<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="../global.css"?>
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head> <title>Manu Rewal:“Saya Tidak Ingin Uang Mereka....”</title> </head>
<body>
        <p><font class="title">Wawancara Manu Rewal, sutradara independen India:<br />
		“Saya Tidak Ingin Uang Mereka....”<br />
  <small><font class="content1">oleh Asmayani Kusrini<br />
Redaktur RumahFilm.org, Brussel</font></small>
</font></p>

<p class="content">Apa yang paling
berkesan bagi kita, orang Indonesia, ketika berurusan dengan birokrasi? Apa
yang terbayang, ketika kita mengurus surat-surat, mengajukan permohonan izin,
dan segala hal yang harus melalui suatu instansi pemerintah. Hampir semua kita
sepakat, jawabannya: <i>RIBET </i>! Tapi, kenapa ya jarang sekali pembuat film
Indonesia yang menyorot tema ini? Bukankah ini tema yang sangat akrab?</p>



<p class="content">Dan rupanya,
tidak hanya di Indonesia kekisruhan birokrasi ini terjadi. Soal ini juga
membikin gerah sutradara independen India, Manu Rewal. Jadilah film Rewal, <i>Chai
Pani, etc.</i> (atau <i>Love, Bribes, Etc</i>) terasa seperti menengok
pengalaman sendiri ketika berurusan dengan birokrasi di Indonesia. </p>



<p class="content">Temanya tentang
India yang katanya sudah 60 tahun jadi negeri penganut sistem demokrasi. <i>Toh</i>,
seperti juga banyak negeri dengan sistem yang sama, termasuk Indonesia, India
tidak pernah benar-benar bersih dari ‘penyakit’ lama yang berakar: KKN alias
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Inilah yang harus dihadapi oleh  Satya, tokoh utama di <i>Chai Pani, etc.</i>.
</p>



<p class="content">Satya adalah
sutradara muda idealis yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Amerika.
Ia pulang dengan banyak mimpi membuat film dokumenter yang nantinya bisa
memperkenalkan India ke dunia International. Proyek pertamanya adalah membuat
dokumenter tentang kota kuno, Jaisalmer di Rajashtan, perbatasan India-Pakistan.</p>



<p class="content">Semangatnya yang
menggebu terbendung oleh para birokrat hipokrit yang selalu saja menghadang
langkahnya. Dari jajaran staf paling bawah hingga ke yang lebih tinggi.
Perjuangan Satya meloloskan idealisme inilah yang membuat banyak penonton
tertawa geli. Bagi penonton Barat, mereka tertawa karena lucu. Bagi penonton Asia,
kami tertawa karena deskripsi yang dituturkan oleh Rewal dalam film ini terasa
sangat akrab. </p>



<p class="content"><i>Chai Pani,
etc.</i> juga punya subplot
tentang kehidupan pribadi Satya. Bagi mereka yang asing dengan India, film ini
secara ringkas dan padat mencoba memotret generasi muda India yang juga makin
bergeser dari budaya ‘kolot’ ke budaya ‘campuran’ hasil godokan
globalisasi.  Hasilnya, <i>Chai Pani,
etc.</i> memang terasa kagok ketika mencoba menuturkan pergeseran ini. Manu
Rewal juga tidak mencoba menutup-nutupi kekagokan itu. </p>



<p class="content">Secara
keseluruhan, <i>Chai Pani, etc.</i> bukan film yang <i>neko-neko</i>, baik dari
segi tema, struktur cerita dan penyajian visual. Tentu saja, film ini tanpa
adegan kejar-kejaran di antara pohon-pohon. Atau menari borongan dan main <i>umpet-umpetan</i>.
Bahwa film ini mengalir dengan lancar juga karena pilihan Rewal yang tidak
ingin terlalu serius membicarakan tema yang serius ini. <i>Chai Pani, etc.</i>
lebih  terlihat seperti  ingin menertawai kegaguan diri sendiri. </p>



