Tokyo Sonata:
Puisi Berbisik dari Bangsa Jaim

oleh Ifan Adriansyah Ismail
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

“Marilah kita tidak saling mengorek luka masing-masing,” ujar sang guru dengan masygul kepada Kenji Sasaki (Inowaki Kai), “kauacuhkan saja aku, dan aku juga akan mengacuhkanmu.”

Demikianlah, dengan kalimat getir itu kita dihantarkan pada sebentuk perilaku yang barangkali telah menyemen sendi-sendi sosial tapi juga menanam benih keretakan sendi-sendi itu sendiri. Berbicara perihal runtuhnya tata nilai dalam keluarga dan masyarakat bukanlah barang baru lagi. Bahkan tidak pula yang membicarakan kemungkinan kesalahan tata itu sendiri dalam keruntuhannya. Tapi, Tokyo Sonata berhasil dengan gemilang.

Film besutan Kiyoshi Kurosawa ini adalah sebuah esai yang puitis, bertutur dengan liris tapi juga gatal untuk sesekali menohok, bahkan melawak. Racikan puitis inilah yang menjadikan Tokyo Sonata berhasil menyajikan tema lama menjadi tetap mampu menggugah, dan mengaduk-aduk batin kita.

Alkisah, seorang karyawan kantoran bernama Ryuhei Sasaki (Teruyuki Kagawa) dipecat begitu saja dari pekerjaannya. Rasa malu, gengsi, marah dan tak berdaya mencegahnya dari berkata jujur terhadap keluarga. Di sisi lain anak istrinya sendiri menyimpan permasalahan lain yang tak terucap. Megumi, sang istri (Kyoko Koizumi), tetap menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga yang mangkus dan sangkil laksana mesin yang mampu tersenyum; Takashi (Yuu Koyanagi), anak sulungnya, tidak jelas mau jadi apa; Kenji, si bungsu yang masih bocah, juga menyimpan hasrat berkesenian yang tidak mendapat restu.

Perlahan-lahan, semua masalah ini akan menggunung dan meledak dalam luapan frustrasi yang bisa berarti maut. Ada apa dengan masyarakat yang seperti ini?

Kiyoshi Kurosawa sebelumnya dikenal kerap menyisipkan kritik sosial yang mendalam di karya-karya horornya. Kali ini, dia mengentalkan kadar kritik itu dalam puisi yang kadang humoristis, tapi tidak kalah menegangkannya dari horor. Dan yang dikritiknya adalah sesuatu di dalam masyarakat Jepang yang sepenuhnya saya sepakati.

Sebutlah saya sok tahu. Jadi, meskipun saya tidak pernah ke Jepang, tapi dari puluhan komik, film dan animasi yang menyimpan berjuta narasi tentang Jepang, saya menyimpulkan bahwa Jepang adalah bangsa paling jaim (“jaga imej” –bahasa slang kalangan anak muda Jakarta) sedunia. Rasa malu dan gengsi sanggup membuat mereka melakukan apa saja, termasuk tentu saja yang paling terkenal: bunuh diri.

Pemendaman masalah semacam itu pulalah yang perlahan-lahan menggerogoti keluarga Sasaki, atau masyarakat Jepang, atau bahkan jangan-jangan masyarakat kita juga. Kita saksikan di Tokyo Sonata, betapa praktik-praktik jaga gengsi itu bisa sangat jenaka, kocak, tapi juga menyedihkan. Pada hakikatnya, semua itu adalah praktik menipu diri yang berujung pada jurang gelap.

Maka, seiring waktu, keretakan tatanan di keluarga Sasaki semakin melebar. Ryuhei kehilangan statusnya sebagai pengayom dan pusat keluarga. Hubungan meregang, ditingkahi kemarahan, frustrasi dan bahkan kekerasan. Dari situ pula, muncul masalah yang sebelumnya tak tampak: rasa frustrasi Megumi yang telah lama kehilangan gairah dan keterpinggiran yang kronis. Dari titik terendah ini akan kita lihat bagaimana keluaga Sasaki melewatinya, sekaligus turut merasakan empati.

Menjelang klimaks film, kepiawaian Kurosawa semakin terasa. Bagaikan koki handal, di sinilah dia meracik resepnya dalam ramuan yang semakin pekat dan semakin menggigit. Dicampuradukkannya unsur-unsur surealis, humor, tragedi dan bahkan mungkin realime magis dalam kadar yang pekat tapi pas. Dan setelahnya, dia menyajikan kisah keluarga Sasaki sesudah krisis dengan cara yang mungkin mengagetkan, tapi juga lucu dan menggugah.

Yang patut saya garisbawahi di sini adalah absennya sosok otoritatif yang biasanya menyelubungi film-film kita seperti awan belalang. Tanpa adanya sosok penasehat nan bijak, atau pemberi jalan keluar nan bersifat ruhani, Tokyo Sonata justru menunjukkan rasa percayanya bahwa manusia yang lemah ini sanggup belajar sendiri dari kesalahannya.

Ini jelas sebuah catatan yang berharga bagi kita masyarakat modern yang terabaikan dari era wahyu, yang kering dari sosok-sosok panutan. Entah diniatkan atau tidak, bagi saya yang orang Indonesia, Tokyo Sonata memberi harapan bagi kita yang terlanjur muak tapi juga bingung dengan absennya panutan.

Dengan cara itu, Tokyo Sonata menyisakan harapan yang besar, juga bagi manusia-manusia Tokyo di semesta film ini. Satu-satunya keluhan adalah bahwa saya bisa menebak bagaimana kira-kira adegan penutupnya sejak awal film. Tapi toh untungnya keisengan saya menebak tidak mengurangi nilai adegan itu.

Dalam sebuah ode yang menyentuh, adegan penutup Tokyo Sonata bagaikan –meminjam istilah guru PMP– menjiwai seluruh aura film berpuluh-puluh menit sebelumnya. Jika pelupuk mata Anda tidak menghangat di adegan ini, saya tidak tahu lagi, terbuat dari apa hati Anda.

Nikmatilah Tokyo Sonata seperti puisi yang berbisik liris ke telinga Anda. Anda bisa tertawa geli karenanya, tapi juga selamanya tersentak oleh renungan isinya.

PS:

Doppelganger saya tiba-tiba punya ide: bagaimana jika orang-orang Jepang itu kita carikan sosok panutan saja, supaya bisa seperti kita yang “banyak” tokoh panutan? Langsung saja saya membungkam dan menyekapnya di gudang. Apa sih yang dipikirkannya?

Tokyo Sonata

Dir. Kiyoshi Kurosawa, 2008, Color, 119 min., 35 mm.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org