<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0">
 <channel>
  <title>RumahFilm.org</title>
  <link>http://www.rumahfilm.org</link>
  <description>Situs RumahFilm.Org adalah sebuah perhimpunan yang bergerak
memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan Film
Indonesia.</description>
  <lastBuildDate>Wed, 20 May 2009 10:22:05 GMT</lastBuildDate>
  <generator>ListGarden Program 1.3.1</generator>
  <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
  <item>
   <title>Day 2: Lupa Makan Itu Biasa</title>
   <link>http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes09_3.htm</link>
   <description>Film apa saja yang ditayangkan hari ini sehingga redaktur kami melupakan makan siangnya?</description>
   <pubDate>Wed, 20 May 2009 10:21:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Day 1: Kembalinya si Anak Bandel dari China</title>
   <link>http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes09_2.htm</link>
   <description>Sutradara Lou Ye dihukum pemerintahnya dilarang membuat film selama 5 tahun karena lancang menyinggung isu sensitif. Tapi bukan &quot;anak bandel&quot; namanya jika dia tunduk begitu saja pada hukumannya. Tahun ini dia kembali ke Cannes. Apakah dia akan menggebrak? Yang jelas dengan membuat film saja dia sudah menunjukkan kebandelannya.</description>
   <pubDate>Wed, 20 May 2009 10:20:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dari Pesta Demokrasi di Indonesia hingga Pesta Film di Perancis</title>
   <link>http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes09_1.htm</link>
   <description>Yang meriah dari pembukaan Festival film Cannes ke-62!</description>
   <pubDate>Wed, 20 May 2009 10:15:33 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Drupadi : Tragedi Tanpa Poin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_drupadi02.htm</link>
   <description>Ifan Irfansyah, kontributor Rumahfilm.org, merasa film ini sebuah tragedi “foreplay yang nanggung”.&lt;br>&lt;br>Drupadi memang menarik bagi sebuah percakapan tentang film sebagai sebuah produk budaya –sejenis percakapan yang akan selalu meminta pertanggungjawaban gagasan para pembuat film atas karya mereka yang dilontarkan pada kita. </description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:51:13 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Drupadi: Ada Apa Dengan Drupadi?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_drupadi01.htm</link>
   <description>Dian Sastro sebagai Drupadi, mencuci rambut panjangnya dengan darah berliter-liter, tentu adalah pemandangan visual ciamik. Tapi, apa artinya? Pertanyaan dasariah begini jadi terasa mendesak untuk dikemukakan, karena Drupadi, film pendek 45 menit karya Riri Riza dan produser Dian Sastro, digadang-gadang sebagai sesuatu yang wah. Kemasan film ini mengucap: inilah film “anak bangsa”, inilah film yang mengungkapkan “perjuangan perempuan”, inilah film yang baharu, dengan nilai-nilai baharu. Dua penulis Rumahfilm.org, tampak gelisah dengan kemasan itu, karena pertemuan mereka dengan Drupadi malah mendedahkan sinyal lain. Eric Sasono, redaktur Rumahfilm.org, menulis Ada Apa Dengan Drupadi?, mempertanyakan keabsahan pernyataan masalah perempuan dalam Drupadi, dan akhirnya mempertanyakan posisi politik dan estetik Drupadi sendiri sebagai sebuah film pendek yang gemebyar. </description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:50:45 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Shine a Light:Scorsese Memanusiawikan Rolling Stones</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_shine.htm</link>
   <description>Shine a Light - Seperti biasa dalam 10 tahun terakhir ini, JIFFest akan menyediakan lahan untuk memetik film-film unggulan yang belum tentu tiba pada publik penonton kita jika tak ada ajang semacam ini. Salah satu yang bisa dipetik itu adalah Shine a Light, sebuah rockumentary tentang konser The Rolling Stones –“The World’s Greatest Rock ‘n Roll Band” kata sebagian pengamat– di Beacon Theatre, New York, 2006 lalu. Rockumentary ini disutradarai Martin Scorsese, yang menunjukkan sebuah cinta yang besar pada band itu. Pengamat musik sekaligus pencinta film Denny Sakrie, sang ensiklopedia hidup musik Indonesia, tergerak memberi catatannya atas film ini untuk Rumahfilm.org.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:50:00 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mata Turistik Sutradara, dan Lain-lain</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_jiffest10_02.htm</link>
   <description>Rumahfilm.org melanjutkan rangkaian resensi pendek film-film yang diputar di JIFFest ke-10 ini. Dalam Mata Turistik Sutradara, dan lain-lain, redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono, antara lain menyorot problem sikap penyutradaraan dalam film Heaven in Insanity. Redaktur lain, Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan, juga mengulas singkat beberapa “film festival” dari JIFFest kemarin. </description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:49:28 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mencari Osama, sampai Susuk</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_jiffest10_01.htm</link>
   <description>Hajatan film bertaraf Internasional di Jakarta, JIFFEST, yang sudah tahun ke-10 ini, adalah juga pintu berjumpa dengan khasanah film dunia dan film alternatif lokal. Rumahfilm.org menghidangkan pada Anda, serangkaian (seri) ulasan pendek film-film yang diputar di JIFFEST kali ini. Untuk rangkaian pertama, ada 5 ulasan pendek dari Ekky Imanjaya, Eric Sasono, dan Hikmat Darmawan. Film-filmnya merentang dari dokumenter Where in The World is Osama bin Laden?  yang kocak sekaligus punya pesan kuat itu, hingga Susuk, film horor dari jiran kita, Malaysia, yang dianggap fase lanjutan Sinema Kecil Malaysia.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:48:59 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>9808, Anthology on the 10 th anniversary of Reform Era:The Young and the (Un) Heedless</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_9808_en.htm</link>
   <description>9808, Anthology on the 10 th anniversary of Reform Era: - English version of Eric Sasono’s review of 9808, Anthology on the 10 th anniversary of Reform Era is now available.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:48:33 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Doa yang Mengancam:Beban yang Mengancam  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_doayangmengancam.htm</link>
   <description>Doa yang Mengancam -  Apapun tentang doa, adalah tentang manusia. Maka bukan sesuatu yang mengherankan jika redaktur RumahFilm.Org Eric Sasono membaca bahwa Hanung Bramantyo tengah berusaha keras bertutur tentang kemanusiaan lewat filmnya Doa Yang Mengancam. Tapi, tentu bukan salah Eric pula jika ia melihat film ini tersesat menjadi sebuah karikatur yang entah, yang tak lucu.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:47:49 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Pembukaan yang Meriah</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jiffest2008.htm</link>
   <description>Pembukaan Jiffest ke-10 2008 sungguh meriah. Tentu saja banyak “orang film” datang: sutradara, produser, bintang film, programmer festival internasional, hingga kritikus dan wartawan film.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:45:31 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>May dan Fiksi. Rajai Nominasi FFI 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_nominasiffi08.htm</link>
   <description>May mendominasi nominasi di 11 kategori, dan hanya menyisakan kategori tata musik. Fiksi. di urutan kedua, 10 nominasi dan cuma pemeran pendukung pria dan wanita yang luput. Sedangkan dua film yang belum beredar, Under the Tree dan 3 Doa 3 Cinta meraih masing-masing 9 dan 7 nominasi.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:44:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kritik Sosial dalam Festival Film Pendek</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_psychocinema08_laporan.htm</link>
   <description>Film pendek “Klono Topeng” karya sutradara Dicko Joneda pemenang favorit ajang Psychocinema Festival yang digelar oleh himpunan mahasiswa psikologi Unika Atmajaya. Pemenang lainnya adalah “Pacarku Lina” (sutradara Louis Oktavianus Sutanto) dan “Papa Hau” (sutradara Yandy Laurens) yang dibintangi oleh pemeran “Ca Bau Kan” Ferry Salim dan Wulan Guritno.</description>
   <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 08:44:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Belitong according to Laskar Pelangi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_belitong.htm</link>
   <description>Commentary on  Laskar Pelangi continues. This time our editor, Ekky Imanjaya, who just completed his study in Amsterdam , shares his view on location aspect of  Laskar Pelangi. Based on depiction of location that rarely seen in Indonesian film, Ekky elaborates more on two concepts, mental landscape and neo - realism elements of the film.</description>
   <pubDate>Fri, 31 Oct 2008 06:42:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Brian Yuzna Akan Sutradarai Film Monster dan Luar Angkasa Indonesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_yuzna.htm</link>
   <description>Ide itu punya kaki, kata intelektual publik Soedjatmoko. Dan, ternyata, selain ide, semangat juga. Ini dibuktikan oleh Brian Yuzna, sutradara (di antaranya sutradara film Bride of Re-Animator), penulis skenario, dan produser film, khususnya yang bergenre fantasi.</description>
   <pubDate>Fri, 31 Oct 2008 06:40:55 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Menggiring Babi ke Kandang Macan, (Semacam) Catatan dari Pusan Film Festival 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_pusan08.htm</link>
   <description>Hari itu tepat pukul 5 sore, Edwin menggiring “Babi”-nya untuk world premiere di ‘kandang macan’ penggila film, Pusan International Film Festival (PIFF) ke-13 yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 10 Oktober silam.</description>
   <pubDate>Fri, 31 Oct 2008 06:40:19 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Laskar Pelangi:Fiksi dan Alkemi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_laskarpelangi_1.htm</link>
   <description>Melanjutkan diskusi tentang Laskar Pelangi, redaktur rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, berangkat dari persoalan status fiksional novel dan filmnya. Ada ketegangan kreatif di situ, ketegangan yang mengimbas pula ke posisi sosial buku dan harapan sebagian khalayak terhadap filmnya. Ketegangan yang menegaskan pula bahwa memang film ini berbeda dari bukunya. Namun, persoalan status fiksional ini terkait pula dengan pesan dan bagaimana pesan itu menjamah khalayak. Pertanyaan lebih lanjut, ideologi apa di balik pesan Laskar Pelangi yang didaku positif itu? Dan, apa relevansi sosialnya?&lt;br>&lt;br>Berbekal dari pertanyaan-pertanyaan itu, Hikmat mencoba menelisik musabab Laskar Pelangi menjadi film paling istimewa Riri Riza, sejauh ini.&lt;br>&lt;br>Rangkaian tulisan mengenai Laskar Pelangi akan terus berlanjut ke tulisan Ekky Imanjaya tentang aspek neo-realisme dalam film ini.</description>
   <pubDate>Fri, 31 Oct 2008 06:39:31 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Laskar Pelangi:A Hesitant Warrior among 'Laskar Pelangi'</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_laskarpelangi.htm</link>
   <description> Once again, adaptation of bestseller book into film has gained huge commercial success. Riri Riza adaptation of Andrea Hirata’s Laskar Pelangi to a film of the same name has successfully disposed the book flaws, wrote Ifan Adriansyah Ismail, Rumah Film contributor.   Yet Riri Riza has his own flaws and Ifan explains those flaws in ferocious detail. But why he at the end of his piece, no irony here, congratulates Riri?&lt;br>&lt;br>This is an opening piece for Rumah Film review and commentary for Laskar Pelangi. </description>
   <pubDate>Tue, 21 Oct 2008 07:53:32 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Psychocinema Festival 3</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_psychocinema08.htm</link>
   <description>Psychocinema Festival 3 diadakan oleh Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya Semanggi Jakarta pada 6 – 8 November 2008.</description>
   <pubDate>Tue, 21 Oct 2008 07:52:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Tribu:Bukan Rumah Kaca</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_tribu.htm</link>
   <description>Kemiskinan dan akses terhadap senjata, adalah gabungan dua hal yang dengan mudah kita tahu ujungnya. Tapi, mengetahui hulu dan mengerti hilir tak pernah membuat kita memahami sungai kenyataan. Dan ketika kenyataan kekerasan didedahkan dengan begitu intim dalam film Tribu, maka redaktur Rumahfilm Eric Sasono pun tertegun: Tribu adalah filmmaking yang tak sekedar bersaksi, tapi ia bahkan membuat City of God sekadar sebuah audisi American Idol. </description>
   <pubDate>Fri, 26 Sep 2008 02:36:18 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>98.08:Yang Muda Yang Melawan Lupa</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_9808.htm</link>
   <description>98.08 - Setelah sepuluh tahun, film kita bisa menatap lama-lama luka Mei 1998 –walau baru sebagian. Sebagian film, dan hanya sebagian luka. Setelah May menjadi sebuah fiksi berani tentang masa teramat penting tapi masih simpang siur itu, ada pula 10 film pendek dari 10 pembuat film muda kita, dalam rangka 10 tahun Reformasi 1998. 98.08 adalah judulnya, baru saja terpilih jadi salah satu film Indonesia yang diputar dalam seksi “2008 Asian Omnibus” di Festival Film Internasional Pusan, Korea, dan akan tayang di sana Oktober nanti. </description>
   <pubDate>Fri, 26 Sep 2008 02:35:14 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>IMHO:10 Film WARKOP Terbaik  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_warkop.htm</link>
   <description>Dulu, sampai 1990-an, menjelang lebaran adalah juga bersiap lagi melakukan ritus lebaran di bioskop: menonton film Warkop atau film-film lain untuk pengisi lebaran. Sudah lama tradisi itu tak ada lagi. Tapi, lebaran ini kita akan mendapatkan lagi “film lebaran”, yakni Laskar Pelangi. Sekadar mengingat-ingat, redaktur rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, teringat pernah menyusun daftar film Warkop terbaik. Walau hubungan Laskar Pelangi dan Warkop ini agak dipaksakan, tak apa juga kita melihat daftar itu. Boleh tak setuju, boleh bikin daftar sendiri, ini sekadar suka-suka dia, walau kepingin bertanggungjawab juga dalam bentuk ada argumen atawa alasan. Nah, daftar itu adalah (diurut dari yang terbawah).</description>
   <pubDate>Fri, 26 Sep 2008 02:33:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Film Pendek Psychocinema Festival 3</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_psychocinema.htm</link>
   <description>Psychocinema Festival 3 adalah sebuah festival film yang akan diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya untuk yang ketiga kalinya. Disini adalah tempat para sineas untuk berapresiasi dan diapresiasikan karyanya. Dengan mengusung tema “Deal With Your Life”, festival ini diharapkan menjadi salah satu wadah bagi para sineas dalam menyalurkan dan mengusung karyanya.</description>
   <pubDate>Fri, 26 Sep 2008 02:32:58 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Perjuangan: Satu Monolog</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_november.htm</link>
   <description>Mengapa melirik fiksi, dan meninggalkan segala yang nyata? “Di zaman ini sudah sukar untuk membezakan yang mana fiksyen, yang mana reality,” tulis Hassan Muthalib, kritikus film dan esais negeri tetangga, Malaysia.&lt;br>&lt;br>Di zaman ini pula, warisan kedalaman fiksi Indonesia sering lebih dimaknai di negeri asing. Simaklah bagaimana Muthalib meminjam narasi November 1828 dalam renungan untuk memperingati kemerdekaan negerinya.</description>
   <pubDate>Thu, 11 Sep 2008 02:42:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Yang Terkenang dari Venesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_venice05.htm</link>
   <description>Film Asia rupanya punya pesona sendiri bagi Marco Muller, direktur festival film Venesia ini. Maka, film Asia bertaburan di dalamnya, termasuk karya animasi dari nama-nama besar seperti Hayao Miyazaki dan Mamoru Oshii. Belum lagi film-film dari Filipina dan Thailand dan China yang cukup terasa kehadirannya.&lt;br>&lt;br>Ada kenangan lain dari Venesia yang penting bagi Asmayani Kusrini selain banyaknya film-film Asia di sana. Kenangan itu adalah harga akreditasi yang mahal. Dibandingkan dengan festival lain, harga akreditasi di Venesia adalah yang termahal. Yang unik adalah, dengan 1.300 Euro, Anda bisa berjalan di red carpet di Venesia ini!</description>
   <pubDate>Thu, 11 Sep 2008 02:41:35 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Menonton Hantu Gentayangan ala Questi Fantasmi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_venice03.htm</link>
   <description>Ternyata hantu gentayangan bukan hanya bikin seram, tapi juga bikin penasaran. Dari judul program di Festival Film Venesia ini, redaktur RumahFilm, Asmayani Kusrini, sedikit terkecoh. Judul program ini seakan menjanjikan bahwa film-film yang diputar adalah film fantastik dan horor, jenis film yang mengandalkan hantu dan peristiwa serta tokoh supernatural untuk membikin penonton tak nyaman. Ketika ada film dengan nama bapak neo-realisme Italia, Roberto Rosselini, di jadwal program itu, rasa penasarannya pun merebak. Tapi ternyata film yang ditontonnya jauh dari pengertian fantastik-horor yang ia kenal.</description>
   <pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:23:08 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kembalikan Uang Kami !</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_venice04.htm</link>
   <description>Rini bertemu dengan sebuah tradisi yang membuatnya terkaget-kaget. Tradisi itu bernama Ridateci I Soldi! yang artinya Kembalikan Uang Kami ! Teriakan itu adalah protes dan uneg-uneg para penonton buat film dan festival ini. Ikutilah tulisan Rini untuk mengetahui kenapa ada tradisi itu di festival film Venesia.</description>
   <pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:22:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Nicholas Saputra dan Dian Sastro Tampil Perdana di Korea dengan 3Doa3Cinta</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_3Doa3Cinta.htm</link>
   <description>Di awal bulan ramadhan ini, dunia perfilman nasional kembali diramaikan dengan kehadiran “3Doa3Cinta”, yang kembali mempertemukan dua bintang muda berbakat Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo setelah debut awal mereka di AADC. Film “3Doa3Cinta” berhasil lolos dalam Official Selection di Pusan International FilmFestival di Korea, artinya “3Doa3Cinta” akan mendapat kehormatan untuk ditayangkan perdana atau world premier di Korea pada bulan Oktober mendatang.</description>
   <pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:21:52 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Laa Ilaha Ilallah, Sambil Telanjang Dada</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_kantatatakwa.htm</link>
   <description> Film Kantata Takwa karya kolaborasi sutradara Eros Djarot, Gotot Prakosa dan musisi dari kelompok Kantata Takwa seperti Iwan Fals, Jockie Suryoprayogo, Sawung Jabo, Setiawan Djodi dan penyair WS Rendra memenangkan Golden Hanoman pada 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Sedangkan film Death in The Land of Encantos karya sutradara Filipina, Lav Diaz memenangkan Silver Hanoman.&lt;br>&lt;br>Redaktur RumahFilm, Eric Sasono, hadir pada festival yang diselenggarakan pada tanggal 9 – 13 Agustus itu. Ia berkesempatan lagi menonton Kantata Takwa untuk kedua kalinya ketika film itu jadi film pembuka pada festival yang bersahaja itu. Eric mendapatkan kesan baru sesudah menonton Kantata Takwa untuk kedua kalinya, dan ia menuliskannya di sini. </description>
   <pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:08:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>The Joker: Return of The Devil  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_mabuse.htm</link>
   <description>It is the villain that attract people rather than the hero. In the evil-spirited villainous characters we can somehow see ourselves in particular situation that we mostly avoided. Once again, Joker character in The Dark Knight comes into the light in RumahFilm. This time, Asmayani Kusrini who watched the film in Brussel, intrigued by similarity between Heath Ledger’s The Joker and Dr. Mabuse of Fritz Lang’s films.</description>
   <pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:06:51 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Buon Giorno! Antara Venesia dan Film Festival</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_venice01.htm</link>
   <description>Ribuan kilometer jalan yang sudah ditempuh oleh Asmayani Kusrini, melewati berbagai rintangan demi sebuah festival film. Demi untuk berdiri di depan perkampungan film Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica di Venesia-Lido, Italia. </description>
   <pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:05:46 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Memulai Tradisi Arsip Visual</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_24jam.htm</link>
   <description>Sejak 26 Juni lalu hingga 16 November mendatang, di Museum Tropen, salah satu museum paling bergengsi di Belanda itu menjadi etalase bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam pameran “24 Hours Indonesia”, puluhan pengunjung menyaksikan berbagai potongan film keseharian di pasar, restoran, sekolahan, terminal bis, stadion sepakbola. Juga wawancara seputar kehidupan sehari-hari, keluarga, tempat kerja, hal-hal kecil tepatnya.</description>
   <pubDate>Thu, 04 Sep 2008 02:04:03 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_superhero.htm</link>
   <description>Negeri adikuasa seperti Amerika terlihat mudah saja memproduksi film superhero. Menekuk-nekuk genre itu pun seolah cukup sekadar bermain dengan niat. Bagaimana negeri ini? Apakah karena segala yang super belum jadi takdir bangsa ini, film superhero pun jadi tak terbayangkan? Kontributor RumahFilm Ade Irwansyah mencoba mencari jawabnya... </description>
   <pubDate>Thu, 14 Aug 2008 05:16:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>The Glare is Back!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_darkknight.htm</link>
   <description>Don't we agree The Dark Knight is one of the greatest films our generation has to offer ? I'm sure, it is. There are a lot of ethical questions pushed to our mind as soon as we left the theatre. Some people have to watch it twice or even more in order to digest it –eh, don't get me wrong. It's a COMPLIMENT---. And we do agree, this Joker guy is incredibly fascinating. And one of our editor, Eric Sasono suddenly feels a deja-vu toward this guy with macabrely scarred mouth. Through Joker, Eric took us back to commemorate another felon who has been obsessed our cinema world. I'm sure, you will recognize him too </description>
   <pubDate>Thu, 14 Aug 2008 05:16:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mengapa Film Horor (2)</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_horor_2.htm</link>
   <description> Film horor bukan sekadar film yang ada hantunya. Hikmat Darmawan dalam bagian kedua tulisannya ini menjelaskan mengenai tipologi film horor yang dikenal. Selain itu, ada juga film yang menampilkan hantu tapi tidak dibuat dengan maksud untuk menakut-nakuti penonton. Berdasarkan pengertian ini, Hikmat sampai pada diskusi mengenai: film apa yang merupakan film Indonesia pertama yang bisa dikategorikan sebagai film horor.&lt;br>&lt;br>Tulisan Hikmat ini kami turunkan dengan beberapa tulisan di filmsiana yang berkaitan dengan film horor. Selain tokoh-tokoh psikopat mengerikan dan film-film apokaliptik terbaik, ada juga tulisan dari kontributor kami, Donny Anggoro, tentang salah satu sosok paling terkenal dalam sejarah film horor, Freddie Krueger. </description>
   <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 08:13:50 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Sosok Ngeri itu Bernama Freddy  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_freddy.htm</link>
   <description>Salah satu sosok paling terkenal dalam sejarah film horor adalah ikon bernama Freddie Krueger. Apa sebab ikon horor satu ini mampu menjadi franchise yang digemari laiknya tokoh komik dan superhero? Kalau bicara kengerian, jauh-jauh hari orang sudah menjerit jika disuguhi karakter psikopat dan belepotan darah dalam Texas Chainshaw Massacre, kebringasan zombie dalam Night of The Living Dead-nya George Romero, kengerian Suspiria dan Inferno karya “The Italian Hitchcock” Dario Argento pun kisah-kisah horor yang ditulis Stephen King dan Clive Barker. Kontributor kami, Donny Anggoro mencoba memaparkannya berikut ini.</description>
   <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 08:13:24 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Psikopat Paling Menakutkan dalam Sejarah Film  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_psikopat.htm</link>
   <description>Norman Bates, sang Psycho yang diperani dengan apik oleh Anthony Perkins, mungkin psikopat paling terkenal dalam sejarah film. Apakah dia yang paling jahat? Menurut Hikmat Darmawan, psikopat paling jahat/mengerikan dalam film adalah Raymond Lamorne dalam Spoorloos a.k.a. The Vanishing (1988), film Belanda yang disutradarai George Sluizer.</description>
   <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 08:12:58 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film-film Apokaliptik Terbaik  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_apokaliptik.htm</link>
   <description>Menurut Hikmat Darmawan, Dawn of the Dead (1978, George P. Romero) adalah film apokaliptik terbaik. Beberapa film apokaliptik lain seperti Karisuma a.k.a. Charisma, Night Watch, Invasion of the Body Snatchers, The Reaping, The Prophecy dan Seventh Sign juga termasuk dalam deretan film terbaik versinya.</description>
   <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 08:12:33 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kado Hari Jadi:Ketika Pelaku dan Korban Setara</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_kado.htm</link>
   <description>  Kado Hari Jadi - Formula adalah sebuah jebakan yang nyaman. Ia bukan sekadar jalan mengatasi masalah, melainkan juga jadi sebuah modus umum bagi produksi; bagai sebuah mekanisme ban berjalan untuk membuat consumer good. Film karya Paul Agusta, Kado Hari Jadi tidak seperti itu. Windu W. Jusuf, kontributor RumahFilm.org dan programmer di Kinoki melihat Kado tidak menyandarkan diri pada formula.&lt;br>&lt;br>Paul yang dulu kerap menulis kritik film di harian berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta ini, menempatkan korban dan pelaku berada dalam posisi setara dalam film ini. Sesuatu yang tak biasa dalam film horor Indonesia. Kekisahan tak berjalan linear. Paul juga bermain-main dengan sinematografi. Dengan tema seputar dendam, rasa kehilangan dan tubuh sebagai katarsis, Kado Hari Jadi menghadirkan sebuah eksperimen. </description>
   <pubDate>Tue, 29 Jul 2008 07:48:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Yang Tergeser Keluar Layar</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_juno.htm</link>
   <description>Sebuah film bisa mengakibatkan pembicaraan panjang. RumahFilm sudah sempat menurunkan resensi film Juno yang ditulis oleh Hikmat Darmawan. Namun redaktur RumahFilm lain juga merasa bahwa film ini masih bisa dibicarakan. Asmayani Kusrini terus memikirkan film itu dalam waktu yang agak panjang, dan lahirlah eseinya yang tak setuju pada “posisi moral” Juno. Eric Sasono cukup terkesan oleh film itu hingga menghasilkan sebuah artikel tentang posisi Juno dalam lanskap film independen Amerika.&lt;br>&lt;br>Kedua tulisan ini kami terbitkan bersamaan di RumahFilm untuk membuka diskusi yang lebih luas. RumahFilm sendiri ingin membiasakan munculnya berbagai sudut pandang dalam memandang sebuah film. Harapan kami, ke depannya, akan ada film Indonesia yang mendapat pembahasan seperti ini.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:47:13 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Trend (Tak Terlalu) Baru: Menggemblok Monyet</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_juno.htm</link>
   <description>Sebuah film bisa mengakibatkan pembicaraan panjang. RumahFilm sudah sempat menurunkan resensi film Juno yang ditulis oleh Hikmat Darmawan. Namun redaktur RumahFilm lain juga merasa bahwa film ini masih bisa dibicarakan. Asmayani Kusrini terus memikirkan film itu dalam waktu yang agak panjang, dan lahirlah eseinya yang tak setuju pada “posisi moral” Juno. Eric Sasono cukup terkesan oleh film itu hingga menghasilkan sebuah artikel tentang posisi Juno dalam lanskap film independen Amerika.&lt;br>&lt;br>Kedua tulisan ini kami terbitkan bersamaan di RumahFilm untuk membuka diskusi yang lebih luas. RumahFilm sendiri ingin membiasakan munculnya berbagai sudut pandang dalam memandang sebuah film. Harapan kami, ke depannya, akan ada film Indonesia yang mendapat pembahasan seperti ini.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:46:46 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Q Film Festival ke 7 di tahun 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_qfestival.htm</link>
   <description>Q! Film Festival yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba bernama Q-munity hadir lagi untuk yang ke 7 kalinya di Jakarta, tanggal 8-16 Agustus 2008. Dengan mengangkat tema &quot;Naturally Different&quot;, yang menghadirkan 80 film (Film Panjang, Dokumenter dan Film Pendek) yang berasal dari kurang lebih 20 negara.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:46:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Metamorfosa dalam Seminar 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_seminarnetpac.htm</link>
   <description>Tema besar 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2008, Metamorfosa, hendak menegaskan kembali kekuatan sinema dalam menebarkan nilai-nilai keutamaan yang bersumber pada religiositas serta ikut menyumbang bagi proses perubahan sosial.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:45:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Boemboe, Gelar Acara: &quot;Refleksi 5 Tahun&quot;</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_boemboe.htm</link>
   <description>Sejak didirikan April 2003, Boemboe, organisasi yang bergerak di bidang promosi dan distribusi film pendek Indonesia berusaha memperkenalkan karya anak bangsa baik di negerinya sendiri maupun dunia internasional. Sebagai bagian dari proses belajar, banyak hal yang telah dicapai (baca: keberhasilan dan kegagalan) &quot;agen&quot; film pendek Indonesia ini. Dan tanpa terasa organisasi yang hanya digawangi 3 individu ini telah bertahan selama lima tahun.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:45:31 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mengapa Film Horor (1)</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_horor.htm</link>
   <description>Salah seorang menteri di kabinet yang sedang memerintah ini pernah mengejek film horor. Sehabis diajak menonton sebuah film oleh seorang produser, Menteri itu berkata kepada wartawan, “buatlah film yang bagus, jangan film horror”. Ia menggunakan ‘film horor’ sebagai kata ganti untuk ‘film jelek’. Sudah jelas bahwa menteri itu harus membaca tulisan Hikmat Darmawan di bawah ini. Mengapa film horor, dan mengapa bukan yang lain? Bisa jadi ada semacam stigma kasip melekat pada film genre ini. Padahal ia tak salah, dan tetap bisa jadi sumber eksplorasi kreatifitas. Juga sebagai sumber pemasukan, tentunya. Dalam tulisan yang patut menjadi satu lema dalam sebuah ensiklopedi ini, Hikmat Darmawan membahas seluk beluk film yang dekat dengan bulu kuduk dan teriakan itu.</description>
   <pubDate>Thu, 24 Jul 2008 06:30:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Anak-anak sebagai Penonton (Menyambut Hari Anak Nasional, 23 Juli 2008)</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_anak.htm</link>
   <description>Di Berlin, puluhan anak penuh semangat bertanya pada sutradara Hana Makhmalbaf, dan mengejar sutradara Liew Seng Tat untuk berfoto bersama serta minta tanda tangan. Di Rotterdam, anak ABG menjadi juri muda. Bahkan, di Pathe, sinepleks komersil terbesar di Belanda, selalu ada kolom kinderfilms di setiap papan pengumuman, buletin, dan situsnya. Bagaimana dengan negeri kita? Menyambut Hari Anak Nasional, 23 Juli, Ekky Imanjaya menulis seputar nasib penonton cilik di Indonesia. Menurutnya, sudah saatnya kita tak berhenti pada apologi akan minimnya produksi film anak-anak kita boro-boro bikin program festival film anak yang cerdas. Sudah saatnya kita menyadari betapa jauhnya kita ketinggalan dalam soal ini, dan segera mengejar ketertinggalan itu.</description>
   <pubDate>Wed, 23 Jul 2008 08:31:06 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Red Cliff:Puisi Kepemimpinan di Karang Merah</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_redcliff.htm</link>
   <description>Red Cliff - Di sela-sela ingar film-film musim panas Hollywood, terselip sebuah film kolosal Asia yang membuat para penontonnya tercekat: Red Cliff. Dua hal yang patut ditekankan dari film ini. Pertama, ini adalah karya John Woo –sutradara Asia yang telah jadi sutradara papan atas Hollywood, dan rupanya sedang ’kembali ke akar’ sebagaimana Ang Lee pernah lakukan dengan Crouching Tiger, Hidden Dragon-nya. Kedua, ini adalah adaptasi sebuah episode penting dalam roman klasik Tiongkok, Sam Kok (Kisah Tiga Kerajaan). Kontributor Rumahfilm.org, Arie Saptaji, mulanya menonton dalam keadaan buta-referensi, selayak penonton wayang yang belum pernah membaca Mahabharata atau Ramayana. Dari segi film, Arie antara lain terkesan oleh adegan-adegan perang film ini yang ”bisa membuat Peter Jackson ngiler”; plus terpancing merenungi kepemimpinan di negeri kita, setelah melihat haru-biru model kepemimpinan unggul dalam Red Cliff. Agaknya, kita mesti membaca puisi di Karang Merah itu. </description>
   <pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:02:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival Film Pendek Religi 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_religi.htm</link>
   <description>Dalam rangka menyambut hari sumpah pemuda ( 28 Oktober 2008 ) mulai tahun ini Layar Pelangi mengadakan kompetisi Film Pendek Religi Layar Pelangi. Dengan Tema &quot;Memperbaiki Moral Lewat Film.&quot;</description>
   <pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:02:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>3rd Jogja-Netpac Asian Film Festival</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_netpac.htm</link>
   <description>Pesta akbar film Asia kembali digelar di kota ini. Pesta yang bertajuk 3rd Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ini akan diselenggarakan pada tanggal 9-13 Agustus 2008 di seputaran Taman Budaya Yogyakarta dan Lembaga Indonesia Perancis.</description>
   <pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:01:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ploy:Maka Pada Suatu Pagi Hari..</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_ploy.htm</link>
   <description>Ploy - Sebuah sajak Sapardi Djoko Damono membantu Eric Sasono, redaktur Rumahfilm.org, menjelaskan makna fragmen dalam film Pan-Ek berjudul Ploy. Sebuah pagi, sebatang rokok, dan kemudian seorang perempuan muda Thailand generasi i-Pod. Dalam segitiga itu, seorang lelaki menciptakan fragmennya sendiri, yang kemudian ternyata membahayakan istrinya. Film yang berangkat dari premis puitis ini berkembang menjadi sebuah tragedi. Pan-Ek, dengan “tega”, menggambarkan bahkan keluar kamar ingin menikmati pagi pun mengandung risiko tragis. Sebuah kuasa sang pembuat film yang berlebih? Pan-Ek adalah sutradara angkatan muda Thailand yang menari di antara film “seni” dan film komersial. Di film ini, Pan-Ek menari di antara dunia puitis yang fragmentaris, dan dunia tragedi yang total dan keras.</description>
   <pubDate>Sat, 19 Jul 2008 04:12:23 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Wanted:Bullets and a Woman</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_wanted.htm</link>
   <description>This is not a review for Peluru dan Wanita –that ‘80s Indonesian movie which starred Chris Noth long before his “big” gig in Sex and the City. This is about Wanted the movie that screwed Wanted the comic book –according to our editor, Hikmat Darmawan, who in his other identity is a vigilante known as The-Comics-Geek. He says this movie is essentially about bullets that refused to obey the law of physics and about Angelina Jolie’s lips. Timur Bekmambetov (Night Watch, Day Watch) took the task of making mindless entertainment for this summer very seriously. He especially serious about the word “mindless”. And his cameras were seriously making love with Angelina Jolie’s screen persona.&lt;br>&lt;br>But as much as Hikmat shared with the director about this fascination to that persona, he must struggle hard with a part of reviewing that said, And the moral of the story is …. </description>
   <pubDate>Thu, 17 Jul 2008 04:47:37 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Hancock:Cerita Macam Hancock hanya Bisa Terjadi di Amerika</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_hancock.htm</link>
   <description> Hancock bukan sekadar film superhero. Tagline film ini berbunyi “not your ordinary superhero”. Ia memang tak biasa. Tapi apa sesungguhnya superhero yang “ordinary”? Biasa dan tak biasa bukan sesuatu yang netral. Ia lahir dari sebuah konteks tertentu. Sesuatu yang biasa di satu tempat dan waktu, bisa dianggap tak biasa di waktu dan tempat yang lain.&lt;br>&lt;br>Redaktur RumahFilm, Eric Sasono, keluar dari pembahasan kekisahan semata ketika membahas Hancock. Dengan semangat bercanda, ia menunjukkan bahwa kekisahan tertentu lahir dari sebuah konteks tertentu. </description>
   <pubDate>Mon, 14 Jul 2008 04:57:45 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kritikus Film dan Pembuat Film: Kawan atau Lawan?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_kritikusfilm.htm</link>
   <description>Kritikus dan pembuat film bagai anjing dan kucing? Cara melihat posisi masing-masing seperti ini sudah tak produktif lagi sekalipun dalam kenyataan kerap ditemukan. Kontributor RumahFilm, Ade Irwansyah, mencoba untuk melihat lebih dekat hubungan-hubungan itu.&lt;br>Lantas bagaimana sejatinya hubungan antara kritikus dan pembuat film? Ade menyarankan satu hal penting yang tak boleh dilupakan: penonton. Keduanya ada buat penonton. </description>
   <pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:12:30 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Pemutaran Cerpen untuk Filem Forum Lenteng  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cerpen.htm</link>
   <description>Pemutaran Proyek Cerpen Untuk Filem 14 - 24 Juli 2008 di Kineforum, Studio 1 Cineplex 21-TIM Cikini Raya 73, Jakarta Pusat - 10330 </description>
   <pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:12:00 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>&quot;SUMPAH! (ini) POCONG&quot;</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_sumpahpocong.htm</link>
   <description>SUMPAH!(ini) POCONG direncanakan rilis pada akhir tahun 2008 dan diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan tontonan masyarakat.</description>
   <pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:11:35 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>THE PHOTOGRAPH Masuk Festival Karlovy Vary  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_photograph.htm</link>
   <description>THE PHOTOGRAPH - Shanty Pastikan Hadiri Kompetisi Karlovy Vary International Film Festival. </description>
   <pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:11:11 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Nagabonar (Jadi) 2 dan Kala:Indonesia nun Di Sana</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_indonesia.htm</link>
   <description>Film adalah juga sebuah wahana bagi ke-Indonesia-an. Demikianlah, dua film yang beredar pada 2007 memicu reaksi kebangsaan pada penonton mereka. Dua film yang sama sekali berbeda: Naga Bonar Jadi 2 (Deddy Mizwar) dan Kala (Joko Anwar). Yang satu film laris, yang lain film gagal dari segi perolehan penonton. Lebih dari itu, pendekatan estetika dan bentuk (form) kedua film itu berbeda sangat. Redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono, bahkan menelaah lebih dalam bagaimana kedua film itu berbeda sikap, pandangan, dan perlakuan (treatment) terhadap sesuatu yang mereka bayangkan sebagai “Indonesia”. Mencuat suatu kesimpulan menggelitik: begitu sulit, ternyata, memunculkan ke-Indonesia-an dengan wajar dalam film nasional kita yang kiwari –setidaknya, jika mengambil dua film yang istimewa pada 2007 ini. Kedua film ini menampilkan dua wajah Indonesia yang segera kita kenali, sekaligus ternyata jauh dari hidup kita yang nyata. Inilah sebuah artikel yang didera rasa rindu: demikian musykilkah “Indonesia” dalam film kita?</description>
   <pubDate>Tue, 01 Jul 2008 03:04:49 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Fiksi.:Jalan Sulit Alisha dan Mouly</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_fiksi.htm</link>
   <description>Fiksi. adalah film yang mengandung risiko. Tapi, film pertama Mouly Surya ini juga mengandung peluang. Itulah yang dilihat oleh redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono. Film ini dengan berani mempersoalkan dunia fiksi dan dunia nyata, membaurkannya. Film ini juga mengambil ilham dari dongeng klasik penuh perlambang dari Inggris, Alice in Wonderland –dengan “Alice” menjadi “Alisha”, sambil juga menampilkan sosok kelinci putih. Dunia Alisha yang di awang-awang (anak jenderal superkaya) dibenturkan dunia Bari di rumah susun yang penuh aneka cerita. Untuk cerita nyeleneh ini, Mouly sang sutradara debutan mendapat penulis naskah yang cocok: Joko Anwar (Kala, Janji Joni). Bahwa film ini banyak mengandung kekurangan teknis, tak membuat Eric kehilangan optimismenya kepada Mouly sang sutradara. Sayang sekali, film ini lumayan cepat diturunkan dari kebanyakan layar bioskop 21 di Jakarta, sehingga saat tulisan ini dimuat, Fiksi. tinggal diputar di beberapa bioskop saja. </description>
   <pubDate>Fri, 27 Jun 2008 07:28:28 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Call for Entry Kompetisi Film Dokumenter Indonesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_ffd2008.htm</link>
   <description>Penerimaan karya pada Kompetisi Film Dokumenter Indonesia Festival Film Dokumenter akan dimulai 17 Juni sampai 30 Oktober 2008. </description>
   <pubDate>Fri, 27 Jun 2008 07:27:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Berlin International Film Festival Berlinale Talent Campus 2009  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_berlinaletalent.htm</link>
   <description>Cameras are Rolling for the Berlin Today Award 2009: My Super Sea Wall – A short film about global warming in Alaska marks the start of the next competition round.</description>
   <pubDate>Fri, 27 Jun 2008 07:27:31 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bella Tar:Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_tarr.htm</link>
   <description>Asmayani Kusrini bertemu dengan Bella Tar. Nama itu tak akan banyak berarti, bahkan bagi para filmgoers. Bahkan kritikus Amerika paling terkenal, Roger Ebert, saja baru menonton film karya Tarr di tahun 2007. Dan segera Ebert memuji film Tarr dan masuk ke daftar Greatest Film-nya.&lt;br>&lt;br>Nama Bella Tar memang salah satu bukti bahwa film tidak hanya milik Hollywood. Eksplorasi Bella Tar terhadap medium ini membuatnya jadi salah satu nama penting dalam sejarah sinema. Ia membuat karya-karya yang bicara banyak dalam waktu lama, seakan menjanjikan sebuah immortality bagi dirinya.&lt;br>&lt;br>Asmayani Kusrini bertemu dengan Bella Tar. Padahal Rini merasa baru dua tiga tahun saja ia melek film, dan sempat beranggapan bahwa film hitam putih pasti dibuat oleh sutradara yang sudah mati. Dan ia bertemu Bella Tar yang memilih film format hitam putih karena pusing oleh banyak warna. Dengan segenap semangat seperti seorang peneliti yang penasaran, Rini bertanya pada Bella Tar tentang banyak hal. Tentang konvensi sinematis, tentang beratnya hidup dan tentang Tuhan.</description>
   <pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:32:26 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Script Development Competition 2008  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jsdc08.htm</link>
   <description>Tahun ini, festival film internasional terbesar di Asia Tenggara, Jakarta International Film Festival ( JiFFest), kembali hadir dengan salah satu acara tahunannya, yaitu Kompetisi Pengembangan Naskah atau JiFFest Script Development Competition ( JSDC). </description>
   <pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:31:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Film Pendek Anak Muda 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_kpfam.htm</link>
   <description>OneEleven Integrated Communications yang lebih dikenal dengan nama PT.Visi Anak Bangsa bekerjasama dengan Project CIVED (proyek kerjasama Departemen Dalam Negeri dan United Nations Development Programme) menggelar program Kompetisi Film Pendek Anak Muda (KFPAM) 2008. </description>
   <pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:31:17 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Berbagi KARMA dengan Penonton Film Indonesia  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_karma.htm</link>
   <description>Credo Pictures akan memperkenalkan diri kepada pecinta film Indonesia lewat film mereka, KARMA dengan waktu rilis Juli 2008. Film bergenre horror thriller ini disutradarai oleh Allan Lunardi dan diproduseri oleh Elvin Kustaman dengan penulis skenario Salman Aristo.</description>
   <pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:30:50 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> May:Berani Karena Takut</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_may.htm</link>
   <description>Mungkin memang butuh waktu, agar sebuah peristiwa sebesar Reformasi 1998 bisa difilmkan dengan tenang dan reflektif. Di tengah jarangnya film Indonesia yang berminat atau mampu mengangkat realitas gelap bangsa ini, film May karya Viva Westi (dan 98.08, karya sepuluh sutradara muda kita yang diproduksi oleh Prima Rusdi dan kawan-kawan) memberi angin segar. May bahkan berani menggunakan teknik kekisahan (naratif) yang tak lazim dalam film komersial Indonesia: alur maju mundur di sekujur film, dan ending yang mempertanyakan kembali kelaziman happy ending dalam film komersial. Redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, merasa film ini patut dihargai karena mengajak kita merenungi ke-Indonesia-an kita tanpa menggurui atau menghakimi. Inilah film drama yang cukup mengharukan, kisah tentang beberapa kehidupan yang buyar di sebuah hari yang penting dan genting bagi bangsa ini sepuluh tahun lalu. Inilah kisah May yang diperkosa di hari itu, dan ternyata korban dalam kisah ini tak hanya May seorang.</description>
   <pubDate>Wed, 11 Jun 2008 07:51:25 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Warner Herzog:Filmmaker Sekarang Lebih Banyak Mengeluh</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_herzog.htm</link>
   <description> Tak ada perbedaan antara fiksi dan dokumenter, yang ada hanya film. Kata-kata ini keluar dari Warner Herzog, salah satu legenda hidup dalam sejarah sinema modern saat ini. Herzog adalah seorang prolific yang karyanya merambah banyak sekali pokok soal. Beberapa filmnya seperti Fitzcarraldo dan Aguirre, The Wrath of God masuk ke daftar film terbaik sepanjang masa bagi banyak kritikus.&lt;br>&lt;br>Determinasi Herzog membuatnya menjadi uswah alias teladan bagi para pembuat film yang merasa harus memegang erat kebebasan berkreasi. Lihat saja kutipannya yang kami jadikan sebagai judul wawancara ini. Wawancara ini dilakukan oleh redaktur kami, Asmayani Kusrini, di sela-sela Festival Film Dokumenter Rotterdam tahun 2008 ini.&lt;br>&lt;br>Wawancara ini mengungkap banyak hal dari orang penuh semangat dan determinasi ini; terasa bagai menyaksikan cuplikan sang Fitzgerrald dalam Fitzcarraldo mengarungi sungai ganas untuk memenuhi obsesinya. Penolakan dan olok-oloklah yang membuatnya menjadi Warner Herzog yang sekarang ini. </description>
   <pubDate>Mon, 09 Jun 2008 04:46:10 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Cannes, Pagi Tadi...</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_11.htm</link>
   <description> Akhirnya Festival Film Cannes usai. Redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini pun mengirimkan laporan terakhirnya. Dibekali keharusan menuliskan catatan penutup, ia justru asyik menuturkan kekesalan menyaksikan kinerja negeri kelahirannya di festival itu. Indonesia, dengan rakyat dua ratus juta lebih, di Cannes tampak sebagai bangsa yang lupa apa arti berpeluh dan berjuang. Ini jelas bukan catatan kemarahan, tetapi semacam bukti betapa manusia diaspora seperti Rini, justru memperoleh &quot;kutuk&quot;: makin mencintai Indonesia, negeri yang secara fisik telah jauh ditinggalkannya.&lt;br>&lt;br>Selamat untuk para pemenang.. sampai jumpa di pesta film berikutnya </description>
   <pubDate>Wed, 04 Jun 2008 03:42:40 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Madonna Datang Atas Nama Kemanusiaan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_10.htm</link>
   <description>Dari Cannes Asmayani Kusrini juga meneguhkan penolakannya terhadap kampanye charity ala Madonna dan George Clooney. Rini meragukan terhadap aksi-aksi kemanusiaan yang dilakukan para bintang tenar. Menurutnya, kalau ingin berbuat baik tidak perlu menunggu Cannes.</description>
   <pubDate>Fri, 30 May 2008 03:11:59 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Akankah Kita Dijajah Lagi?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_9.htm</link>
   <description>Beberapa hari menikmati Cannes, lagi-lagi redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini merindukan Indonesia. Tepatnya, merindukan nama-nama Indonesia. Ia ingin nama Eric Sasono, Arya Gunawan, atau Hikmat Darmawan, atau Krisnadi Yuliawan atau Ekky Imanjaya atau Veronica Kusuma, atau siapa saja yang  cukup paham tentang film-film Indonesia tercantum di katalog 47 Semaine International De La Critique Cannes 2008 (International Critics Weeks ke 47). Kenyataannya malah sebuah nama Italia, Paolo Bertolin, yang diklaim atau mengklaim diri sebagai penasehat ahli film Indonesia tercantum pada katalog tersebut. </description>
   <pubDate>Fri, 30 May 2008 03:05:40 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bertemu Jennifer Lynch dan Che Guevara</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_8.htm</link>
   <description>Tak hanya eforia Maradona yang sempat disaksikannya. Redaktur Rumahfilm Asmayani Kusrini juga melihat dari dekat polah anak-anak Milyarder yang menjadikan Cannes taman bermain mereka, sekaligus mengintip dan menjadi saksi mimpi-mimpi kemasyhuran yang mereka cari. Dan setelah Maradona, gadis-gadis milyarder dan mimpi-mimpinya, Rini pun bertemu Che Guevara yang hidup kembali.</description>
   <pubDate>Tue, 27 May 2008 03:31:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Pagar Betis dan Penduduk Cannes</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_7.htm</link>
   <description>Cannes tahun ini ternyata juga menjadi saksi masih masyhurnya Maradona. Saking populernya ”si tangan tuhan” ini, kehadirannya berbuah kerusuhan. Redaktur Rumahfilm Asmayani Kusrini pun terjebak dalam amuk kecil di negeri yang disebut beradab itu.</description>
   <pubDate>Tue, 27 May 2008 03:30:02 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dominasi Hollywood dan Film Kecil di Panas Terik</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_6.htm</link>
   <description>Cannes itu tidak adil! Ini gerutuan yang ditangkap redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini di tengah-tengah serunya festival film itu. Gerutuan ini bukanlah suara minor, setidaknya bukan pandangan wartawan asing semata. Tapi,apa yang tidak adil dari Cannes? Kenapa yang “kecil” meskipun bisa menang namun hakekatnya selalu kalah? Ini oleh-oleh berikut RumahFilm dari Cannes.</description>
   <pubDate>Mon, 26 May 2008 04:34:47 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Last Call for Jan Vrijman Fund 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_janvrijmanfund.htm</link>
   <description>IDFA's Jan Vrijman Fund supports documentary filmmakers and festivals in developing countries. Its goal is to stimulate local film cultures and to turn the creative documentary into a truly global film art. The deadline to submit a project for the second and last selection round of 2008 is 1 June 2008.</description>
   <pubDate>Sat, 24 May 2008 01:54:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Coblos Cinta Siap Beredar di Bioskop, mulai 29 Mei 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cobloscinta.htm</link>
   <description>Film Coblos Cinta, sebuah tontonan yang menyegarkan produksi Investasi Film Indonesia (IFI), siap beredar! Film yang dihiasi taburan bintang muda ini akan mulai diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia mulai 29 Mei 2008.Dibintangi oleh Nadia Saphira (Jomblo, Coklat Stroberi, Cintapuccino) dan Tommy Kurniawan (Eiffel I’m In Love, Buruan Cium Gue), dengan penampilan khusus yang sensasional dari Ivan Gunawan dan Adly Fayruz!</description>
   <pubDate>Sat, 24 May 2008 01:54:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Moviegoers Kesurupan, Tanda-tangan dan Film Favorit</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_5.htm</link>
   <description>Festifal film Cannes ternyata juga bisa jadi tempat untuk mengkoleksi kode. Macam-macam kode ciptaan para penggila film muncul di sana. Tapi, kecuali kaum mega bintang dan sutradara besar, di Cannes siapapun bisa mendadak menjadi kaum marginal. Maka, ketika menemukan sutradara yang filmnya benar-benar tulus melihat kaum marginal, redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini tanpa sadar merogoh buku dan menyodorkan pena untuk meminta tanda tangan. Sesuatu yang pertama kali ia lakukan sepanjang usianya.</description>
   <pubDate>Thu, 22 May 2008 05:32:03 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Warung Indonesia dan Ayat-Ayat Cinta</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_4.htm</link>
   <description>Cannes dan Indonesia, adakah berhubungan? Asmayani Kusrini Redaktur RumahFilm.Org yang beberapa lama bermukim di manca negara tiba-tiba menemukan jejak menuju rumah ketika ia bertemu poster Ayat-Ayat Cinta di Cannes. Bermula dari poster, lalu kios, hingga menjejaki desa film di Marche du Film, Cannes, Ia juga tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan mengenai letak Indonesia dalam peta dan geografi perfilman dunia. Berbekal rindunya pada tanah air, Rini menuturkan kesan-kesannya itu hanya untuk Anda, pembaca RumahFilm.Org</description>
   <pubDate>Wed, 21 May 2008 03:20:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Saat The Bunker Dibuka</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_3.htm</link>
   <description> Setiap ritual punya prosesi, dan redaktur RumahFilm, Asmayani Kusrini sedang menjadi bagian sekaligus melaporkan prosesi itu. Ia menyusun daftar prioritasnya sendiri. Jadwal dari berbagai program di Cannes dibentangkannya dan mengatur agenda menonton adalah soal terberat di ritual sebesar itu. Dan godaan memang banyak.&lt;br>&lt;br>Salah satunya bernama Angelina Jolie. Foto yang Anda lihat di situs ini sudah membuatnya kehilangan satu film yang sudah dijadwalkannya. Angelina sedang di Cannes mempromosikan film animasi dimana ia mengisi suaranya, Kungfu Panda; bersama-sama pendukung film itu yang lain: Dustin Hoffman dan Jack Black. </description>
   <pubDate>Sat, 17 May 2008 02:22:12 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film Dadakan di Seksi Kompetisi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_2.htm</link>
   <description> Orang fanatik beragama kerap buta. Sekalipun para ‘dewa di kahyangan’ berintrik dan berpolitik demi kepentingan mereka sendiri, pengikut nyaris taklid semacam redaktur kami, Asmayani Kusrini, seperti tak peduli. Toh, hasilnya ia merasa beruntung bisa menonton film Blindness karya Fernando Meirelles yang diadaptasi dari novel Jose Saramago berjudul sama.&lt;br>&lt;br>Film itu tak ada di daftar yang dirilis oleh panitia festival. Dengan masuknya film itu secara tiba-tiba, kemungkinan besar memang ‘ada apa-apanya’. Cannes selama bertahun-tahun memang dipenuhi aura macam itu. Mulai dari Wong Kar Wai yang sengaja melambatkan pengriman filmnya, film Bella Tar yang selesai diedit 3 hari sebelum festival dimulai; hingga soal kuota dan dugaan ‘bagi-bagi piala’.&lt;br>&lt;br>Dan, seperti halnya agama, dunia sinema juga punya politiknya sendiri. Asmayani Kusrini mengamati sambil menghayatinya. </description>
   <pubDate>Fri, 16 May 2008 13:15:05 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival De Cannes 2008: Bienvenue à Cannes !</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes08_1.htm</link>
   <description> Festival Film Cannes di Prancis adalah sebuah ritual tahunan istimewa buat para pembuat film, pelaku industri dan tentu saja para penggila film.   Menghadiri festival ini bagi mereka mungkin bagai sebuah cita-cita mulia atau ziarah mahapenting bagi orang yang ‘agama’-nya film. RumahFilm.org beruntung sekali bisa mengutus salah seorang redakturnya, Asmayani Kusrini, ke festival bergengsi tersebut. Dan Rini akan menulis diary-nya setiap hari dari sana untuk Anda, para pembaca. Akreditas dari festival ini buat wartawan dari situs ini terasa luar biasa mengingat usia kami belum lagi satu tahun!&lt;br>&lt;br>Lima jam Rini berketa dari Brussel menuju ke kota tepi pantai itu. Ia sudah beberapa hari lalu mengantisipasi film apa saja sekiranya yang akan ia saksikan di sana. Ikuti catatan harian Rini yang sedang melakukan ritual mengunjungi kuil sucinya. </description>
   <pubDate>Thu, 15 May 2008 05:23:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_kantata.htm</link>
   <description>Kantata Takwa - Film Kantata Takwa mencatat berbagai rekor di negeri ini. Pertama, film ini diselesaikan dalam waktu 18 tahun. Syuting pertama bulan Agustus 1990 dan world premiere bagi Kantata Takwa adalah pada 9 April 2008 di Singapore International Film Festival. Kedua, footage dokumenter film ini direkam dengan 30 kamera film! Belum lagi ”rekor” keberadaan nama besar dan deretan legenda di dalamnya. Mulai dari Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Gotot Prakosa, Sawung Jabo, Setiawan Djody, WS Rendra, dan, terutama, Iwan Fals.&lt;br>&lt;br>Deretan nama dan investasi besar itu sempat bergaung jadi semacam jaminan bahwa ini adalah film besar dengan tema besar. Namun film itu bagai terpuruk dan tak terdengar kabarnya. Sampai tiba-tiba di akhir Maret ini, Gotot Prakosa mengirimkan undangan untuk menonton film ini di pemutaran terbatas. Redaktur RumahFilm, Eric Sasono, menyempatkan diri datang ke pemutaran terbatas yang dihadiri awak film, pemain, dan undangan terbatas itu.&lt;br>&lt;br>Film dengan nama besar itu seperti melontarkan Eric dengan kapsul waktu ke masa silam. Ia merasa film itu penuh dengan agenda dari dekade yang sudah lalu. Berbagai ungkapannya juga ia rasakan inkoheren. Tapi kenapa ia justru merasa masih ada sesuatu yang relevan dalam film itu? </description>
   <pubDate>Wed, 14 May 2008 03:47:50 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> IMHO – 10 Film Komik Non-Superhero Terbaik</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_comic.htm</link>
   <description>Komik kasip disamakan dengan superhero. Majnun komik seperti Hikmat Darmawan tentu tak rela. Banyak komik yang tak bertokoh superhero dan bisa sumber film yang baik. Mendampingi ulasan Eric Sasono tentang Iron Man, berikut daftar dari Hikmat.</description>
   <pubDate>Wed, 14 May 2008 03:47:10 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> Iron Man: Pahlawan dan Warisan Bagi Dunia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_ironman.htm</link>
   <description> Iron Man - Ah, musim panas itu telah tiba dan di Jakarta masih hujan nyaris setiap sore. Sejak Jaws dan Star Wars, musim panas didefinisikan Hollywood sebagai masa menjual film-film box office. Dan lama-kelamaan, seperti disebut oleh Eric Sasono dalam resensi ini (mengutip Geoff King), definisi film box office didominasi naratif spektakuler (spectacular narratives). Musim panas ini, seperti juga beberapa tahun belakangan, beberapa naratif spektakuler ala Hollywood saling bersaing film-film superhero, remake film horor Asia, film laga, dan semacamnya. Iron Man pun terbang dini ke daftar box office AS (dan dunia), mendahului The Dark Knight, The Incredible Hulk, dan Indiana Jones and The Kingdom of Crystall Skull. Film yang diangkat dari seri komik terbitan Marvel ini, ditandai dengan cameo Stan “The Man” Lee sang pencipta tokoh ini (silakan tebak yang mana), adalah juga ajang adu seni peran Robert Downey, Jr. dan Jeff Bridges, plus Gwyneth Paltrow dan Terrence Howard. Adu akting mereka boleh jadi bisa bikin Stanilavsky gigit jari. Film sci-fi/superhero yang menurut Eric, redaktur RumahFilm.org, bersemangat kaum demokrat AS ini mencerminkan keadaan di dunia nyata, tapi juga sesuatu yang ilusif.</description>
   <pubDate>Thu, 08 May 2008 06:29:21 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Calling for Entries:Festival Film Pendek Konfiden 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_konfiden08.htm</link>
   <description>Festival Film Pendek Konfiden 2008 (FFPK 2008), Yayasan Konfiden untuk ketiga kalinya menggelar kompetisi film pendek Indonesia. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 5 Mei 2008 dan ditutup pada tanggal 18 Juli 2008.</description>
   <pubDate>Thu, 08 May 2008 06:28:37 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> The Tarix Jabrix:Konvensi dan Kucing di Tengah Jalan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_tarix.htm</link>
   <description>The Tarix Jabrix – Hanung Bramantyo kini jadi produser, namanya tercantum di poster film ini selayak nama Francis Ford Coppola dicantum dengan tambahan kata “presents” dalam film Jeepers Creepers, untuk jadi kartu kredibilitas. Ada, memang, konvensi semacam itu dalam teknik promosi film. Dan film ini terasa benar hendak bermain-main dengan konvensi. Ataukah yang ada, sesungguhnya, ketakberdayaan terhadap berbagai konvensi film yang telah ada? Mungkinkah sutradara yang masih muda, juga para awak serta pemain yang serba muda ini, telah begitu termudahkan oleh berbagai acuan dan konvensi film yang ada, sehingga tak mampu lebih dari sekadar comot sana dan comot sini untuk membangun alur cerita film ini? Bahkan dayatarik utama film ini, The Changchutters dan vokalisnya, masih mengandalkan stock acuan film yang telah ada dan mudah didapat. Redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono, membedah film ini dan hubungannya dengan berbagai konvensi yang telah ada.</description>
   <pubDate>Sat, 03 May 2008 02:50:51 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film drama komedi sport tentang Futsal di Indonesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_futsal.htm</link>
   <description>Futsal Cap tempe adalah sebuah film drama komedi sport tentang Futsal di Indonesia. Dengan mengambil ”demam sepakbola” yang akan terjadi karena event akbar PIALA EROPA AUSTRIA-SWISS 2008, Bros Pictures mempersembahkan sebuah film layar lebar perdana karya sutradara muda berbakat, Archie Hekagery, dengan mengangkat genre drama komedi sport bertema ”futsal”.</description>
   <pubDate>Sat, 03 May 2008 02:50:13 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mereka Yang Akan Berlaga di Cannes 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cannes.htm</link>
   <description>Ini sebuah tradisi tahunan: menunggu pengumuman seleksi Festival Film Cannes. Setiap menjelang akhir April, semua wartawan dari media khusus film di Eropa akan berkumpul di Paris, menunggu Thierry Fremaux didampingi Gilles Jacob datang dengan daftar di tangan. Akhirnya daftar itupun sampai ke wartawan pada 23 April lalu yang diawali dengan sebuah konferensi Pers di Grand Hotel Paris. Termasuk RumahFilm yang akan ikut rombongan arus moviegoers menuju bibir laut mediterania di Cote D’Azur, Perancis pada Mei mendatang.</description>
   <pubDate>Sat, 03 May 2008 02:49:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Gertjan Zuilhof:Filmmaker di Area Nyaman</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_gertjan.htm</link>
   <description>Festival Film Internasional Rotterdam atau IFFR adalah sebuah wadah “penemuan” bagi bakat-bakat baru. Asia, khususnya Asia Tenggara, mendapat banyak perhatian di festival ini. Lihatlah misalnya tahun 2008 ini dimana 2 dari 3 pemenang di festival itu berasal dari Negara-negara Asia Tenggara. Orang yang berada di balik layar dalam soal ini adalah Gertjan Zuilhof. Sejak tahun 1990 ia menjadi kurator di festival itu dan pada tahun 2005 ia membentuk seksi khusus Asia Tenggara.&lt;br>&lt;br>Gertjan sempat menolak posisi kurator film-film Asia lantaran merasa tak mengerti budaya dan bahasanya. Namun ternyata ia menemukan bahwa film adalah sebuah karya yang mampu bicara mengatasi bahasa-bahasa verbal. Pertemuannya dengan Asia, tepatnya Asia Tenggara, seperti sedang memasuki dunia baru yang tak dilihatnya di Eropa. Redaktur RumahFilm, Asmayani Kusrini, sempat menemui Gertjan di sela-sela IFFR tahun ini dan berbincang tentang ‘tulisan tangan’ para filmmaker Asia Tenggara. Kenapa ia bilang filmmaker Indonesia berada di area nyaman? </description>
   <pubDate>Fri, 25 Apr 2008 12:43:15 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>“Tet! Tet! Autobus!!!”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_nightofterror.htm</link>
   <description>Pada 9-20 April lalu, hampir bersamaan dengan Cinemasia, Amsterdam Fastastic Film Festival (AFFF) digelar untuk ke-24 kalinya. Model festival ini mirip dengan ScreamFest di jaringan bioskop Blitz, Desember 2007 lalu. Sebagai festival film yang tak terlalu ambil pusing dengan kategori-kategori “art house movies”, AFFF terasa lebih mementingkan suasana perayaan dan pesta. Memang ada penghargaan-penghargaan. Tapi, yang utama adalah suasana “pesta jelata”, di mana budaya penonton dijunjung tinggi. Karena itulah, selain menyajikan tontonan dari genre fantasi, anime, cult, horor, dan thriller, ada tradisi penting yang terus dipelihara dalam festival ini: The Night of Terror. Ini adalah program rutin, yakni pemutaran film-film horor dari berbagai genre dengan tradisi menonton program yang khas: brutal! Redaktur Rumahfilm Ekky Imanjaya, begadang semalam suntuk bersama sekitar seribu penonton film yang ganas, tak kalah dengan hooligan atau bonek sepakbola. Di tengah riuh-rendah para penonton yang penuh cacian, gemar berteriak dan ribut, apa yang asyik? Silakan membaca cerita Ekky ini.</description>
   <pubDate>Wed, 23 Apr 2008 10:38:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kembalinya Ladya Cheryl lewat Film Bergenre Drama Thriller: Fiksi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_fiksi.htm</link>
   <description>Terinspirasi oleh cerita Alice in Wonderland, Cinesurya mempersembahkan sebuah film layar lebar perdana karya Mouly Surya yang mengangkat genre drama thriller berjudul FIKSI. Film ini bercerita tentang seorang gadis yang bagai hidup di dunia mimpi berpetualang ke dunia nyata.</description>
   <pubDate>Wed, 23 Apr 2008 10:37:51 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dua Film Indonesia Menutup Festival Cinemasia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cinemasia_indonesia.htm</link>
   <description>Cinemasia di Amsterdam dimulai oleh Doris Yeung dengan 5 film. Tiga tahun kemudian, ia sudah menjadi agenda tetap para penggila film di Amsterdam. Tahun ini, 70 film diputar di festival itu. Festival di jantung Eropa ini seakan membantu mendefinisikan ulang Asia. Asia tak sesederhana sebuah benua dngan batas-batas geografis yang tegas. Ia adalah sebuah budaya yang hybrid dengan definisi yang cair dan terus berubah.&lt;br>&lt;br>Tahun ini, dua film Indonesia, Kala dan Quickie Express terpilih menjadi penutup Cinemasia Film Festival di Amsterdam. Joko Anwar pun hadir sebagai tamu dan menjawab pertanyaan antusias para penonton, baik di dalam atau luar sesi resmi. Kedutaan Besar Indonesia pun menjadi sponsor malam penutupan festival itu. Seperti apa respon penonton film di Amsterdam?&lt;br>&lt;br>Redaktur RumahFilm, Ekky Imanjaya yang sedang bersekolah di Amsterdam ikut serta dalam keramaian itu. </description>
   <pubDate>Mon, 21 Apr 2008 09:14:04 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Banjir Film Asia di Rialto</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cinemasia_banjirfilm.htm</link>
   <description>Sinema Asia menyerbu Amsterdam, Belanda, 2-13 April. Mereka hadir dalam Cinemasia, sebuah festival film yang khusus memutar film-film Asia. Film-film terpilih, termasuk Kala dan Quickie Express, akan keliling Belanda hingga 20 April 2008. Fenomena film Asia yang melintas-batas ditampilkan. Simak laporan redaktur Rumahfilm Ekky Imanjaya langsung dari Amsterdam.</description>
   <pubDate>Mon, 21 Apr 2008 09:13:28 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Hegemoni yang Tak Mati-Mati:  Dari Dikusi Buku ”Kandang dan Gelanggang, Sinema Asia Tenggara Kontemporer”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_kandanggelanggang.htm</link>
   <description>Apa yang signifikan dari Asia Tenggara? Kontributor RumahFilm, Ifan Adriansyah Ismail, bertanya hal itu pada dirinya sendiri sebelum mendatangi diskusi buku Kandang dan Gelanggang: Sinema Asia Tenggara Kontemporer yang dieditori oleh redaktur RumahFilm, Eric Sasono. Diskusi itu terjadi di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, 22 Maret 2008 yang lalu, diselenggarakan oleh RumahFilm, bekerjasama dengan Jurnal Kalam, Kineforum dan HIVOS. Veronika Kusuma dan Arya Gunawan menjadi pembicara.&lt;br>&lt;br>Ifan tak keliru. Kalimat pertama yang dinyatakan oleh dua pembicara dalam diskusi buku bagai menjadi gema saja bagi pertanyaan dalam kepalanya. Diskusi kemudian memang berbicara mengenai hal-hal ekstra sinematis. Soal estetika memang tak tersentuh sama sekali. Diskusi itu, dalam laporan Ifan ini, akhirnya membuka sebuah pertanyaan tentang budaya sebagai sebuah strategi. Tepatnya: film sebagai semacam strategi budaya dalam menghadapi sebuah hegemoni. Pembicaraan mengenai sinema kemudian sama artinya dengan pembicaraan geopolitik.</description>
   <pubDate>Thu, 17 Apr 2008 09:12:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ketika Cinta Bertasbih: Menjajaki Kota Cairo dan Alexandria Sebagai Lokasi Syuting</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_kcb.htm</link>
   <description>Tim pembuatan film “Ketika Cinta Bertasbih” akan bertandang ke Cairo – Mesir mulai tanggal 16 April – 26 April 2008 dalam rangka hunting lokasi syuting, dan juga menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait dengan produksi film selama di sana.</description>
   <pubDate>Thu, 17 Apr 2008 09:12:12 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> Juno:Mengapa Kita Tak Bisa Bikin Film Remaja Seperti Ini?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_juno.htm</link>
   <description>Judul tulisan ini mirip curhat, tetapi sebenarnya tulisan ini berisi resensi tentang film Juno, film nominasi Piala Oscar tahun 2007 lalu. Film ini didistribusikan oleh Fox Searchlight (anak perusahaan 20th Century Fox yang mengincar film-film produksi studio kecil) dan berhasil meraih pendapatan di atas 100 juta dolar. Angka ini adalah sejarah buat perusahaan itu. Juno juga merupakan film nominasi Oscar 2007 yang paling banyak ditonton dibandingkan film-film nominasi lainnya.&lt;br>&lt;br>Padahal Juno sama sekali jauh dari tipikal film blockbuster. Tak ada efek khusus atau gerakan kamera istimewa. Film ini menceritakan seorang anak umur 16 tahun yang hamil dari hubungan sex pertamanya. Lantas kenapa film ini jadi istimewa?&lt;br>&lt;br>Redaktur RumahFilm, Hikmat Darmawan, mendadarkan argumennya seperti sedang mengupas bawang – teknik yang ia tuduhkan digunakan juga dalam skenario film ini. Selapis demi selapis Hikmat bercerita bagaimana Juno adalah sebuah film remaja dengan cara pikir yang justru dewasa. Dengan tepat Juno menangkap apa yang sedang menjadi kegelisahan remaja Amerika dengan cara yang dewasa dan kemudian mengungkapkannya dengan jujur. Dan itu bukan sekadar soal jadi atau tidak pacaran dengan orang yang ditaksir.&lt;br>&lt;br>Maka ketika Hikmat melihat film negeri sendiri, muncullah judul tulisan ini. Mungkin terkesan cerewet, tapi Hikmat selalu bisa relevan dan mengasyikkan. Silakan Anda temukan sendiri!</description>
   <pubDate>Sat, 12 Apr 2008 02:10:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kota Pertama: Gerilya 3 Cities Short Film Festival di Pontianak</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_3cities.htm</link>
   <description>Sebuah laporan lapangan yang menarik dari Amin Sabhana, pegiat Boemboe Forum, tentang program 3 Cities Film Festival di Pontianak, sebagai kota pertama. Bisa jadi refleksi penting tentang sebuah gerilya membangkitkan pembuatan film lokal yang tak melulu arusutama film komersial.</description>
   <pubDate>Sat, 12 Apr 2008 02:10:00 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Malaysia Hatrik!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_malaysia.htm</link>
   <description>Sudah lama International Film Festival Rotterdam memberikan ruang bagi film-film Asia Tenggara untuk tampil. Maka, gerakan pembaruan film Malaysia pun menggebrak di sana. Sineas Malaysia dari ras Tionghoa membukukan tiga kemenangan di sana. Malaysia memang sedang bersinar. Dalam Cinemasia di Rialto tahun ini, diumumkan bahwa 29 Oktober-2 November 2008 akan berlangsung program New Malaysian Cinema di Rialto. Redaktur Rumahfilm.org, Ekky Imanjaya meliput langsung dari Rotterdam, awal tahun ini.</description>
   <pubDate>Mon, 07 Apr 2008 04:41:32 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Membaca Globalisasi dalam Kaca Mata Perang Budaya</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_globalisasi.htm</link>
   <description> Drama seri Winter Sonata, liuk tari Rain, dan obsesi para pembuat film kita yang ingin sekali meniru gaya para film maker Korea Selatan, adalah tanda-tanda terbaru keadaan ”perang budaya” di medan globalisasi.&lt;br>&lt;br>Masalah globalisasi cenderung mengalami inflasi kajian, saking seringnya soal ini disebut dalam diskusi di media-media kita dalam kurang lebih satu dekade ini. Namun, masalah globalisasi dalam dunia film justru sedang mengalami perkembangan menarik, dengan menggeliatnya perlawanan dari Asia Timur hingga Tenggara. Dalam hal film, pertarungan itu mencakup format industrial yang mencoba merebut kue Hollywood, hingga upaya estetik menciptakan bahasa baru film Asia (atau tempat lain) untuk menepis bahasa Hollywood yang dominan.&lt;br>&lt;br>Pemimpin Redaksi Rumahfilm.org, menghabiskan 9 bulan di Jepang dan Thailand meneliti soal film dan globalisasi. Pertaruhan di medan yang masih belum banyak dirumuskan ini sungguh nyata, dari segi bagaimana sebuah bangsa mesti mempertahankan kebangsaannya. Misalnya, upaya gigih Jepang mengangkat ”content industry” yang mencakup segala item industri hiburan Jepang yang kini sedang hype di masyarakat muda kita –dan betapa Indonesia tampak sama sekali mengabaikannya.&lt;br>&lt;br>Berikut adalah tulisan Krisnadi, semacam sketsa awal soal ini, untuk sebuah diskusi tentang globalisasi di LIPI, 25 Maret 2008. </description>
   <pubDate>Mon, 31 Mar 2008 05:52:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Sketsa Jakarta dalam Film Indonesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_sketsa.htm</link>
   <description>Hubungan pembuat film dengan kotanya adalah sebuah hubungan istimewa. Frederico Fellini memperlihatkan hal itu dalam filmnya, Roma; yang oleh media di Amerika disebut sebagai Fellini’s Rome. Film itu, oleh Jurgen Mueller yang mengedit buku Best Movie’s of 70’s yang diterbitkan oleh Taschen, Jerman, dianggap mengandung sebuah hubungan intim antara pembuat film dengan kotanya.&lt;br>&lt;br>Adakah hubungan semacam itu dalam film Indonesia? Redaktur RumahFilm.org, Eric Sasono, membuat semacam sketsa tentang hubungan pembuat film dengan film yang mereka buat tentang kota Jakarta. Hubungan ini berfluktuasi. Dalam pandangan Eric, fluktuasi itu terbentuk dari perspesi umum tentang perkembangan kota dan modernisasi yang terjadi. Eric secara garis besar memperlihatkan tiga fase cara pandang pembuat film terhadap Jakarta: Jakarta sebagai monster (1970-an), penyesuaian terhadap Jakarta (pasca 1985) dan kebingungan dalam memandang Jakarta (2000-an).</description>
   <pubDate>Wed, 26 Mar 2008 09:05:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ayat-ayat Cinta di BBC London</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_bbc.htm</link>
   <description>Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta telah mengundang banyak pihak untuk mengamatinya secara khusus. Tak urung salah satu lembaga paling berwibawa di dunia, British Broadcasting Corporation atau BBC, turut meliput fenomena ini.</description>
   <pubDate>Wed, 26 Mar 2008 09:05:05 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Half Teaspoon Win a Grand Priza in Hongkong Independent Film Video Award 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_ifa.htm</link>
   <description>Ifa Isfansyah from Indonesia impresses the jury of the Asian New Force Category with his highly stylized work &quot;Half Teaspoon.&quot;</description>
   <pubDate>Wed, 26 Mar 2008 09:04:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Film Dokumenter FORKAMI</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_forkami08.htm</link>
   <description>FORKAMI mengadakan Pemutaran Film dan Pameran 27 – 29 Maret 2008 di Pusat Kebudayaan Prancis Jakarta (CCF Jakarta).</description>
   <pubDate>Wed, 26 Mar 2008 09:04:16 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Diskusi dan Peluncuran Buku “KANDANG DAN GELANGGANG: SINEMA ASIA TENGGARA KONTEMPORER”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/agenda/agenda_menu.htm#asia</link>
   <description>RumahFilm.org bekerjasama dengan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, Jurnal Kalam dan HIVOS mengundang Anda untuk menghadiri acara diskusi dan peluncuran buku:&lt;br>&lt;br>“KANDANG DAN GELANGGANG: SINEMA ASIA TENGGARA KONTEMPORER” yang diedit oleh Eric Sasono&lt;br>&lt;br>Acara ini akan diadakan pada hari Sabtu, 22 Maret 2008 pukul 14.00 sampai selesai, bertempat di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki.&lt;br>&lt;br>Pembicara:&lt;br>&lt;br>   1. Arya Gunawan, pengamat film&lt;br>   2. Veronika Kusuma, mahasiswa kajian film, Institut Kesenian Jakarta&lt;br>&lt;br>Moderator: Krisnadi Yuliawan, pemimpin redaksi www.rumahfilm.org&lt;br>&lt;br>Adakah estetika yang khusus membedakan kawasan Asia Tenggara dan kawasan lainnya? Adakah persamaan atau saling mempengaruhi antara situasi perfilman di satu negara Asia Tenggara dengan negara Asia Tenggara lainnya?&lt;br>&lt;br>Berbagai pertanyaan seputar film dan perfilman Asia Tenggara akan dibahas dalam diskusi ini.&lt;br>&lt;br>Peserta diskusi akan mendapatkan buku “KANDANG DAN GELANGGANG: SINEMA ASIA TENGGARA KONTEMPORER” secara cuma-cuma. </description>
   <pubDate>Tue, 18 Mar 2008 03:52:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>3 Cities Short Film Festival goes to Kalimantan…</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_3cities_kalimantan.htm</link>
   <description>3 Cities Short Film Festival 2008 kembali hadir, traveling film festival ini akan berkeliling ke 3 kota di Kalimantan: Pontianak 15-16 Maret, Banjarmasin 20-21 Maret dan Balikpapan 22-23 Maret.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Mar 2008 08:19:19 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bulan Film Nasional 2008: Film Suzanna diputar di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_suzana.htm</link>
   <description>Pada tahun ini kineforum menampilkan aktris Suzanna, yang telah menghasilkan film dari berbagai genre yang sangat berbeda sejak tahun 1950-an sampai 1990-an.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Mar 2008 08:18:46 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bulan Film Nasional 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_filmnasional.htm</link>
   <description>Kineforum Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan Bulan Film Nasional 2008 &quot;Sejarah adalah Sekarang&quot; selama bulan Maret 2008 untuk merayakan Hari Film Nasional.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Mar 2008 08:18:10 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_jokoedwin_1.htm</link>
   <description>Akhir tahun lalu Joko Anwar, sutradara Janji Joni dan Kala, menawarkan diri kepada RumahFilm untuk mewawancara Edwin, sutradara film pendek Kara Anak Sebatang Pohon. Lewat film pendeknya itu, Edwin menjadi sutradara Indonesia pertama yang filmnya diputar di seksi Director’s Forthnight Festival Film Cannes, Perancis. Tapi, bukan karena itu RumahFilm tertarik pada tawaran Joko Anwar.&lt;br>&lt;br>RumahFilm justru menawar balik pada Joko Anwar, bagaimana jika ini bukan sekadar Joko mewawancarai Edwin, tapi juga sebaliknya? Kami berharap percakapan Joko Anwar, yang telah menghasilkan dua film panjang, dengan Edwin, yang sebentar lagi meluncurkan film panjang pertamanya Babi Buta Yang Ingin Terbang, bisa menjadi periskop untuk meneropong jauh ke dalam benak filmmaker generasi baru negeri ini.&lt;br>&lt;br>Ditemani Eric Sasono, redaktur RumahFilm, pertemuan keduanya berlangsung seru. Sesekali ledekan, kritik terbuka bahkan makian meluncur. Khusus untuk Anda, pembaca RumahFilm, kami kemas percakapan itu di sini. Selamat menikmati.&lt;br>&lt;br>Berikutnya: tiga tulisan tentang Ayat-ayat Cinta.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 07:09:18 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>International Film Festival TOFIFEST – CALL for ENTRIES!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_tofifest.htm</link>
   <description>International Film Festival TOFIFEST opens the recruitment of films for competitions of the Festival's sixth edition. TOFIFEST's Grand Prix is Golden Angel and a dozen or so thousand EURo’s to share.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 07:08:35 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Sineas Indonesia di Kandang Macan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_filmindoiffr.htm</link>
   <description>Di International Film Festival Rotterdam (IFFR), para sineas Indonesia dan karya mereka diperlakukan bak bintang, seperti halnya sineas dari negara lainnya. Tiket untuk program Shorts from Malaysia Indonesia: Neighbours habis terjual. Tidak sedikit yang menonton film-film dari Indonesia. Sesi tanya jawab setelah pemutaran film digunakan oleh penonton dengan maksimal. Berbagai media mewawancarai mereka. Garin Nugroho dan Shanty Harmayn mendapat kehormatan menjadi juri. Berikut laporan Ekky Imanjaya dari Rotterdam.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 03:13:22 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival Film Internasional Berlin: PESTA, JUGA HUMOR</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_liputanberlinale.htm</link>
   <description>Berlinale Film Festival baru saja usai. Redaktur Rumahfilm Ekky Imanjaya berkesempatan meliput ke sana selama sepekan. Ia menyaksikan fenomena perayaan berbagai pencapaian dan apresiasi. Dari masyarakat awam, penggila film, hingga sang sineas sendiri, tenggelam dalam suasana pesta yang membuat ‘mabuk’.&lt;br>&lt;br>Suasana penyerahan penghargaan serta film peraih piala di Berlinale tahun ini penuh dengan nuansa humor, politis, dan sejarah. Redaktur RumahFilm.org, Ekky Imanjaya, hadir dan menyaksikannya, termasuk saat Garin Nugroho selaku ketua juri NETPAC memberikan penghargaan.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 03:12:31 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>BERBURU SHU QI, MADONNA LARI: Pengalaman Tak Indah Meliput Festifal Film Berlin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_berlinale.htm</link>
   <description>Kegagalan, frustasi, kekagetan. Pengalaman redaktur Rumahfilm di Berlinale International Film Festival, salah satu festival film terbesar di dunia. Ekky Imanjaya seolah berada di hutan rimba film festival dengan “hukum rimba” yang kurang familiar baginya, dan harus dipelajarinya dengan amat cepat. Dan ia pun mengakhiri Berlinalle dengan sebuah sumpah!</description>
   <pubDate>Mon, 10 Mar 2008 03:10:59 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Eksotisme Yogyakarta dalam Film Indonesia -  Banal, Binal, dan ’Ndeso</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_yogya.htm</link>
   <description>Misrepresentasi kerap terjadi dalam film. Misrepresentasi terjadi bukan sekadar ketika kenyataan tak sama dengan penggambarannya dalam film. Misrepresentasi merupakan wakil dari sebuah jarak antara sudut pandang pembuat film dengan subyek yang sedang dibicarakannya.&lt;br>&lt;br>Grace Samboh bukan Yogya. Namun ia tinggal di Yogyakarta dan merasa risih dengan jarak yang ada antara para pembuat film Indonesia sekarang ini dengan Yogyakarta. Para pembuat film, yang kebanyakan tinggal di Jakarta, tampak tak keberatan menggambarkan Jakarta dengan segenap eksotismenya. Jarak fisik itu berubah menjadi jarak sosiologis, dalam gambaran Grace. Sebuah visit filmmaking, atau tourism filmmaking.&lt;br>&lt;br>Jarak-jarak sosial semacam ini tak terelakkan, karena film dibuat bukan untuk meniru seratus persen kenyataan. Namun gambaran Grace ini memperlihatkan betapa dalam penggambaran lokasi dan orang-orang Yogya, para pembuat film mengambil begitu saja dari stock knowledge mereka dan dengan demikian menciptakan jarak itu.</description>
   <pubDate>Tue, 26 Feb 2008 06:14:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>CALL FOR ENTRIES - THE 2nd INIGO FILM FESTIVAL 2008 FOR SHORT FILMS</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_inigo.htm</link>
   <description>Call for entries - the 2nd Inigo Film Festival 2008 for short films. Young film makers are welcome to submit their films until April 10, 2008</description>
   <pubDate>Mon, 25 Feb 2008 04:29:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Culture Unplugged: Call for the festival  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_culture.htm</link>
   <description>Culture Unplugged is a festival of seen and unseen cinema. Through the festival we are creating a common ground for discussion between storytellers of all hues. The festival will showcase an eclectic selection of short films, documentaries and some features from the SEAsia region.</description>
   <pubDate>Mon, 25 Feb 2008 04:28:49 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Menggagas Alternatif Sensor Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_diskusi.htm</link>
   <description>Pusat Kajian dan media Jogjakarta akan mengadakan diskusi dengan tema 'MENGGAGAS ALTERNATIF SENSOR FILM' Rabu, 27 Februari 2008 di Bentara Budaya, Kota Baru, Jogjakarta.</description>
   <pubDate>Sat, 23 Feb 2008 01:56:33 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Dokumenter FORKAMI</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_forkamikompetisi.htm</link>
   <description>Dalam rangka menyambut 'Hari Monitoring Air' sedunia, FORKAMI menyelenggarakan kompetisi film dokumenter dengan tema 'Manusia dan Air'. Kompetisi ini merupakan bagian dari kampanye Selamatkan Airku 2007. Kompetisi ini terbuka untuk umum.</description>
   <pubDate>Fri, 22 Feb 2008 03:33:19 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Rudi Soedjarwo Sutradarai Film Motor Pertama di Indonesia setelah Era Kebangkitan Industri Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_motor.htm</link>
   <description>Sebuah kabar yang sangat membanggakan bagi dunia perfilman tanah air dengan hadirnya sebuah film mengenai motor pertama di Indonesia. Rudi Soedjarwo (Ada Apa Dengan Cinta, 9 Naga, Mendadak Dangdut, Mengejar Mas-Mas, Cintapuccino), kembali menjadi pioneer untuk film bertema sport-action dengan mengangkat dunia motor sebagai bidikannya.</description>
   <pubDate>Fri, 22 Feb 2008 03:12:32 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Hiroshima Mon Amour Pada Mulanya Sebuah Buku</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_hiroshima.htm</link>
   <description>Pusat Kebudayaan Prancis atau CCF Jakarta bekerjasama dengan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta mengadakan pemutaran body of work dari Margeruite Duras (1914 – 1996). Margeruite Duras punya banyak atribusi. Ia adalah seorang novelis yang karyanya, L’amant atau The Lover memenangi Goncourt Prize di Prancis pada 1984. Sebagai penulis skenario, karya yang ditulisnya, Hiroshima Mon Amour (dan filmnya, disutradarai oleh Alan Resnais) sempat dianggap “mengakhiri perdebatan mengenai elemen naratif dalam film” oleh jurnal film terkemuka Cahiers Du Cinema. Duras sendiri menyutradarai film-filmnya, yang dianggap oleh David Bordwell dan Kristin Thompson dalam Film History, An Introduction, sebagai karya-karya yang mengemansipasi posisi sutradara perempuan dalam sejarah sinema dunia karena ia berani melakukan eksperimentasi dalam elemen naratif film-filmnya.&lt;br>&lt;br>Margeruite Duras dimakamkan di Pemakaman orang-orang terkenal di Pemakaman Montparnasse, Paris. Tapi di Jakarta, 12 tahun sesudah kematiannya, orang masih mendiskusikan karya-karyanya.&lt;br>&lt;br>RumahFilm menurunkan sebuah esei dari redakturnya, Asmayani Kusrini untuk menghormati sosok ini</description>
   <pubDate>Thu, 21 Feb 2008 03:41:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Katalog Keluarga milik Edwin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_edwin.htm</link>
   <description>Empat film pendek Edwin diulas Eric Sasono (redaktur rumahfilm.org), dalam bersiap menyambut film panjang pertama sutradara muda yang berbakat ini. Saat Jiffest 2007 kemarin, diputar trailer Babi Buta Yang Ingin Terbang, karya Edwin. Saat ini, film tersebut sedang diproses pascaproduksi. Tema yang menarik, pendekatan visual yang “lain”, terlihat sepintas dari trailer tersebut. Dan jika menyelami empat karya film pendek Edwin sebelumnya, kita pun segera menangkap kepekaan Edwin sang pencipta film. A Very Slow Breakfast (2003), Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing (2004), Kara, Anak Sebatang Pohon (2005) dan A Very Boring Conversation (2006) adalah empat film pendek yang, menurut Eric, memasalahkan pengertian lazim sejak masa Orde Baru tentang “keluarga”. Bukan hanya memasalahkan, Edwin juga mensubversi. Sejak dunia lawas/mitologis Dajang Soembi hingga dunia virtual internet, Edwin mengganggu kita dengan pertanyaan: apakah keluarga masih relevan?&lt;br>&lt;br>Selain ulasan ini, rumahfilm.org juga menyiapkan sebuah percakapan antara Edwin dengan sutradara muda berbakat lainnya, Joko Anwar.</description>
   <pubDate>Tue, 12 Feb 2008 04:58:40 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Penutup: Memahami Hidup dan Berbagi Cerita lewat Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam09.htm</link>
   <description> Festival Film Internasional di Rotterdam ini berakhir juga. Asmayani Kusrini melengkapinya dengan menerka-nerka film apa saja yang mendapat award di film ini. Rini menjagokan film Asia, khususnya film Asia Tenggara. Pemenang diumumkan dan ternyata 2 film Asia Tenggara mendapat penghargaan. Tapi tak ada nama Indonesia di sana. Pesta di Rotterdam ini pun berakhir, demikian pula dengan diary Rini. Ia akan mengirimkan lagi wawancara dan tulisan-tulisannya yang didapatnya dari festival itu.</description>
   <pubDate>Fri, 08 Feb 2008 06:03:16 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Flower in the Pocket: Momen Emas Mempertanyakan Negara</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_flower.htm</link>
   <description>Flower in The Pocket -Film panjang pertama Liew Seng Tat. Dipenuhi momen emas, dan diam-diam subversif terhadap kebijakan Negara yang telah mapan. Film ini salah satu yang memenangi penghargaan di Festival Film Internasional Rotterdam 2008.</description>
   <pubDate>Fri, 08 Feb 2008 03:45:11 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Otomatis Romantis: Mimpi Basah Wong Ndeso</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_otomatisromantis.htm</link>
   <description>Otomatis Romantis – Film komedi dengan premis bak mimpi basah wong ndeso. Sebagai mimpi basah, yang muncul adalah karikatur, karakter dan kejadian yang berlebih-lebihan, yang boleh jadi mengancam keterpercayaan cerita. Untungnya, ini komedi yang asyik. Jika banyak film-film kita belakangan mengangkat wong ndeso dan terjungkal dalam jebakan (orang kota) menertawakan orang desa (seperti Mendadak Dangdut dan Kawin Kontrak), film ini terasa seakan justru wong ndeso sedang menertawakan diri sendiri. Dan diam-diam, ada keseimbangan pula: wong ndeso menertawakan wong kota, yang kerepotan menerapkan petuah life style dari media modern ke dalam kehidupan nyata. Eric Sasono mengulas sebab mengapa komedi ini terasa segar, di luar beberapa kekurangannya.</description>
   <pubDate>Wed, 06 Feb 2008 05:48:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Radit dan Jani: Mimpi Itu Tak Di Sana</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_raditjani.htm</link>
   <description>Radit dan Jani - Sebuah film melodrama yang berniat tampil brutal. Tapi, penampilan adalah masalah besar film ini. Upi (Realita, Cinta &amp;amp; Rock ‘n Roll) memberi baju punk pada melodrama cinta. Eric Sasono mengulik makna pemberontakan dalam film ini, dan konteks urban yang melingkupinya.</description>
   <pubDate>Wed, 06 Feb 2008 05:48:02 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kawin Kontrak: Komedi Amoral</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_kawin.htm</link>
   <description>Kawin Kontrak – Sebuah komedi seks, sudah meluncur ke layar bioskop-bioskop negeri ini. Seharusnya, ia hadir tak sekadar membenarkan kabar bahwa film komedi sedang dan akan jadi trend di tahun ini. Tapi, salah seorang redaktur RumahFilm terpaksa menyebut film ini Amoral. Hanya, amoral ini bukan dalam arti yang Anda duga.</description>
   <pubDate>Tue, 05 Feb 2008 08:54:47 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>I Have No Illusions Anymore</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam0708.htm</link>
   <description>Festival film internasional di Rotterdam ini sudah memasuki tahunnya yang ke-37. Sebagai festival, ia sudah mapan. Sudah banyak sutradara besar dihasilkan dari festival ini, termasuk Bela Tarr, sutradara asal Hungaria yang bahkan oleh Garin Nugroho pun disebut sebagai sutradara besar. Asmayani Kusrini beruntung bisa duduk besama Tarr dan mewawancarainya. Keluarlah kutipan dari Bela Tarr yang jadi judul tulisan diary Rini hari ke-7 dan 8 ini.</description>
   <pubDate>Tue, 05 Feb 2008 08:54:09 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bertemu Para Juri Muda</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam06.htm</link>
   <description>Satu hal yang unik di festival Rottedam ini adalah adanya juri-juri muda. Usia mereka belasan tahun, dan mereka berisik. MovieSquad, kelompok remaja ini, memang merupakan program khusus untuk meningkatkan apresiasi remaja guna melawan dominasi film-film Hollywood dan opera sabun di TV. Dan mereka berkuasa menentukan film terbaik versi mereka sendiri.&lt;br>&lt;br>Perjumpaan Asmayani Kusrini dengan anak-anak muda ini membuatnya kagum. Mereka bisa menyatakan pendapat, berargumen dengan penuh semangat tentang film-film yang mereka tonton sepanjang festival. Dan, sekali lagi, mereka berisik. Hingga Rini terpaksa menyimpan sebuah rahasia yang tak bisa ia tuliskan untuk Anda di sini.&lt;br>&lt;br>Oh, Rini masih terus menontoni banyak film sampai hari keenam ini.</description>
   <pubDate>Mon, 04 Feb 2008 07:10:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Juries award films from the IFFR 2008 programme VPRO Tiger Awards go to Thailand, Malaysia and Denmark  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam05.htm</link>
   <description>During the IFFR 2008 Awards Ceremony on Friday, February 1, 2008 in Concert and Congress Centre 'de Doelen' in Rotterdam, the winning films of the 37th International Film Festival Rotterdam were announced. The three VPRO Tiger Awards were granted to the Hubert Bals Fund supported film Wonderful Town by Aditya Assarat (Thailand), to Flower in the Pocket by Liew Seng Tat (Malaysia), and to Go with Peace Jamil (Ma salama Jamil) van Omar Shargawi (Denmark). On Saturday February 2, 2008 the KPN Audience Award and attendance figures will be announced.</description>
   <pubDate>Mon, 04 Feb 2008 07:10:05 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Acting Course– Dapur Film Community  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_dapurfilm.htm</link>
   <description>DFC (Dapur Film Community) menyelenggarakan acting course bagi siapa saja yang berminat untuk menjadi pemain film/sinetron/iklan dll.</description>
   <pubDate>Mon, 04 Feb 2008 07:09:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title> Perempuan Punya Cerita:  Para Perempuan Malang</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_perempuan.htm</link>
   <description>Sebuah omnibus empat film yang mendaku tegas sebagai film-film tentang perempuan dari sudut pandang perempuan. Ingin mengangkat ketersudutan perempuan, dan mengapa mereka harus dibela, tapi beberapa justru jatuh menyudutkan perempuan. Menarik bahwa film yang dibuat dengan pakem ”arthouse movies” ini dipasarkan seakan film populer biasa di bioskop kita. Paling tidak, poster besar film ini, misalnya, dipasang di area parkir McDonald Kemang bersama Kawin Kontrak dan film populer lainnya. Dan memang, menurut Eric Sasono (redaktur Rumahfilm.org), beberapa dari empat itu mirip sinetron belaka. Perempuan Punya Cerita adalah produksi Kalyana Shira, yang kita kenal telah menghasilkan Arisan dan Quickie Express. Empat sutradara yang terlibat adalah Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo, dan Fatimah T. Rony. Berdasarkan naskah yang dibuat oleh Vivian Idris dan Melissa Karim.</description>
   <pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:14:18 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival: Saat Rutinitas dan Pesta Bertemu</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam05.htm</link>
   <description> Salah satu yang paling khas dari sebuah festival adalah para relawan. Mereka adalah orang-orang yang kerap terlupakan di balik para bintang dan sutradara. Mereka umumnya para pecinta film, bekerja dengan sukacita demi lancarnya sebuah festival. Asmayani Kusrini sempat berbincang dengan mereka. Ia bertemu dengan seorang teknisi proyektor yang sudah 15 tahun menjadi relawan di festival ini!</description>
   <pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:13:40 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Arte France Cinema Award and Prince Claus Fund Film Grant handed out at CineMart 2008 Closing Night Party </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam04.htm</link>
   <description>During the CineMart 2008 Closing Night Party, Wednesday January 30, 2008 in Parkzicht (Rotterdam, The Netherlands), the Arte France Cinema Award went to CineMart 2008 Project The Pervert’s Guide to Ideology by Sophie Fiennes / Kasander (KTV bv), The Kasander Film Company (UK/The Netherlands). The Prince Claus Fund Film Grant was awarded to CineMart 2008 Project In What City Does It Live? by Liew Seng Tat / Dahuang Pictures (Malaysia), also competing for one of the VPRO Tiger Awards for his Flower in the Pocket.</description>
   <pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:13:12 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Sutradara versus Nicholas Saputra</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam04.htm</link>
   <description>Asmayani Kusrini mulai bertemu para bintang festival ini: sutradara. Ia sempat mengajukan pertanyaan kepada Alexandr Sokurov, sutradara yang dikenal dengan Russian Ark, sebuah film panjang yang dibuat dengan hanya satu take. Pertanyaan itu terjadi di tengah-tengah diskusi: apakah film merupakan perpanjangan dari literatur ataukah sebuah seni yang mandiri?&lt;br>&lt;br>Sekitar 30 menit, Rini juga ngobrol dengan Kobayashi Masahiro, sutradara film Bashing yang sempat mendapat nominasi Palem Emas di Festival Film Cannes tahun 2005. Ternyata Kobayashi bisa berbahasa Perancis, dan Rini memakai kesempatan itu untuk melatih Bahasa Perancisnya. Jadilah seorang Jepang dan seorang Indonesia bicara Bahasa Perancis di Rotterdam.&lt;br>&lt;br>Namun Rini kemudian mempertanyakan teorinya bahwa sutradara adalah para bintang di festival ini. Pasalnya, ia bertemu Nicholas Saputra!</description>
   <pubDate>Thu, 31 Jan 2008 07:17:13 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Para Bintang: Sutradara</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam03.htm</link>
   <description>Asmayani Kusrini benar-benar menikmati waktunya di International Film Festival Rotterdam, di Rotterdam, Belanda. Ia membagikan pengalamannnya menonton berbagai film yang diputar di sana; dan membuat kita bertanya apakah film-film itu akan bisa kita saksikan di layar lebar di negeri ini.&lt;br>&lt;br>Film-film yang dintonton Rini adalah film yang ‘tak biasa’ yang tak mengikuti apa yang ditulis di buku teks pembuatan film. Ia sangat terkesan pada film John Torres, satu dari 3 sutradara Filipina yang dianggap sedang melakukan pembaruan film di negeri itu, mengikuti jejak para “berandalan” Malaysia yang lebih dulu berkiprah di banyak festival di Eropa. Rini juga menonton Juno, salah satu nominasi Piala Oscar untuk film terbaik. Tapi baginya, film ini seperti ‘mahluk steril ditengah laboratorium yang sedang melakukan eksperimen menciptakan mahluk baru.’&lt;br>&lt;br>Inovasi dirayakan di Rotterdam, maka para sutradara pun menjadi bintang di sana.</description>
   <pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:49:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Juries Award Short Films in International Film Festival Rotterdam  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam03.htm</link>
   <description>During the IFFR 2008 Awards Ceremony for Short Films on Monday, January 28, 2008 in Theatre Lantaren / Venster in Rotterdam, the winning short films of the 37th International Film Festival Rotterdam were announced. The three Tiger Awards for Short Film were granted to Ah, Liberty! by Ben Rivers (United Kingdom), As I Lay Dying by Ho Yuhang (Malaysia) and Observando el cielo by Jeanne Liotta (United States). The Prix UIP Rotterdam Short Film Nominee for the European Film Awards was given to Joy by Joe Lawlor &amp;amp; Christine Molloy (United Kingdom) The Prix UIP Jury gave a Special Mention to Unlith van Mihai Grecu (France).</description>
   <pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:49:06 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Diary dari Rotterdam</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rotterdam0102.htm</link>
   <description>Sesuai janji, Kami menurunkan laporan dari 37th International Film Festival Rotterdam. Dua orang redaktur Kami, Asmayani Kusrini dan Ekky Imanjaya, sedang berbagi tugas di sana untuk Anda, para pembaca RumahFilm.org. Rini memulai dengan catatan pribadinya dari festival ini.&lt;br>&lt;br>Dari catatan ini, Rini tampak benar-benar seperti sedang dijamu oleh sebuah pesta meriah. Ia membuat aturan supaya tak pusing sendiri, tapi ternyata ia tak mampu menegakkannya. Terlalu banyak hal menggoda di festival sebesar ini. Dengan kerinduan pada Indonesia, Rini membagikan ceritanya.</description>
   <pubDate>Tue, 29 Jan 2008 09:13:50 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>International Film Festival Rotterdam Dibuka</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam01.htm</link>
   <description>Di Festival Film Rotterdam tahun ini, film Indonesia cukup banyak berkiprah. Film-film pendek dari Four Colors, Forum Lenteng, Riri Riza, Edwin, dan lain-lain tampil bersama film-film pendek Malaysia dalam sessi Shorts: As Long As It Takes. Demikian juga untuk film panjang, film Riri Riza dan Garin Nugroho (Teak Leaves at the Temple –lihat resensi Rumahfilm.org tentang film ini) tampil bareng film-film unggulan dari seluruh penjuru dunia. Festival Film Rotterdam ini adalah yang ke-37, dibuka pada Rabu, 23 Januari 2008. Festival ini telah menjadi sebuah ajang laga sinema dunia yang cukup bergengsi. Redaktur Rumahfilm.org, Ekky Imanjaya, melaporkan langsung dari Rotterdam. Nantikan juga up date Rumahfilm.org seputar festival ini, perkembangan sinema dunia di festival ini, dan kiprah film-film kita di sana.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:53:21 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mario de la Torre Espinosa (Spain) Wins  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam02.htm</link>
   <description>Mario de la Torre Espinosa wins NPS New Arrivals Competition for online short films organised by Duch public television network NPS and the International Film Festival Rotterdam.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:52:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>CALL FOR SUBMISSIONS:UPFI'S 18th INTERNATIONAL WOMEN'S FILM FESTIVAL 3rd SHORT FILM COMPETITION</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_women.htm</link>
   <description>Call for submissions: UPFI'S 18th INTERNATIONAL WOMEN'S FILM FESTIVAL 3rd SHORT FILM COMPETITION.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:52:24 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Daftarkan Film Anda di J-FIVAL Jember Film Festival 2008!  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jember.htm</link>
   <description>J-FIVAL (Jember film festival ) Festival film yang pertama di kota Jember digelar tanggal 4-7 april 2008.</description>
   <pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:51:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Menunggu Ayat-Ayat Cinta:Menunggu Keberhasilan Adaptasi?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/rss_ayat.xml</link>
   <description>Proses mengadaptasi karya literatur menjadi film memang merupakan sebuah proses yang tak sederhana. Di satu sisi, sejarah film dunia dipenuhi oleh keberhasilan sinematis adaptasi dari karya-karya yang dianggap murahan. Di sisi lain, karya yang bernilai sastra tinggi kerap gagal secara artistik maupun pemasaran. Tak selamanya kasus semacam itu terjadi.&lt;br>&lt;br>Bagaimanapun kini sebuah Indonesia film sedang menantikan penghakiman semacam ini. Film itu adalah Ayat-ayat Cinta, karya sutradara Hanung Bramantyo. Dalam blog-nya, Hanung bercerita panjang lebar tentang perasaannya mengadaptasi novel fenomenal best-seller ini ke dalam film. Ia tahu bahwa ia sedang ditunggu dan tampak banyak kekuatiran pada diri Hanung. Kontributor kami, Homer alias Mual Harianja, berbagi cerita bagaimana ia juga menantikan Ayat-ayat Cinta. Sembari menantikan filmnya, kita baca dulu artikel Homer ini.</description>
   <pubDate>Tue, 22 Jan 2008 04:53:05 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Cinta Laura Main Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_cinta.htm</link>
   <description>Cinta Laura, artis sinetron 14 tahun keturunan Jerman itu, dikabarkan akan main film pertamanya. Selain Laura, pemain yang juga memperkuat film produksi MD Pictures ini adalah Pietrajaya Burnama, Catherine Wilson, Ari Sihasale, Andy Riff, Rendy Pangalila, dan Ridwan. J- Rock akan hadir sebagai bintang tamu.</description>
   <pubDate>Tue, 22 Jan 2008 04:51:07 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Film Dokumenter FORKAMI</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_forkami.htm</link>
   <description>Dalam rangka memperingati Hari Monitoring Air Sedunia, FORKAMI berinisiatif menyelenggarakan kompetisi film dokumenter. Tema kompetisi yang akan diselenggarakan pada Pertengahan Desember ini adalah &quot;Manusia dan Air&quot;.</description>
   <pubDate>Tue, 22 Jan 2008 04:50:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>MY 2008 MOVIES CHECK-LIST: Hollywood/American edition  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_hollywood.htm</link>
   <description>Jet Li vs. Jacky Chan. Jack Black doing remake of Ghost Buster and Lion King. Clint Eastwood makes an alien movie. This is a personal check list for movies-to-watch in 2008, Hollywood edition.</description>
   <pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:11:25 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Rotterdam Festival Announces Competitions and Opening Film: Lamb of God  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rotterdam.htm</link>
   <description>Fifteen films have been selected for Rotterdam’s VPRO Tiger Awards Competition and The festival will open January 23 with the world premiere of Lamb of God (Cordero de dios), the first feature by Lucía Cedrón (Argentina).</description>
   <pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:10:55 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Tumbuh Dalam Badai  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_badai.htm</link>
   <description>Peluncuran film Tumbuh Dalam Badai dan diskusi 24 Januari 2008, pukul 19. 00 GoetheHaus, Jl. Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta Pusat.</description>
   <pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:10:22 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>World Premiere of Martin Scorsese’s Shine A Light to Open the 58th Berlin International Film Festival  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jagger.htm</link>
   <description>The Rolling Stones concert film Shine A Light from Oscar® winning director Martin Scorsese will open the festival on February 7, 2008 with the director and band in attendance.</description>
   <pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:09:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Djenar Maesa Ayu:“Penonton Lebih Pintar Daripada Kreatornya, Kok!”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/rss_djenar.xml</link>
   <description>Seperti dalam karya prosanya, Djenar Maesa Ayu membuat film pertamanya, Mereka Bilang Saya Monyet! dengan berangkat dari problemasi (memasalahkan) realitas. Djenar tampak sangat terobsesi pada masalah hubungan teks, pembaca, dan penulis. Dalam film pun, ada kesadaran tentang masalah relasi teks (filmnya itu sendiri), penonton, dan si pembuat film. Karya filmis pertama anak Sjumanjaya (salah seorang sutradara terbaik di Indonesia) ini menggunakan sarana film digital dan mengandung eksperimentasi dalam cara tutur visualnya, sehingga terasa sedikit eksperimental.&lt;br>&lt;br>Salah satu redaktur Rumahfilm.org di Jakarta, Hikmat Darmawan, menemui Djenar di rumahnya, di daerah Kembangan, Jakarta Barat pada Minggu, 6 Januari 2008. Hasilnya adalah sebuah percakapan tentang zaman yang berubah di mata Djenar, tentang permainan realitas dalam filmnya, tentang format film digital dan kebebasan yang dihasilkannya, sampai pada keheranan Djenar ketika di Lembaga Sensor Film Indonesia.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:32:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>DEADLINE EXTENSION  Eighth Annual Media That Matters Film Festival  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_media.htm</link>
   <description>Eighth Annual Media That Matters Film Festival deadline is January 11th, 2008.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:31:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Acha Septriasa in LoVe with Fauzi Baadilla  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_love.htm</link>
   <description>Rumor santer menyebutkan Acha Septriasa tak lagi bersama Irwansyah, kini Acha menggandeng Fauzi Baadilla.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:30:49 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Boemboe Meeting Point  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_bamboe.htm</link>
   <description>Boemboe kembali menawarkan kepada teman-teman yang memiliki website atau blog yang membahas atau bergerak di bidang film, untuk menjadi bagian dari link Boemboe Meeting Point.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:30:10 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mereka Bilang, Saya Monyet!:Siapa Bilang Djenar Monyet?</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/rss_monyet.xml</link>
   <description>Djenar Maesa Ayu adalah jenis selebriti yang cukup langka di negeri ini: menjadi selebriti karena menulis. Kumpulan cerpennya yang pertama, Mereka Bilang Saya Monyet!, telah dicetak ulang delapan kali. Buku-bukunya menarik perhatian karena tema seksual yang bukan hanya eksplisit, tapi juga agresif. Dan agresivitas itu terasa benar dalam film pertamanya ini, Mereka Bilang Saya Monyet! Bukan sekadar karena film ini memang mengadaptasi dua cerpennya, tapi ada pendekatan estetis yang sengaja menampilkan visualisasi “mentah” untuk sebuah tragedi penistaan psikologis dan seksual. Ada kecurigaan bahwa film ini sebuah pernyataan biografis. Hasilnya?&lt;br>&lt;br>Redaktur RumahFilm.org mencoba menekuri film ini, dan ia kembali ke sebuah kata: “monyet!” </description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:29:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Berlinale Retrospective 2008:Luis Buñuel and Specials  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_berlinale08.htm</link>
   <description>This year’s Luis Buñuel Retrospective will commence and conclude at the Volksbühne with two special presentations focusing on Buñuel’s famous directorial debut: his silent film Un chien andalou (France 1929) is to be screened four times, and each time it will be accompanied live by different works of contemporary music.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:27:45 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Rotterdam Press Release: Jafar Panahi, Renata Litvinova and Royston Tan join Rotterdam jury  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_IFFR2008.htm</link>
   <description>The International Film Festival Rotterdam announces the Competitions’ Juries of the 37th edition, that will open on January 23.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:27:04 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Behind the Scene Mereka Bilang, Saya Monyet!  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_monyet.htm</link>
   <description>Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah debut penulis Djenar Maesa Ayu sebagai sutradara film. Film ini menceritakan tentang seorang penulis bernama Adjeng yang masih terkurung dalam baying-bayang masa lalunya.</description>
   <pubDate>Tue, 08 Jan 2008 05:26:17 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Manu Rewal: “Saya Tidak Ingin Uang Mereka....”  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/rss_manurewal.xml</link>
   <description>Tentu saja, India kita kenal karena Bollywood-nya. Tentu saja, India juga bukan hanya Bollywood. Khasanah sinema dunia mencatat Satyajit Ray dengan trilogi Apu-nya, yang seolah jadi tontonan wajib setiap pelajar film. Lalu ada Mira Nair, yang sangat akrab bagi publik penonton film kita yang gemar menghadiri Jiffest tiap tahun. Tapi, agak mengejutkan juga, ada pembuat film indy di India, dengan segala ciri seorang pembuat film independen sejati: mengangkat isu-isu sosial dengan tajam, kesulitan pembiayaan dalam membuat filmnya, terpaksa atau sengaja melakukan pendekatan estetis yang khas. Inilah Manu Rewal, diwawancara oleh redaktur RumahFilm.org, Asmayani Kusrini di ajang International Independent Film Festival di Brussel, November 2007 lalu.</description>
   <pubDate>Thu, 03 Jan 2008 08:15:00 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Summer Palace:Sebuah Catatan Untuk Lou Ye</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/rss_summer.xml</link>
   <description>Film yang memperlihatkan wajah sebuah generasi di Cina yang sedang bereformasi. Karya salah satu sutradara ‘bandel’ dari generasi keenam sineas Cina. Summer Palace adalah sebuah kisah cinta berlatar sebuah peristiwa bersejarah paling ikonik di abad ke-20: peristiwa Tiananmen. Lou Ye memang adalah generasi Tiananmen. Namun Lou Ye tidak berkhutbah tentang masa itu. Ia justru mengambil sebuah tema “gombal”, tentang “cinta pertama tak pernah pudar”. Ada penonton yang bahkan menuduh film ini tak masuk akal, tak realistis, terlalu meromantisir.&lt;br>&lt;br>Summer Palace mendapat nominasi untuk Palme D’Or 2006 tapi terpaksa dibatalkan. Lou Ye, sutradaranya kemudian dilarang membuat film selama Lima tahun. Ada apa, sebenarnya, di film ini?</description>
   <pubDate>Thu, 03 Jan 2008 06:17:24 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Eastern Promises: Film Gangster yang Perlu Ada</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/rss_eastern.xml</link>
   <description>Eastern Promises – David Cronenberg (History of Violence) mengulik Mafia Rusia, dengan gaya khasnya dalam menggunakan film sebagai meditasi atas kekerasan. Kuat secara naratif, bertutur tentang tragisnya harapan di sebuah dunia keras yang bersembunyi di Barat.</description>
   <pubDate>Thu, 03 Jan 2008 06:16:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Le Scaphandre et Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly): Ketika Kamera Menjadi Mata</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/rss_scaphandre.xml</link>
   <description>Sebuah permata yang terpendam dari&lt;br>tahun lalu. Julian Schnabel (Basquiat, Before Night Falls)&lt;br>membuat film ini dengan berani: sebagian besar film dari sudut pandang mata&lt;br>kiri tokohnya.</description>
   <pubDate>Thu, 03 Jan 2008 06:15:37 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Rijksakademie Call for Entries  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_rijksakademie.htm</link>
   <description>Rijksakademie call for entries from January to December 2009 by using the online application form.</description>
   <pubDate>Fri, 28 Dec 2007 08:27:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Urban Film Series Call for Film for 2008  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_urban.htm</link>
   <description>Next Generation Awareness Foundation seeks notable films and participants for its 2008 Urban Film Series programs.</description>
   <pubDate>Fri, 28 Dec 2007 08:26:54 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ganesha Film Festival - Submit Your Independent Movies Now!  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_ganesha.htm</link>
   <description>Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM-ITB) mengundang teman-teman komunitas film se-Indonesia untuk berpartisipasi dalam GANESHA FILM FESTIVAL (GanFFest) 2008.</description>
   <pubDate>Thu, 27 Dec 2007 06:03:00 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ruangrupa.org Membutuhkan Manager  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_ruangrupa.htm</link>
   <description>Ruangrupa.org membutuhkan Manager Umum yang akan bekerja mengelola administrasi, program, dan public relation.</description>
   <pubDate>Thu, 27 Dec 2007 06:02:17 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>AMBIGU Video Instalation Project BIENNALE JOGJA IX-2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_fourcolors.htm</link>
   <description>Ambigu adalah karya fourcolours untuk Biennale Jogja IX-2007. Merupakan karya seni instalasi dengan teknologi audio-visual yang dikemas dalam sebuah tayangan mockumentary dalam format gambar 3gp.</description>
   <pubDate>Thu, 27 Dec 2007 06:01:37 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Jangan Tinggalkan Aku, Orked</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_orked.htm</link>
   <description>Mukhsin, film Malaysia garapan sutradara Yasmin Ahmad yang diputar di Jiffest adalah pertunjukan rasa haru yang bertumpuk. Selain karena ceritanya memang mengharukan, juga karena kesederhanaan production value film ini tak mampu menenggelamkan kuatnya cerita. Menonton Mukshin adalah merasakan pengalaman sinematik dan non-sinematik yang begitu bercampur aduk.&lt;br>&lt;br>Ekky Imanjaya, redaktur RumahFilm yang kini bermukim di Amsterdam adalah penggemar berat Mukhsin dan Yasmin Ahmad. Menonton film ini berulang kali membuat Ekky tergelitik mencatatkan kesan personalnya tentang Mukhsin, tentang Orked (karakter utama dalam trilogy film Yasmin), dan tentang Yasmin Ahmad. Termasuk mencatat tentang sesuatu yang sangat Indonesia dalam film Malaysia ini.</description>
   <pubDate>Mon, 17 Dec 2007 06:35:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mencari Janda di Kawin Kontrak</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_kontrak.htm</link>
   <description>Kawin Kontrak akan rilis serentak di seluruh bioskop Indonesia pada tanggal 9 Januari 2008</description>
   <pubDate>Mon, 17 Dec 2007 06:34:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Yasmin Ahmad:“Saya Membuat Film Karena Ingin Memahami Tuhan”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_yasmin.htm</link>
   <description>Jiffest tahun ini punya perhatian khusus terhadap film-film Asia Tenggara. Sudah waktunya. Film-film Asia Tenggara sedang mendapat banyak sorotan di berbagai festival di dunia dan seharusnya menjadi pembanding yang sangat baik dengan film-film kita sendiri.&lt;br>&lt;br>Salah satu mutiara Jiffest tahun ini adalah Mukhsin, karya Yasmin Ahmad. Film ini dikerjakan dengan production value yang tidak terlalu tinggi, tetapi dengan cerita yang sangat kuat. Latar belakang sosial yang dipotret oleh Yasmin juga membuat film ini berhasil menjadikan film sebagai sebuah komentar budaya yang kuat.&lt;br>&lt;br>Redaktur Rumah Film, Ekky Imanjaya, menemui Yasmin Ahmad di kantornya di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu. Ekky berkesempatan menonton film terbaru Yasmin, Muallaf. Yasmin meluangkan waktu untuk wawancara khusus yang Kami muat kembali untuk menyambut pemutara film Yasmin di JIFFEST tahun ini.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:55:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>LARS Von Trier About Ingmar Bergman</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_bergman.htm</link>
   <description>&quot;I am an admirer of Bergman, I also wrote him a lot of fan emails. But I never got any answer. I’ve always felt strong family ties with him. Therefore I’m proud to be able to say that he treated me in the same way as he treated his children: totally without interest!&quot; said LARS Von Trier.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:21:10 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>The Minnesota Declaration: PORNO HAD REAL NAKED TRUTH  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_herzog.htm</link>
   <description>Setelah menghabiskan waktu pindah dari satu chanel ke chanellain, yang isinya documenter-dokumenter yang tak kalah membosankan, Herzog malah menemukan chanel film porno. Dan malam itu, lahirlah The Minnesota Declaration.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:20:32 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Lomba Film Independen Filmix Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia 08  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jiffest2007.htm</link>
   <description>Lomba Film Independen Filmix Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia 08 memperebutkan total hadiah Rp 9 juta.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:19:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film Radit dan Jani Hampir Rampung!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_raditranjani.htm</link>
   <description>Film RADIT DAN JANI garapan Upi, produksi terbaru dari Investasi Film Indonesia, telah selesai diedit dan memasuki tahap akhir paska produksi.</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:18:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>International Film Festival Rotterdam 23 January – 3 February 2008  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_IFFR2007.htm</link>
   <description>The 37th International Film Festival Rotterdam at 23 January – 3 February 2008</description>
   <pubDate>Thu, 13 Dec 2007 10:17:18 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Persepolis:Ketika Tuhan dan Karl Marx Tidak Berkonflik</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_persepolis.htm</link>
   <description>Film pembukaan JIFFEST 2007 ini adalah animasi minimalis yang diangkat dari sebuah novel grafis yang banyak dibicarakan di Eropa Barat, Amerika Serikat, juga di Indonesia. Memang novel grafisnya, dan lalu filmnya, kontroversial. Penerbit Gramedia sebetulnya telah mencetak terjemahan Persepolis jilid 1 &amp;amp; 2, tapi masih enggan menerbitkannya. Filmnya telah dilarang di Bangkok. Panitia JIFFEST sendiri diprotes oleh Kedutaan Besar Iran di Indonesia, atas pemutaran film ini.&lt;br>&lt;br>Persepolis adalah sebuah memoir Marjane Satrapi, tentang masa kecil dan masa remajanya menyaksikan Revolusi Iran dengan segala konsekuensinya. Konsekuensi revolusi Islam (Syiah) tersebut terutama memberi kesulitan pada keluarga Satrapi yang berlatarbelakang sosialis. Namun, walau sangat kritis memandang revolusi, Persepolis mencuatkan sebuah gambaran yang tidak tipikal dan karikatural: Iran adalah sebuah negeri yang menyimpan keragaman, tak seluruhnya adalah Mullah atau pengikut Mullah. Marjane kecil dengan kaos Punk is not Ded, mendengar Iron Maiden dan bersemangat menyanyikan get up song dari film Rocky, yakni The Eye of The Tiger (Survivor). Ada pesta, cinta, dan nenek Marjane yang sering mengajari nilai-nilai hidup yang ‘subversif’. Film debutan Marjane yang dibantu Vincent Paronnaud (sesama komikus, dan lebih dulu dikenal sebagai animator) ini, diam-diam, masih bisa menyampaikan kebenaran universal.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Dec 2007 06:13:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Marjane Satrapi: “Saya Manusia Internasional”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_marjane.htm</link>
   <description>Film Marjane Satrapi (dan Vincent Paronnaud), Persepolis menjadi film pembuka Jiffest 2007, malam ini. Redaktur Rumah Film, Asmayani Kusrini beberapa waktu lalu sempat mewawancara Marjane dan Vincent. Wawancara ini hanya bisa Anda baca di situs ini.</description>
   <pubDate>Mon, 10 Dec 2007 06:11:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Jakarta International Film Festival 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/agenda/agenda_menu.htm#jiffest</link>
   <description>Jakarta International Film Festival atau Jiffest akan kembali lagi tahun ini, 7 sampai 16 Desember. Festival ini sudah berjalan sembilan tahun tanpa terputus. Tahun ini, 200 film akan diputar di beberapa tempat seperti Djakarta Theater, Blitz, Kineforum, Goethe Institute dan Erasmus Huis. Rumah Film akan menurunkan laporan khusus soal Jiffest. Ikuti mulai hari ini dan seterusnya.</description>
   <pubDate>Thu, 06 Dec 2007 02:30:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>A Mighty Heart:Melunakkan Kekerasan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_mightyheart.htm</link>
   <description>A MIGHTY HEART – Satu lagi pelengkap ouvre Michael Winterbottom (In This World, The Road To Guantanamo) yang ingin melihat dunia apa adanya sesudah peristiwa 11 September. Bukan hanya wajah dunia yang berubah karena peristiwa runtuhnya menara kembar itu, tapi juga bagaimana dunia diwakili oleh media audio-visual. Peristiwa kekerasan mengerikan itu disaksikan oleh dunia secara langsung lewat televisi dan mengubah drastis makna kenyataan yang tampil di hadapan kita lewat media seperti film dan televisi. Winterbottom di sini membincang soal ini dengan sebuah topik yang mirip: pemenggalan kepala Daniel Pearl, kepala biro Asia Wall Street yang tinggal di Karachi, yang direkam dengan video dan disebarkan ke seluruh dunia. Angelina Jolie, salah seorang aktris watak penerus method-acting paling mumpuni di industri film Hollywood saat ini menjadi semacam strategi Winterbottom dalam menghadapi kerumitan kontemporer ini. Redaktur Rumah Film, Hikmat Darwaman, mendedah bagaimana strategi Winterbottom itu bekerja; dan bagaimana kemudian harapan menjadi... sexy.</description>
   <pubDate>Wed, 05 Dec 2007 10:38:30 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Nominasi FFI 2007 Diumumkan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_ffi.htm</link>
   <description>Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2007 baru saja diumumkan, Kamis (29/11) di Club XXI, Djakarta Theater, Jakarta. FFI tahun ini digelar di Pekanbaru, mulai 14 Desember.</description>
   <pubDate>Mon, 03 Dec 2007 06:24:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Stranded: Neraka yang Amat Dingin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_stranded.htm</link>
   <description>Stranded adalah dokumenter mencekam tentang kecelakaan di Andes, diputar pada ajang IDFA 2007, dan masuk dalam Joris Ivens Competition untuk merebut film terbaik utama. Joris Ivens (1898-1989) adalah pembuat film dokumenter Belanda dan penganut komunis sejati yang wafat di Paris. Namanya kini diabadikan untuk sebuah sesi kompetisi di ajang festival dokumenter terbesar di dunia ini. Untuk kompetisi tahun ini, 16 film terpilih dari 2600 calon yang masuk. Ke-16 film ini memperebutkan anugerah Joris Ivens dan hadiah uang tunai € 12.500. Dalam IDFA 2007, film ini memenangi penghargaan sebagai film terbaik tahun ini.&lt;br>&lt;br>Sutradara Gonzalo Arijon berhasil membawa penontonnya untuk merasakan pengalaman mencekam para korban kecelakaan pesawat di Pegunungan Andes. Ternyata, neraka, bagi para korban itu dan bagi para penonton Stranded, adalah dinginnya salju dan angin dingin yang kencang. Redaktur Rumahfilm yang menjadi tamu di IDFA, Ekky Imanjaya, menceritakan refleksinya setelah menonton film ini.</description>
   <pubDate>Mon, 03 Dec 2007 05:13:24 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Possible Lives (Las Vidas Posibles):Suami Istri dalam Misteri Mini-Kata</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_possible.htm</link>
   <description>Possible Lives (Las Vidas Posibles) – Hasil produksi kerjasama Argentina dan Jerman, karya sutradara perempuan yang masih muda tapi cukup percaya diri. Sebuah film misteri dengan gaya mini-kata.</description>
   <pubDate>Mon, 03 Dec 2007 05:12:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>35 Tahun Kemudian</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_tfa.htm</link>
   <description>Setelah (di)hilang(kan) sejak 1972, FTA muncul di IDFA. Sayang, sang sutradari tak melihat karyanya kembali di bioskop, mendapatkan penghormatan yang layak. Inilah kisah kelompok seniman yang subversif menyuarakan anti perang Vietnam di dekat barak-barak militer AS di Asia, dengan dukungan ribuan tentara! “Free the Army!”.</description>
   <pubDate>Fri, 30 Nov 2007 01:49:25 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>JiFFest 2007 -  Suami Istri dalam Misteri Mini-Kata</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_possible.htm</link>
   <description>Possible Lives (Las Vidas Posibles) – Hasil produksi kerjasama Argentina dan Jerman, karya sutradara perempuan yang masih muda tapi cukup percaya diri. Sebuah film misteri dengan gaya mini-kata.</description>
   <pubDate>Wed, 28 Nov 2007 01:25:29 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>DARA adalah korban terkini LSF</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_dara.htm</link>
   <description>Dara, film yang disutradarai the Mo Brothers (Kimo Stamboel &amp;amp; Timothy Tjahjanto), harus merelakan film mereka untuk dicap &quot;Ditolak Seutuhnya&quot; oleh Lembaga Sensor Film (LSF).</description>
   <pubDate>Tue, 27 Nov 2007 03:57:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mengkhianati “WARKOP”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_quickieexpress.htm</link>
   <description>Quickie Express jadi film akhir tahun yang unik. Pada 1980-an, Warkop Dono-Kasino-Indro rutin mengeluarkan dua film setahun: film lebaran, dan film akhir tahun. Memang, Dimas Djayadiningrat, sutradara Quickie Express, menyatakan ini film tribute untuk Warkop DKI. Jika kita memang sungguh ingin membandingkan, film ini gagal sebagai tribute tersebut. Film ini lebih asyik dinikmati sebagai komedi seks saja. Atau, jika meminjam istilah yang dilontarkan produser Nia diNata dan beberapa bintangnya, “komedi untuk dewasa”. Sebuah komedi yang khas masa kini, dari para pembuat film yang dibebani aneka informasi dan referensi film dunia dari masa ke masa –para pembuat film yang dibesarkan pada 1980-an, yang harus menyajikan tontonan segar bagi para penonton generasi DVD.</description>
   <pubDate>Mon, 26 Nov 2007 04:40:29 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Balada Dua Rakowski</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_rakowsky.htm</link>
   <description>Mr. Rakowsky – Salah satu oleh-oleh dari International Documentary Film Festival Amsterdarm (IDFFA). Tentang ingatan, tapi bukan tentang masa lalu. Sebuah film yang terapeutik bagi subjeknya.</description>
   <pubDate>Mon, 26 Nov 2007 04:39:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival Film Dokumenter Terbesar Dimulai</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_idfa0.htm</link>
   <description>Untuk keduapuluh kalinya, festival film dokumenter internasional Amsterdam (IDFA) dimulai. Festival film terbesar di dunia untuk genre dokumenter ini berlangsung dari 22 November hingga 2 Desember 2007.</description>
   <pubDate>Thu, 22 Nov 2007 08:49:58 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Deklarasi Berdirinya Asosiasi Editor Indonesia (AEI)</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_aei.htm</link>
   <description>Perkumpulan para editor film se-Indonesia mendeklarasikan berdirinya ASOSIASI EDITOR INDONESIA (AEI) pada hari Minggu, 18 November 2007.</description>
   <pubDate>Wed, 21 Nov 2007 02:57:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Pesantren Mendapatkan Grant dari Goteborg International Film Festival – Swedia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_pesantren.htm</link>
   <description>Film layar lebar yang akan diproduksi awal tahun depan dengan judul Pesantren bertemakan politik, budaya dan Islam yang disutradarai oleh Nurman Hakim dan diproduseri oleh Nan Achnas telah berhasil mendapatkan dua script development grant dari Global Film Initiative yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat dan Goteborg International Film Festival Fund, Swedia.</description>
   <pubDate>Wed, 21 Nov 2007 02:57:03 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Denias, Film Anak Terbaik Asia Pacific Screen Awards</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_denias.htm</link>
   <description>Denias, Senandung di atas Awan dinobatkan menjadi Film Anak Terbaik dalam ajang bergengsi Asia Pacific Screen Awards.</description>
   <pubDate>Tue, 20 Nov 2007 06:05:43 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Brooklyn International Film Festival - call for entries</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_brooklyn.htm</link>
   <description>BiFF is already open for submissions and will keep receiving films up until March 15, 2008.</description>
   <pubDate>Tue, 20 Nov 2007 06:05:05 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Calling New Producers from Asia and Europe!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_asef.htm</link>
   <description>The Asia-Europe Foundation (ASEF), the 'Rotterdam Lab' of Cinemart and RITS Film School Brussels - are conducting the 6th ASIA-EUROPE FILM MEETING from January 24th till Jan 31st 2008.</description>
   <pubDate>Tue, 20 Nov 2007 02:51:41 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kerbau, Punk, Istri Ngidam</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_konfiden.htm</link>
   <description>Pembukaan Festival Film Pendek Konfiden 2007 dibuka dengan ringkas dan tanpa basa-basi. Kalau pun pembawa acara bergaya seperti seleb mengantar acara festival di TV, terasa ada gurau di situ. Sekitar pukul 19.00, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, pada Sabtu 17 November 2007 kemarin, acara dibuka dengan sambutan Deputi Direktur festival kali ini, Ahsan Andrian. Lalu, pemutaran tiga buah film pendek peserta kompetisi: Trophy Bufallo (Vanni Jamin), Anarchist Cookbook for Beginners (Dimas Jayasrana), dan Jalan Sepanjang Kenangan (Eddie Cahyono). Untuk tahun ini, ada 33 judul yang akan berkompetisi. Ini hasil seleksi dari 181 judul yang masuk, dengan 123 film fiksi dan 58 dokumenter. Para penonton agaknya cukup terhibur ketiga film yang diputar dalam malam pembukaan itu. Bagi yang sudah terbiasa dengan film-film pendek Indonesia selama 10 tahun ini (dengan Konfiden menjadi salah satu unsur penting perkembangannya), ketiga film ini mungkin tak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Tapi ada semacam kematangan tertentu dalam ketiga film ini, yang menanti fase lebih lanjut bagi para pembuat film muda tersebut.</description>
   <pubDate>Mon, 19 Nov 2007 06:20:44 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival Film Pendek Konfiden 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_konfiden.htm</link>
   <description>Festival Film Pendek Konfiden 2007 17 - 24 November 2007</description>
   <pubDate>Fri, 16 Nov 2007 06:15:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Mengaji Dunia Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_dunia.htm</link>
   <description>Redaktur kami yang subur, Toean Ekky Imanjaya yang sedang belajar film di kota yang konon “pusat maksiat dunia”, Amsterdam, rupanya berjumpa sebuah harta karun. Mulanya, ia tak ngeh harta karun di depan hidungnya: koleksi majalah film pertama Indonesia, Dunia Film, yang tersimpan rapi di perpustakaan KITLV, Leiden, Belanda. Iseng-iseng dia minta di-copy itu bahan tulisan, dan giranglah dia ketika ternyata itulah majalah yang susah sekali dicari-cari di Indonesia sendiri. Langsunglah beliau menuliskannya untuk rumahfilm.org kita tercinta ini, sambil menyertakan cuplikan-cuplikan berita dari masa lampau itu. Silakan berkelana dalam “mesin waktu”, menengok dunia film kita di masa lalu.</description>
   <pubDate>Thu, 15 Nov 2007 04:33:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Inggris Tahun 1983, dan Seterusnya</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_england.htm</link>
   <description>This is England – Film drama-periode yang mengulik masa lampau yang dekat –sebuah kecenderungan baru dalam sinema Eropa. Seolah memberi wajah manusiawi pada kaum skinhead yang marak di Inggris.</description>
   <pubDate>Tue, 13 Nov 2007 12:04:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Selamat Untuk Nia Dinata !</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_suami.htm</link>
   <description>Nia Dinata menjadi sutradara terbaik pada International Independent Film Festival Brussel yang ke 34.</description>
   <pubDate>Mon, 12 Nov 2007 04:47:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Nominess from 17 Countries to Attend Asia Pacific Screen Awards</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_APS1.htm</link>
   <description>Nominees from 17 countries in the Asia-Pacific region are gathering on the Gold Coast, Australia for the inaugural Asia Pacific Screen Awards to be presented on Tuesday November 13.</description>
   <pubDate>Fri, 09 Nov 2007 01:57:04 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Burung Pipit yang Tak Pernah Menyesal</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_edith.htm</link>
   <description>Sebuah film penutup Festival Europe On Screen, Jumat malam 2 November 2007, menghubungkan dua masa di dalam kenangan Eric Sasono. Ia tergetar mendengar sebuah lagu sang burung pipit Edith Piaf di akhir film, mengenang seorang tokoh penyempal yang telah tiada. Film La Vie En Rose (judul yang diambil dari lagu paling terkenal Edith Piaf) adalah sebuah biopik karya Oliver Dahan yang penuh liku. Barangkali, jika hanya sebatas film itu saja, penulis tak akan terlalu tergetar.&lt;br>&lt;br>Kebetulan, perlintasan sejarah memberi kenangan khas itu pada Eric, tentang seseorang yang mungkin diilhami lagu sang burung pipit. Tapi barangkali, itulah sihir yang masih tersisa dari Edith, yang melintas dari Eropa dan, lewat film ini, memberi kita peluang baru untuk masih bisa tergetar, untuk tak pernah menyesal.</description>
   <pubDate>Wed, 07 Nov 2007 12:14:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>4th Annual Southeast Asian Cinemas Conference</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_seaconference.htm</link>
   <description>The 4th Southeast Asian Cinemas conference (2007) emphasizes the intersection of theory, practice, and ethics. How do we, as film scholars, position ourselves within this debate / discourse? What ethical responsibilities should filmmakers have towards their subjects of representation? Is there a role for the film scholar as public intellectual? How might we begin to approach and discuss the ethics and politics of film criticism?</description>
   <pubDate>Tue, 06 Nov 2007 11:43:48 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bergman, oh Bergman!</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_bergman.htm</link>
   <description>Ingmar Bergman didaku sebagai salah seorang sineas terbesar dunia. Banyak yang mengenalnya hanya nama, barangkali jarang yang benar-benar menonton atau menyukai seluruh filmnya. Ketika 30 Juli 2007 ia meninggal, banyak yang menangisi --tapi, menangisi apa? Film-filmnya muram, menjelajahi sisi-sisi gelap jiwa manusia abad ke-20. Film-film itu adalah cerminan diri Bergman, seorang penggoda perempuan yang kurang ajar, ayah yang buruk, seorang seniman yang penuh amarah, pada sesama juga pada Tuhan.&lt;br>&lt;br>Asmayani Kusrini, salah seorang redaktur kami yang masih muda, terhitung terlambat dan tak kronologis menonton film-film Bergman (ia pertama kali menonton film Bergman, justru yang terakhir, Saraband). Tapi perjumpaan itu sangat berkesan, dan membuatnya tergelitik menyusuri film-film Bergman. Ini bukan (sekadar) obituari, tapi sebuah penuturan tentang perjumpaan Asmayani Kusrini dengan sosok rumit Bergman.</description>
   <pubDate>Thu, 01 Nov 2007 07:09:17 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Tentang Mengulas Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_film.htm</link>
   <description>Benarkah dalam 10 tahun terakhir, tulisan-tulisan tentang film di media massa Indonesia mengalami gejala kemunduran dari segi mutu? Ulasan film adalah bagian khas dalam dunia film di sebuah negeri. Tradisi kritik film Indonesia rupanya tak terlalu berkembang. Padahal, banyak fungsi yang mungkin dijelajah oleh ulasan film. Di negeri lain, ulasan film bahkan telah berkembang menjadi sebuah seni tersendiri. Ulasan film masa kini tak lagi mencukupkan diri pada sinopsi plus komentar, tapi telah menjadi ranah dialog antara film dan penonton.&lt;br>&lt;br>Apa sajakah kemungkinan yang bisa dijelajah oleh ulasan film? Mengapakah kita relatif ketinggalan, dan bagaimana mengejarnya?</description>
   <pubDate>Wed, 31 Oct 2007 04:30:21 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Istirahat = 3 film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_istirahat.htm</link>
   <description>Istirahat syuting, apalagi yang bisa dilakukan selain main?. Namanya juga istirahat syuting, kamera nganggur. Salah satu alternatifnya, ya bermain dengan kamera. Begitulah yang dilakukan oleh kameramen yang juga merangkap sutradara, Liew Seng Tat.</description>
   <pubDate>Wed, 31 Oct 2007 04:29:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>63 Countries Seeking Foreign Language Film Oscar</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_oscar.htm</link>
   <description>Film Denias ikut dalam seleksi Academy Awards untuk kategori Foreign Language Film.</description>
   <pubDate>Thu, 25 Oct 2007 04:44:07 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>South To South Film Festival 2008</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_stos2008.htm</link>
   <description>Panitia StoS memberikan kesempatan individu ataupun institusi untuk berpartisipasi dengan mengirim film anda untuk diputar pada South to South Film Festival 2008, yang penyelenggaraannya diundur menjadi tanggal 25-27 Januari 2008.</description>
   <pubDate>Tue, 23 Oct 2007 11:05:19 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Laut yang Tenggelam (The Drown Sea) Raih Awards of Excellence di YIDFF 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_yamagata.htm</link>
   <description>Film Laut yang Tenggelam (The Drown Sea) yang disutradarai Yuslam Fikri Ansari (Yufik) meraih Awards of Excellence untuk kategori New Asian Currents di ajang Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) 2007.</description>
   <pubDate>Mon, 22 Oct 2007 08:47:46 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Asia Pacific Screen Awards Announces International Jury</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_APS.htm</link>
   <description>The Asia Pacific Screen Awards has announced the International Jury in the inaugural Awards. Jury President Shabana Azmi will be joined on the International Jury by legendary Pusan Festival Director Kim Dong-Ho of Korea, Iranian director Jafar Panahi, UK producer Nik Powell and Chinese filmmaker Tian Zhuangzhuang.</description>
   <pubDate>Mon, 22 Oct 2007 06:08:56 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Komik Cinderela Kota Jakarta</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_getmarried.htm</link>
   <description>Get Married - Setelah sekian lama topik ketegangan antarkelas tak hadir dalam film Indonesia, sutradara Hanung Bramantyo dan penulis skenario Musfar Yasin mengangkatnya kembali dalam film segar-menghibur, Get Married. Dibintangi Nirinia Zubir, Aming, Desta, dan Ringo Agus Rahman, film ini memilih sebuah pendekatan penuh risiko untuk tema tersebut: pendekatan komik, guyon. Risiko ini jelas kelihatan, ketika ternyata kekerasan Jakarta dalam bentuknya yang paling wadag –tawuran antarkelompok—digambarkan secara realistis. Film ini memang sebuah upaya untuk menghibur, tapi juga semacam ajakan untuk merenung. Dengan kata lain: sebuah alternatif.&lt;br>&lt;br>Get Married difilmkan dari sebuah naskah lama Musfar Yasin, yang boleh diperhitungkan sebagai penulis skenario terbaik kita saat ini. Apakah ketegangan antara realisme dan pendekatan komikal itu berhasil diatasi? Mengapakah kekurangan ambisi artistik Hanung dalam film ini justru positif? Apakah ia menjadi sebuah alternatif “tontonan Lebaran” yang berhasil?</description>
   <pubDate>Wed, 10 Oct 2007 04:08:34 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dari Penonton, Untuk Penonton</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_jelangkung.htm</link>
   <description>Jelangkung 3 – Film ini jelas unik: sekuel yang berkisah tentang horor yang dialami penonton Jelangkung (2001). Banyak “bolong”, walau tak memalukan.</description>
   <pubDate>Wed, 10 Oct 2007 04:07:37 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Festival des Festivals 2006 : Film Dokumenter Festival</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_fdf.htm</link>
   <description>Pusat Kebudayaan Prancis - CCF Jakarta bekerjasama dengan KINEFORUM - Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan FESTIVAL DES FESTIVALS 2006 Pemutaran film dokumenter pemenang festival.</description>
   <pubDate>Wed, 10 Oct 2007 04:09:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Nonton Film Langka dan Gratis di Festival Film Uni Eropa</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_euff.htm</link>
   <description>Setelah sukses menyelenggarakan festival selama 4 tahun berturut-turut, Festival Film Eropa tahun 2007 akan memeriahkan kalender budaya Indonesia dengan menyajikan pemutaran 53 film Eropa dan Indonesia selama seminggu, mulai 26 Oktober 2007 mendatang.</description>
