Shine a Light:
Scorsese Memanusiawikan Rolling Stones

oleh Denny Sakrie
Penulis adalah pengamat musik dan penikmat film

 

Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! pada opening credit dokumenter Shine a Light seperti yang dilakukannya pada rockumentary-nya di tahun 1976, The Last Waltz, tentang konser perpisahan grup rock The Band. Aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua.

Saya yang telah menonton Shine a Light dalam bentuk DVD, toh merasa tak afdol jika tak menonton langsung dalam bioskop. Kebetulan, Jiffest 2008 menyertakan film ini dalam salah satu film yang diputar. Sudah pasti, kesempatan ini tak saya sia-siakan.

Apalagi Shine a Light agak berbeda dengan rockumentary The Rolling Stones lainnya, seperti Gimme Shelter (1970) yang dibesut Albert Maysles, David Maysles, dan Charlotte Mitchell Zwerin, maupun Sympathy For The Devil (1968) yang digarap Jean Luc Goddard. Di mana letak perbedaannya?

Seorang teman dengan nada pesimis malah mengatakan bahwa Shine a Light adalah sebuah film konser biasa. Jelas, ini saya tampik. Setelah menonton Shine a Light, kita pun mahfum bahwa Martin Scorsese yang maniak dengan karya karya the Rolling Stones justeru tengah ingin menempatkan The Stones pada bingkai yang lain. Bukan lagi sebagai band Rock and Roll berlumur pernak-pernik kontroversi. Bukan lagi mencitrakan sosok bad boys. Melainkan sebuah band dalam bingkai yang lebih manusiawi, yang dicintai seisi rumah. Sebuah band keluarga.

Menyelusupnya keluarga Bill Clinton di balik panggung sebelum konser memperlihatkan hal ini. Terlihat Bill Clinton bersama Hillary isterinya dan Chelsea puterinya bersilaturahmi dengan TheStones. Juga, ibunda Clinton yang uzur. Sebuah adegan yang tak mungkin ditemui pada Gimme Shelter, yang justeru memfokuskan pada peristiwa berdarah terbunuhnya seorang remaja di tengah kerumunan penonton di tangan Hell’s Angel, kelompok biker (“moge”, motor gede) yang selalu hadir dalam setiap konser The Stones.

Walaupun konser TheStones dalam Shine a Light dibuka oleh Bill Clinton, tapi tak ada susupan pernak pernik politik seperti yang terlihat pada film Sympathy For TheDevil karya Jean Luc Goddard, yang menyelusupkan isu politik seperti blackpower, Marxisme, hingga rasisme.

Shine a Light lebih ingin merekam energi sebuah band yang tak pernah padam, walau pun usia pendukungnya telah memasuki senjakala. Tak ada sedikitpun petikan wawancara tentang misteri meninggalnya gitaris Brian Jones, misalnya.Bahkan lirik lagu Some Girls, yang pernah menuai protes, antara lain dari Jesse Jackson di tahun 1978, pun telah dijinakkan. Mick Jagger tak lagi menyenandungkan: Black girls just just wanna fucked up all night. Semua telah disterilkan. Scorsese ingin memanusiawikan The Rolling Stones yang terlanjur dicap biang rusuh, sarat kontroversi, dan semacamnya.

Rocker juga manusia, mungkin itulah yang ingin diungkap Marty bersama sinematografer peraih Oscar, Robert Ricahrdson, beserta the A-Team Andrew Lesnie, Albert Maysles, Ellen Kurass, John Toll, Robert Elswhit, Declan Quinn, Stuart Dryburgh, dan Emmanuel Lubezki dengan crane yang melayang di atas kepala penonton mengikuti gerak Mick Jagger dan kawan kawan di Beacon Theater New York yang ditonton sekitar 2.5000 penonton pada tanggal 29 Oktober dan 1 November 2006 silam. Keith Richard dengan dandanan khas bak perompak pun bercanda: ”Hey Clinton, I’m bushed!

Dalam production notes, Marty menulis:

We did talk about making an official tour film but at a certain point, I thought making something more intimate would be more suited to me as a filmmaker and would also facilitate a more personal connection between the audience and the band.

Di awal film, terlihat betapa alotnya diskusi antara Martin Scorsese dan The Rolling Stones, terutama Mick Jagger. Mulai dari soal set panggung, penempatan tata cahaya, hingga set list (susunan lagu) yang akan dibawakan TheRolling Stones. Marty yang menggemari theRolling Stones sangat care terhadap set list The Stones, untuk kebutuhan rundown script. Marty sangat paham mengenai struktur lagu-lagu The Stones.

”Biasanya, Keith membuka dengan strumming gitar” ungkap Marty pada crew-nya.Marty sendiri menyusun set list yang diusulkannya pada Rolling Stones.Rolling Stones pun telah mengirimkan set list yang dibagi dalam kategori: well-known dan medium known.

Tapi, sampai pada hari-H, set list yang permanen belum juga diberikan Mick ke Marty yang sudah uring-uringan. 30 detik sebelum konser dibuka, barulah set list sampai di tangan Marty. Akhirnya, konser pun direkam tanpa skrip sama sekali.Toh, kita tetap melihat sinkronisasi yang bagus antara lighting dan Mick Jagger yang tengah melantunkan Sympathy For The Devil. Luar biasa. Saat Jagger mengangkat kedua belah tangannya, secara simultan lighting pun ikut berpijar terang.

Pengambilan angle gambar pun sangat detail. Kolaborasi antara Marty dan editorDavid Tedeschi patut dipuji. Lihatlah saat bintang tamu, gitaris Buddy Guy, melakukan slide gitar, kamera pun dengan sigap berpindah ke jari jemari Guy. Sebuah editing yang memukau. Ini bisa terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari seorang Martin Scorsese terhadap The Rolling Stones. Dalam beberapa film-film garapannya, memang senantiasa hadir lagu-lagu The Rolling Stones dalam soundtrack.

TheRolling Stones dalam usia gaek mereka memang salah satu dari keajaiban musik rock. Mick Jagger tetap lincah bergerak dari sisi panggung ke sisi lainnya tanpa lelah. Keith, walau dengan petikan gitar yang terkadang sumbang, tetap memancarkan keunikan. Dan kamera pun merekam CharlieWatts terengah-engah usai menampilkan Shattered. Ron Wood tak pernah lepas dengan isapan rokoknya.

Tubuh keempat The Stones tak berubah. Tak satupun yang berubah tambun.Yang berubah mungkin kerut muka. Rambut Watts telah memutih. Richards pun selalu mengenakanbandana untuk menutup rambutnya yang luruh.

Marty menyelipkan petikan wawancara dari Jagger, Richrds, Wood, dan Watts dari era ‘60-an hingga ‘70-an. Sebuah upaya melekatkan sejarah dalam konser The Stones. Meskipun sangat disayangkan, sama sekali tak ada petikan wawancara terhadap personil The Stones di masa lalu seperti Brian Jones, Bill Wyman, atau Mick Taylor.

Kutipan-kutipan wawancara yang dipilih Marty memang memberikan aksentuasi dalam Shine a Light. Ketika Jagger ditanya tentang apa yang dilakukannya pada saat berusia 60 tahun,.Jagger pun menjawab dengan enteng, “Easily…!

Dalam Shine a Light, The Rolling Stones menjadi tak jelas asal usul negaranya. Mereka tak tampak lagi sebagai band Inggris yang sempat membuat band-band Amerika resah saat “British Invasion” pada dasawarsa ‘60-an. Bersama bintang tamu seperti Jack White III dari The White Stripes dengan suara nasalnya, Buddy Guy dengan ruh blues yang menjadi inspirasi utama musik The Stones, hingga Christina Aguleira yang terampil menafsirkan R&B saat berduet dengan Mick Jagger membawakan Live With Me. Keduanya pun berangkul mesra, walau terlihat seperti pelukan antara ayah dan puterinya.

Dalam konser yang menjadi bagian tur album terakhirnya Big Banger, di luar dugaan, The Stones membawakan lagu yang jarang mereka tampilkan di pentas, seperti Far Away Eyes dengan gaya country. Ronnie Wood memainkan steel guitar di sini. Mungkin karena bermain di New York,di film ini The Rolling Stones banyak memainkan lagu dari album Some Girls (1978), seperti Just My Imagination, Shattered, Far Away Eyes, dan Some Girls. “Album ini memang banyak menyerap kota New York sebagai inspirasi saat merekamnya pada 1977,” ujar Mick Jagger.

Selama durasi 2 jam, lewat Shine a Light, Martin Scorsese seolah melengkapi atribut The Rolling Stones sebagai “The World’s Greatest Rock and Roll Band”. Film ini pun menambah gelimang sinar kegemilangan band asal Inggris itu. Sebuah evolusi dari grup rock raksasa yang pantas ditonton.***

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org