Teeth:
Mitos Vagina Bergigi dalam Hibrida Genre Horor-Komedi

oleh Nayla Majestya
Mahasiswa dan Anggota Klub Kajian Film IKJ
Kontributor Rumahfilm.org, Jakarta

 

Saya tidak lebih suka film ini daripada Hard Candy (2005), tapi saya menikmati humor aneh yang muncul dari sebuah kisah yang cukup mengeksplisitkan praktik kastrasi/pengebirian dalam beberapa scene-nya itu.

Alhasil, seperti juga Hard Candy, sulit menemukan teman laki-laki saya yang menyukai Teeth (2007). Padahal, saya sudah berusaha menyembunyikan tema dengan huruf K besar itu dan mengiming-imingi bahwa Jess Weixler secantik Natalie Portman, kalau bukan lebih cantik, dan bahkan jauh lebih baik lagi, karena gadis ini belum seterkenal Natalie Portman. Sialnya, mereka sama sekali tak tertipu dan lebih memilih mengandalkan rekomendasi Google daripada saya.

Teeth adalah sebuah film debut karya sutradara-penulis Mitchell Lichtenstein yang memenangkan satu penghargaan saja di Sundance Film Festival, yaitu Special Dramatic Jury Prize for Acting yang jatuh, tentu saja, pada Jess Weixler. Dan saya tidak bisa menyalahkannya. Mengingat Jess Weixler lah, dalam film ini, yang berhasil menggabungkan kata innocent dan dark, ingénue, dan sensual, sehingga menghasilkan kimia yang sempurna antara horor dan komedi pada sebuah kisah tentang mitos vagina bergigi di lingkungan suburban Amerika yang tenang dan sama sekali tidak tampak mengancam.

Tentu saja itu kalau kita tidak memperhitungkan sosok dua cerobong besar pabrik nuklir sebagai latar belakang established shot rumah Dawn. Sebuah logika cerita yang disiapkan film sejak awal untuk mengantarkan kita pada sebuah keluarga ‘berpotensi telah termutanisasi’ dengan seorang ibu yang menderita kanker, anak laki-laki yang psycho, dan anak perempuan yang tumbuh dengan gigi di dalam vaginanya. Tapi mari kita memulai ceritanya dari awal.

Jess Weixler berperan sebagai Dawn, gadis remaja yang bergabung dalam komunitas antiseks. Itu semacam liga remaja yang berkomitmen untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum pernikahan dan, sebagai akibatnya, menjadi target olok-olok dan semprotan minuman cola dari teman-teman sekolahnya tiap pagi.

Dawn sama sekali tidak peduli. Ia memercayai apa yang ia lakukan sepenuh hati. Dawn dan teman-teman satu grupnya tetap bersenang-senang dengan pergi ke bioskop untuk menonton film kartun yang bebas adegan seks dan ciuman. Atau pergi beramai-ramai   mengecek sebuah danau yang menjadi ‘the hottest make out spot’ pada siang hari bolong untuk sekedar mengobrol.

Dengan kenaifan komitmen yang menakjubkan, Dawn selalu berusaha menghindari segala hal yang memungkinkan ia melakukan, memikirkan, maupun memfantasikan seks di tengah gejolak hormonal remajanya sendiri. Bahkan ketika akhirnya ia jatuh cinta pada Tobey (Hale Appleman), seorang murid baru yang juga tergabung dalam liga antiseks yang sama.

Pada Tobey, Dawn akhirnya menemukan seseorang yang bisa ia fantasikan sebagai calon suaminya di masa depan. Seseorang yang akan berhubungan seks dengannya setelah mereka sah secara institusional sebagai pasangan suami istri. Fantasi itu berhenti ketika suatu hari Tobey memaksa Dawn untuk berhubungan seks.

Dawn berusaha melawan, begitu pula vaginanya. Maka Tobey hanya bisa berteriak histeris saat melihat potongan penisnya jatuh, digigit putus oleh vagina Dawn. Tobey yang malang meloncat ke danau saking paniknya dan tak pernah muncul lagi. Dari sini, dimulailah perjalanan Dawn dalam mengenali vaginanya sendiri. Sebuah fenomena mistis yang ditemukannya di sebuah situs Internet sebagai Vagina Dentata.

Teeth , atau terjemahan Inggris dari istilah latin Dentata, sejak awal telah menjanjikan sebuah kisah tentang dua hal: remaja dan seksualitas. Tentang Dawn yang melakukan perjalanan untuk memahami vaginanya sendiri, sejak buku biologi sekolah malah menyembunyikan informasi dengan menutupi diagram vagina dengan stiker.

Tentang kakak tiri Dawn, Brad, korban pertama vagina bergiginya di usia 10 dengan luka gigitan di ujung jarinya yang tumbuh menjadi pemuda sadis setengah sinting, maniak sodomi, pecandu narkoba, dan diam-diam terobsesi secara seksual pada Dawn.

Tentang Richie, teman sekolah Dawn yang membuat taruhan bisa meniduri Dawn dan memenangkan taruhan itu meskipun akhirnya juga mengompensasikannya dengan penis separuh terputus. Juga tentang Tobey yang dalam usahanya selalu menahan diri, justru menemukan usaha pemerkosaannya terhadap Dawn adalah hal terakhir yang ia lakukan sebelum mati dalam keadaan terkastrasi.

Tema remaja dan seksualitas tentu saja bukan sebuah tema baru dalam tradisi bercerita film-film Amerika. Hollywood sudah mengobok-obok tema ini lewat berbagai genre, dari komedi parodi, thriller, drama, horor, komedi romantis, hingga komedi yang sama sekali tidak romantis macam American Pie.

Dan sebagaimana Kirk Honeycutt dalam The Hollywood Reporter menyebut film ini sebagai “the most alarming cautionary tale for men since Fatal Attraction, tema seducing lewat karakterisasi a la Femme Fatale juga bukannya tak pernah dilakukan oleh film-film lain. Lalu apa yang membuat film ini menarik?

Jujur, bagi saya, film ini menarik justru karena ia begitu innocent dalam menjadikan kisah sehoror ini lucu. Dengan kata lain, film ini menarik karena ia cukup berhasil dalam percobaannya atas hibridasi dua genre tua Hollywood tersebut, horor dan komedi. Layaknya sebuah percobaan fisika atas medan magnet dari dua kutub yang berbeda, film ini menghasilkan sebuah gaya tarik-(nan)menarik yang tak bisa dipungkiri keberadaannya.

Genre untuk Teen dan Teeth

Saya sengaja tidak memasukkan “film remaja” (teen movies) dalam hibrida genre film ini karena genre remaja sendiri muncul lebih sebagai sebuah segmentasi penonton. Dan segmentasi penonton tidak terlalu menjadi sebuah faktor yang signifikan dalam tradisi naratif sebuah genre.

Susan Hayward, dalam bukunya, “Cinema studies: The Key Concept” menulis beberapa lema menarik yang menggambarkan garis pemisah yang jelas antara tradisi genre yang satu dengan genre yang lain. Dalam lema genre film horor, misalnya, Hayward mengklasifikasi film horor dalam tiga kategori: The Unnatural (tema body-horror macam vampir, monster, mutan, penyihir), Psychological Horor (thriller pembunuhan macam Psycho-nya Hitchcock), dan Massacre Movies (sadisme pembunuhan macam Saw atau The Texas Chainsaw Massacre).

Berdasarkan klasifikasi Hayward, Teeth bisa dikatakan menggambarkan ketiga kategori itu sekaligus. Dawn, atau lebih tepatnya tubuh Dawn, adalah sumber teror dalam film ini, a body-horror. Sementara, cara film ini menggambarkan kontras setting film dan nuansa cerita, menghasilkan sebuah suspense thriller yang bersifat psychological.

Kita tahu, dalam dunia Dawn yang terang dan tenang, vagina dentata -nya akan memakan korban lagi dan kita terus menunggu kapan Dawn akan menyadari kemampuannya mengontrol ‘monster’ dalam tubuhnya itu dan menyasar korban berikutnya.

Dan tentu saja, kita sulit melupakan scene-scene yang memperlihatkan Tobey, Richie, dan Brad terkastrasi lewat adegan yang cukup eksplisit dengan melibatkan potongan penis yang putus serta muncratan darah dimana-mana. Belum lagi adegan anjing Brad memakan potongan penis tuannya itu. Adegan yang begitu subtil dan efektif hingga membuat saya tak bisa tidak tertawa.

Selain sebagai sumber horor, dalam tradisi genre, konsep ketertubuhan juga mewarnai karakterisasi tradisi genre komedi. Dalam hal ini, tubuh dilihat sebagai bentuk fisik yang bisa dimanipulasi lewat kecanggihan make up, dimediasi lewat kekerasan, serta dieksplorasi lewat hyperslapstick face a la Jim Carrey maupun gestur-gestur komikal layaknya Charlie Chaplin.

Dalam sejarah sinema, komedi sendiri merupakan salah satu dari genre film tertua. Menurut Hayward, ini adalah hal yang lumrah, mengingat aktor-aktor pertama dalam sejarah sinema berasal dari tradisi vaudeville dan teater music-hall. Film-film bergenre komedi awal juga lebih mengandalkan lelucon yang bersifat fisik. Eksibisi awal sinema mengungkapkan fenomena ini. Sinema awal yang berdurasi pendek dimasukkan ke dalam show mix-media dengan seorang pembawa acara di teater vaudeville, music-hall, maupun tenda pertunjukan dalam sebuah festival. Ada kecenderungan memperlakukan komedi bak sebuah sirkus. Murni sebuah spektakel lewat eksplorasi fisikal.

Dalam Teeth, komedi yang muncul memiliki kecenderungan naïf yang sama dengan komedi di tenda sirkus. Kelucuan yang dihasilkan oleh badut yang ditampar bolak-balik dengan papan kayu kurang lebih adalah deskripsi yang mendekati kelucuan saat kita melihat penis-penis bolak-balik putus digigit vagina Dawn, jatuh tak berdaya ke lantai sementara para laki-laki berteriak histeris dalam genangan darah dimana-mana.

Dengan kata lain, komedi itu muncul dari penonton yang menertawakan aksi sadisme terhadap obyek spektakel di layar. Atau, barangkali, saya harus menspesifikasikannya sebagai penonton perempuan?

Genre untuk Penonton (Spectator)

Roger Odin, yang disebut-sebut sebagai nabi semiotika terakhir di Prancis, dalam salah satu seminarnya, Semiotics and Documentary di FFTV IKJ beberapa waktu lalu mengemukakan adanya ruang produksi makna ganda dalam proses komunikasi. Pembuat film memproduksi makna dengan berbagai faktor determinasinya sendiri. Penonton pun secara aktif memproduksi makna dengan berbagai faktor determinannya masing-masing.

Dalam kontrak membaca film fiksi, kembali menurut Roger Odin, kita tidak bisa mempertanyakan identitas sang enunciator; atau dalam hal ini sang pembuat film. Ini berarti identitas gender Mitchell Lichtenstein, yang, ngomong-ngomong, adalah seorang gay, tidak bisa dijadikan pertimbangan oleh penonton untuk memahami teks.

Berlandaskan teori tersebut, dan juga kenyataan mustahilnya berhadapan langsung dengan Lichtenstein untuk mempertanyakan beberapa hal, tulisan saya akan mencoba mengetengahkan produksi makna film Teeth oleh penonton. Sebuah peran dalam proses komunikasi film yang seringkali disalahsikapi dengan mem-pasif-kannya. Dalam bahasa Indonesia, atas fenomena industri sinema Indonesia (elektronik maupun tidak elektronik), kita seringkali menyebutnya sebagai tindakan ‘membodohi’ penonton.

Membaca genre film Teeth sebagai seorang penonton aktif, maka kita melewati pula proses komunikasi yang mau tidak mau mempertimbangkan beberapa faktor determinan. Tema seksualitas yang kental dalam film ini menjadikan salah satu faktor yang menonjol tersebut adalah gender.

Bahkan meskipun politik feminisme selalu berusaha menarik garis batas antara identitas gender dan identitas seksual, membicarakan seksualitas sangat sulit untuk tidak mengaitkannya dengan gender. Pengalaman sosial dan psikologikal antara laki-laki dan perempuan membangun mereka pada akhirnya menjadi penonton yang berbeda ketika berhadapan dengan teks seperti Teeth.

Sebuah film yang dengan gamblang menghadirkan perbedaan itu bulat-bulat, dengan menggarisbawahi pula pada apa yang disebut Jacques Lacan sebagai ketakutan atas kastrasi. Sebuah ketakutan yang secara eksklusif dimiliki oleh laki-laki akan praktik pemotongan terhadap alat genital mereka.

Pada tema kastrasi ini lah, terjadi hibrida pembentukan genre horor dan komedi di kepala penonton. Penonton, sebagai subjek aktif yang memproduksi makna di kepala mereka, juga ‘memproduksi’ genre di kepala mereka. Mereka tertawa dan menyebutnya komedi; mereka ketakutan, dan menyebutnya horor.

Salah satu scene paling menarik yang menggambarkan bagaimana hibrida genre ini dipahami penonton adalah scene ketika Dawn memeriksakan dirinya ke seorang ginekolog. Sebuah pengalaman yang tidak pernah menyenangkan bagi perempuan mana pun, terutama jika (dan hampir bisa dipastikan selalu) dokternya laki-laki.

Sang ginekolog diperankan oleh Josh Pais yang menampilkan sikap bossy, senyum sok-tahu, dan tatapan khas yang membuat kita tahu ia akan mencoba ‘memaksakan’ sesuatu pada Dawn. Scene ini membuat penonton sempat berdebar-debar menunggu sebelum kemudian tertawa, bahkan penonton laki-laki sekalipun, baik tergelak maupun ngeri, ketika melihat Dawn berlari ketakutan meninggalkan sang ginekolog tergeletak di ruang prakteknya dengan lima jari terputus. Sebuah scene yang hampir bisa merangkum emosi film ini secara keseluruhan: it’s thrilling, funny, and scary.

Bicara soal genre sendiri, tak bisa lepas dari ikonografinya. Sejumlah karateristik yang ditangkap penonton sebagai simtom-simtom yang membantu mereka mengenali sebuah genre. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang menarik dalam kaitan antara genre horor dan isu seksualitas.

Pembahasan mengenai hubungan keduanya telah lama muncul lewat beberapa kajian film seperti tulisan Richard Dryer mengenai Dracula -nya Francis Coppola, misalnya (Sight and Sound, vol. 3, 1, January 1993). Sebuah kajian yang mengungkapkan bahwa tradisi kisah vampir sejak abad ke-19 merepresentasikan ketakutan kelas borjuis atas perlawanan/pemberontakan kelas pekerja.

Ketakutan ‘yang lebih kuat’ atas ‘yang lebih lemah’ ini kemudian diseksualisasikan menjadi ketakutan laki-laki atas perempuan (yang tentu saja sudah divampirisasi oleh para vampir). Di sini, kita bisa melihat bagaimana genre horor bisa digunakan sebagai alat bagi usaha seksualisasi isu pertentangan kelas.

Film horor dalam kategori body-horor, psychological horor dan masscare movies sudah lama dilabeli sebagai film-film yang cenderung misoginis. Tema-tema yang melibatkan tubuh-tubuh perempuan terkontaminasi, terasuki, termutasi maupun termonsterisasi sehingga perlu untuk dihancurkan, dibaca oleh kajian psikoanalisa film sebagai ketakutan yang terepresi dari laki-laki terhadap perempuan karena perbedaan mereka.

Seksualitas dianggap sebagai sumber ketakutan dan sering kali digunakan dalam film-film yang mengedepankan tokoh-tokoh femme fatale. Berasal dari istilah vamp fatal, yang juga mengacu pada vampir, para perempuan ini layaknya Sharon Stone dalam Basic Instinct, ‘mengancam’ laki-laki dalam slinky black dress, sepatu hak stiletto, dan tingkah laku seduktif yang aktif secara seksual. Tokoh-tokoh yang dalam istilah Jacques Lacan disebut sebagai phallic-mother atau sosok perempuan yang di-fetish-kan.

Fetishism sendiri diungkapkan Lacan sebagai strategi bagi laki-laki untuk mengelak dari ketakutan mereka atas kastrasi, atas perbedaan mereka dari perempuan/the (m)other. Caranya adalah dengan ‘menemukan’ phallus tersembunyi dalam sosok perempuan lewat simbol-simbol khas phallus layaknya hak tinggi sepatu maupun kekuatan.

Seperti juga analogi the mother dalam fase pre-Oedipal yang memiliki kekuatan untuk merawat dan memberi makan sang anak, kekuatan dibaca sebagai ‘milik’ laki-laki dan karenanya the mother adalah the phallic-mother. Sebuah eksistensi non-subject yang keberadaannya hanya untuk menjalankan fungsi sebagai ‘yang lain’ dari fungsi phallic.

Dalam Teeth, Dawn pun tidak lepas dari usaha fetish-isasi tersebut. Yang paling utama adalah karena ia memiliki kekuatan. Kekuatan yang dianggap bersifat destruktif dan mengancam laki-laki. Dibaca dari perspektif Lacanian, Dawn juga adalah the phallic mother. Sebuah usaha lain menggambarkan perempuan dalam perspektif misoginis lewat figur yang telah termonsterisasi dalam mitos vagina bergigi.

Rupanya, ini lah yang dianggap Lichtenstein sebagai sumber horor paling tepat untuk menakuti penontonnya.

Gender, Genre, dan Sesuatu yang di Tengah

Meskipun sudah diwanti-wanti Professor Odin yang terhormat, susah ternyata bagi saya untuk tidak mempertanyakan enunciator. Minimal, dalam hal ini saya hanya ingin memahami subjektifitasnya sebagai seorang pembuat film.

Horor yang muncul dari ketakutan atas kastrasi sebenarnya sejak awal telah menempatkan Teeth pada spot yang sangat tepat untuk dibahas lewat perspektif Lacanian. Sebuah perspektif yang menjadi salah satu landasan utama teori film psikoanalisa. Dalam teori ini, makna film dianggap sebagai proyeksi desire yang terepresi. Maka dalam ruang produksi makna enunciator, genre komedi dan horor adalah apa yang merupakan desire dari Lichtenstein. Sementara para penonton yang memiliki identitas gender berbeda memproduksi makna genre yang berbeda pula.

Para penonton laki-laki merasakan teror dari film horor tersebut karena desire terdalam mereka atas ‘horor’ adalah kastrasi. Sementara para penonton perempuan menikmati ketegangan dan komedi dalam film tersebut karena desire mereka atas komedi dan thriller-psychological adalah ketakutan laki-laki yang tak masuk akal atas kastrasi.

Dalam hibrida genre ini (entah adil atau tidak mengkaitkan ini dengan ‘hibrida’ identitas seksual Lichtenstein), rupanya produksi makna yang memproyeksikan desire masing-masing subjek menghasilkan pemaknaan genre yang berbeda-beda pula jika mempertimbangan gender sebagai faktor determinan. Penonton laki-laki akan cenderung melihatnya sebagai kategori the unnatural horror movie, sementara penonton perempuan cenderung menemukan film ini sebagai psychological horror sekaligus komedi.

Dari kacamata psikoanalisa, Teeth mungkin tidak merepresentasikan imaji yang positif atas perempuan. Namun, jika kita mempertimbangkan penonton sebagai subjek dengan gender sebagai faktor determinannya, dari kacamata genre, film ini memungkinkan penonton perempuan mengalami kesenangan dua kali lipat saat menontonnya dibandingkan penonton laki-laki.

Ini karena penonton perempuan mampu mengakses kesenangan menonton dari kedua genre tersebut sekaligus, baik horor maupun komedi. Sementara meskipun penonton laki-laki bisa memahami sisi komedi dari film ini, saya tidak yakin mereka bisa menikmatinya di saat yang sama. Mereka akan terlalu sibuk menyilangkan kaki mereka saat menontonnya, mungkin.

Seperti juga teman-teman laki-laki saya yang memutuskan tidak menyukai Hard Candy dan membenci ide harus menghadapi kembali ketakutan mereka secara lebih frontal dalam Teeth. ***

Teeth (2007)

Sutradara & skenario: Mitchell Lichtenstein

Pemain: Jess Weixler, John Hensley

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org