   <pubDate>Tue, 09 Oct 2007 05:35:52 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film DEMI CINTA Kolaborasi Fahrani dan Upi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_demi.htm</link>
   <description>Model Indonesia yang telah mendunia, Fahrani, telah terpilih untuk menjadi peran utama dalam film terbaru Upi yang berjudul Demi Cinta.</description>
   <pubDate>Tue, 09 Oct 2007 05:34:45 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Hadiah Ulang Tahun Terindah Sutradara Ardy Octaviand</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_stroberi.htm</link>
   <description>Press Release Coklat Stroberi Menang di Bali International Film Festival 2007</description>
   <pubDate>Fri, 05 Oct 2007 05:58:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>10th IFFR Trainee Project for Young Film Critics Call for Applications</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_IFFR.htm</link>
   <description>37th International Film Festival Rotterdam January 23 – February 3, 2008</description>
   <pubDate>Fri, 05 Oct 2007 05:57:52 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kinaryosih dan Brett Money Menghadapi Tantangan &quot;AXN: The Amazing Race Asia 2&quot;</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_kinoryasih.htm</link>
   <description>Aktris/model Kinaryosih terpilih untuk menaklukkan tantangan petualangan melintasi 4 benua pada reality show The Amazing Race Asia 2.</description>
   <pubDate>Fri, 05 Oct 2007 05:57:11 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Opera Jawa dan Denias Masuk Nominasi Asia Pacific Screen Awards 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_FFA07.htm</link>
   <description>Opera Jawa (Garin Nugroho) dan Denias Senandung di atas Awan (John de Rantau) masuk dalam daftar nominasi ajang Asia Pacific Screen Awards 2007.</description>
   <pubDate>Wed, 03 Oct 2007 13:00:39 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>4 Luni, 3 Saptamani si 2 Zile aka 4 Months, 3 Weeks, and 2 Days</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_4months.htm</link>
   <description>4 Months, 3 Weeks, and 2 Days - Sekeping sejarah yang ingin dilupakan diangkat dalam sebuah film yang sangat gamblang bercerita apa adanya. Film yang sangat realistis merekam aborsi ilegal pada era komunis di Rumania. Membuat pingsan penonton pada Gala Premier-nya di Brussels.&lt;br>&lt;br>Film karya Christian Mungiu ini memenangi Palem Emas Festival Film Cannes 2007. Bahkan presiden Rumania saat ini, Traian Basescu, pun terkejut. Film ini menyelami masa gelap rezim totalitarian Nicolae Ceausescu, dengan ruang cerita yang sangat intim dan kecil –adegan puncak yang sangat meneror itu terjadi dalam sebuah ketenangan kamar hotel. Realisme yang tajam menjadikan film ini sebuah thriller yang lebih efektif daripada kebanyakan film tegang yang banyak beredar dari Hollywood.&lt;br>&lt;br>Apa yang kita, yang mengalami banyak horor sejarah seperti Rumania, bisa pelajari dari film ini? </description>
   <pubDate>Tue, 02 Oct 2007 07:58:09 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kinoki Gelar Parade Film Perdamaian</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_kinoki.htm</link>
   <description>Kinoki bekerjasama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM merayakan Hari Perdamaian Internasional dengan menyajikan film-film bertema personal peace.</description>
   <pubDate>Tue, 02 Oct 2007 07:57:03 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Jiffest Writing Competition</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_jifest.htm</link>
   <description>JIFFest Script Development Competition 07 - 16 December 2007.</description>
   <pubDate>Tue, 02 Oct 2007 07:56:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dicari: Relawan untuk Screamfest Indo 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_screamfest.htm</link>
   <description>Dibutuhkan banyak relawan untuk Screamfest Indo 2007</description>
   <pubDate>Tue, 02 Oct 2007 07:55:36 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>“Saya Membuat Film Karena Ingin Memahami Tuhan”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_yasmin.htm</link>
   <description>Yasmin Ahmad, sutradara perempuan Malaysia, perlahan tapi pasti muncul menjadi salah satu sutradara terpenting Asia Tenggara. Film-filmnya (Rabun, Sepet, Gubrah, dan Mukhsin) sukses secara komersial, namun juga meraih berbagai penghargaan artistik. Kini lewat Muallaf, film terbarunya, Yasmin melontarkan kritik dan uneg-uneg soal hubungan antar Agama.&lt;br>&lt;br>Sejak awal, Yasmin memang dikenal berani mengangkat isu-isu sensitif hubungan antar ras di negerinya. Dengan Muallaf, sebagian orang mengkhawatirkan reaksi kalangan garis keras. Tapi Yasmin tampak tak terlalu peduli. Seperti biasa, ia tetap memulai filmnya dengan bacaan Bismillah di layar. Ia juga berani mengatakan bahwa ia bukan nasionalis, dan merasa tak ada yang salah jika generasi muda Malaysia melupakan perjuangan kemerdekaan 1957.&lt;br>&lt;br>Kepada Redaktur RumahFilm Ekky Imanjaya, Yasmin juga blak-blakan bertutur perihal nasionalisme; juga tentang adegan ranjang yang pernah dilakoninya, tentang kesukaannya pada pria pemalu; dan tentang Tuhan.</description>
   <pubDate>Fri, 21 Sep 2007 03:43:52 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Gie: Representasi Berwajah Ganda</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_gie_1.htm</link>
   <description>Bagi pengagumnya, Soe Hok Gie adalah simbol nurani. Sejak kecil, ia telah menunjukkan bakat sebagai bocah cerdas, yang setia kawan dan punya sikap kritis. Sebagai mahasiswa ia turun ke jalan menuntut Soekarno lengser. Tapi, ia juga yang pertama kali kecewa paska Soekarno turun, karena kawan-kawan demonya asyik bermain politik. Kata-kata Soe Hok Gie: “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” terus bergema hingga kini.&lt;br>&lt;br>Gie, film Riri Riza, adalah upaya pertama generasi paska Soeharto untuk menafsir hidup Soe Hok Gie. Berhasilkah? Tapi, bagaimana jika Gie selalu tampak sendiri dan menyedihkan di film Gie? Mengapa Gie dalam Gie juga hampir tak pernah muncul di pusat bingkai (frame). Jika tak di kiri, ia bisa dipastikan ada di kanan bingkai. Adakah Gie dalam Gie diasingkan tanpa sadar?&lt;br>&lt;br>Di sisi lain, Soe Hok Gie adalah juga wakil paling sah dari sosok Tionghoa kelas menengah berpendidikan. Namun adakah dalam Gie ia muncul sebagai representasi Tionghoa borjuasi? Pandangan kritis Veronika Kusuma menemukan bahwa Gie mengandung dua operasi representasi yang tumpang tindih: Antara reperesentasi Tionghoa borjuis dan representasi Tionghoa miskin terpinggirkan. Selamat membaca…</description>
   <pubDate>Wed, 19 Sep 2007 13:02:28 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Brian dan Sepasang Gadis Ronin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_muallaf.htm</link>
   <description>Muallaf - Setelah membuka wacana tentang masalah kemajemukan ras di Malaysia lewat trilogi Orked (Sepet, Gubra, dan Mukhsin), sutradara Malaysia Yasmin Ahmad mengangkat tema keberagaman agama. Sebuah isu yang sensitif, nakal, namun diungkapkan dengan jujur. Sutradara yang akrab dengan kontroversi ini menampakkan keberaniannya sebagai sineas. Film yang akan beredar di Malaysia dan Jepang pada Oktober 2007 ini mengisahkan relung-relung terdalam pencarian Tuhan pada tiga sosok unik: Brian, Ana, dan Ani.&lt;br>&lt;br>Mengapakah ketiga tokoh itu menjadi musafir pencari Tuhan? Apakah cara mereka mencari Tuhan dapat dibenarkan? Apakah Yasmin Ahmad telah berlebihan dalam film ini?</description>
   <pubDate>Tue, 18 Sep 2007 12:34:20 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dosa Film Kita</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_dosa.htm</link>
   <description>Ketika Darah dan Doa dibuat Usmar Ismail, dengan skenario oleh Sitor Situmorang, pada 1950, ada niatan menjadikan film sebagai medium pergumulan ide. Sejarah mencatat bahwa bagaimana pun medium ini harus mengalami industrialisasi. Apakah ini berarti deintelektualisasi film kita, yang menurun secara menetap hingga kini, adalah sesuatu yang bisa dibenarkan? Mengapa film kita masih terjebak dalam sebuah utopia?</description>
   <pubDate>Mon, 17 Sep 2007 08:40:04 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Lampu Merah Buat Rudi</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_cintapuccino.htm</link>
   <description>Cintapuccino - Film terbaru sutradara terbaik FFI 2004, Rudi Soedjarwo, secara spektakuler meruntuhkan bahkan harapan untuk mendapat hiburan ringan. Cintapuccino adalah sebuah film yang diniatkan menjadi komedi romantis berlatar kelas menengah negeri ini. Diangkat dari sebuah chic lit lokal, film ini dibuat dengan pendekatan sinematis bergaya gerilya, sebagai bagian dari “paket hemat” pembuatan film dari Rudi. Berkisah tentang Rahmi (Sissy Priscillia) yang kedatangan Nimo (Miler), lelaki yang telah 11 tahun jadi obsesinya, justru pada saat Rahmi hendak menikah. Di tengah maraknya film sejenis di pasaran, film Rudi yang satu ini perlu mendapat sorotan khusus.&lt;br>&lt;br>Mengapa film ini menjadi “lampu merah” bagi Rudi? Apakah konteks non-filmis yang mewariskan masalah dasar bagi film ini? Dan apakah satu-satunya pilihan sinematis Rudi yang benar dalam film ini?</description>
   <pubDate>Mon, 17 Sep 2007 08:34:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Misteri di Balik Horor TV</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_thewall.htm</link>
   <description>The Wall (Misteri di Balik Tembok) - Film horor yang digarap dengan semangat tinggi oleh Nessa Sadin, Hilman &quot;Lupus&quot; Hariwijaya, Eka D. Sitorus, dan sutradara impor dari India. Mengapa lantas jadi seperti komedi yang tak mampu keluar dari kotak televisi?</description>
   <pubDate>Thu, 13 Sep 2007 07:49:12 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Tentang Dua Film Garin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_operajawa.htm</link>
   <description>Opera Jawa yang diputar kembali secara serentak di empat kota besar Jawa (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang) terpaksa masuk kotak “film seni”. Apa boleh buat, kotak ini seperti pisau bermata dua: menjelaskan, sekaligus mengaburkan. Seolah kita terdesak untuk menikmati film ini hanya sebagai sesuatu yang “serius”. Film terbaru Garin, Teak Leaves On The Temple, sebuah dokumenter yang menantang pengertian “film dokumenter” sendiri, tentang kolaborasi musik Trio free jazz Geisser-Mazzola-Jones dengan lima komunitas seni di sekitar Jogja, Prambanan, dan Gunung Merapi, mengukuhkan kotak itu.&lt;br>&lt;br>Mengapakah di balik keseriusan dua film Garin terdapat sebuah kebermainan? Dan mengapakah Teak Leaves On The Temple bisa dikatakan sebagai sebuah capaian yang lebih baik dari Opera Jawa?</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 10:29:38 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Menampik Stereotipe, Menjadi Cermin</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_vietnam.htm</link>
   <description>Modernity and Nationality in Vietnamese Cinema - Negeri beras yang hancur oleh perang ini dengan cepat bangkit. Termasuk perfilman mereka. Apakah studi film kita kalah dibanding studi film Vietnam yang baru seumur jagung itu?</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 10:28:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Pocong is Back!!!..</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_pocong.htm</link>
   <description>Sinemart Pictures kembali meluncurkan sekuel Pocong, yaitu POCONG 3 yang akan ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 11 Oktober 2007.</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 11:21:57 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Keroncong Eva Menuju Film Panjang</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_eva.htm</link>
   <description>Eva, Kenapa Rumahmu Jauh? - Film pendek ini menyimpan banyak (calon) nama besar. Lahir sebagai anak zaman, tak mencapai kedalaman. Baik, atau buruk kah, ambisi film panjang dalam sebuah film pendek?</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 10:28:27 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_fiksi.htm</link>
   <description>Film fiksi ilmiah memang makhluk ganjil di dunia film kita. Ternyata sejarah fiksi ilmiah kita lucu juga.</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 10:27:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film and Bullets</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/filmsiana/filmsiana_bullets.htm</link>
   <description>Apa hubungan film dan senapan penuh peluru? Tanyalah Werner Herzog dan Klaus Kinski.</description>
   <pubDate>Fri, 07 Sep 2007 10:27:08 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Undangan dari South to South Film Festival 2007</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_stos.htm</link>
   <description>South to South Film Festival 2007 yang akan berlangsung 9-11 November 2007 mengundang anda untuk mengirimkan film. Panitia akan menerima film paling lambat 3 Oktober 2007.</description>
   <pubDate>Wed, 05 Sep 2007 13:23:01 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kompetisi Film Dokumenter Think Act Change Diperpanjang</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/kabar/kabar_thinkactchange.htm</link>
   <description>Kompetisi Film Dokumenter Think Act Change, sebuah kompetisi film documenter bagi pelajar SMU dan pembuat film amatir yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta dan The Body Shop, masih terbuka untuk penerimaan karya. Batas akhir penerimaan diperpanjang hingga 14 September 2007.</description>
   <pubDate>Wed, 05 Sep 2007 13:22:19 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Kisah Cahit dan Sibel</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_gegen.htm</link>
   <description> Kisah cinta yang menggetarkan selalu punya anomali. Lalu apa jadinya jika si lelaki begitu self destructive hingga memilih menabrakkan mobilnya sekencang-kencangnya ke dinding, sedang si perempuan tergolong juara dalam kontradiksi personal?&lt;br>&lt;br>Ini memang kisah dua manusia berdarah Turki. Bahkan lagu tradisional Turki, selat bosphorus dan Hagia Sophia menghiasi opening dan ending film ini. Tapi ada juga Jerman yeng lengket di sekujur tubuh film ini.&lt;br>&lt;br>Jerman, Turki, diaspora, hingga open-marriage muncul bak dialog. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Fatih Akin dalam film yang memenangi Golden Bear Award Festival Film Berlin 2004 ini?</description>
   <pubDate>Tue, 28 Aug 2007 09:30:49 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Lila Bilang Cinta</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_lila.htm</link>
   <description>Lila Says - Gadis kecil, ungkapan cinta dengan seksualitas yang tak malu-malu, dan ghetto imigran muslim Afrika Barat di Perancis. Apa yang terjadi jika ketiganya muncul bersama?</description>
   <pubDate>Tue, 28 Aug 2007 09:29:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Ho Yuhang: “Kami Cuma Bekerja dan Berbuat”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_hoyuang.htm</link>
   <description> Film Malaysia Rain Dogs, alias Taiyang Yu dipilih menjadi film penutup pada Jogja Asian Film Festival beberapa waktu lalu. Ini film digital yang “murah” tapi jauh dari murahan. “Low Budget High Quality” kata sejumlah pengamat. Seperti beberapa rekannya yang disebut sebagai generasi baru sineas Malaysia, Ho Yuhang, sutradara Rain Dogs, beberapa tahun terakhir rajin menyabet penghargaan di berbagai festival film bergengsi dunia.&lt;br>&lt;br>Dengan biaya relatif rendah, film-film Malaysia perlahan-lahan muncul menjadi perbincangan dunia. Benarkah lebih bagus dari film-film Indonesia? Lalu mengapa Yuhang merasa malu membandingkan film Malaysia dengan film Indonesia? Mengapa pula ia menolak menyebut biaya murah sebagai keunggulan digital?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 06:26:12 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Jakartalah Satu-satunya</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_kamulah_satunya.htm</link>
   <description>Kamulah Satu-satunya - Hanung sedang marah pada Jakarta, maka metropolitan ini sesak nafas dalam filmnya. Tapi, benarkah tak ada moi indie di Jakarta.</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 06:31:24 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Paradoks Jarak dalam Kamera Digital</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_otherhalf.htm</link>
   <description>The Other Half - Apa jadinya jika seorang filmmaker cuma punya bujet terbatas, tapi punya cerita dengan sebuah kota sebagai antagonisnya?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:13:26 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Dinamit Yang Disemai Diam-diam</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_rebellion.htm</link>
   <description>Rebellion: The Litvinenko Case - Kesalahan translasi, 'bombardé' (mengebom) menjadi 'bombardement' (membombardir) menjadi penting jika tak ingin film jadi ladang bom di dunia nyata.</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:14:42 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Philip Cheah: “Audiens Bukan Ukuran Sukses”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_phillip.htm</link>
   <description>Dua tahun berturut-turut menjadi kurator Jogja Asian Film Festival, Phillip Cheah mengintip banyak hal dari sinema Asia dan Indonesia. Mengapa Ia tak percaya audiens sebagai ukuran sukses, tapi yakin Indonesia bisa punya banyak festival film?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:17:54 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bahman Ghobadi: “Kurdi Lebih Berbudaya dari Amerika”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_bahman.htm</link>
   <description>Kematian Saddam, buat Bahman Ghobadi cuma permainan. Ia memang merasa hidup di zaman yang gila, tapi mengapa Bahman Ghobadi justru bersyukur ada yang membajak film-filmnya? Bukankah biasanya, filmmaker sangat anti DVD ilegal?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:19:08 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Marjane Strapi: “Saya Manusia Internasional”</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_marjane.htm</link>
   <description>Setelah komik Persipolis menggebrak dengan film Persipolis.</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:21:59 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Indonesia dalam Cakram</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_cakram.htm</link>
   <description>Film adalah rekaman sejarah. Amerika 1930-an hidup dalam Chaplin, Three Stooges dan Laurel Hardy. Indonesia lama lenyap bersama rusaknya Tiga Dara, Matjan Kemayoran dan Pagar Kawat Berduri. Mengapa logika preservasi selalu takluk oleh logika pasar?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:23:33 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Asrul Sani, Sebuah Fragmen Keadaan</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_asrul.htm</link>
   <description>Asrul Sani adalah cermin sebuah kebebasan individu dari masa lampau kita yang belum terlalu jauh. Apakah generasi kini bisa melihat diri mereka dalam Asrul Sani?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:25:04 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Like a Rolling Stone: Imagining America in Contemporary Indonesian Films  </title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_rolling.htm</link>
   <description>Intan Paramadita memusatkan perhatian pada Riri Riza dan Nia Dinata, dan menelusuri bayangan Amerika dalam ke-Indonesia-an film kita. Mengapa Intan menyimpulkan bahwa gagasan tentang Amerika khususnya Hollywood, tak terpisahkan dari bayangan kultural dan nasional Indonesia?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:28:22 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Musik dan Film</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/artikel/artikel_musik.htm</link>
   <description>Di India, Satyajit Ray memilih musik Ravi Shankar untuk Pather Panchali. Di Jepang, Fumio Hayasaka menggunakan alat-alat musik Jepang untuk Rashomon dan Seven Samurai-nya Akira Kurosawa. Dan musik juga pernah rasis dalam sejarah Hollywood.</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:26:53 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Film Indonesia Suatu Ketika (Bagian Pertama)</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_film.htm</link>
   <description>Sebuah keluarga: Ayah, Ibu dan anak-anak berusia belum remaja, bersama-sama berkunjung ke bioskop, mengantri untuk menonton film Indonesia. Apakah ini kenyataan dari sebuah masa lalu yang dekat, ataukah ini ramalan untuk masa depan?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:31:22 GMT</pubDate>
  </item>
  <item>
   <title>Bioskop Tertua</title>
   <link>http://www.rumahfilm.org/esai/esai_bioskop.htm</link>
   <description>Bagi sejarah, bagi sebuah bangsa, apakah makna sebuah gedung? Sebuah bioskop tua apalagi? Boleh jadi tak ada. Untuk apa mengenang sebuah gedung pertunjukkan tempat manusia cuma sibuk menanti sensasi kegembiraan sesaat?</description>
   <pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:34:12 GMT</pubDate>
  </item>
 </channel>
</rss>