<p class="content"><i>Chai Pani,
etc.</i> adalah film
panjang  Manu Rewal yang pertama.
Sebelumnya, Rewal banyak membuat film dokumenter arsitektur. Film-film
dokumenternya –seperti <i>Mandu</i>, <i>Lutyens New Delhi</i>, <i>Le Corbusier
in India </i>–banyak menerima penghargaan dari festival-festival film
internasional. Film pendeknya, <i>Hollywood Ki Pukar</i>, diputar pertama kali
di Cannes 2002,  pada seksi Director’s
Fortnight. </p>



<p class="content">Sosok Rewal
seperti merepresentasikan filmnya yang santai dan ringan. Sutradara bertubuh
tambun berusia 40 tahun ini selalu terlihat dengan tas ransel bututnya, <i>jeans</i>
belel, dan sepatu kets. Rewal juga terlihat cepat akrab dengan lawan bicaranya.
Berikut, wawancara Rumahfilm dengan sutradara keturunan India-Prancis ini di
Pusat Kebudayaan Jacques Franck usai pemutaran filmnya di International
Independent Film Festival Brussel, pada tengah November 2007 lalu. <i>Chai
Pani, etc.</i> menerima Special Award Of The Jury di festival ini.</p>



<p class="content"><b>Saya baru saja
menonton film Anda. Langsung mengingatkan saya pada kampung halaman. Saya
sering sebal dengan situasi seperti dalam film itu. Tapi menonton film Anda,
saya tak bisa tidak tertawa.</b></p>



<p class="content">Saya memang suka
menertawakan hal-hal serius. Apa yang Anda lihat di <i>Chai Pani, etc.</i>
adalah guyonan sehari-hari di antara teman-teman saya. Saya pikir, jika kita
menghadapi isu serius dengan serius, maka hasilnya pasti menjadi berat. Dan
kalau tidak hati-hati, bisa jadi terlihat seperti sedang berkhotbah. Karena itu
saya memilih gaya satire dan humor. Anda melihat bahwa karakter-karakter di <i>Chai
Pani, etc.</i> tidak sedang melucu tapi tetap membuat orang tertawa, karena
mereka melihat sesuatu yang nyata.</p>



<p class="content"><b>Anda belajar
di Amerika, kemudian kembali ke India. Apakah Anda sempat mengalami <i>culture
shock </i>juga?</b></p>



<p class="content">Mungkin sedikit. Saya
setengah India setengah Prancis. Ibu saya orang Prancis. Waktu kecil, saya
sering berkunjung ke Prancis kemudian kembali lagi ke India, kemudian Prancis
kemudian India lagi. Jadi saya tidak pernah benar-benar mengalami <i>culture shocked.
</i>Tapi Anda juga benar. Saya lahir di India, dan tumbuh remaja di India.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, saya belajar di Prancis. Segalanya
sangat berbeda dengan India. Mulai dari sistem pendidikan, gaya hidup, dan itu
membuat saya butuh waktu untuk bisa beradaptasi.</p>



<p class="content"><b>Sebagai anak
yang dibesarkan dalam dua budaya yang berbeda, apakah Anda merasa punya nilai
lebih dalam hal menilai dan menikmati medium film?</b></p>



<p class="content">Saya rasa begitu.
Ada kelebihan dan kekurangannya juga. Tapi saya mebih banyak mengambil
keuntungan…hahahah. Sederhananya begini. Saya selalu merasa lebih mudah bagi
saya bekerja di wilayah Eropa untuk urusan birokrasi. Tapi juga karena saya
tumbuh di dua wilayah yang berbeda budaya, saya lebih paham bahwa sesungguhnya,
semua tidak tergantung darimana kita berasal, tapi tergantung dari seberapa
baik dan seberapa profesional Anda di bidang yang Anda tekuni. Itu yang jauh
lebih penting. Jika Anda datang ke seorang produser film, dia tidak akan
melihat apakah Anda orang India, Prancis atau Amerika, tapi apakah Anda memang
layak dipercaya bisa mengerjakan produksi film atau tidak.</p>



