<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="../global.css"?>
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head> <title>Djenar Maesa Ayu-“Penonton Lebih Pintar Daripada Kreatornya, Kok!”</title> </head>
<body>
        <p><font class="title">Djenar Maesa Ayu:<br />
“Penonton Lebih Pintar Daripada Kreatornya, Kok!”<br />
  <small><font class="content1">oleh Hikmat Darmawan<br />
Redaktur RumahFilm.org, Jakarta</font></small>
</font></p>

<p class="content">“Pagiku memang
pukul 10,” ujar Djenar Maesa Ayu melalui SMS kepada saya. Kami berjanji akan
mengadakan wawancara di rumah Djenar, di sebuah kompleks perumahan yang <i>gayeng
</i>di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Djenar mengajak saya bercakap-cakap di
ruang kerjanya, di lantai tiga rumahnya. Anak bungsunya, Btari Maharani yang ia
panggil “Yiyi”, ikut <i>nimbrung</i> berpose saat difoto. “Dia memang <i>banci
tampil</i>,” kata Djenar dengan sayang. </p>



<p class="content">Di ruang
kerjanya, di samping terdapat rak dinding untuk buku-buku, terdapat cermin
menempati sebuah bagian tembok ruangan selayaknya di ruang tari. “Anakku yang
pertama (Banyu Bening) memang suka menari.” Ada juga beberapa lukisan menarik,
tertumpuk di pojok di depan cermin itu. “Itu lukisannya Yiyi,” jelas Djenar. Saya
segera meminta <i>still photo </i>adegan dan <i>behind the scene</i> film
debutan Djenar itu. Djenar mengeluh, komputer <i>mac</i>-nya sedang rusak, “<i>Keyboard</i>-nya
sedang masalah. Saya juga <i>nggak </i>bisa <i>burn</i> ke CD, karena <i>drive</i>-nya
tak bisa dibuka.” Berulang kali, Djenar berkomentar, “<i>gue </i>lagi bangkrut,
nih! Bangkrut!”</p>



<p class="content">“Habis,
bagaimana,” jelas Djenar, “menulis.... royaltinya <i>nggak </i>seberapa. Bikin
film, modalnya saja belum balik.” Setelah selesai urusan gambar, saya pun mulai
melakukan percakapan. </p>





<p class="content">RUMAH FILM: <b>Menonton
<i>Mereka Bilang Saya Monyet!</i>, saya merasa bahwa dalam pelataran sejarah
film Indonesia, film ini kok “anti-Sjuman”, ya?</b></p>



<p class="content">DJENAR MAESA AYU:
(Kaget) “Anti-Sjuman”? Maksudnya?</p>



<p class="content">RF: <b>Kan Sjuman
–apalagi sepulang ia dari Rusia dulu– sangat terobsesi pada masalah-masalah
sosial di Indonesia. Sementara film <i>Mereka Bilang Saya Monyet! </i>ini
sangat ke “dalam”, ya ...malah agak “<i>self-absorbed</i>”?</b></p>



<p class="content">DMA:
Masalah-masalah sosial itu kan ...<i>gini</i>, ya, perkembangan zaman juga
sudah beda. Masalah-masalah sosial yang ditangkap oleh Sjuman juga pastinya
berbeda dengan yang saya tangkap. Dulu itu ...justru kenapa Sjuman itu dianggap
pembelot, lalu salah satu filmnya –<i>Yang Muda Yang Bercinta</i>– itu juga di-<i>banned</i>,
<i>nggak </i>boleh keluar…karena dia kan <i>against </i>pemerintahan. Tapi <i>kan</i>
isunya waktu itu memang begitu. Kita memang lagi sangat <i>against </i>pemerintah,
Orba, yang kayak begitu-begitu. Jadinya, Sjuman ya ke sana. Tapi <i>kan</i>
soal tema, ya orang punya obsesinya masing-masing lah... Tapi saya ya <i>nggak </i>anti-Sjuman
<i>dong</i>, jangan <i>dong</i>.... (tertawa).</p>



