The Jakarta International Film Festival 2007
Possible Lives (Las Vidas Posibles):
Suami Istri dalam Misteri Mini-Kata

oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

Film sempurna (perfect movies) tak harus berupa film agung (great movies). Sebagaimana film agung tak harus film sempurna. The Birth of Nation (D.W. Griffith), misalnya, adalah film agung yang jauh dari sempurna.Begitu juga Metropolis (Fritz Lang).

Sedangkan, taruh saja, Hard Candy (David Slade), Matchpoint (Woody Allen), atau Enchanted April (Mike Newell), bukanlah film-film agung, tapi sempurna. Keagungan film lebih berhubungan dengan skala: ide besar, tema besar, inovasi besar (berpengaruh luas), lanskap besar, dan sebagainya. Sedangkan film sempurna lebih berhubungan dengan kematangan dan perhitungan: ide dan tema juga cerita yang telah dimasak matang; struktur (cerita), komposisi, fotografi, kekisahan (naratif), seni pemeranan, yang penuh perhitungan, sehingga segalanya dalam sebuah film terasa jatuh pada tempat yang tepat.

Setelah usai film Possible Lives (Las Vidas Posibles), saya tercekat. Pertama, karena akhir yang lirih tapi ‘menonjok’. Kedua, karena tiba-tiba saya sadar bahwa semua unsur film ini ternyata telah jatuh pada tempat yang tepat.

Film mini-kata karya Sandra Gugliotta ini bergerak lembut-menusuk. Di bagian awal, film ini memberi rasa gamang (apa yang sedang terjadi?) dan ada di tubir membosankan. Seorang lelaki brewok bermata sayu, melakukan sesuatu, lalu kita dibawa pada sebuah adegan yang berada di jelang haru: lelaki brewok itu masuk ke sebuah kamar, menyalakan lampu, dan ternyata ada seorang perempuan di ranjang, matanya terbuka menatap dan basah; mereka diam, saling tatap, dan ketika si lelaki pergi, perempuan itu tetap menatap dengan mata yang basah ke satu arah –entah apa yang mereka pikirkan, entah apa yang terjadi, dan ada tragedi apakah di balik adegan ganjil ini.

Ah, benarkah itu adegan ganjil? Bukankah kita pernah mengalami hal demikian –kata-kata tak terucapkan, tangis yang ditahan. Jika saja ada orang asing yang melihat kita sedang di tengah adegan serupa, tentu ia pikir kita sedang melakukan sesuatu yang ganjil juga. Demikianlah, seni diciptakan –kata Albert Camus. Sastrawan Prancis keturunan Aljazair ini pernah menulis bahwa seni adalah sebuah pemberontakan atas kenyataan; seni adalah untuk menyempurnakan kenyataan. Dalam novel, misal Camus, kata-kata yang dalam kehidupan nyata tak selesai diucapkan, akan disempurnakan.

Dalam perspektif ini, Possible Lives justru memberontak pada alur seni itu: ia malah hendak merekam begitu saja segala percakapan yang tak sempurna, hasrat yang tak bisa diungkapkan, kisah yang tak dijelaskan dalam sebuah narasi atau dialog yang gamblang. Bukan berarti para tokoh di sini bicara hal-hal yang enigmatik. Mereka bicara hal-hal yang logis, gamblang. Tapi Possible Lives membiarkan yang tak sempurna dan tak terucapkan hadir juga di layar. Maka, wajarlah jika di bagian awal film kita bisa merasa bosan. Harap sabar. Film ini sedang menciptakan bahasanya sendiri, dunianya sendiri.

Setelah adegan si brewok dan perempuan bermata basah itu, yang diselang-seling credit title, film dimulai dengan adegan pasangan urban berpesta. Kita tahu kemudian mereka bernama Carla dan Luciano. Ulang tahun Luciano, rupanya. Lalu mereka berduaan. Carla merayu. Mereka senggama. Sepanjang waktu, Luciano yang berkumis dan berjanggut tapi tak sampai brewok lebih banyak diam, tersenyum lembut, menatap dengan mata sayu. Dan esoknya, Luciano pergi. Dan ternyata, ia hilang.