<p class="content"><b>Apakah itu
juga mempengaruhi cara Anda melihat dan menilai sebuah film?</b></p>



<p class="content">Saya pikir, film
yang bagus, oleh sutradara manapun, darimanapun dia berasal, entah itu dari
India, Indonesia, Eropa, darimanapun, tidak pernah menentukan film bagus atau
tidak. Film bagus selalu bicara tentang bahasa emosi atau bahasa gambar yang
menurut saya sangat universal. Film yang bagus melampaui batas-batas teritori.</p>



<p class="content"><b>Jadi apa
artinya film buat Anda? Lepas dari bagus atau tidak.</b></p>



<p class="content">Bagi saya, dari
semua medium seni, film adalah medium paling lengkap dan kompleks. Film bisa
berbicara, menyentuh emosi, menyampaikan cerita tentang dunia tempat Anda
hidup. Selain itu, film juga bisa menghibur sekaligus menyampaikan pesan
pembuatnya tentang apa yang dilihatnya tentang hidup. Karena itu setiap pembuat
film selalu punya cara bertutur yang berbeda, dan di situlah keasyikan bermain
dengan medium ini.</p>



<p class="content"><b>Ayah Anda
seorang arsitek. Karena itu Anda memulai dengan membuat dokumenter arsitektur?</b></p>



<p class="content">Saya pembuat film
yang banyak membuat dokumenter tentang arsitektur. Tapi saya tetaplah pembuat
film, bukan arsitek. Selain itu, arsitektur dan seniman, khususnya pembuat film,
tidak sama. Arsitek selalu butuh klien yang memberikan order. Mereka tidak bisa
hanya sekadar berkarya. Mereka bekerja untuk orang lain. Tidak seperti pelukis,
yang ketika dapat ide langsung bisa berkarya meski di atas selembar kertas tisu.
Arsitek tidak bisa menghantui pikiran orang lain. Dengan film, itu bisa
dilakukan. </p>



<p class="content"><b>Dengan mulai
sebagai pembuat film dokumenter, apakah itu berpengaruh banyak dengan cara Anda
membuat <i>feature</i>?</b></p>



<p class="content">Saya rasa tidak.
Saya (dulu) lebih banyak berurusan dengan bangunan. Lebih banyak benda mati.
Sementara di <i>feature</i>, saya lebih banyak berurusan dengan manusia yang
pastinya tidak diam kaku. Jadi, pendekatan yang saya lakukan berbeda.</p>



<p class="content">Tapi mungkin dokumenter
yang saya buat berpengaruh pada cara saya mengedit. Saya mengerjakan hampir
semua editing sendiri. Saya tidak pernah takut untuk memotong film-film saya.
Jika saya mendapati sebuah <i>footage</i> yang tidak cocok, walapun <i>footage</i>
itu sayang untuk dibuang, saya akan membuangnya dan tidak pernah berpikir untuk
menggunakannya lagi.</p>



<p class="content">Banyak pembuat
film yang sangat terpesona dengan apa yang mereka rekam sampai kadang mereka
berat untuk memotong. Yang saya pelajari dari banyak membuat dokumenter adalah
kadang hasilnya jauh lebih baik jika kita memotong daripada tetap menggunakan <i>footage</i>
yang tidak perlu. Percayalah, jika Anda merasa ada yang tidak beres dengan
sebuah adegan, lebih baik dibuang. Saya belajar untuk lebih kuat dan lebih
kejam terhadap film-film saya. Itu yang saya pelajari dari dokumenter.</p>





<p class="content"><b>Soal <i>Chai
Pani, etc.</i>, sepertinya itu pengalaman sendiri? Terutama soal menembus
birokrasi di India?</b></p>



