
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Quickie Express: Jojo: “Anjing!” Om Mudakir: “Masya Allah!” Dan apakah “Warkop”? Dimas Djayadiningrat, sutradara QuickieExpress, mengaku dalam konferensi pers bahwa film ini adalah sebuah tribute (pengenangan-penghormatan) terhadap film-film komedi Warkop (Warung Kopi) Dono Kasino Indro. Dimas segera menyebutkan contoh, betapa ia mempermainkan sinematografi agar tampak seperti film-film Warkop zaman dulu. Memang, terutama di bagian awal, fotografi tampak agak buram kecoklatan, selayak film tua. Tata cahaya sengaja dibuat terlalu terang, seperti biasa film-film kita saat itu. Malah, judul dan title nama-nama tokoh pun dibuat merapat ke kanan-kiri layar, seolah hampir terpotong. Memang, jika kita melihat film-film Warkop di video atau televisi, rasio gambar tak disesuaikan, sehingga (1) gambar jadi lonjong, atau (2) bagian kanan dan kiri gambar terpotong, dan yang terlihat di layar TV adalah “(Do)no-Kasino-In(dro)”. Apakah itu hakikat film “warkop”? Tentu tidak. “Penampakan” film Warkop yang demikian itu kan sama saja untuk film-film Indonesia lain di era Trio Video Tara, bukan? (Bagi yang, ehm, terlalu muda untuk ingat: pada 1980-an, marak rental video berformat Betamax. Nah, perusahaan pengganda film yang memonopoli peredaran film nasional dalam bentuk video Beta adalah Trio Video Tara. Logonya selalu tampak di pojok kanan atas layar.) Sebagai pelahap rakus film yang dibesarkan antara lain oleh film-film Warkop, saya punya “standar” sendiri jika ada pembuat film yang “berani-beraninya” mengaku akan bikin tribute buat film-film Warkop. Saya sempat skeptis sewaktu mendengar bahwa cerita Quickie Express. Kisah Jojo (Tora Sudiro), Marley (Amink), dan Piktor ( Lukman Sardi) yang menjadi gigolo. Ini sebuah high concept untuk film Indonesia. Apakah film-film Warkop pernah punya high concept? Hm. Mereka pernah jadi detektif partikelir dalam Pintar-pintar Bodoh (Arizal, 1980), dan jadi “polisi swasta” dalam CHIPS-Cara Hebat Ikut Penanggulanan Masalah Sosial (Iksan Lahardi, 1982). Atau jadi organisasi rahasia yang menjadikan Dono sebagai manusia bionik setelah ditabrak bemo, dalam Manusia 6.000.000 Dollar (Ali Shahab, 1981). Di awal karir dan di akhir karir, mereka memang lebih sering melontarkan premis cerita sederhana: kehidupan sehari-hari mahasiswa/anak kos, biasanya ditambah persoalan mencari perhatian cewek cakep. Seperti dalam film-film awal mereka, Mana Tahan (Nawi Ismail, 1979), atau Gengsi Dong! (Nawi Ismail, 1980). Tapi, oke lah, premis cerita tentang gigolo lulus masuk daftar “layak Warkop”. Apa lagi? “Menarik perhatian cewek” –oke. Tepatnya, “melakukan hal-hal konyol untuk menarik perhatian cewek”. Sebagai gigolo, banyak polah konyol dilakukan (atau menimpa) Jojo, Marley, Piktor ketika menghadapi para klien yang (rata-rata) perempuan. Khususnya, adegan ketiganya menghadapi para klien pertama mereka. Film-film Warkop, khususnya pada periode akhir kejayaan mereka, ketika dalam setahun mereka rutin mengeluarkan dua film (yakni, waktu lebaran, dan waktu tahun baru), selalu agak horny. Dengan premis dunia gigolo, tentu saja Quickie Express punya dosis horny lebih besar lagi. Lalu, nah, ini penting, lawakan slapstick (komedi fisik)? Ada. Tepatnya, dalam film-film Warkop, lawakan slapstik lekat pula dengan komedi situasi. Dalam Quickie Express, lawakan slapstick dan komedi situasi cukup terjaga.Lihat adegan pelatihan jadi gigolo di Quickie Express Training Centre. Khususnya, adegan latihan “body language”. Si instruktur sangat berhasil jadi scene stealer, karena dengan cemerlang menampilkan parodi gerakan mesum yang luar biasa tak tahu malu –dengan serius! Tapi, saya tetap merasa bahwa Quickie Express, jika benar diniatkan jadi tribute untuk Warkop, sama sekali tak terasa “ke-Warkop-warkop-an”. Quickie Express, dalam banyak hal, mengkhianati Warkop. Tak cukup Dimas berkelit bahwa karena zaman sekarang sudah beda, lantas humornya pun beda dari zaman Warkop. Film ini terlalu banyak mengada-adakan yang tak ada di film-film Warkop, sehingga sang “Warkop” tak tertangkap nyaris sepenuhnya. Cobalah kita buat daftar. Yang tak ada di film-film Warkop (tapi ada dalam Quickie Express):