<p class="content">RF: <b>Tapi mau
tak mau, orang bisa punya kesan itu <i>sih</i>. Kalau melihat sejarah film
terdahulu ...Sjuman dengan (karya-karyanya) <i>Si Doel</i>, <i>Si Mamad</i>.
Oke, memang ada persoalan zaman telah berbeda. Apa benar-benar berbeda, apakah
sekarang ...</b></p>



<p class="content">DMA: Pastinya
beda. Sekarang, kultur juga sudah beda... Sudah begitu, <i>gue </i>perempuan,
Sjuman lelaki. Pastinya ada obsesi-obsesi yang beda.</p>



<p class="content">RF: <b>Apa
maksudnya perempuan lebih individualistik, <i>kayak </i>di film itu?</b></p>



<p class="content">DMA: Bukan. Film
ini banyak sekali mengangkat isu perempuan, karena <i>gue </i>perempuan. Sjuman
laki-laki. Mungkin dia juga saat itu lebih condong pada masalah sosial ... Dia
juga punya nostalgia dengan kampung halamannya, dan itu terekam di <i>Si Doel</i>.
Si Doel itu anak Betawi dan lalu ia terlalu ke kota....dan itulah Sjuman. Dari
dulunya ia tinggal di Purworejo, hijrah ke Jakarta. Setelah itu dia selalu
bilang, ‘<i>Gue</i> adalah anak Betawi!’ Padahal dia adalah orang Jawa.
“Jakarta”-nya itu sudah sangat kental pada dia. Cintanya pada Jakarta,
perubahan kultur dari dia yang ...Itu semua terbawa ke dalam film-filmnya. <i>Gue
</i>bukan orang ...<i>nggak </i>pernah tinggal di desa, sudah sangat urban.
Begitu lahir, kenalnya, ya <i>udah</i>, masanya sudah urban begini.
“Jakarta”-nya sudah bukan “tempo dulu”, tapi sudah sangat modern. Bapak dan ibu
juga dulu sudah modern. Mereka bukan “orang kampung” lagi. Jadinya, <i>nggak </i>mungkin
lah <i>gue </i>bikin yang tentang perkampungan. Yang jelas, (<i>gue</i>) <i>nggak
</i>kepingin membikin sesuatu yang <i>gue nggak </i>tahu. </p>



<p class="content">RF: <b>Ada kesan
lain yang pasti kelihatan dalam film ini. <i>Mereka Bilang Saya Monyet!</i>,
kalau mau digambarkan, “amoral”, “kasar”, dan “<i>self-absorbed</i>”....</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Gue </i>tidak
akan mau mengatakan mana persepsi orang. Terserah mereka mau bilang apa. Yang
jelas, <i>gue </i>cuma memotret sebuah realita. <i>Gue </i>berkarya berdasarkan
referensi. Walau pun yang harus dicatat juga, sebuah karya bukanlah penggandaan
realitas. Kalau jadi penggandaan realitas, jadinya jurnal, jadi dokumenter....
Ini <i>kan </i>tetap fiksi. Tapi mengacu dari sana, bahwa “karya bukan
penggandaan realitas” ...jadi sebetulnya sebuah karya itu sudah ada dalam dunia
tersendiri, sangat individual, sangat personal...</p>



<p class="content">RF: <b>Sangat <i>self-absorbed</i>...?</b></p>



<p class="content">DMA: Personal,
ya, maksudnya?</p>



<p class="content">RF: <b>Film ini
sangat “<i>self-absorbed</i>”, artinya, sangat asyik dengan dunianya sendiri,
dengan masalah pribadi si pembuat filmnya sendiri....</b></p>



<p class="content">DMA: Itulah. Film
itu <i>kan </i>berdasarkan referensi, ya. Karena ia bukan penggandaan realitas,
maka imajinasi menjadi milik yang sangat personal, menurut <i>gue</i>. Jadi,
ya... itulah.....begitulah.</p>



