Otomatis Romantis:
Mimpi Basah Wong Ndeso

oleh Eric Sasono
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

Ini adalah sebuah film dengan premis terlaksananya mimpi basah lelaki ndeso seperti Tukul Arwana: andai orang desa macam Tukul akhirnya bisa beristri perempuan secantik Wulan Guritno atau Marsha Timoty.

Tentu saja karena film, sebagaimana kata Carl Gustav Jung, adalah perwujudan dari segala mimpi yang tak bisa terjadi di dunia nyata, maka jika kita bisa bikin film, berikan saja mimpi semacam itu. Seperti lewat drama TV Ujang Pantry, penulis skenario Monty Tiwa punya bahan bagus sekali ketika Tukul Arwana mau main film.

Tukul dalam kehidupan nyata adalah semacam mimpi basah yang terwujud itu. Apatah lagi yang diharapkan oleh orang seperti Tukul yang sekarang ini merupakan penampil TV dengan bayaran paling tinggi di Indonesia. Maka Otomatis Romantis bagaikan sebuah rekonstruksi atas semacam mimpi basah itu, untuk soal berbeda. Jika Tukul di kehidupan nyata adalah lambang dari keberhasilan jadi kaya mendadak, maka film ini adalah soal keberhasilan meraih cinta sejati.

Berkisah tentang Bambang Setiadi (Tora Sudiro) yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah majalah gaya hidup wanita mirip majalah Cosmopolitan dalam kehidupan nyata. Dalam majalah seperti itu, jauh sekali jarak antara pesuruh dengan pemimpin redaksi. Namun Sang pemimpin redaksi Nadia (Marsha Timothy) adalah “perawan tua” yang sudah dikejar-kejar oleh ayahnya (Tarzan) supaya cepat kawin. Kebetulan pula Bambang adalah seorang lelaki tampan, berhati mulia, jujur dan sesungguhnya intelek (dia sempat kerja jadi wartawan di majalah pertanian, lho...). Semacam tokoh Si Boy pada 1980-an, minus kekayaan. Maka lengkaplah jalan untuk mimpi basah itu terwujud.

Sisanya adalah hiruk pikuk yang diperlukan oleh sebuah fim. Subplot, istilahnya, yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi perlu ada untuk mendorong cerita supaya bisa laju. Nadia punya kakak Nabila (Wulan Guritno) yang sedang bermasalah dengan suaminya, Dave (Tukul Arwana). Dave yang buruk rupa tapi kaya itu rupanya memang tak tahu diuntung, tak merawat rasa cinta sang istri yang bagai bidadari. Maka dalam keluarga yang dikutuk itu (semua perempuan di keluarga itu berpasangan dengan lelaki mirip hewan, seperti lele dumbo atau beruk) muncullah huru-hara. Huru hara ini bukan yang pertama, karena sebelumnya di kantor Nadia juga terjadi huru-hara akibat soal berbeda.

Singkat cerita, Bambang muncul sebagai penyelamat, berkali-kali. Bambang memang semacam idealisasi bagi situasi komedi semacam ini. Ia juga jadi pahlawan untuk kakaknya, Trisno (Dwi Sasono), pengangguran sialan yang kerjanya menghamili anak orang dan main judi di pinggir kali. Bahkan ketika sudah babak belur dikibuli sang kakak, ia mau saja menanggung getah untuk nangka yang dimakan si kakak.

Ya, kepahlawanan jaman kini mungkin bisa berarti dua: pertama, kepahlawanan adalah candaan di tengah situasi tak lucu; atau yang kedua, kepahlawanan bisa datang dari seorang total underdog macam Bambang Setiadi ini.

Maka film ini memang perayaan para underdog yang dalam kehidupan nyata memang diwakili oleh Tukul. Dan dalam situasi serba pengap seperti sekarang ini, mimpi basah seorang ndeso bagai Tukul Arwana (atau Bambang Setiadi) memang bisa jadi semacam penyiram kesuburan harapan banyak orang. Di sanalah orang seperti Bambang atau Tukul jadi pahlawan.

Otomatis Romantis memang sepenuhnya mengantar harapan semacam mimpi basah sekalipun terjadi idealisasi si pemimpi dalam film ini. Bisa jadi ini hanya ada dalam film. Tak apalah, ini memang hanya film –sekalipun saya sedikit bertanya apakah si Bambang ini bakal membuka meletakkan “muka baik budi di depan umum”-nya dan memasukkannya ke dalam laci jika tak ada yang melihatnya sama sekali. Karakter Bambang memang terlalu karikatural dan jadi ancaman terhadap plausibility film ini.

Tapi karena ini film komedi, karikatur selalu dimaafkan. Peristiwa kebetulan berkali-kali juga masih asik membuat tertawa, sekalipun Monty tak seberani Maaf, Saya Menghamili Istri Anda yang sungguh-sungguh mementaskan karakternya di tengah situasi gawat terus menerus dan penuh ular berbisa.

Untungnya Tora Sudiro tampil meyakinkan. Meskipun kita masih melihat Tora Sudiro, tapi kita tahu bahwa ia memang bisa ada seorang pecundang berhati emas seperti Bambang Setiadi. Ensamble acting para pemain juga bagus. Mereka bemain santai sekali, seperti tak ada kamera di depan mereka. Maka jika sukses penyutradaraan diukur dari keberhasilan mengarahkan pemain, Guntur Soeharjanto sudah mencatat satu sukses penting. Mimpi juga perlu diantar dengan meyakinkan dan para pemain dalam film ini menjalankan tugas mereka dengan baik. Bahkan Tukul pun demikian, justru ketika cerita ini tidak kelewat mengeksploitasinya sehingga kumis lele dumbo itu cukup jadi properti yang sesekali saja muncul.

Sisanya adalah kelemahan di sana sini yang mengganggu. Production value film ini rada mengganggu dengan pewarnaan di pasca produksi yang berkesan murahan. Toh film ini dibuat tak murah-murah amat, jadi tak apalah memberi tontonan yang lebih segar kepada penonton yang sudah membayar tiket bioskop. Selain itu tentu teknik Monty dalam mengulur ending cerita terasa klise dan agak memaksa. Mungkin sejak pertemuan pertama antara Nadia dan Bambang Setiadi kita sudah tahu ending cerita ini. Maka ketika cerita ini terus saja bergulir dan bergulir, mungkin sebagian kita sudah menguap bosan

Tak sulit, bukan, menebak akhiran dari sebuah mimpi basah yang diwujudkan dalam film? ***

Otomatis Romantis
Sutradara: Guntur Soeharjanto.
Produksi: ISI Production
Produser: Monica Hariyanto, Monty Tiwa
Skenario: Monty Tiwa
Pemeran: Tora Sudiro, Marsha Timothy, Tukul Arwana, Wulan Guritno, Tarzan, Chintami Atmanegara, Dwi Sasono.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org