Quickie Express memang tampak tak hendak menyampaikan wacana. Ia hanya menggambarkan individu yang ingin mencari tempat yang tepat, bukan dalam dan untuk masyarakat, tapi untuk mendapat kesenangan dan kenyamanan hidup pribadi. Dan terasa ada keinginan untuk menampik pesan (“tendens”, jika kita pinjam istilah dalam polemis sastra lama). Pada saat Jojo merenungi pekerjaannya, dan berniat berhenti, ia lantas memikirkan –dalam sebuah narasi off screen yang saya sukai– berbagai pikiran ala pelajaran PMP melintas. “Aku harus punya pekerjaan bermartabat...aku harus bermanfaat bagi masyarakat...” Sampai tiba-tiba pikiran itu di-jedot-kan pada sebuah moralitas yang lebih jujur: “Ah, tai lah!” Justru kecenderungan antiwacana dan antisosial itulah yang jadi wacana dan moral film ini. Keinginan mencari tempat terbaik dan ternyaman untuk bersenang-senang –individualisme/pragmatisme/hedonisme– sesungguhnya adalah sebuah tema besar. Sesuatu yang tak ada dalam film-film Warkop. Film-film Warkop juga tentang keinginan untuk bersenang-senang. Tapi film-film itu lebih mampu tak hirau pada pesan, karena lebih asyik menciptakan anekdot-anekdot belaka. Film-film Warkop lebih berani mengorbankan segala hal –pesan, logika, koherensi cerita, karakterisasi– demi anekdot-anekdot sesaat. Dalam Quickie Express, aura pesan lebih terasa karena film dinarasikan oleh sebuah suara luar kamera –suara Jojo, renungan-renungan dan segala komentarnya terhadap segala yang terjadi dalam film. Ini jelas tak pernah ada dalam film-film Warkop. Kalau dipikir-pikir, narasi off screen memang hampir tak ada dalam film-film Indonesia pada umumnya di masa jaya film nasional, 1970-an hingga 1980-an. Angkatan mutakhir film kita lah, yang berkiprah sejak 1997-8, yang cukup gandrung pada narasi off screen. Sejak Kul De Sak, saya kira. Dan untuk komedi, Janji Joni (Joko Anwar, 2005) terhitung jadi pelopor dalam mengandalkan diri pada narasi off screen ini. Malah, dalam banyak hal, Quickie Express lebih mengingatkan saya pada Janji Joni. Tentu saja, faktor Joko Anwar yang menulis skenario kedua film itu sangat berperan penting untuk persamaan itu. Selalu ada adegan kejar-kejaran dengan berlari dalam film-film (yang ditulis) Joko. (Ingat juga Jakarta Undercover dan Kala). Seperti Janji Joni, adegan kejar-kejaran Quickie Express juga dalam gang-gang sempit dan jalan kumuh dengan deretan bangunan tua di kanan kiri. Seperti Janji Joni, juga Arisan (Nia Dinata, 2003) dan Jakarta Undercover (Lance, 2006), Quickie Express dimeriahkan cameo orang-orang film kita. Seperti Janji Joni, di bagian awal ada narasi kocak yang mempersiapkan penonton bukan hanya pada sosok Jojo sang narator, tapi juga pada apologia Jojo untuk profesi “unik” yang ia pilih. Seperti Janji Joni, film ini sangat didera maju oleh plot (plot driven). Ini memang gaya Joko, sebagai salah satu penulis skenario terbaik kita saat ini bersama Musfar Yasin (masing-masing dengan kelemahannya sendiri). Joko gandrung dengan kelokan alur yang tiba-tiba dan tak terduga. Banyak twist dalam cerita Quickie Express (dan lebih baik Anda menikmatinya sendiri, daripada minta saya menceritakannya!). Sifat penceritaan macam begini bergantung setidaknya pada dua hal: (1) struktur keseluruhan yang tepat, yang mampu memaksa penonton ke arah ekspektasi kejadian tertentu, dan dengan begitu ekspektasi itu bisa dihancurkan dengan spektakuler; dan (2) penyampaian para aktor yang harus piawai. Soal struktur, Joko Anwar sungguh beres. Sayang, penyutradaraan dari Jay kadang agak kendor, seperti adegan Om Mudakir (Tino Saroengallo) dan Jojo berjalan pertama kali ke pusat pelatihan gigolo Quickie Express. Tapi, secara umum, cukup lancarlah Quickie Express bertutur. Nah, tinggal soal aktor. Dalam Quickie Express, Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, dan Tio Pakusadewo (sudah saya bilang dia salah satu aktor terkuat kita saat ini? Nah, dia salah satu aktor terkuat kita saat ini!) berhasil lolos dari ujian ini. Lihatlah perubahan yang terjadi pada Rudy Wowor saat ia, sebagai seorang penjahat kakap, menyelinap ke rumah Jojo. Perhatikan juga perubahan Tio Pakusadewo dari beringas menjadi patah hati, sambil tetap mempertahankan karikatur begundal minim akal. Yang jelas, semua gaya penuturan yang terhitung rumit ini, sangat “tidak Warkop”. Dan, lagi-lagi seperti Janji Joni, film ini mengerahkan siasat visual dan retorika kamera yang cukup beragam, plus music score dan soundtrack yang keren. Yang terbaik adalah dalam adegan di kincir pasar malam, saat Jojo dikejar seorang begundal (yang bicara tak jelas –sesuatu yang ada dalam beberapa film Warkop, khususnya Jack John dalam Manusia Enam Juta Dollar) asal Ambon, yang psikopat dan sedang patah hati (dimainkan dengan komikal dan cukup cerdas –Tio Pakusadewo memang salah satu aktor terbaik kita!). Dalam adegan itu, kamera berganti-ganti posisi, dan editing dengan cekatan mengikuti pengejaran memanjat tiang-tiang besi sang kincir yang semakin tinggi dari tanah itu, dan dengan pas pula mengikuti ritme music score yang semakin menanjak dalam komposisi orkestral yang mengingatkan pada music score untuk film Hawai Five-O. Beberapa saat setelah itu, kerja sama yang baik antara gerakan kamera-musik-editing juga terjadi dalam adegan Jojo sendirian memandang tempat pelatihan Quickie Express yang telah porak-poranda karena tawuran. (Walau, saya akui, kecekatan kerjasama antarunsur film ini lebih sering tak optimal di sepanjang film.) Nah, mana pernah segi-segi teknik ini begitu diperhatikan dalam film-film Warkop? Demikian juga sound track dari sederet musisi pop/rock-progresif yang sebagian besar bergaya retro macam grup Berandals, The Adams, Tika, Goodnight Electric, Sore, atau White Shoes & The Couples Company yang bersemangat alternatif dan, dari sudut pandang antargolongan (yang tak boleh dimasalahkan di zaman Orba), “borjuis”? Jelas tak pernah ada yang macam begini dalam film-film Warkop. Lagu-lagu dalam film-film Warkop lazimnya parodi. Kadang, Warkop memarodikan lagu Barat, seperti yang dibawakan kelompok “Wah Gede Banget” (sebetulnya, Dono-Kasino-Indro juga) yang memarodikan Black Dog dari Led Zeppelin jadi sebuah lagu Cina. Lebih sering, Warkop membawakan lagu bermusik “orkes”, dengan syair-syair parodi penuh ledekan sosial. Untuk urusan musik, tampak Kasino jeniusnya. Yang lebih penting, semangat lagu-lagu Warkop adalah “merakyat”, “kampungan”, tapi berhibridasi dengan kecerdasan kritis mahasiswa yang tampil santai. Lagu-lagu dalam Quickie Express terlalu menonjol “kecerdasan musikal” mereka. Tapi, pengkhianatan terbesar Quickie Express terhadap film-film Warkop adalah hilangnya ensamble peran trio pemeran utama. Di awal, di tengah, di akhir, hanya ada cerita Jojo. Di sebagian bagian awal dan sebagian bagian tengah, Marley dan Piktor kebagian cerita juga. Memang, terutama di masa akhir kejayaan mereka, Warkop sendiri lebih banyak menjadikan Dono sebagai “primadono”. Tapi, Indro dan Kasino tak pernah sampai kehilangan cerita. Lebih-lebih, trio yang ada dalam Quickie Express, memang agak timpang. Lukman Sardi, yang sebetulnya aktor watak