<p class="content">RF: <b>Tapi, <i>kayaknya
</i>Djenar sangat terobsesi dengan masalah realitas. Dalam sebuah adegan, ada
diskusi yang menarik, soal “realitas itu apa <i>sih</i>?”....</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Gue </i>memang
sangat terobsesi dengan soal itu. Karena sejak awal jadi penulis, banyak sekali
orang yang punya kecenderungan ...walau pun <i>gue </i>tidak<i> </i>bisa
menyalahkan juga... tapi banyak sekali pembaca atau penonton yang
menghubung-hubungkan antara realitas dan imajinasi itu. ‘Benar <i>nggak</i>, <i>sih</i>?
Ini cerita asli, bukan <i>sih</i>?’ Di beberapa tulisan <i>gue </i>juga, <i>gue
</i>sudah sering banget mengangkat soal ‘apa <i>sih</i> proses kreatif?’ Ya,
itu lah, dalam film itu juga <i>gue </i>coba utarakan bahwa ini <i>lho</i>,
proses kreatif itu <i>kayak </i>begini.... Kalau mereka bilang, ini sungguhan <i>nggak
sih</i>? Ya, apa yang mereka percaya, itulah realitasnya. Iya <i>nggak</i>, <i>sih</i>?
Itulah yang kita lihat.</p>



<p class="content">RF: <b>Tapi,
memang, dari beberapa tulisan Djenar, di beberapa cerpen, disinggung isu ini.
Di dalam film ini juga disinggung. Saya jadi berpikir, “Djenar ini, sebagai
pencipta, masih belum bisa keluar dari lingkaran persoalan ‘Djenar menulis’,
ya....”</b></p>



<p class="content">DMA: Apa pun yang
ditulis oleh seseorang, apa pun temanya ...kalau <i>gue</i>, <i>gue </i>tidak
terlalu memusingkan masalah topik atau tema, tapi caranya. Cara bertutur. Karena
segala tema, mau personal atau mau sosial, tentu semua pernah terjadi, sudah
pernah ditulis dan dibuat ...Jadi, tugas seorang <i>creator </i>adalah
bagaimana agar kita dapat menyampaikan tema-tema yang sudah ada ini menjadi
segar. Jadi, kalau sekarang kita bertutur dengan cara yang sama ...ya <i>udah </i>lah!
Orang semua orang juga sudah tahu lah... pengkhianatan, cinta, semua orang
sudah tahu lah. Apa lagi <i>sih</i>? <i>Kayak </i>begitu-begitu saja, <i>kok</i>.
Hidup ini begitu-begitu saja, kok. <i>Nggak </i>ada yang baru. Jadi, bagaimana
kita membuat sesuatu yang baru? Ya, cara bertutur yang baru.</p>



<p class="content">RF: <b>Tapi kalau
lantas dibilang, film ini “Djenar <i>banget</i>”...lantas, kapan Djenar bisa
bicara tentang orang lain, tentang masalah lain?</b></p>



<p class="content">DMA: Siapa yang
bilang film ini “Djenar <i>banget</i>”? <i>Kan </i>orang itu sendiri. Jadi, apa
yang ia percayai menjadi sebuah realitas. Ya, terserah <i>aja</i> orang mau <i>ngomong
</i>apa. <i>Gue kan nggak </i>bisa bilang (menunjukkan mimik lucu), ‘wah bukan,
kok, bukan!’ Buat apa?</p>



<p class="content">RF: <b>Hal ini
juga disinggung dalam film ini juga, ya....</b></p>



<p class="content">DMA: Ya, itu <i>kan
</i>bisa dibilang sebuah <i>statement</i> juga. Atau, jadi hal-hal yang sudah
dikonfirmasi sebelum orang <i>nanya</i>, ya <i>kayak gitu</i>....</p>



<p class="content">RF: <b>Ya, <i>kayak
</i>adegan di bar itu ...itu <i>kan</i>, serapan Djenar, <i>kayaknya</i>.
Bagaimana tidak pribadi, coba....? </b></p>



<p class="content">DMA: (Tertawa)
Yaaa ...skenario film itu <i>kan </i>ditulis empat tahun lalu, ya. Dulu <i>sih</i>
memang sedang ada isu “sastra wangi”, dan itu <i>kan </i>agak membuat <i>eneg</i>
juga.... <i>Nggak </i>‘panas’, <i>sih</i>. Cuma, (<i>gue</i>) kepingin <i>aja</i>
agar orang tahu, apa <i>sih </i>sebetulnya yang dibilang ... Dulu itu, setiap
perempuan berkarya, orang <i>nggak </i>pernah percaya begitu <i>aja</i>. Selalu
ada embel-embelnya, ‘Alaah, ini paling <i>ditulisin</i> sama mentornya! Alaa,
itu <i>kan </i>bukan karya dia.’ Itu kalau perempuan, tapi kalau laki-laki <i>nggak</i>.
Bukannya <i>gue nggak </i>siap dengan yang begitu-begitu. <i>Gue sih </i>justru
santai banget. Cuma <i>kan </i>bukan berarti <i>gue </i>tidak<i> </i>punya
sikap atau mesti diam saja. Kalau memang itu ingin ditampilkan, kenapa <i>nggak</i>.
<i>Gue </i>menanggapi isu-isu <i>kayak </i>begitu <i>mah </i>malah ketawa saja,
malah <i>gue </i>bikin jadi lelucon <i>aja</i> di film....</p>



<p class="content">RF: <b>Di film
itu, ada ucapan “kamu pendendam”. Apa ini ...”balas dendam” dengan film?</b></p>



<p class="content">DMA: (Tertawa) <i>Nggak
</i>tahu ...penonton lebih pintar daripada kreatornya, <i>kok</i>! Kadang-kadang
kita menulis apa, nanti bisa jadi wacana apa... Itu (saya) <i>amazed</i>. Dan
sebetulnya, yang membuat orang akhirnya ketagihan berkarya adalah itu. Mereka
juga bisa belajar banyak dari karyanya sendiri. (Mereka) bisa melihat
pertumbuhan “anak”-nya ...dia lahir, lalu dia berkembang sudah dengan nasibnya,
dan kita memantau nasibnya sebagai “orang tua”...’oh, akhirnya dia sudah
berkembang sudah ke arah sana, ke arah sini...’ Proses kreatifnya sebetulnya
memang bisa dibilang sudah selesai, tapi perjalanannya panjang sekali. Jadi,
andai kata saat ini orang bilang bagus...belum juga kita bisa ambil pakemnya
bahwa memang ‘bagus’. Waktu akan menjawab. Dibilang jelek pun, sama juga. Waktu
akan menjawab. Banyak sekali karya yang baik tapi pada zamannya <i>nggak </i>diterima,
beberapa puluh tahun kemudian bisa jadi <i>masterpiece</i>. Itu yang paling
menarik dalam berkarya. </p>



<p class="content">RF: <b>Nah, ketika
saya sampai ke akhir film, timbul dua pertanyaan di kepala saya. Sebelum
pertanyaan yang lebih abstrak, yang kongkret dulu, <i>deh</i>. Di film itu <i>kan
</i>ada sosok penulis, Asmoro. Di beberapa bagian ada diskusi dengan penulis
itu. Mau <i>nggak </i>mau saya berpikir itu...</b></p>



<p class="content">DMA: ...mengacu
ke salah seorang penulis...</p>



<p class="content">RF: <b>“Tardjie!”
(Maksudnya, Sutardjie Calzoum Bachrie yang memang sempat dikenal sebagai
“mentor” Djenar dalam sastra.)</b></p>



<p class="content">DMA: (Tertawa)</p>



<p class="content">RF: <b><i>Kan </i>ada
dialog seperti, “...karir <i>lu kan </i>lagi turun! Gara-gara jadi mentor <i>gue</i>,
<i>lu </i>dibicarain lagi...!”</b></p>



<p class="content">DMA: (Tertawa
makin keras) Wah, gila! <i>Nggak</i> lah, <i>nggak</i>, <i>nggak</i>....Tardjie
itu tidak<i> </i>akan pernah turun... (tertawa) dia sudah... dia baru dapat
penghargaan... <i>nggak </i>lah.... Begini lah. Tentunya, setiap karya ada ...ah,
kita mengambil dari realitas...kita tambahi, kita kurangi, kita campur juga
dengan imajinasi.... Sebetulnya <i>nggak</i> bisa juga dikatakan apakah itu
Tardji, atau Seno (maksudnya, Seno Gumira Adjidarma), atau Pak Budi Darma. Ya,
repot kalau <i>kayak </i>begitu ...marah semua nanti orang-orang sama saya.
Atau, itu ibu saya...itu Djenar...itu teman-teman saya....Susah nanti orang
berkarya. Iya <i>nggak</i>, <i>sih</i>? Jadinya, terlalu <i>mikirin </i>orang-orang.</p>



<p class="content">RF: <b>Satu lagi
pertanyaan sehubungan dengan akhir film itu. (**SPOILER ALLERT**) Mungkin
berkaitan dengan soal realitas itu. Kalau buat saya yang awam, atau sebagai
lelaki yang awam, isu terbesar dalam film itu bagi tokoh utama (Adjeng) adalah
penistaan seksual yang dia alami sewaktu kecil. Di situ ada isu perkosaan,
pedofilia. Tapi di ujung, justru “tembakan” terakhir justru ditujukan kepada
sosok penulis itu. Yang dipilih jadi klimaks justru itu. Apalagi ditambah
sebuah <i>trick</i>,<i> </i>yang menarik sebetulnya dalam sejarah film
Indonesia, ketika tahu-tahu semua tokohnya, dari masa lalu dan masa kini,
muncul dalam satu <i>frame </i>waktu. Tapi buat saya, <i>kok</i> jadinya <i>kayak
</i>menghindari isu sesungguhnya? Sepertinya film ini ingin melunakkan realitas
itu?</b></p>



<p class="content">DMA: Waduh, kalau
soal itu, <i>gue nggak </i>bisa jawab, <i>deh</i>. Maksudnya, <i>gue </i>tidak
pernah dengan sengaja ingin melunakkan. <i>Kayak</i>-nya tujuannya <i>nggak </i>ke
sana, <i>tuh</i>? (Tertawa)</p>



<p class="content">RF: <b>Soalnya, <i>kok
</i>(film ini, akhirnya) seperti memalingkan muka....</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Masak sih</i>?
Malah <i>gue nggak </i>tahu, itu....Menarik juga untuk ditelaah, buat <i>gue</i>....
</p>



<p class="content">RF: <b>Soal
penulisan. Ada banyak siasat visual yang menarik dalam film ini...</b></p>



<p class="content">DMA: Iya, memang
itu ada beberapa yang <i>nanya</i>, itu di tahap <i>editing</i> atau memang di <i>script</i>-nya
memang begitu. Memang dari <i>script</i>-nya begitu. Ganti-ganti orang, atau
segala <i>macem</i>, ya itu memang sudah di <i>script</i>.... Kami (Djenar dan
Indra Herlambang) menulis <i>script </i>itu dua tahun. Itu <i>kayak</i>-nya <i>draft
</i>yang ke-berapa juta, <i>gitu </i>... (tertawa). Itu pun, pada akhirnya, di
bagian <i>opening scene</i>-nya, ada sebelas <i>scene </i>yang dibabat habis. Ganti.
Ketika di proses <i>editing</i>, <i>gue </i>lihat lagi ...ini karena
ketidakmatangan <i>gue </i>dalam men-<i>direct</i>, jadi ada kesalahan teknis
di lapangan, jadi hasilnya kurang memuaskan, ya <i>udah</i>, diganti... Dalam <i>directing</i>,
<i>gue </i>juga membebaskan pemain untuk juga ‘menangkap’ tokoh yang
diperaninya. Karena, kalau <i>gue </i>terlalu men-<i>direct</i> tanpa
membiarkan mereka juga berkontemplasi, itu hasilnya juga, <i>gue </i>yakin,
tidak akan pernah baik. Kebetulan <i>sih </i>semua tokoh ini, semua pemain yang
memerankan tokoh-tokoh ini, beberapa pemain yang di sudah ada di kepala <i>gue </i>dari
awal ...melihat cara dia jalan, melihat dia <i>ngomong</i>, saya bilang, ‘ya,
dia si <i>anu</i>...’ Kebetulan ketika ditawari, beberapa langsung mau ...ada
juga yang menolak. </p>



