<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="../global.css"?>
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head> <title>Le Scaphandre et Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly):Ketika Kamera Menjadi Mata</title> </head>
<body>
        <p><font class="title"><em>Le Scaphandre et Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly)</em>:<br />
Ketika Kamera Menjadi Mata<br />
  <small><font class="content1">oleh Asmayani Kusrini<br />
Redaktur RumahFilm.org, Brussel</font></small>
</font></p>
        
		<p class="content">Suatu hari, dia terbangun. Ada
suara-suara di sekitarnya. Ada kesibukan di sekeliling. Dia berusaha bangkit,
tapi tidak sanggup. Dia berusaha memanggil, tapi suaranya tertelan sendiri. Dia
tidak mengerti apa yang terjadi. Lalu seseorang yang tak dikenalnya
menyorongkan wajah dekat-dekat. "Ada apa?" katanya dalam
hati.  </p>





<p class="content">Inilah biopik tentang hari hari
terakhir Jean-Do, wartawan dan editor majalah mode Elle cabang Prancis. Jean Do
mengalami stroke yang membuatnya lumpuh total. Satu-satunya aktivitas yang bisa
dilakukan pria yang terkenal sebagai <i>playboy</i> ini hanyalah berkedip.
Hanya dengan berkedip itulah, Jean Do berhasil menyelesaikan sebuah buku dengan
judul yang sama.Jean-Do mempublikasikan buku tersebut tiga hari sebelum
kematiannya pada 9 Maret 1997.</p>



<p class="content">Adalah Julian Schnabel yang gemar
bikin film biografi –<i>Basquiat</i>, tentang pelukis Jean Michel Basquiat; dan
<i>Before Night Falls</i>, tentang penulis Reinaldo Arenas—yang membuat film
ini. Dan Schnabel, pelukis yang kemudian beralih jadi sutradara itu, mencoba
memvisualisasikan <i>Le Scaphandre</i> dari sudut pandang dan kenangan Jean-Do.
Hampir sebagian besar film ini di-<i>shot</i> dari <i>angle</i> sudut mata kiri
Jean-Do –satu-satunya organ tubuh yang masih berfungsi utuh.</p>



<p class="content"><i>Le Scaphandre</i> dibuka dengan adegan dari sudut mata
Jean-Do (yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor Prancis, Mathieu
Amalric) yang baru saja tersadar dari <i>stroke</i> yang membuatnya lumpuh
total (<i>locked in syndrome</i>). Schnabel, bekerja sama dengan penulis
skenario Ron Harwood (<i>The Pianist</i>) dan Janusz Kaminski sebagai
sinematografer, kemudian memperkenalkan Jean-Do seperti sedang menyatukan
sebuah <i>puzzle</i>. Sepotong-sepotong, tergantung kenangan sang empunya
cerita. </p>



<p class="content">Sebagai seorang editor majalah mode,
Jean-Do jelas punya kelas tersendiri. Jean-Do yang sedang berada di puncak karir,
menjalani hidup glamor di antara  pelbagai
wanita dan komunitas kelas atas masyarakat Paris, tiba-tiba harus terkurung
dalam tubuhnya sendiri dan terpaksa diasingkan ke kota kecil di pinggiran Prancis.</p>

<p class="content">KinerjaKaminskisebagai
DOP memegang peranan sangat besar di film ini. Ketika ingatan tentang masa lalu
itu tenggelam dalam kenyataan yang harus dihadapi Jean-Do, maka kamera
tiba-tibaberfungsi sebagai ‘mata’, yang kadang kabur karena pusing, atau
karena menahan tangis, atau karena sedang <i>ngiler</i> melihat cewek cakep. </p>

<p class="content">Bahkan dengan berani,
Schnabel memperlihatkan bagaimana salah satu mata itu kemudian dijahit, dari
sudut pandang si mata! Maka kita pun diajak ikut meringis dan sakit ketika
sedikit demi sedikit mata kanan itu tertutup dan yang tertinggal hanyalah mata
kiri dengan area pandang terbatas. </p>

<p class="content">Setelah dijahit, maka
jadilah kamera berubah menjadi ‘mata satu’. Selain itu, ‘mata satu’ ini
juga ditemani oleh suara hati –maklum, Jean-DO tidak bisa <i>ngomong</i>—yang
setidaknya bisa menjadi jembatan antara Jean-Do dan penonton.Teknik
yang digunakan Kaminski –yang juga sinematografer favorit Spielberg– ini
berhasil membuat saya ikut merasakan bagaimana jadi Jean-Do saat itu. Dari
sudut pandang yang sangat terbatas inilah, Jean-Do menyadari banyak hal. </p>

<p class="content">Tapi penonton tidak
usah khawatir. Schnabel –mungkin juga atas saran Kaminski– rupanya sadar,
sungguh tidak nyaman menjadi Jean-Do, maka kamera kadang berbaik hati tidak
lagi menjadi sang mata, tapi keluar sejenak dan melebarkan pandang, menjadi
pengamat yang berjarak. Dan <i>puzzle-puzzle</i> yang berserakan sejak awal
mulai tersusun.</p>

<p class="content">Ada adegan ketika ayah Jean-Do yang
juga sudah susah bergerak karena tua menangis di telepon, mengetahui anaknya
yang baru berusia 45 tahun itu tak mampu lagi berbicara. Dan penonton diajak
untuk tahu kedekatan antara ayah dan anak ini. Ketika kamera keluar dari
fungsinya sebagai sang ‘mata satu’, penonton dibawa untuk melihat bagaimana
hubungan Jean-Do selama ini diantara kolega, keluarga, dan pacar-pacarnya.</p>



<p class="content">Schnabel mengerahkan segala kemampuan
dan pengalamannya sebagai pelukis untuk memvisualkan <i>Le Schapandre</i> di atas
layar lebar. Meski <i>Le Schapandre</i> adalah kisah penderitaan seorang
manusia yang berjuang untuk menghasilkan sesuatu, tapi sekuen-sekuan yang
dipilih Schnabelbegitupuitis. Indah namun pilu. </p>



<p class="content">Seperti ketika Schnabel membuat <i>Basquiat</i>
dan <i>Before Night Falls</i>, Schnabel tidak bisa menghilangkan jejaknya
sebagai pelukis yang peduli dengan komposisi, warna, cahaya. Schnabel juga
makin matang meresapi kegalauan karakter Jean-Do dibandingkan dengan Basquiat
atau Arenas di film sebelumnya. </p>

<p class="content">Meski tak berhasil
menjadi film terbaik di Cannes 2007 –akhirnya dimenangkan oleh <i>4 months, 3
Weeks, 2 Days</i>-nya Christian Mungiu– toh, Schnabel dinobatkan sebagai
sutradara terbaik di ajang festival paling bergengsi tersebut. Pantaslah.***</p>



<p class="content"><i>Le Scaphandre et
Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly)</i></p>

<p class="content">Sutradara: Julian
Schnabel (<i>Basquiat</i>, <i>Before The Night Falls</i>). Skenario: Ron
Harwood (<i>The Pianist</i>). Pemain: Mathieu Amalric, Emmanuelle Seigner,
Marie-Josee Croze. Produksi Pathé Renn Productions, 112 Menit. </p>

<p class="content"><a href="resensi_menu.htm" target="_self">Resensi lainnya</a></p>
</body>
</html>