<p class="content">Ceritanya fiksi,
tapi tentu memang pernah saya alami. Tapi, sekali lagi, itu tetap fiksi.
Seperti kesimpulan dari 10 tahun hidup Anda di atas beberapa lembar kertas. Saya
mengubah banyak hal, memodifikasi. Soal birokrasi, tentu saja itu terjadi.
Ketika masyarakat India menonton film ini, banyak orang memberi komentar bahwa
apa yang saya tampilkan di film itu masih kurang dengan apa yang sebetulnya
terjadi. Kenyataannya lebih sadis lagi.</p>



<p class="content"><b>Oh ya? Bagaimana
reaksi mereka, khususnya pemerintah?</b></p>



<p class="content"><i>Chai Pani,
etc.</i> mendapat sambutan
baik di India. Tapi memang saya harus berhadapan dengan badan sensor kurang
lebih 7 bulan demi meloloskan film ini. Mereka ingin saya memotong beberapa
bagian. Setelah 7 bulan berargumen, akhirnya saya berhasil meloloskannya dari
sensor dan mendistribusikannya. Masyarakat India menyukai film ini, dan setiap
orang mengidentifikasikan diri dalam <i>Chai Pani, etc.</i>.</p>



<p class="content"><b>Bagian mana di
film ini yang harus dipotong?</b></p>



<p class="content">Mereka tidak suka
dengan adegan ciuman dan merokok. Mereka gila. Tapi saya rasa itu hanya alasan
biar mereka terlihat bekerja. Berapa banyak film India dengan adegan ciuman dan
merokok beredar? Masa hanya film saya yang harus memotong. Dan mereka tahu saya
tidak akan pernah setuju untuk memotong bagian yang mereka minta itu.</p>



<p class="content">Mungkin Anda
tidak menonton film film India komersial belakangan ini. Jika Anda menontonnya,
Anda pasti paham, bagaimana film Bollywood yang sesungguhnya. Saya rasa, <i>Chai
Pani, etc.</i> sangat sopan, sangat ringan dibandingkan film-film Bollywood
yang sekarang banyak menampilkan artis nyaris telanjang bahkan kadang-kadang
melakukan <i>striptease</i>. Tak ada satu pun dalam film saya yang pantas
dipotong karena alasan moral.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
aturan sensor di India?</b></p>



<p class="content">Sensor di India
adalah sesuatu yang sangat absurd. 60 tahun kami menganut sistem demokrasi
tanpa interupsi. Kami memiliki <i>free press</i>. Umur 18, kami sudah bisa
memilih dalam pemilihan umum. Tapi pemerintah kami masih saja risau untuk
memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa ditonton oleh masyarakatnya. Sementara
mereka tidak sadar, sekarang semua bisa dilihat lewat internet. Menggelikan,
jika saya harus memotong adegan cium.</p>



<p class="content">Bahkan banyak orang
mengakui bahwa aturan sensor di India memang sangat absurd. Secara personal
banyak staf pemerintah mengakui bahwa aturan sensor di India memang bodoh. Tapi
tidak ada seorang pun dari mereka ingin mengubahnya. Sungguh bikin frustrasi,
kadang-kadang.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
dengan skenario <i>Chai Pani, etc.</i>?</b></p>



<p class="content">Hahaha…saya
memang butuh waktu yang sangat lama menyelesaikannya. Saya membuat 15 versi.
1/5 versi itu saya selesaikan dalam waktu 5 tahun. Saya selalu menulis ulang,
lagi, dan lagi. <i>Chai Pani, etc.</i> adalah film feature panjang saya yang
pertama jadi saya ingin membuatnya sebaik mungkin. Tapi di antara waktu lima
tahun itu, saya juga membuat beberapa dokumenter tentang arsitektur dan tentang
warisan budaya India. Kadang, saya menulis selama 2 hingga 3 bulan, lalu meninggalkan
skenario itu, mengerjakan dokumenter selama 6 bulan, lalu kembali lagi ke skenario
yang saya tinggalkan.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
hasilnya menurut Anda sendiri?</b></p>



<p class="content"><i>Well</i> …tentu saya saya senang akhirnya saya
bisa membuat dan merealisasikan <i>Chai Pani, etc</i>. Tapi, seperti manusia
normal lain, saya tidak pernah 100% puas. Jika saya menontonnya lagi, saya
merasa banyak hal yang bisa saya lakukan untuk membuatnya lebih baik dan lebih
baik lagi. Saya sadar bahwa apa yang saya tulis diatas kertas tentu tidak akan
pernah sama betul dengan apa yang tersaji di layar. Apalagi, di layar, Anda
sangat tergantung dengan aktor, artis, pencahayaan, kostum, dll. Tujuan saya
adalah agar emosi yang ingin saya sampaikan bisa sama dengan apa yang tertulis
di atas kertas dan apa yang tersaji di atas layar.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
dengan aspek estetika di film Anda. Sepertinya Anda tidak bisa lepas dari cara

penyajian documenter arsitektur?</b></p>



<p class="content">Banyak <i>crew</i>
yang bekerja sama dengan saya mengatakan itu. Mungkin juga. Saya memang tidak
ingin bermain-main dengan teknik estetis, baik itu melalui kamera, efek dll. Bagi
saya, isi lebih penting. Cerita harus tersampaikan dengan baik. Karena itu saya
ingin selalu menulis skenario saya sendiri. Saya merasa bahwa aspek estetis
terbentuk dari cara mengeskpresikan apa yang dirasakan oleh sutradara tehadap skenario.
Karena itu, penting bagi saya menulis sendiri cerita yang akan saya sutradarai.
Bagi saya, gaya bertutur dan aspek estetis terbentuk sendiri melalui apa yang
saya tulis dan saya coba memproyeksikannya di atas layar. Saya tidak mungkin
menggunakan gaya Orson Welles atau Coen Brothers di film saya. <i>Nggak
nyambung</i>…hahahah.</p>



<p class="content">Ketika cerita
saya jadi, mulailah saya berpikir bagaimana gerakan kamera nanti, bagaimana <i>close
ups</i>, bagaimana komposisi untuk adegan tertentu, dll. Maka terbentuklah
aspek estetis itu. Jadinya, seperti yang ada lihat, realistis. Memang tidak
100% realis karena saya mencoba bergaya komedi satire.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
dengan rencana film selanjutnya?</b></p>



<p class="content">Lagi-lagi saya
masih akan membuat film komedi realis, dengan sedikit sentuhan satire. Tapi,
saya masih mencoba mencari dana. Seperti biasa. Masalah yang sama setiap saat.
Untuk lebih jauh lagi, saya juga ingin sekali membuat film tentang sejarah
India, karena kami punya banyak kisah menarik di masa lalu yang jarang
disentuh. </p>



<p class="content"><b>Anda adalah bagian
dari sutradara independen India yang jauh dari Bollywood. Bagaimana Anda bisa
bertahan di tengah-tengah megaindustri film India itu?</b></p>



<p class="content">Saya pikir,
“independen” dalam arti bahwa membuat film ini tidak melulu soal duit. Mungkin
terdengar klise dan idealis, tapi bagi saya, dalam membuat film, dana bukanlah
masalah paling penting. Beberapa pembuat film memilih untuk membuat film sesuai
permintaan untuk memenuhi standar komersil demi uang. </p>



<p class="content">Artinya, alasan
utama mereka membuat film adalah uang. Bagi saya, yang paling utama adalah
membuat film yang baik. Seperti juga orang lain, tentu saja saya akan sangat
senang jika film saya bisa menghasilkan uang, tapi itu bukan prioritas. Ini
berhubungan dengan sikap dan pendekatan terhadap pembuatan film.  Dan ini dimulai dari konsep cerita hingga
cara mendistribusikan film.</p>



<p class="content"><b>Apakah sebagai
pembuat film independen, Anda pernah mengalami konflik dengan industri?</b></p>



<p class="content">Bisa dikatakan
begitu. Ketika saya mencoba untuk mendistribusikan sendiri film saya, memang
tidak mudah. Di Delhi, kota tempat saya tinggal, saya bisa mendistribusikan
sendiri. Tapi di Bombay, jauh lebih sulit. Kadang-kadang, saya harus bertengkar
dengan sinema setempat karena mereka mengganti jadwal pemutaran film tanpa
pemberitahuan lebih dulu walaupun saya sudah memegang kontrak. Kadang film saya
diputar pagi-pagi jam 10 atau tengah malam. Mereka jarang memberikan saya waktu
strategis. </p>



<p class="content">Mereka juga tidak
mengizinkan film saya diputar di bioskop besar. Dan banyak lagi gangguan teknis
yang disengaja. Industri di India merasa bahwa jika pembuat film tahu cara
mendistribusikan film mereka sendiri, maka bisa jadi para pembuat film
independen lain mengikuti jejak tersebut dan mereka akan kehilangan pekerjaan.
Industri film di India banyak mengekploitasi kekurang-pahaman para pembuat film
mendistribusikan film. </p>



<p class="content">Padahal, dari apa
yang saya pelajari dari pengalaman, ternyata tidaklah begitu sulit
mendistribusikan sendiri. Yang saya temukan malah, proses produksi 100 kali
lebih sulit dibandingkan mendistribusikannya. Jika Anda bisa memproduksi film,
maka itu berarti Anda juga bisa mendistribuskan. <i>It’s a piece of cake</i>.
Percayalah. Tentu saja, memproduksi dan mendistribusikan adalah dua profesi
yang berbeda, kita memang harus memelajari caranya seperti juga kita belajar
hal-hal yang lain.</p>



<p class="content"><b>Apakah menurut
Anda pemerintah bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi dominasi industri
Bollywood? </b></p>



<p class="content">Saya tidak pernah
berharap mendapat dukungan apa-apa dari pemerintah. Saya tidak pernah berharap
mereka mau memberi dukungan dana. Saya tidak ingin uang mereka, karena saya
paham betul, berharap dana dari pemerintah sama saja mengumpankan diri ke
jaring birokrasi yang menghisap tenaga bahkan uang. Jadi tidak pernah terlintas
untuk meminta bantuan pemerintah.</p>



<p class="content">Tapi, saya
berharap mereka membuat peraturan yang tidak makin menjatuhkan eksistensi
pembuat film independen seperti saya. Pajak, misalnya. Kami dikenai pajak
sangat tinggi. Ada yang disebut pajak <i>entertainment</i>, yang membebani 50%
jumlah dana produksi. 50% sisanya, harus dibagi lagi. 70% dari 50% sisa itu
diambil oleh distributor, jadi kami hanya menerima 30% dari 50% sisa itu.
Hampir tidak mungkin untuk bisa bertahan hidup di pasar. </p>



<p class="content">Film adalah
industri yang sangat rentan bagi pembuat film independen non-Bollywood. Saya
tidak peduli berapa pajak yang dibebankan kepada industri raksasa itu. Tapi
aturan itu juga berlaku bagi pembuat film macam saya. Jadi saya berharap mereka
membiarkan pasar film bekerja tanpa campur tangan petugas pajak yang mengendus
kesana kemari. Jadi kami bisa bersaing dengan film buatan industri besar. </p>