cukup berbakat, agak salah peran (miscast) di sini. Tora (lepas dari Citra yang ia dapat sebagai “aktor terbaik”) dan Amink memang bukan aktor watak. Keduanya bahkan adalah sesama pelawak dalam acara Extravaganza di Trans-TV. Mereka memiliki screen persona yang kuat, tapi tak pernah bisa keluar-masuk watak selain menjadi diri sendiri di dalam layar. Persis seperti Dono-Kasino-Indro. Kenapa tak sekalian memasang Indra Birawa saja dalam trio Quickie Express ini? Saya hanya menemukan satu-dua tribute yang nyata: adegan Jojo dikerubuti adik Lila (Sandra Dewi, yang manis sekali seperti donat Dunkin isi srikaya), dua anak lelaki yang badung bukan main, dan Jojo lantas nyeletuk, kurang lebih, badung banget sih ini anak. Satu lagi, tentu, adegan menari dalam pentas disko seperti Dono dalam Pintar-pintar Bodoh yang sebetulnya merupakan parodi dari disko ala John Travolta dalam Stayin’ Alive. Yang jelas, jika Quickie Express seluruhnya dianggap sebuah tribute bagi film-film Warkop, tentu ini berlebihan. Lagipula, tak perlu. Mestinya, saya memang tak terpengaruh ucapan Dimas itu, sehingga ekspektasi saya terbentuk: mencari-cari yang “Warkop” dalam Quickie Express. Ini bukan film Warkop. Ini adalah komedi di “zaman baru” film nasional –zaman yang dikuasai kaum muda yang lebih rileks untuk menjadi amoral, lebih pragmatis dan hedon; zaman yang gandrung pada aspek-aspek teknis, siasat visual, dan aneka retorika kamera dalam pembuatan film; zaman DVD yang dibebani limpahan informasi dan referensi film dunia. Dalam zaman inilah, komedi seks ala Quickie Express mungkin muncul dalam film kita. Wartawan senior Yan Wijaya, dalam wawancara yang ditayangkan pada acara Behind The Scene: Quickie Express di salah satu TV swasta kita, menyebut ini adalah “komedi seks pertama di Indonesia”. Dulu, kata Yan, memang banyak film-film seks, tapi tidak komedi seks. Tapi, dulu kita pernah punya Permainan Cinta (Pitrajaya Burnama, 1983, dibintangi oleh Richie Ricardo) atau Montir-Montir Cantik (BZ Kadaryono, 1984) yang dimaksud sebagai komedi seks juga –komedi yang menjadikan seks sebagai subjek. Bedanya, komedi seks kita zaman dulu malu-malu, Quickie Express lebih serba tahu dan jelas tak malu-malu. Tagline-nya saja, “Di mana ada kemaluan, di situ ada jalan!” (dan selamanya merusak pepatah klasik itu dalam kenangan saya!) Yang dikomedikan oleh Quickie Express bukan hanya perilaku seks, tapi juga preferensi seks. Mungkin saya akan menonton lagi film ini, kali ini dengan ekspekstasi yang benar: menonton komedi seks kiwari. Jadi, saya bisa menikmati lagi rangkaian adegan Marley dan piranha; adegan seks piano antara Jojo dan Tante Mona yang diperani oleh “tante” Ira Maya Sopha nan anggun (dan mengingatkan saya pada adegan seks oral di mimbar dalam Police Academy); atau adegan yang bakal klasik di layartancap.com, yakni tarian mesum sang pelatih body language di pusat pelatihan gigolo Quickie Express. Saya hanya terganggu melihat boneka seks berulangkali dibawa keliling ruangan dalam sebuah adegan di bagian awal –mestinya Dimas, atau Joko, bisa mengeksplorasi mainan seks lain yang “eksotis” dan menggelikan. Oh, dan saya akan menikmati lagi adegan yang buat saya bakal klasik, narasi “Ah, tai lah!” Hei, itu kalimat yang sangat catchy. Dan konsisten dengan awal dan akhir film. Juga, menikmati lagi footage adegan-adegan gagal di bagian credit title, seperti film-film Jacky Chan, yang lucu juga. Dengan segala kekurangannya, inilah bagian suara zaman baru itu. Bagian dari bibit industri film kita di masa depan. Bagian dari creative industry yang harus kita majukan di negeri ini. Bagian dari gerakan.... Ah, tai lah!*** QUICKIE EXPRESS Sutradara: Dimas Djayadiningrat. Skenario: Joko Anwar. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |