komersial, justru karena saya tahu benar bagaimana cara menjadi komersial. Saya bekerja pada industri iklan sebelumnya, saya tahu aturan mainnya.

Memenangi beberapa award, diundang ke berbagai festival film, apakah hal-hal itu mempengaruhi hidup anda?

Sama sekali tidak. Sungguh, saya nggak merasakan apapun. Terakhir menang, saya nggak merasakan apapun. Oke, menang itu menyenangkan, tapi buat saya itu tak berarti karya saya sudah luar biasa. Saya piker saya sangat self critical. Saya bukan orang yang self-satisfying. I push myself very hard.

Apakah anda merasa film-film Malaysia kini memang maju pesat?

Jika anda bicara mengenai film-film mainstream, film Malaysia tak banyak berbeda dibanding film-film Indonesia. Saya pikir Indonesia juga membuat film-film yang sejenis, hanya saja dalam hal kualitas produksi film-film Malaysia jelas lebih buruk. I think we just stupid, pembuat film Malaysia tak terlalu peduli pada kualitas produksi.

Tapi itu jika kita bicara soal film komersial Malaysia

Ya, untuk film-film komersial kami punya sutradara-sutradara yang sungguh buruk. Dibanding film Indonesia, sutradara film komersial Malaysia buruk. Sungguh. Lihat saja film Indonesia yang paling laku seperti Ada Apa dengan Cinta, production value-nya benar benar tinggi, disyut dengan sangat baik, dan punya scenario yang menyedot perhatian anak-anak muda. Its like wow! Dan semua orang pun suka. Bahkan di Malaysia film ini meraih uang banyak karena anak muda Malaysia pun suka. Suka para pemainnya, suka the looks of the film.

Tapi, untuk film non-komersial saat ini Malaysia jauh lebih dikenal di dunia internasional dibanding film Indonesia?

Tapi itu tak berarti film-film kami lantas meraih banyak penonton. Ini fakta. Saya tahu, Mas Garin Nugroho juga mengalami hal yang sama di sini. Perfilman kami sangat terbelah. Kami memang diundang ke berbagai film festival, tapi film festival itu hanya berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek. Screening di festival-festival itu juga terbatas. Banyak orang sengaja datang ke festival untuk menonton film kami karena di luar festival mereka tak mungkin melihatnya. Jadi, di festival anda akan memperoleh banyak penonton, dan itu bagus. Tapi ketika anda bicara soal distribusi komersial , itu soal lain.

Tapi, memenangi penghargaan jelas membantu..

Ya, meraih penghargaan membuat orang mengenal nama kita. Ini jelas bagus, karena membuat mereka ingin tahu. Tapi, sekali anda berhasil membuat publik igin tahu, selanjutnya anda harus memberi mereka sesuatu. Maka saya pikir kami tak boleh cepat puas. Saya benar-benar berupaya melecut diri untuk film saya yang akan datang, yang saya tahu akan menuju arah yang berbeda. Saya benar-benar ingin setiap film saya berbeda. Saya bukan orang yang sabar, jadi kalau saya tak suka sesuatu, saya akan segera berpindah melakukan hal lain.

Anda punya target personal, ingin membuat satu atau dua film setahun setidaknya?

Mungkin tidak. Tahun depan ada kemungkinan saya membuat dua film. Tapi, saya belum membuat satu filmpun dua tahun belakangan. Buat saya, bisa membuat satu film setahun sudah sangat bagus.

Di Yogya, anda berbicara dalam seminar membuat film digital “low budget high quality”. Aakah sekarang anda merasa lebih menyukai digital?

Saya tak punya masalah. Saya membuat film dengan dua medium itu, digital dan film. Sesekali saya memang sengaja menulis cerita yang sesuai dengan salah satu medium. Karena sesekali digital tak terlalu bagus untuk sinar matahari langsung karena kontrasnya terlalu tinggi. Tapi saya rasa semua bisa ditangani.

Dalam tulisannya, Garin Nugroho menyebut pilihan Anda dan kawan-kawan untuk membuat film digital di Malaysia adalah revolusi. Anda setuju?

Di satu sisi, saya pikir Garin benar, karena menggunakan digital memang serba convenient. Jika memilih digital, kadang hanya dengan bermodal software bajakan seseorang bisa mengedit film-fillmnya dengan sangat mudah. Jadi di satu sisi, digital itu sangat demokratis. Tapi, saya harap, hanya karena sangat murah, digital janganlah kita anggap sesuatu yang paling baik di bawah matahari. Para filmmaker harus berkonsentrasi pada karya. Karya akhirnya yang harus bagus, apapun mediumnya. Jadi jangan berpikir, karena digital murah, maka saya bisa membuat film. Karena sekali kita berpikir begitu, biaya murah dan kemudahan itu hanya akan jadi alas an. Kalau karya akhirnya tak baik, mereka akan bilang “Ya kan karena ini film murah, karena digital”. Jadi, buat saya, sama sekali bukan masalah kalau satu ketika seseorang merasa memang perlu membuat karya dengan seluloid yang mahal, karena ini juga sebuah keasyikan tersendiri. Bukankah ada banyak film-film bagus yang bagus yang memang berbiaya mahal. Dan saya juga suka beberapa film komersial berbiaya mahal itu. Buat saya, pertanyaan akhirnya adalah apakah sebuah karya itu bagus? Apakah karya iu membuat saya tersentuh? Kalau tidak, ya film itu bullshit. Tak peduli apakah film itu digarap dengan biaya jutaan dollar atau dibuat dengan sepuluh ribu dollar, if it is a shit, it's a shit.

Saya ingin komentar anda pada beberapa film di JAFF ini. Sempatkah Anda menonton banyak film?

Sayangnya tidak. Kalau sedang tak memberi seminar, saya sibuk berkunjung ke Borobudur, juga keliling Jogja.

Tapi, saya lihat baru saja anda ikut menonton Kala. Bagaimana film Indonesia yang satu ini menurut anda?

Menurut saya aktor-aktornya terlihat aneh, itu saja.

Aneh bagaimana maksud anda?

Akting mereka. Tapi, ini mungkin karena kastingnya yang juga sedikit aneh. Saya sudah lihat film Joko sebelumnya, Janji Joni, dan saya suka. Saya lebih suka Janji Joni daripada Kala. Tapi saya juga tahu, menulis film seperti Kala sangat sulit. Ia sebuah genre tersendiri. Buat saya, endingnya yang berakhir terlalu conveniently. Tapi sekali lagi, sangat sulit menulis jenis film noir seperti ini. Saya ini penggemar film noir dan saya tahu estetika film noir. Saya ini jatuh cinta pada film noir. Bahkan, saya juga punya satu cerita yang sangat noir. Kisahnya juga tentang korupsi. Ini Asia Tenggara, jadi mestilah korup dan kotor, hahaha. Film saya itu juga bakal penuh kekerasan. Tapi, bicara Kala, semua orang akan bisa lihat betapa tinggi production value-nya. Di Malaysia, kami tak punya film sejenis ini. Kita bisa lihat bahwa Joko benar-benar memperhatikan detil dan produksi. Saya tak tersentuh, tapi saya juga tak bilang ini film jelek. Masalah besar perfilman Malaysia adalah kualitas produksinya yang rendah. Jadi kalau kita menonton di bioskop, sudah membayar mahal, tapi yang mereka pertontonkan cuma sampah.

Tapi, dari sudut produksi, kebanyakan film komersial Indonesia juga tak sebagus Kala.

Saya tahu. Tapi, saya menemukan beberapa film komersial Indonesia yang sangat bagus kualitasnya. Saya ini fans film-filmnya Riri Riza. Buat saya pribadi, Eliana, Eliana itu great film. Dan lihatlah, Eliana bukanlah film yang mahal. Saya juga melihat banyak karya Mas Garin. Beberapa karyanya juga bukan karya yang mahal, tapi ekspresinya, juga apa yang hendak ia katakan adalah sesuatu yang tak dimiliki film-film Malaysia. Jadi ketika orang-orang di Indonesia menyebut-nyebut bahwa revolusi film digital Malaysia ini hebat, saya merasa sedikit malu, karena kalian membuat film-film yang jauh lebih bagus dari kami. Bahkan cerita seperti Kala, pada dasarnya berbicara soal politik dengan cara yang sangat menarik. Dan kalian bisa melakukan ini. Di negeri kami, hal-hal semacam itu sama sekali nggak punya tempat dalam film, karena berbahaya.

Seandainya punya kesempatan bekerja dengan filmmaker Indonesia, siapa yang anda pilih?

Saya akan sangat senang jika bisa bekerja sama dengan Riri. Karena saya bisa melihat sensibilitasnya dalam film-filmnya. Sepertinya kami bicara dengan vibrasi dan frekuensi yang sama. Saya sangat suka semua karya Mas Garin, tapi apa yang kami ingin lakukan sepertinya berbeda, karena ketertarikannya sedikit berbeda dengan saya. Dengan Riri, akan menjadi sangat menarik untuk melihat apa yang dia pikirkan.

Pertanyaan terakhir, menurut anda sepenting apa sih kritik film untuk sebuah gerakan film?

Saya piker mereka punya peran. Tetapi kebanyakan kritikus di Malaysia, mereka sekadar menulis seperti menulis press kit. Mereka sama sekali tak menulis kritik. Apa yang mereka tulis cuma sekadar “oh, film ini asyik”, atau “spesial efeknya benar-benar bagus”, seperti itulah. Saya muak dengan kritik semacam ini. It is really stupid. Hampir semua kritikus film di Malaysia menulis dengan gaya semacam itu. Dan itu sangat membosankan. Yang saya ingin adalah kritik yang membuat publik mengerti aspek tertentu dalam film, sesuatu yang belum dilihat, atau lalai diperhatikan orang lain.

1 | 2

Wawancara lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org