Carla mencari suaminya, ke bagian Selatan Argentina yang rural dan diselimuti sunyi. Ia menginap di hotel yang dulu dipesan suaminya dalam perjalanan penelitiannya, tapi tak sampai didatangi Luciano. Ia di kota kecil yang dituju suaminya, berharap mendapat terang mengapa suaminya tak tiba di kota itu. Dan tiba-tiba ia melihat lelaki itu, si brewok. Lelaki itu sangat mirip suaminya, tapi Carla bimbang. Lelaki itu tampak tak mengenali Carla.

Lelaki brewok itu adalah Luis. Ia bekerja di perusahaan real estate di kota itu. Ia telah menikah, dengan perempuan bermata basah di awal film. Ia telah tinggal di kota itu selama enam tahun –kecuali, kata pemilik hotel, untuk beberapa saat ia sempat menghilang. Carla semakin yakin, tapi tak bisa mengalahkan bimbangnya, bahwa Luis adalah Luciano, suaminya.

Perlahan, misteri ini melebar sekaligus konsekuensi-konsekuensinya mengetat. Jika Luis adalah Luciano, mengapakah ia menghilang dari Carla dan mengapakah ia (pura-pura?) tak mengenali Carla? Jika Luis bukan Luciano, lalu di manakah Luciano? Dan mengapa ia menghilang dari Carla? (Kabur? Mati? Kecelakaan?)

Possible Lives (Las Vidas Posibles) adalah salah satu film hasil kerjasama internasional untuk menghasilkan khasanah film dunia –dalam hal ini, kerjasama antara Argentina dan Jerman. Sandra Gugliotta, yang memenangi Caligari Film Award untuk film pertamanya, A Lucky Day (2002), tampak menyutradarai Possible Lives dengan penuh percaya diri. Tak ada adegan yang percuma. Adegan-adegan kecil dan lepas-lepas mirip vinyet di bagian awal film, ternyata membangun keseluruhan yang utuh –setelah usai film lah, saya merasakan bahwa tak ada adegan percuma sejak awal. Sinematografi juga berhasil menguarkan lanskap sunyi di Argentina Selatan dan, asyiknya, juga gurat-gurat sunyi di wajah-wajah Carla, Luciano/Luis (diperankan oleh aktor yang sama), dan istri Luis. Dialog yang minim, musik minimalis, juga suara yang jarang, seluruhnya “sesuai-nada” dengan misteri keganjilan Carla dan Luciano.

Ya, bukan hanya hilangnya Luciano yang jadi misteri. Sikap Carla yang berkembang sepanjang film pun jadi misteri tersendiri. Ketika akhirnya terjadi hubungan seks antara Carla dan Luis, yang simetris belaka (karena rasa adegannya yang sama) dengan adegan seks di bagian awal, kita pun bertemu misteri lain: apa makna hubungan seks antara suami-istri, sesungguhnya? Ketika melakukan senggama itu, Carla belum juga bertanya tegas pada Luis: apakah Luis adalah Luciano? Carla bersenggama intens dengan Luis untuk makna apa? Meraih yang mungkin telah hilang? Mencicipi hidup lain yang mungkin?

Ketika misteri yang sebermula lirih ini semakin pekat, tiba-tiba kita tiba pada usai. Barangsiapa yang telah membaca novel Disgrace karya JM. Coetzee mungkin mengenali cekat perasaan seperti yang saya rasakan saat film ini usai. Possible Lives memilih untuk tak menyempurnakan misteri itu, dan justru karena itulah, bagi saya, film kecil ini jadi sempurna.***

POSSIBLE LIVES (LAS VIDAS POSIBLES)

Diputar di JIFFEST: Dec 10/Djakarta Theater 2/21:45 – Dec 12/DJK 2/16:45 –Dec 14/Djk 2/21:45

Sutradara: Sandra Gugliotta.

80 menit. Color. 35 mm. Bahasa Spanyol (subtitel Inggris). Argentina/Jerman, 2006.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org