The Wall (Misteri di Balik Tembok):
MISTERI DI BALIK HOROR TV
oleh Hikmat Darmawan

Salah satu misteri terbesar sains yang kini ramai diulik adalah bagaimana pikiran bekerja. Saya pikir, bahkan Steven Pinker, ahli sains pikiran paling pe-de saat ini untuk merasa tahu jawaban misteri itu, pun akan ternganga-nganga melihat cara kerja pikiran para pembuat film horor Indonesia macam The Wall.

Pikiran antara lain mewujud dalam wicara. Banyak wicara dan ”wacana” gagah dalam konferensi pers film ini di restoran Planet Hollywood, Jakarta, 11 September 2007 malam. Eka D. Sitorus, acting coach, banyak bicara kenapa ia akhirnya mau ”membantu” dan ”merestui” muridnya, Nessa Sadin (bersama Hilman ”Lupus” Hariwijaya), untuk membuat film ini. Film horor ini beda daripada film-film horor Nayato, misalnya –begitu kata ”Bang” Eka.

Kalau film-film Nayato –maksudnya, Nayato Fio Nuala yang memang banyak bikin film horor baik sebagai Nayato mau pun sebagai Koya Pagayo—dan film-film horor kita yang lain, kata Eka, lebih banyak ngaget-ngagetin saja. The Wall ini beda, katanya. Film horor ini lebih mementingkan cerita, memakai struktur penceritaan tiga babak yang benar. Lebih dari itu, katanya lagi, film horor ini punya ”arus bawah yang mendasari” berupa kisah cinta segi tiga. Oke. Ada lagi faktor lain yang membuat ”bang” Eka mau ”membantu” muridnya membuat film ini.

Sang sutradara, diimpor dari India, Mr. Kumar Parek yang malam itu tak ada karena “suatu urusan di India”, bilang kepada Eka bahwa film ini akan menguras acting pemain karena lebih mementingkan segi “inner action”. (Soal sutradara, ini pun misteri lain: siapakah ia, apakah film-film yang ia buat sebelumnya, prestasi apakah yang pernah ia raih sehingga musti diimpor untuk film ini? Sampai-sampai wartawan film kawakan, sang “ensiklopedi hidup film Indonesia”, Pak Yan Wijaya, harus bertanya-tanya soal itu.) Omongan Kumar membuat Eka tertantang. Ini jelas film horor yang “lain”, kata Eka. Oke. Lalu, bagaimana hasilnya?

Nah, ini bagian yang mungkin akan membuat Steven Pinker ternganga. The Wall mungkin adalah film horor yang tanpa sengaja paling banyak membuat wartawan tertawa dalam preview-nya. Betul, ada bagian-bagian yang memang sengaja dibuat lucu. Tapi jika ketawa gemuruh terjadi pada saat adegan yang dimaksudkan mengharukan atau seram, tentu ada sesuatu yang salah. Saya teringat film Unfaithfully Yours (Preston Sturges, 1948).

Dalam film komedi ini, seorang konduktor musik membayangkan beberapa skenario untuk membunuh istrinya. Ketika ia merasa skenario sempurna telah ia temukan, ia melaksanakannya. Ternyata, “kejadian sebenarnya” tak berjalan sesuai skenario, ada-ada saja hal yang tak ia perhitungkan muncul. Di situlah sumber komedi film Strudge yang kemudian ditiru dalam banyak film lain. Komedi “kenyataan tak sesuai skenario” memang jurus yang amat populer, sesudah jurus komedi “salah paham”.

The Wall ibarat komedi beberapa orang yang membayangkan sedang membuat film horor yang hebat, barangkali sekelas Rosemary’s Baby (Roman Polanski, 1968), dan ternyata hasilnya hanyalah sebuah lelucon tanggung. Lebih menyedihkan jika ternyata komedi ini terjadi karena adanya salah paham para pembuatnya tentang apa itu “film horor yang bagus” atau apa itu “film bagus”. Dengan imut, Nessa Sadin sebagai salah satu produser film ini bercerita tentang betapa ia melakukan riset dan studi banding ke Jepang, Thailand, dan Amerika.

“Terutama Jepang, ya,” katanya. Nessa ingin tahu, mengapa film-film horor Jepang bisa begitu mendunia. (Saya jadi malu, mengapa saya mencari tahu soal yang sama kok hanya mencukupkan diri pada DVD, internet, dan buku-buku saja; mestinya saya juga studi banding ke tiga negara itu, bukan?) Keseriusan ini, ditambah pengalaman Hilman yang sudah berkecimpung di dunia film kita sejak 1980-an dan gagahnya wacana yang tampak dipunyai Eka D. Sitorus, menandakan bahwa ada sebuah angan-angan dan gagasan tentang film horor yang baik. Apa boleh buat, hasilnya ternyata jauh panggang dari api.

Premis The Wall sebetulnya lumayan bagus. Film horor tentang film horor. Seorang penulis skenario hebat, Sabrina (Nessa Sadin), datang ke produser (Ray Sahetapy yang bermain sangat dibuat-buat –apakah karena arahan Eka juga, atau memang Ray tak bisa “diarahkan”?), dan ingin membuat skenario film horor paling hebat. Untuk membuatnya, ia akan menulis sendirian di villa Kubang yang konon adalah villa paling angker di Jawa Barat. Di villa itu, tentu saja, Sabrina bertemu setan. Tapi 10 hari kemudian skenario jadi, dan film siap dibuat. Sutradaranya, Mr. D (Defry), setuju pada keinginan Sabrina agar film itu dibuat di villa angker itu. Bintangnya, Fathan (Rifky Balweel), Mischa pacar Fathan (Deriell Jaqueline), dan Olla (Savira Crith) yang kebetulan mantan pacar Fathan. Kebetulan pula, villa angker itu adalah milik kakek Fathan (Donny Damara). Tentu saja, satu demi satu para awak film mati.

Masalah terbesar film ini adalah para pembuatnya tak mampu keluar dari modus pembuatan sinetron nasional saat ini. Bukan hanya kualitas imaji digitalnya di layar lebar yang sangat “sinetronwi”. Kamera digital tak perlu jadi kekurangan. Sejak Puisi Tak Terkuburkan (Garin Nugroho, 1999) hingga beberapa film Hanung Bramantyo (Brownies dan Catatan Akhir Sekolah), sineas kita membuktikan kamera digital bisa menghasilkan gambar-gambar ciamik. Jika The Wall masih tampak sebagai sinetron, berarti tatacahaya dan serba-serbi fotografi digitalnya memang tak terlalu dijelajah. Sudahlah.

Tapi, modus yang lebih mendasar dari pembuatan sinetron rupanya tak mampu ditaklukkan film ini. Seni peran yang hanya bertumpu di wajah, misalnya. Eka, dengan segala pemujaan padanya (“Banyak murid saya yang main di film ini,” katanya), tak tampak berhasil menanamkan apa itu seni peran pada para bintang di sini. Gestur tak tergarap, para tokoh yang mestinya ketakutan tak menampakkan tubuh yang ketakutan. Donny Damara, yang kehadirannya sebagai kakek sekarat di rumah sakit memancing tawa gemuruh para wartawan yang menonton (karena wajahnya terlalu ganteng sebagai kakek sekarat), hanya bergetar suaranya dan kuyu wajahnya tapi tangannya tampak tak gemetar. Wajah, ya, wajah –sebuah unsur utama dalam sinetron yang mementingkan close up dan verbalisme hampamakna.

Wajah pula unsur penting dalam sistem kebintangan sinetron. Wajah para bintang muda. Sebuah adegan di film ini sungguh menakjubkan saya. Fathan yang jadi bintang utama di film horor “Kain Kafan” (“Sebuah judul yang bagus!” kata tokoh produser), dimarahi Mr. D sang sutradara, karena memakai kalung yang tak sesuai adegan. Dengan gagah, Fathan melawan: “Ini kalung, kalung gue ...terserah kalau gue mau memakainya!” Mr. D ciut nyalinya. Adegan ini dimaksudkan sebagai gurauan tentang kekonyolan karakter Mr. D, dengan Fathan sebagai pahlawannya.

Ini sebuah komentar menyedihkan tentang film nasional kita. Bukankah memang hak sutradara untuk mengatur pakaian para pemain filmnya? Ini menggambarkan betapa kukuhnya posisi bintang, betapa rapuhnya posisi sutradara dalam modus pembuatan film macam begini. Di adegan lain, digambarkan sutradara juga takluk, atas desakan produser, pada keinginan sang penulis skenario yang bergaya seleb itu. Betapa tak pentingnya peran sutradara –janganlah bicara konsep auteur di sini.

Tak pentingnya posisi sutradara –ia tak lebih hanya tukang—agaknya yang mendasari penggunaan Kumar Parek sebagai sutradara. Kumar terlibat film ini setelah berkenalan dengan Hilman di dunia sinetron. Pilihan ini disetujui Nessa, yang selama ini adalah bintang sinetron. Sebagaimana tak penting benar sang sutradara hadir di peluncuran film ini, tak penting benar pula siapa sutradara The Wall. Seperti dalam sinetron, ia hanya tukang yang tunduk pada kemauan produser, penulis cerita dari kalangan seleb yang dekat dengan produser, dan tak mampu mengatur-atur para bintang pemeran di filmnya. Ia bisa diganti oleh siapa saja. Dan dalam The Wall, agaknya peran pengarahan pemeran lebih banyak dilakukan oleh Eka D. Sitorus. Tanpa paham konteks ini, absurd rasanya melihat seorang acting coach mendapat tempat khusus dan aksara besar dalam credit title film ini.

Dan seperti adegan-adegan film ini yang terasa kekanakan dari segi ide, saya merasa seluruh kehadiran The Wall terasa kekanakan juga. Inilah misteri terbesar film ini bagi saya: bagaimana bisa angan-angan dan gagasan kekanakan tentang apa itu “film horor yang baik” dan apa itu “film yang baik” mewujud menjadi film sungguhan, dengan biaya mungkin 1-2 milyar rupiah, dan saya tonton dengan setengah ketawa setengah menangis begini? ***

Film: The Wall, Misteri di Balik Tembok.
Produksi: Production House Lupus Entertainment.
Produser: Nessa Sadin, Hilman Hariwijaya.
Pengarah Peran: Eka D. Sitorus.
Bintang: Rifky Balweel, Deriell Jaqueline, Nessa Sadin, Savira Crith, Catherine.
Sutradara: Kumar Parek.

Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Lebih dikenal sebagai pengamat komik, mengawali karir menulis dengan mengamati berbagai segi budaya populer, buku, dan film. Tinggal di Jakarta.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org