International Documentary Film Festival Amsterdam 2007
Mr. Rakowsky:
Balada Dua Rakowsky

oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

Bagi sebagian orang, masa lalu tak pernah pergi. Ia selalu menghantui. Dan memang, sesungguhnya memori tak berurusan dengan masa lalu, tapi dengan masa kini dan masa depan.

Para intelektual yang menggeluti studi tentang memori tahu benar hal ini. “Masa lalu tidak begitu saja ada dalam memori, tapi ia harus diartikulasikan untuk menjadi memori,” ujar Andrean Husseyn. Dalam Twilight Memories: Making Time in a Culture of Amnesia, ia  menyatakan terjadinya “Memory Boom” di Barat  setelah 1989 –masa ketika banyak peristiwa mengubah masa depan dunia. Barat  begitu terobsesi dengan ingatan, dan karenanya, berbagai museum dan tugu memorial dibangun. Mereka ingin melawan amnesia, dan juga ingin melawan hantu trauma yang gentayangan dalam ingatan.

Bahkan Jacques Derrida, dalam seminar berjudul Archive Fever, dengan tegas menyatakan bahwa arsip yang menyimpan memori berhubungan dengan masa depan. Derrida menamakannya, “messianicity”, “yang berhubungan dengan masa depan, ekspetasi dari apa yang akan terjadi”, “openness”. 

Mr Rakowsky garapan Jan Diederen (Belanda, 2007) ini menegaskan teori-teori di atas. Ia  masuk dalam program “Highlights of the Lowlands” dalam IDFA kali ini.

Kelebihan film ini: ia tidak bicara tentang hal-hal besar, tapi justru mengangkat cerita orang biasa. Film ini berbicara tentang memori personal, bahkan memori otobiografikal seorang yang sama sekali tak terkenal: Sam Rakowsky, seorang Yahudi-Polandia yang kini sudah berusia 91 tahun. Juga hubungannya dengan anaknya, Richie yang kini 55 tahun dan menjadi pengusaha sukses dan juga menghadapi pengalaman traumatisnya sendiri.

Dokumenter berdurasi 75 menit ini membuat penonton larut di dalamnya, sebab tema yang mungkin bisa dialami oleh siapa saja: bagaimana kita, di masa sekarang,  berhadapan dengan  trauma, dari masa silam,  yang menetap di kepala.

Tidak, film ini tidak berbicara hal-hal besar, seperti dalam Shoah (Claude Lanzmann, 1985) yang berdurasi 9,5 jam itu.  Tak ada pretensi menjadi ideologis atau politis, dengan membuat ingatan itu menjadi suci, menjadi sacralized memory dalam terminologi Barbara Misztal.

Film ini juga tak mencoba menciptakan memori prostetis (seperti diulas Alison Landsberg dalam Prosthetic Memory: the Transformation of American Remembrance in the Age of Mass Culture). Singkat cerita, Prosthetic memory adalah sebuah “ingatan buatan”. Bagaikan kita tak punya kaki —karena diamputasi, misalnya— dan memakai kaki palsu. Dalam film, sang sutradara akan mereka-ulang adegan, atau mencipta adegan berdasarkan kejadian sebenarnya, dari keterangan atau info yang ia dapatkan, karena tak ada terlibat secara langsung dengan  peristiwa itu. Atau, bisa juga, sang sutradara mencipta sedemikian rupa sehingga memberi penonton sebuah efek “memori buatan” setelah menontonnya. Contoh penciptaan memori prostetis ini adalah The Pianist (Roman Polanski, 2002) atau Schinder List (Steven Spielberg, 1993). Mr Rakowsky tak dibuat dengan niatan itu.

Memang, Sam bicara tentang bagaimana ia mengalami penderitaan merasakan hinaan antisemitisme, atau tentang bagaimana ia selamat dari kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz-Birkenau (dan enam kali menyelamatkan gadis yang kemudian menjadi istrinya). Tapi bukan itu intinya. Diederan sadar betul akan hal itu, dan karenanya ia sama sekali tak menyediakan satu detik pun footage atau apa pun yang berhubungan dengan kejadian di masa lalu yang kelam itu.

Yang kemudian diselami oleh sang sutradara, dan kemudian dirasakan oleh penonton, adalah bagaimana seorang Sam menghadapi ingatan traumatisnya itu di masa kini (juga sesudah ia hijrah ke Amerika Serikat) dan, terutama, bagaimana hubungannya dengan anaknya.

Bagi Richie, ia ayah yang buruk. Richie, saat di wawancara, selalu menyatakan bahwa Sam bukan ayah yang baik, dan ia memberi contoh-contoh yang mendetail untuk pernyataan itu. Memang, Rakowsky senior selalu bilang bahwa terkadang ia memperlakukan anaknya dengan begitu buruk, bahkan dengan kekerasan, karena dibentuk oleh  perang. Tapi bagi Richie, itu bukan alasan. “Ibu saya juga lolos dari kamp konsentrasi, tapi kelakukannya tidak begitu. Dan banyak orang selamat dari holocaust, namun masih bisa bersikap manis,” ungkap Richie.

“Bukan perang yang menyebabkannya begitu. Tapi, bagaimana ia memandang hidup. Ayah selalu merasa dirinya sebagai korban, dan bukan sebagai subyek penikmat kehidupan,” ungkap sang anak. Dan, kemudian disadari menjelang akhir, Richie juga ternyata berpandangan sama.

Film ini, mulanya tanpa disadari oleh pembuatnya, telah menjadi semacam terapi bagi kedua ayah-anak itu. Terapi terasa lebih dalam dari film dokumenter Metallica: Monsters of Rock (Joe Berlinger & Bruce Sinofsky, 2004), yang memang punya kesadaran untuk menjadi terapi sejak semula.

Pelan, tapi pasti, film ini membagi dirinya menjadi dua. Setengah perjalanan awal bercerita tentang sosok Sam, dan Richie hanya tampil seperlunya. Separuh terakhir, giliran Richie yang membuka diri.

Sungguh menarik menyaksikan bagaimana kedua Rakowsky itu bercerita tentang, dan menghadapi, memori traumatik mereka yang sangat personal. Juga menarik menyaksikan bagaimana akhirnya mereka membangun “museum” dan “tugu peringatan” mereka sendiri. Lebih menarik lagi, melihat bagaimana sang sutradara menyajikannya, sehingga membuat film yang “world premiere”-nya dalam festival  film dokumenter internasional di Amsterdam ini tidak sekadar menjadi drama “kegagalan komunikasi antara ayah dan anak” semata, tapi juga menjadi hikmah universal.

Diederan banyak mewawancarai keduanya, memang. Tapi  itu  tak membuat kita menjadi bosan. Dia tahu betul apa yang yang mau ditampilkan di layar, sehingga tak ada dialog atau jawaban yang sia-sia. Kedua nara sumber menggiring kita pada aliran cerita yang mengasyikkan, namun serba personal. Hasil rekaman itu diracik Diederan, lalu dipilah-pilah untuk membangun suasana.

Diederan terlibat langsung secara emosional.  Film  ini menjadi semacam jembatan untuk saling curhat —tanpa saling tatap muka— dan akhirnya mencairkan kebekuan hati keduanya.

Walau sudah ada storyline, tapi dibutuhkan kreativitas supertinggi untuk improvisasi dalam pembuatan film semacam ini. Sebab, di lapangan, sang pembuat film akan selalu menemukan fakta dan data tak terduga. Inilah, justru, kekuatan dan keasyikan membuat dokumenter. Dan Dierean adalah seorang improvisator yang ulung (dan sabar), sehingga banyak menangkap cerita-cerita mengejutkan, dan bahkan menghasilkan sebuah penutup yang manis sekaligus tak terduga.

Pada akhirnya, masa lalu boleh saja tinggal di kepala. Tapi harus dipastikan, bahwa ia duduk tenang di sebuah sudut di otak kita: berdamai dengan masa kini dan masa depan.

Mr. Rakowsky

Sutradara: Jan Diederan. Dokumenter. 75 menit. Produksi: Belanda, 2007

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org