
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Lou Ye Summer Palace: Mengapa Lou Ye harus dihukum gara-gara film ini? Pertanyaan itu terus mengusik saya sepanjang menonton Summer Palace. Hukumannya tidak tanggung-tanggung pula: Lima tahun tidak boleh bikin film! Bagi Lou Ye yang sedang ‘horny’ bikin film, hukuman ini jelas menyiksa. “Mungkin saya akan jadi pedagang saja,” katanya terkekeh waktu kami sempat ngobrol di Rotterdam, awal tahun lalu. Dia tentu saja bercanda. Ia mengaku sudah tidak bisa mencari pekerjaan lain di luar dunia film. Lou Ye sudah dua kali menerima hukuman seperti ini. Pertama gara-gara filmnya Weekend Lover dan Suzhou River (akhirnya dirilis tahun 2000). Weekend Lover dilarang beredar. Suzhou River membuat Lou Ye tidak boleh membuat film selama 2 tahun. Meski Suzhou River mendapat penghargaan diberbagai festival international, termasuk Tiger Awards di Rotterdam Film Festival 1999, butuh waktu satu tahun untuk membuat film ini akhirnya bisa diputar secara resmi di sinema. Karena larangan membuat film selama 2 tahun itulah maka Lou Ye baru boleh membuat film dan menyelesaikan Summer Palace pada 2006 lalu. Summer Palace kemudian masuk nominasi untuk memperebutkan Palme D’or di festival Film Cannes 2006. Summer adalah satu-satunya film Asia di tahun itu yang masuk nominasi. Belakangan ketahuan, saat di putar perdana di Cannes, Summer Palace ternyata belum lolos sensor dan belum mendapat ijin untuk dipertontonkan di luar negeri. Jadilah film itu langsung hilang dari peredaran usai festival film itu berakhir. Lou Ye hanya bisa garuk-garuk kepala. “Yah mau bagaimana? Saya bikin film toh bukan untuk disimpan di kantor sensor,” kata Lou Ye dengan wajahnya yang jahil. “Menurut badan sensor, film ini tidak lolos sensor dan tidak mendapat ijin ke luar negeri karena kualitas gambar dan suaranya yang tidak memenuhi standar bioskop,” kata Lou Ye. Kita bisa ketawa geli dan mungkin maklum kenapa sampai Lou Ye nekat memutarnya di Cannes. Harus diakui, Lou Ye, memang ‘anak bandel’ di dunia perfilman China. Ye adalah salah satu dari generasi keenam sineas China. Karya mereka (Lou Ye, Zhang Yuan, Wang Xiaoshuai, dll) jelas melabrak apa yang pernah dibangun oleh para generasi kelima (di antaranya Zhang Yimou dan Chen Kaige) yang cenderung manis dan masih menggunakan metode konvensional dalam segi teknis maupun gaya penceritaan. Generasi keenam ini jelas jauh berbeda. Mereka adalah generasi ‘badung’ yang anti-romantisasi, antikapitalis, anti bermanis-manis dan memilih film sebagai alat presentasi mereka terhadap perubahan yang terjadi di Cina. Kehidupan urban kontemporer disorot ‘telanjang’ dan apa adanya. Dan inilah yang membuat otoritas yang berkuasa di Cina tidak main-main galaknya. Selain menghukum Lou Ye untuk tidak bikin film selama 5 tahun, Summer Palace juga ‘ditahan’ peredarannya. Master copy disita dan Lou Ye akan kena denda 5 sampai 10 kali lipat dari hasil penjualan film tersebut. Beberapa distributor international termasuk Wild Bunch –yang suka mengambil resiko membeli film-film kontroversial dan provokatif seperti 9 Songs– bersatu padu agar film ini bisa segera diedarkan. Dan akhirnya, Desember 2007, Summer Palace pun dirilis, walau akan sulit masuk jaringan bioskop-bioskop besar. Di Belgia, misalnya, film ini langsung di putar di Actor Studio, sinema khusus memutar film-film independen yang tidak tembus dan sulit ditonton di bioskop mainstream (arus utama). Ketika film ini muncul di Actor Studio, saya tidak ragu-ragu menontonnya dengan rasa penasaran yang buncah. Lou Ye pernah berpesan, “Jika kamu suatu saat punya kesempatan menontonnya di layar lebar, tolong perhatikan apa yang membuat film ini tidak bisa diterima.” Mandat itulah yang terus terngiang dari menit pertama menonton Summer Palace. Dan setelah menontonnya, tetap saja saya tidak mengerti kenapa Lou Ye harus dihukum selama itu. Lou Ye memang melanggar ketentuan karena tidak menunggu sampai mendapat persetujuan, tapi alasan yang diberikan padanya juga tidak kalah keterlaluan. Alasan teknis karena kualitas gambar dan suara yang buruk? Secara teknis, Summer dibuat dengan nuansa dokumenter, banyak menggunakan kamera hand-held (kamera pegang) yang gelisah, dan tata suara yang bergaung. Karya Lou Ye ini jelas tidak bisa dibandingkan dengan karya-karya Zhang Yimou yang rapi, bersih, dan teratur. Summer jauh dari rapi apalagi bersih. Ada kesan sembrono dan bagian yang continuity-nya tidak diperhatikan. Namun, kita bisa segera melihat jejak-jejak neorealis Italia dan cinema vérité dalam pendekatan sinematis ini. Pendekatan semacam ini belakangan banyak sekali digunakan para sineas dunia. Rasanya, kok, ya tidak genah untuk menyita karya ini karena tidak rapi. Kita bisa curiga, ada alasan lain di balik itu. Summer Palace memang tipikal film yang akan membuat Anda sangat suka atau sangat tidak suka. Sederhananya, Summer Palace adalah kisah cinta. Film ini setidaknya akan membuat sebagian penonton teringat akan ‘cinta pertama’. Bagi yang pernah mengalaminya, Summer Palace pasti bisa dipahami dengan mudah. Mengikuti dorongan hati yang menggebu, selalu ingin bertemu, tidak bisa lepas dari pasangannya, dan semua bumbu kecil-kecil lainnya. Yu Hong (diperankan Lei Hao), seperti juga gadis remaja yang jatuh cinta pada umumnya, dipenuhi rasa cemburu yang berlebihan dan membuat pacarnya, Zhou Wei (Xiaodong Guo) kegerahan. Kita bisa mangkel melihat kelakuan Yu Hong, atau sebal dengan Zhou Wei, atau ingin menonjok orang ketiga yang mengintervensi. Bukankah banyak perempuan yang selalu minta ketegasan soal cinta? Bukankah banyak laki-laki yang selalu muak dimintai ketegasan? Semua ramuan madu dan racun cinta ada di film ini, tapi anehnya, tidak klise. Hubungan mereka bergelombang naik turun. Sampai keduanya kelelahan dan kehabisan tenaga untuk bertahan. First love never dies mungkin berlaku bagi mereka. Sampai di situ, badan sensor tidak punya alasan untuk menggerakkan guntingnya. Seks? Okelah, Summer Palace mungkin agak berlebihan. Summer tercatat sebagai film Cina pertama yang terang-terangan memperlihatkan tubuh telanjang pria dan wanita. Tapi, adegan seks di film ini memang jauh lebih realis dibandingkan adegan seks Hollywood yang terlihat seru doang, tapi sering lupa buka celana –jika Anda tahu maksud saya.... Adegan seks yang berani ini jika dipotong sedikit, juga tidak akan mengganggu jalannya seluruh cerita tapi pasti akan berpengaruh pada penilaian kita terhadap karakter-karakternya yang impulsif. Aborsi? Film karya Christian Mungiu, 4 Months 3 Weeks 2 Days yang jelas ada adegan aborsinya lolos masuk ke Cina dan akan diputar resmi awal tahun 2008. Bunuh diri? Gaya hidup bebas tanpa aturan? Ataukah pelarangan itu karena Summer Palace berlatarbelakang tragedi Tiananmen? Mungkin juga. Kisah cinta Yu Hong-Zhou Wei mengambil setting di era reformasi Cina di bawah pemerintahan Deng Xiao Ping pada 1980-an. Demokrasi didengung-dengungkan akan membawa perubahan. Kelompok paling bersemangat mendukung demokrasi tentu saja generasi muda berstatus mahasiswa. Lou Ye akrab dengan peristiwa ini. Kita bisa maklum, Lou Ye yang lahir pada 1965 ini masih berstatus mahasiswa di Beijing Film Academy pada 1989. Lou Ye adalah salah satu diantara ribuan mahasiswa yang turun ke jalan menuntut demokrasi yang utuh dan meminta ruang gerak yang lebih luas untuk kebebasan berekspresi dan berpendapat. Karena itulah reka ulang peristiwa Tiananmen di Summer Palace terlihat sangat nyata. Apalagi Lou Ye memasukkan footage asli peristiwa itu ke dalam film ini. Saya sempat senyum-senyum sendiri ketika seorang rekan saya mempertanyakan adegan saat demonstrasi makin memuncak. Sebuah mobil dibakar dan mahasiswa-mahasiswa melemparinya dengan batu. Lalu datang segerombolan tentara yang menembak dan orang-orang itu pun bubar dan jalan-jalan sepi seperti kota mati. Betapa adegan ini seperti membawa saya kembali di sepanjang pertengahan tahun 90an, nun di Indonesia sana. Rekan saya bilang, adegan itu tidak masuk akal. “Buat apa orang-orang itu melempari batu ke arah mobil yang terbakar? Dan tiba-tiba jalan-jalan sunyi,” katanya. Saya hanya manggut-manggut. Menurutnya, gara-gara adegan itu, film ini jadi kehilangan nuansa realisnya. “Lou Ye mau sok romantis,” tuduh rekan saya. Saya pun tak bisa menahan tawa. Untuk pertama kalinya saya bangga pernah menjadi bagian dari demonstrasi nasional ketika Soeharto terpaksa turun tahta. Betapa berbedanya kami memandang adegan yang tak lebih dari 3 menit itu. Peristiwa penembakan oleh tentara ke arah kerumunan mahasiswa yang berkumpul di Tiananmen itu adalah topik terlarang di Cina hingga saat ini. Seperti jalan-jalan yang tiba-tiba sepi setelah tembakan dilepas, gaung Tiananmen langsung teredam di Cina. Summer Palace adalah film pertama yang berani memunculkan kembali peristiwa yang ingin dilupakan itu. Ada kritik yang mengklaim, Lou Ye hanya ingin sekedar cari sensasi dengan memunculkan peristiwa bersejarah –ia juga menggunakan footage saat runtuhnya tembok Berlin di Jerman, dan mundurnya Gorbachev di Rusia. Tapi saya ingin berprasangka baik. Justru Tiananmen dan tergoyangnya komunisme adalah latar yang paling pas untuk Summer. Pada masa itu, Cina mulai membuka diri terhadap dunia internasional meski masih malu-malu. Pengaruh Barat sedikit demi sedikit menyusup sampai ke gaya hidup generasi muda di Cina. Tukar informasi tentang gaya hidup Barat menjadi topik hangat. Reformasi dan modernisasi berdengung di setiap obrolan santai. Kata freedom atau kebebasan seperti mewabah di mulut-mulut pemuda-pemudi Cina. Kebebasan ini diperlakukan bukan sekadar cuap-cuap, tapi juga dipraktikkan. Di dalam asrama-asrama mahasiswa yang sumpek dan bising itu, mereka bereksperimen tentang berbagai hal, termasuk soal seks. Mahasiswa pria menyusup masuk ke asrama putri, demikian juga sebaliknya. Karakter-karakter di Summer Palace adalah produk di masa yang gegap gempita itu. Peristiwa sejarah dalam film ini bisa dianalogikan seperti engsel pintu. Ia bertindak sebagai penguat meski tidak lantas jadi bagian dari keseluruhan cerita. Peristiwa sejarah dan kisah cinta Yu Hong-Zhou Wei ini berdampingan dan terkait di titik-titik tertentu. Banyak memang kisah cinta berlatar sejarah (saya ambil contoh Pearl Harbour yang ‘cheesy’ itu). Pencapaian Summer Palace jelas jauh di atas Pearl Harbour. Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Bagi mereka yang lebih suka bermimpi, silahkan menonton Pearl Harbour. Bagi yang suka menghadapi kenyataan apa adanya, Summer Palace adalah film yang pas. Dari cara penyuguhan ala dokumenter yang nyaris mendekati kenyataan ini, mungkin kita bisa mengerti mengapa Cina sampai malu mempertontonkan Summer Palace. Sebuah negeri yang sedang memupuk kedigdayaannya tentu tidak mau memperlihatkan ketelanjangan yang terekam dalam Summer. Film ini adalah potret yang selalu ingin disembunyikan dari brosur-brosur wisata tentang Cina. Tapi sampai menghukum sutradaranya selama 5 tahun? Ini yang tidak akan saya mengerti. Adapun peristiwa sejarah di film ini yang banyak dikritik justru membuat saya jadi teringat sesuatu. Pada akhirnya, peristiwa sejarah memang berbeda dengan sejarah pribadi. Yang membedakan adalah kenangan. Sejarah menyimpan kenangan kolektif, seperti saat orang-orang mengenang tragedi Tiananmen setiap 4 Juni. Bagaimana dengan Yu Hong? Bagaimana dengan Zhou Wei? Mereka adalah pribadi-pribadi yang ikut berdemo ketika peristiwa sejarah memanggil. Tapi mereka punya kenangan tersendiri yang tidak mungkin bisa dibagi secara kolektif. Ketika peristiwa sejarah itu lewat, mereka masih tetap berurusan dengan kenangan –yang kebetulan buruk– sambil terus berusaha untuk melanjutkan hidup. Tidak adil rasanya kalau menuduh peristiwa sejarah di film ini sekadar cari sensasi. Tentu saja ini pandangan saya pribadi. Ada yang berkomentar pedas terhadap karakter-karakter yang cuma sibuk dengan urusan hati. Tapi saya kemudian teringat dengan revolusi 1998 saat masyarakat Indonesia menuntut reformasi. Seberapa banyak dari kita yang mengerti duduk perkara? Saya waktu itu masih mahasiswa. Saya tahu Indonesia sedang guncang. Sejarah sedang bersiap mencatat. Waktu itu menjelang ujian, tugas sedang banyak-banyaknya. Tapi profesor saya pun turun ke jalan. Saya ikut, tentu saja. Ikut berdemo. Ikut naik truk menuju lapangan. Ikut teriak-teriak biar makin heboh. Teman saya yang sedang naksir anak kedokteran juga ikut. Berharap kecengan-nya itu ada di kerumunan. Teman saya yang lain malah bertemu pacar yang kemudian dinikahinya beberapa tahun kemudian. Pokoknya, kami semua ikut, apapun itu artinya. Motivasi kami jelas, atas nama solidaritas. Tapi setelah peristiwa itu lewat, saya harus berhadapan dengan profesor saya yang menagih tugas kuliah. Teman-teman saya juga panik menghadapi tagihan tugas dari profesor masing-masing. Untuk ini tidak ada solidaritas. Ketika setiap orang Indonesia memperingati peristiwa bersejarah yang berpuncak pada Mei 1998 itu, saya selalu teringat pula dengan nilai D gendut di atas kertas ujian saya. Tentu saja setiap orang punya kenangannya masing-masing. Saya dengan nilai D gendut setelah tragedi Mei 1998, Yu Hong dengan pengkhianatan Zhou Wei saat peristiwa Tiananmen meletus, atau Zhou Wei dan urusannya yang belum selesai dengan Yu Hong saat meninggalkan Cina ketika tembok Berlin runtuh. ‘Life goes on and on and on… !’ *** Summer Palace Sutradara: Lou Ye. Pemeran: Hao Lei, Guo Xiao Dong, Hu Ling, Zhang Xian Min. Bahasa: Mandarin, Jerman, Korea. Color. 140 menit. Distributor internasional: Wild Bunch, Paris. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |