<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="../global.css"?>
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head> <title>Mereka Bilang, Saya Monyet!-Siapa Bilang Djenar Monyet?</title> </head>
<body>
        <p><font class="title"><em>Mereka Bilang, Saya Monyet!</em>:<br />Siapa Bilang Djenar Monyet?<br />
  <small><font class="content1">oleh Eric Sasono<br />
Redaktur RumahFilm.org</font></small>
</font></p>

<p class="content">Siapa yang bilang Djenar Maesa Ayu adalah seekor monyet? Mungkin tak ada,
dan itulah soalnya. Bisa jadi pernah ada yang mengatai Djenar monyet dan ia sedang
melawannya dengan karya. Saya merasa begitu ketika menonton film <i>Mereka
Bilang Saya Monyet</i> (<i>MBSM</i>), yang naskahnya ditulis Djenar bersama
Indra Herlambang dan disutradarai Djenar sendiri. Cerita film ini berasal dari
cerita pendek Djenar yang berjudul “Lintah” dan “Mereka Bilang Saya Monyet”.</p>

<p class="content">Kisahnya adalah tentang seorang anak bernama Adjeng (Banyu Bening) yang
mengalami banyak hal dalam hidupnya. Orangtuanya berpisah dan mereka saling
menyalahkan. Sang ibu, yang dipanggil Adjeng Mommy (Henidar Amroe), <i>boro-boro</i>
menyayangi. Ia bahkan menganggap anak kecil yang masih sekolah di SD itu tak
pantas diperlakukan sebagai manusia. “Sama saja dengan ayahnya,” kata sang ibu,
yang kemudian menjuluki sang anak sebagai monyet.</p>

<p class="content">Kebencian Mommy bahkan terasa tak masuk akal. Lihat adegan ini: suatu hari
Adjeng memuntahkan sayur yang sudah dimakannya ke dalam toilet duduk. Mommy
memergoki. Ia lantas marah pada Adjeng dan meminta anak kecil itu menjelaskan
perilakunya. Tentu Adjeng tak bisa menjelaskan. Maka Adjeng pun harus menerima
paksa kebenaran Mommy bahwa sayur itu sehat baginya. Tak cukup hanya itu,
Adjeng pun dipaksa menelan sayur yang sudah berada di dalam toilet itu.</p>

<p class="content">Benci memang lawan kata dari cinta. Mungkin itu sebabnya keduanya bisa sama
tak masuk akalnya. Dan kebencian itulah yang tampak sedang dibagikan oleh
Djenar kepada penonton dengan cerita ini.</p>



<p class="content"><b>Penistaan seksual</b></p>

<p class="content">Tapi kebencian macam itu saja tak cukup. Karena Mommy punya pacar (diperankan
oleh Bucek) dan kita tahu sejak awal untuk apa ia ada dalam film semacam ini.
Ketika Bucek berada satu <i>frame</i> dengan Adjeng kecil, tak sulit menduga
apa yang akan terjadi pada perempuan kecil itu. Bukan hanya komedi dan ilusi
kebahagiaan yang mudah ditebak dan cenderung membosankan, tapi juga tragedi dan
dunia yang muram seperti ini. Jika ada yang selamat dari konstruksi yang
dibangun oleh Djenar, itu adalah metafor lintah yang masuk ke bak mandi yang serta-merta
mengubah warna air di dalamnya menjadi merah darah.</p>

<p class="content">Tragedi semacam penistaan seksual seperti yang dialami oleh Adjeng mungkin
bukan hal baru. Dalam kehidupan nyata, banyak perempuan-seniman yang mengalami
dan mampu mengubah nistaan itu menjadi energi kreatif mereka. Penyair dan
prosais Amerika, Maya Angelou, adalah salah satu yang mampu mengubah nistaan
seksual itu menjadi kisah yang insipiratif. Bukunya, <i>I Know Why the Caged
Bird Sings</i>, dipuji oleh banyak penulis lain dan dianggap menjadi inspirasi
bagi orang banyak.</p>

<p class="content">Maka jika Adjeng dewasa (Titi Sjuman) kemudian merasa perlu berhenti dari
menulis buku anak-anak dan mulai mencoba menulis fiksi bagi orang dewasa, ia
mungkin bukan sekadar berkeinginan untuk jujur dengan pengalamannya sendiri.
Bisa jadi ini adalah sebuah langkah penyembuhan diri yang memang dia perlukan.</p>

<p class="content">Apa langkah penyembuhan itu? Tiba-tiba saya teringat pada <i>Baise Moi</i>
(2001), sebuah film Perancis yang arti harfiahnya <i>Fuck Me</i> tapi judul
Bahasa Inggrisnya adalah <i>Rape Me</i> –karena tak mungkin arti harfiahnya itu
akan diperbolehkan untuk judul sebuah film di negara-negara pengguna Bahasa
Inggris. Film itu mengisahkan dua korban tindakan kekerasan seksual yang
kemudian berubah menjadi pembenci laki-laki. Mereka menjebak laki-laki dengan
seksualitas mereka dan kemudian membunuhi laki-laki yang berhasil mereka jebak
karena alasan-alasan kecil.</p>

<p class="content">Film ini dibuat oleh Virginie Despentes dan Coralie. Despentes menulis
novel ini dan Coralie, seorang produser film porno Prancis, merasa mendapatkan
bahan yang sangat baik buat sebuah cerita dengan pernyataan yang kuat tentang
persoalan dominasi seksual laki-laki terhadap perempuan. Namun film ini punya
satu kekurangan besar: penceritaan. Film ini lemah sekali dalam penceritaan
sehingga tampak seperti perayaan tak sengaja terhadap kebodohan-kebodohan
seksual para tokoh di dalamnya.</p>



<p class="content"><b>Tiada ruang bagi karakter</b></p>

<p class="content">Djenar dalam <i>Mereka Bilang</i> lebih baik ketimbang <i>Baise Moi</i>. Ia
lebih lancar dalam bercerita. Kecohan-kecohan kecil juga diselipkan di
sana-sini, cukup bisa membuat alur drama terasakan. Namun <i>Mereka Bilang</i>
sama-sama punya ketidakmatangan seperti halnya <i>Baise Moi</i>. Penyutradaraan
Djenar terasa sangat datar untuk sebuah topik pembicaraan yang sangat
membutuhkan sensitivitas. </p>

<p class="content">Ia tampak tak peduli pada perasaan penonton dan tak memberi ruang bagi
karakternya untuk menikmati kesendirian tanpa harus terserang oleh orang-orang
di sekitarnya. Mommy dan sang pacar memberi nistaan perasaan dan fisik yang tak
ada habisnya. Teman di sekolah mengejeknya karena ia menggambar perempuan
cantik. Ayahnya mengajak perempuan muda dengan pakaian terbuka yang menyebut
dirinya sendiri ‘kakak’ kepada Adjeng. Bahkan Bik Inah (Jajang C. Noer),
pembantu ayahnya yang sayang pada Adjeng, selalu mencandai Adjeng di waktu yang
salah. </p>

<p class="content">Akibatnya, menonton <i>Mereka Bilang</i> bagaikan menonton sebuah film
pendek yang dibuat oleh anak berumur 20-an tahun yang merasa bisa menjelaskan
kepada siapa pun bahwa dunia ini tak lebih wangi ketimbang ketiak setan. Pergerakan
kamera yang tak macam-macam, <i>editing</i> yang sekadarnya dan tata cahaya
yang sederhana dan <i>production value</i> yang <i>ngepas</i> memang berhasil
mengantarkan kementahan ungkapan dan fokus pada cerita. Namun kementahan untuk
tema sensitif seperti ini nama lainnya adalah ketidakmatangan. Dalam
ketidakmatangan demikian, kreator biasanya merasa punya jawaban kenapa dunia
harus busuk begitu: <i>tak ada yang mengerti saya</i>.</p>

<p class="content">Itulah kata-kata Adjeng kepada Asmoro (Ray Sahetapi), seorang penulis yang
mementori Adjeng. Asmoro yang digambarkan sabar itu bahkan hanya seorang
laki-laki brengsek yang pengen <i>ngewe</i> gratis dengan perempuan secantik
Adjeng. Siapakah kiranya yang bisa memahami persoalan orang seperti Adjeng?</p>



<p class="content"><b>Memahami</b></p>

<p class="content">Mungkin Djenar bisa. Seperti kata Adjeng dewasa, kenyataan memang bisa seburuk
itu dan bahkan lebih brengsek lagi. Apa perlunya menutup-nutupi? Memang, dan
mungkin Adjeng beruntung. Ia bisa keluar dari persoalannya dan kemudian
menyembuhkan dirinya dengan <i>memilih</i> laki-laki yang ingin ia tiduri.
Selain Asmoro, Adjeng juga secara rutin ditiduri oleh seorang bos (Joko Anwar)
yang membayarinya sewa apartemennya itu.</p>

<p class="content">Bagaimana cara memahami pemilihan Adjeng terhadap “korban-korban”nya ini?
Keduanya tampak punya sumber daya yang cukup untuk dikerjai tanpa perlu ada
soal luka masa kecil yang perlu disembuhkan. Asmoro tidak <i>ngewe</i> gratis,
karena ia memberi <i>mentoring</i> kepada Adjeng dalam soal tulisannya sampai
akhirnya tulisan Adjeng dimuat di koran. Pertukaran yang mungkin seimbang.
Begitu juga dengan si Bos; tak usah ditanya. Ketika seorang <i>playboy</i>
ganteng (Mario Lawalatta) mendekati Adjeng di sebuah klub, Adjeng cuma tahan
sebentar dan kemudian muntah di kamar mandi.</p>

<p class="content">Lantas apa perlunya Djenar membuat latar belakang penistaan seksual masa
kecil untuk sebuah pertukaran seksual yang seharusnya berjalan seimbang dan
biasa-biasa saja? Apakah Djenar sedang mencari legitimasi? Legitimasi luka masa
kecil sebenarnya tak diperlukan bagi sebuah pertukaran yang seimbang macam itu.
Bukankah sumber daya seks adalah salah alat tukar paling berharga dan tak akan
berubah mungkin sampai akhir jaman? </p>

<p class="content">Tak sulit mengakui hal ini, karena dua soal. Pertama, soal moralitas sudah
sejak awal memang diletakkan jauh-jauh dalam cerita ini dan tak terlalu sulit
juga menerima soal semacam ini. Kedua, di <i>Mereka Bilang</i>, Djenar bahkan sudah
membecandai para penyindir dan pengejek “Sastra Wangi” justru dengan
menampilkan nyaris seluruh inti omongan mereka. </p>

<p class="content">Cerita Adjeng kecil memang sebuah tragedi yang bisa jadi pelajaran bagi
banyak orang. Sayang sekali apabila kisah tragedi semacam ini kemudian hanya
jadi pembelaan bagi posisi Djenar sebagai penulis. Alih-alih memberi inspirasi
seperti yang dilakukan Maya Angelou, kisah ini malahan seperti mengabaikan
bahwa luka itu pernah ada dan kemudian bermain-main dengannya.</p>

<p class="content">Bisa jadi film ini sepenuhnya adalah otobiografi, tanpa ada bumbu fiksi
sedikit pun. Jika demikian halnya, maka seperti kata Adjeng dewasa, kenyataan
memang bisa lebih buruk daripada itu. Namun seorang penulis, seorang kreator,
tetap bisa memilih apa yang ingin disampaikannya kepada khalayak. Apa
sesungguhnya pelajaran yang diambil oleh Djenar dan hal yang ingin dikatakannya.</p>

<p class="content">Mungkin monyetlah soalnya. Mungkin ada yang pernah berkata pada Djenar
bahwa ia monyet dan itu memang sangat menyakitkan. Kini ia sedang membalas
saja. Adakah demikian? Apapun, yang jelas Djenar perlu memulai dengan tudingan
bahwa dunia memang sedang mengatainya monyet. Berbekal inilah maka ia jadi
punya hak untuk mengatai balik. ***</p>

<p class="content"><em>Mereka Bilang, Saya Monyet!</em><br />
Sutradara: Djenar Maesa Ayu<br />
Produser: Djenar Maesa Ayu dan Riyadh Assegaf<br />
Pemain:Titi Sjuman,Henidar Amroe,Ray Sahetapy,Bucek Dep,Agust Melasz,Jajang C. Noer,Arswendo Atmowiloto,Indra Herlambang,Joko Anwar,Ayu Dewi,Fairuz Faisal,Mario Lawalatta,Nadya Rompies,Banyu Bening	
PH: Intimasi Production<br />
Durasi: 90 menit<br />
Theatrical Release: 2007<br />
</p>
<p class="content"><a href="resensi_menu.htm" target="_self">Resensi lainnya</a></p>
</body>
</html>
