Radit dan Jani:
Mimpi Itu Tak Di Sana

oleh Eric Sasono
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta


 Radit dan Jani

Belakangan, agak jarang muncul film Indonesia yang memang diniatkan sebagai melodrama; film yang diniatkan sebagai tearjerker yang tak punya beban selain untuk bercerita tentang sesuatu untuk membuat para perempuan bercucuran air mata. Rasanya, sudah beberapa saat ini film genre Indonesia menyerah, kecuali horor dan teen flick. Kedatangan film genre --film yang biasanya niat utamanya adalah bercerita-- patut disambut gembira. Maka, saya suka pada Radit dan Jani. Maksud saya, seharusnya saya suka.

Saya ceritakan dulu kenapa; sebelum akhirnya kata ‘seharusnya’ itu muncul.

Radit dan Jani adalah sebuah post-romance melodrama yang memang dibuat untuk menceritakan bahwa tak mudah meraih mimpi. Kedua anak yang menikah muda ini merasa punya sikap dan pendirian; mungkin ego. Apapun namanya, mereka berhak. Namun semua orang tahu bahwa hak memang perlu diperjuangkan, bahkan kadang hingga tak masuk akal.

Dan apalah akal di tengah romantisme sepasang anak awal duapuluhan yang saling memanggil ‘bodoh’ satu sama lain? Maka ketika mereka menahan lapar dan main tebak-tebakan remeh sampai muncul nama Dedi Dores sebagai gitaris top, maka itulah sebuah pilihan. Juga ketika mereka memutuskan untuk tak menjual sepatu bot bermotif jaguar yang harganya mahal itu, atau kalung yang sangat bagus itu, dan tetap menahan lapar, mungkin ada sesuatu yang mereka bela di situ.

Kebebasankah, atau semacam itu, yang sedang mereka bela? Bisa jadi. Namun di sinilah akhirnya ‘seharusnya’ itu muncul. Saya pun batal begitu saja menyukai film ini.

Saya membayangkan Radit diganti namanya jadi Dedi, dan profesinya adalah seorang sarjana menganggur yang akhirnya kerja serabutan termasuk jadi badut di TMII atau Taman Impian Jaya Ancol. Saya membayangkan Jani diganti Menul, seorang perempuan yang kebetulan pintar masak dan akhirnya memutuskan membuka warung pinggir jalan dengan menjual perhiasan yang dimilikinya. Oh, maaf, tak adil saya membandingkan Radit dan Jani dengan Badut-badut Kota (Ucik Supra, 1993). Namun ada alasan kecil untuk itu.

Keduanya sama-sama drama urban. Tapi memang situasi sudah berubah jauh. 1993 adalah tahun ketika Jakarta ada dalam fase tak lagi dilihat sebagai dewa Janus pemakan identitas yang kejam yang membuat penduduknya jadi sengsara seperti Jakarta 1980-an. Jakarta adalah sebuah lokus tempat terjadinya negosiasi identitas itu, dan para penduduk di dalamnya sudah mampu untuk menang bahkan ketika bermain dengan aturan yang ditetapkan oleh kota itu sendiri. Coba lihat bagaimana saya membahas mengenai kota Jakarta dalam film Indonesia di tulisan saya ini.

Sesudah pertengahan 2000-an, seperti tampak pada Radit dan Jani, Jakarta mengabur. Ia tak lagi dipermasalahkan. Dalam film ini, bahkan bahasa ikonik kota tak muncul dan segala sesuatu dalam film ini serba tergantikan. Rumah susun pasangan ini bisa berganti dengan rumah kontrakan atau tumpangan di 1990-an. Toko serba ada kecil semacam Indomaret bisa diganti KUD atau warung apapun. Identitas memang bukan pertanyaan sekarang ini, kalau dikaitkan dengan tempat para tokoh ini hidup. Mungkin mereka tak pernah benar-benar mengalami kotanya sebagai sebuah ruang tempat hidup sehari-hari. Bahkan sesungguhnya, pakaian anak kedua ini juga tergantikan. Inilah yang jadi catatan saya pertama.

Saya merasa ada musang berbulu domba, atau melodrama berbaju punk di film ini. Kedua anak ini serasa hanya berandalan di baju karena jika baju mereka diganti, tak banyak perubahan yang terjadi pada cerita. Sama seperti aspek pembentuk plausibility seperti lokasi, pakaian mereka tergantikan dan tak muncul ungkapan yang spesifik yang bisa membuat saya peduli pada nasib mereka.

Maka tagline yang tercantum di poster film, brutally romantic, jadi membuat saya berkerut kening. Apakah romantisme mereka yang brutal ataukah orang-orang brutal ini yang romantis? Tadinya saya membayangkan film semacam Jeux D’enfants (Love Me if You Dare, Yann Samuel 2003) atau Gegen Die Wand (Head On, Fatih Akin, 2004) yang benar-benar mempertaruhkan plausibility karakter-karakter dalam romansa yang benar-benar edgy dan liar. Atau Bonnie and Clyde (Arthur Penn, 1967) atau Natural Born Killers (Oliver Stone, 1994) yang memang kisah percintaan para pemberontak.

Namun Radit dan Jani hanya memamerkan paha untuk mengutil dan berkredo “saya minta bantuan, bukan minta khotbah”, menunjukkan perlawanan para pemberontak itu hanya di situ. Jangan-jangan kedua anak ini sebenarnya lebih banyak melawan diri mereka sendiri ketimbang lingkungan. Benarkah itu adalah pemberontakan yang dimaksud?

Catatan kedua, durasi film ini terlalu panjang di bagian awal sampai tengah film. Di bagian itu, Upi dengan penuh semangat dan kecintaan menggambarkan kehidupan karakter-karakternya. Bisa jadi Upi lupa mengedit naskahnya, tapi saya sih berpendapat pilihan berpanjang-panjang ini karena Upi memang sedang merayakan rock ‘n’ roll; sekali lagi seperti pada Realita, Cinta dan Rock ‘n’ Roll (2003). Sayang sekali, karena ia bisa bercerita saja tanpa harus merasa membuat score lagi dengan film ini. Maka melodrama ini jadi begitu menuntut banyak; sekalipun cerita saja sebenarnya sudah cukup, asal skenario itu diedit sedikit. Lagipula sebenarnya score yang ingin dibuatnya sebenarnya sebatas permukaan saja.

Sayang sekali bahwa Upi sudah membuang peluangnya untuk menang di departemen cerita. Padahal kemenangan di cerita bisa membuatnya menang dengan film ini. Karena ia punya modal baik dengan memberikan kepercayaan kepada Faharani yang bermain sebagai Jani. Faharani bukan sekadar membuat yakin akan adanya reaksi kimiawi antara Jani dengan Radit, tapi juga selalu berhasil membuat kita percaya ia sedang membela sesuatu dalam hubungan kedua orang ini. Vino G. Bastian sebagai Radit tidak beranjak jauh dari karakternya di film yang sudah-sudah, dan Upi sedang membantu membangun stereotype Vino. Entah apakah Vino menganggapnya keberuntungan atau sebaliknya, sekalipun jelas bahwa stereotype nyaris selalu membosankan. ***

Radit & Jani
Sutradara & Skenario: Upi.
Produksi: IFI (Investasi Film Indonesia)
Bintang: Faharani, Vino G. Bastian. Sinematografi: J. Ical T.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org