<p class="content">RF: <b>Diuntungkan
juga, ya, oleh jaringan pertemanan...</b></p>



<p class="content">DMA: Sangat.
Sangat diuntungkan oleh itu. Dan terima kasih lagi untuk Bung Sjuman. Karena <i>gue
</i>sangat yakin bahwa kemudahan-kemudahan selama ini ...misalnya, banyak
sekali orang-orang yang mendukung dari tahap membuat <i>script</i>...ada mas
Jujur Prananto, ada mas Garin Nugroho, Joko Anwar, Nia diNata, Eddy SS,
Enisson...mereka semua <i>gue </i>tanya, <i>nulis script </i>itu <i>kayak </i>apa
<i>sih</i>? Dan terima kasih kepada skenario-skenario Bung Sjuman juga.
Semuanya tak mungkin ...<i>gue nggak </i>yakin, apakah kalau cuma Djenar <i>aja</i>
semua orang akan membantu? Misalnya, Ray Sahetapy juga mau bermain dengan honor
yang tidak terlalu mahal. Banyak sekali orang yang tidak dibayar selayaknya
film, lah. Tapi semua mendukung, begitu <i>smooth </i>semuanya. <i>Gue </i>rasa,
ini adalah sebuah warisan yang lebih besar dibanding (warisan) materi dari Bung
Sjuman. Jadi, kebaikan dia yang akhirnya berimbas ke <i>gue</i>. Makanya, <i>special
thanks </i>di film itu yang paling atas buat Bung Sjuman.</p>



<p class="content">RF: <b>Memang
“kekeluargaan” <i>banget</i>, ya, film ini?</b></p>



<p class="content">DMA: (Tertawa)
Wong Aksan...Agus Melasz....Dia <i>kan</i> bapak tiriku. Dia suami pertama
ibuku, sebelum Sjuman. Aksan. Titi Sjuman. Banyu Bening, anakku juga.</p>



<p class="content">RF: <b>Jadi,
pilihan menggunakan teknologi digital bagi film ini, apakah itu pilihan
estetis, atau <i>kepepet</i>?</b></p>



<p class="content">DMA: Kita semua
sudah tahu, bahwa memang sekarang ini eranya digital. Bagaimana kita bisa
memaksimalkan ini. Kita punya banyak sekali keuntungan dari digital. Yaitu,
menekan <i>budget</i>, ya. Dengan menekan <i>budget</i>, tentunya kita juga
bisa, <i>let’s say</i>, <i>nggak </i>terlalu mendengarkan produser... Masih
berani lah, kita <i>indie</i>. Kita masih bisa cari uang ke beberapa sumber. <i>Kayak
</i>film ini, 700-an juta rupiah ...investornya hanya lima orang, pribadi...
Tapi akhirnya kita <i>kan </i>bisa membuat film. Dibandingkan ketika kita membuat
film dengan seluloid, harus dengan biaya ber-<i>em-em</i> (bermilyar-milyar
rupiah)... aduh, <i>kayaknya </i>jadi mustahil untuk membuat film. Dengan
adanya digital, yang dituntut pada seorang kreator adalah kreativitas. Itu yang
paling penting. Dan ternyata, sampai sekarang <i>sih </i>cukup berhasil. Kalau
nantinya sudah banyak sinema proyektor digital seperti Blitz, berarti kita <i>nggak
</i>harus <i>blow up</i> jadi seluloid. Kita <i>nggak </i>harus keluar uang
lebih banyak. Ada kesempatan untuk orang-orang “lain”, ya ...mungkin untuk orang-orang
yang idealis juga... ya, sudah, <i>kumpulin </i>duit dan mereka membikin film
sendiri, misalnya. Jadi, yah, lebih punya warna lah. Jadi, perfilman Indonesia
tidak terlalu didikte oleh keinginan para investor. </p>