<p class="content">Saya <i>sih</i>
berharap India akan menerapkan sistem seperti di Eropa, misalnya, yang bebas
pajak. Jika ada seorang investor yang ingin berinvestasi di film, maka uang
investasi itu bebas pajak, karena film adalah produk budaya. Segala produk
budaya di Eropa bebas pajak. Inilah susahnya di India, segalanya serba dipajak,
bahkan untuk produk budaya, dan itu membuat orang malas memberikan dana. Jangan
bicara soal duit. Saya tidak ingin duit dari pemerintah. Lebih baik mereka
membuat peraturan yang bisa membuat kami bernafas lebih lega.</p>



<p class="content"><b>Bagaimana
dengan kritikus film di India? Apakah juga membantu ?</b></p>



<p class="content">Hahahaha…untuk
hal ini, saya harus bicara lebih hati-hati. Saya akan mengatakan begini. Di
India, jujur saya katakan nyaris tidak ada kritikus yang bisa menulis sesuatu
tentang seni film. Banyak kritikus India yang menulis sesuatu yang mereka pikir
diharapkan oleh penonton film. Bagi saya ini sangat bodoh. Karena itu bukan
pekerjaan kritikus film.</p>



<p class="content">Saya pikir,
kritikus film yang baik seharusnya menulis apa yang mereka sukai dan menjelaskan
mengapa sebuah film itu bagus atau jelek. Dan untuk ini, kritikus harus punya
kapasitas untuk itu. Artinya, paling tidak, dia paham soal apa itu film,
sejarah film, dan tentu saja banyak menonto film. Saya banyak menemukan
kritikus yang tidak paham, bahkan hal hal dasar tentang film. Banyak juga
kritikus yang tidak punya perspektif sama sekali.</p>



<p class="content">Saya bukannya
ingin membandingkan dengan Eropa atau Amerika, tapi di sana, mereka punya standar
dan selera yang baik terhadap film. Kritikus-kritikusnya juga adalah
orang-orang yang paham betul apa itu film. Sebagian dari mereka paham entah karena
belajar teori di universitas, entah itu otodidak dan hanya fokus pada film, ada
juga yang mencoba membuat film sehingga paham betul apa itu medium film,
sehingga mereka lebih paham dan mengerti tentang sinema. Jadi, ketika mereka
membahas sebuah film, para pembuat film bisa lebih paham juga tentang nilai
lebih ataupun kekurangan film yang dibuatnya. Di India, situasi ini jelas belum
terbentuk. Banyak kritikus hanya berusaha menjatuhkan karya pembuat film dan
tidak merasa bertanggung jawab untuk menjelaskannya.</p>





<p class="content"><b>Apakah menurut
Anda kritikus bisa memengaruhi film industri?</b></p>

<p class="content">Di India,
kritikus yang baik bisa memengaruhi cara pandang penonton terhadap film yan
mereka tonton. Saya berharap kritikus bekerja sebagai pendidik bagi penonton.
Jika Anda punya kritikus film yang benar-benar fokus, paham betul apa itu
sinema, dan punya media untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, ini akan
sangat membantu mendidik penonton film.</p>



<p class="content">Dengan penonton
film yang terdidik, maka standar selera menonton film juga akan meningkat.
Tentu saja ini sangat teoritis dan mungkin tidak praktis, tapi saya berharap
ada kritikus seperti ini di India. <i>Toh</i> film yang bagus akan tetap bagus.
Saya akan sangat menghargai seorang kritikus yang banyak menonton film, dan
tentu saja mencintai film. Anda tidak menonton film karena keharusan atau
perintah dari redaktur Anda atau karena sekedar untuk mengisi kekosongan
halaman di koran. Jika Anda menonton banyak film, berbagai macam genre, dan
menonton film karena memang Anda tergila-gila dengan film, maka saya yakin, apa
yang Anda pikirkan tentang sebuah film akan sangat berbeda dengan mereka yang
menonton film karena wajib. Entah Anda setuju atau tidak, bagi saya, seorang
kritikus harus punya <i>passion</i> terhadap sinema.***</p>

<p class="content"><a href="wawancara_menu.htm" target="_self">Wawancara lainnya</a></p>
</body>
</html>