<p class="content">RH: <b>Soal
format digital. Kemarin, di LSF (Lembaga Sensor Film), <i>kan </i>sempat ada
masalah, mereka tidak mau menyensor film digital...?</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Nggak</i>
...(agak bingung) <i>gue nggak </i>tahu ada masalah itu. Kemarin, waktu ke LSF,
<i>nggak </i>ada masalah sama sekali. <i>Gue </i>ke sana <i>nggak </i>melakukan
apa-apa: kasih film, itu saja. <i>Gue </i>pikir memang akan ada masalah. Waktu
itu <i>gue tongkrongin</i>. Jadi, misalnya, kalau ada apa pun, ya, kita bisa
saling memberi argumentasi, lah, pada hari itu juga. Yang dikasih pun baru <i>picture
lock</i>, dan masih <i>rough cut</i>. Jadi, belum masuk musik. Tadinya <i>gue </i>pikirkan,
kalau andaikan ada memang yang  dipotong,
atau <i>gimana</i>, ketika <i>mixing </i>dengan musik tidak akan mengganggu
karena terputus-putus adegannya. Jadi, memang mau “<i>nyikat</i>” dari awal. Dan
<i>gue </i>merasa <i>amaze </i>juga, ternyata memang tak ada yang dipotong. <i>Gue
</i>juga bingung. </p>



<p class="content">RH: <b><i>Kirain </i>dari
awal memang menyiasati supaya tidak ada yang dipotong. Maksud saya, (Djenar)
melihat undang-undangnya <i>kayak </i>apa, lalu cari akal....</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Nggak</i>.
Justru <i>gue nggak </i>terlalu tahu perkembangan. Yang dipikirkan juga hanya
film saja, soal produksi dan segala <i>macem</i>. Kita sudah tahap praproduksi
tapi duit belum masuk, misalnya. Jadi memang kita <i>nggak </i>tahu apa-apa
kalau ada masalah. <i>Nggak </i>tahunya, (proses di LSF) mudah. <i>Gue </i>juga
<i>nggak ngerti</i>. Waktu itu ada ibu Titi Said, Rae Sita, semuanya ada, <i>kok</i>,
ada lima orang. Mereka bilang bahwa, ‘kami suka melihat film ini. Kami mengerti
apa yang ingin disampaikan. Kami tahu kenapa <i>sex scene</i> di sini memang
harus diangkat. Jadi, tak ada yang kami potong.’ Tadinya, saya sudah ‘Semangat
empat lima’, siap tempur. Mendengar itu, saya jadi ...(pasang tampang <i>bengong</i>),
<i>huh</i>? Yang <i>bener</i> nih? (Tertawa)</p>



<p class="content">RH: <b>Oke.
Terakhir, rencana berikutnya...</b></p>



<p class="content">DMA: Sekarang <i>sih
</i>saya harus mengerjakan novel. Karena, itu <i>kan </i>sudah kontrak, ya. Judulnya,
<i>Ranjang</i>. Itu dulu, baru nanti bikin film lagi. <i>Script</i>-nya sudah
40 halaman. Tapi langsung berhenti karena si <i>keyboard </i>gila ini!
(Tertawa) Kalau film, (<i>gue</i>) masih belum tahu judulnya. </p>



<p class="content">RH: <b>Temanya
masih seputar penulisan?</b></p>



<p class="content">DMA: Yang ini, <i>nggak</i>.</p>



<p class="content">RH: <b>Seks?</b></p>



<p class="content">DMA: Seks, yah,
seks salah satu unsur dalam hidup, ya. Kalau memang harus ada adegan seks,
kenapa <i>nggak</i>? Kalau memang <i>nggak </i>harus ada, kenapa harus ada? </p>



<p class="content">RH: <b>Bukan
dalam adegan, tapi sebagai tema...</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Nggak </i>tahu,
<i>tuh</i>. <i>Entar </i>kita lihat saja. Masih belum sampai <i>draft </i>ke-jutaan
kali, <i>kan</i>? </p>



<p class="content">RH: <b>Kalau
melihat ‘ramai-ramai’ film Indonesia saat ini, misalnya, soal MFI atau FFI....</b></p>



<p class="content">DMA: <i>Nggak </i>pusing
lah. Berkarya saja.... ***  </p>

<p class="content"><a href="wawancara_menu.htm" target="_self">Wawancara lainnya</a></p>
</body>
</html>

