Paradoks Jarak dalam Kamera Digital
Ling Yi Ban a.k.a. The Other Half
oleh Hikmat Darmawan

Film macam The Other Half karya Yin Liang ini mengingatkan saya kembali akan makna kata “independent”.

Independen bermakna jarak. Seorang pengamat mengambil jarak dari amatannya, justru agar ia bisa mengamati lebih seksama objek amatannya. Paradoksal, memang –tapi masih sering terbukti benar.

Yin Liang membuat film ini hanya berbekal kamera DV (bahkan bukan yang jenis High Definition) dan mengeditnya di PC. Segala siasat low budget diterapkan, termasuk shooting pada pukul 4 pagi demi mendapat gambar jalan kosong. Itu tak menghalanginya mengisahkan sebuah cerita tentang perubahan besar yang melanda Cina masa kini.

Yin Liang meletakkan jarak yang cukup pada persoalan besar itu. Ia tak langsung masuk ke dalam dunia pabrik dan risiko industrial di dalamnya, seperti Erin Brockovich (Steven Soderbergh), misalnya. Latar industrialisasi itu diletakkan Liang agak jauh di belakang. Bahkan, ketika di bagian akhir film terjadi katastropi industrial, ia tetap menjaga jarak itu dan tak nyinyir membahasnya.

Cina yang berubah diwujudkan dalam amatan yang seksama pada kehidupan sehari-hari salah seorang warganya, gadis 22 tahun bernama Zeng Xiaofen (dimainkan oleh Zeng Xiaofei). Kisah dibangun dalam struktur dua pengisahan dunia: dunia kerja Zeng, firma hokum kecil dengan Zeng sebagai jurucatat semua pengaduan yang masuk; dan dunia pribadi Zeng.

Dalam kedua dunia itu, Zeng lebih banyak diam, menarik diri dari gerak-gerik dunia sekitar. Ia bicara ketika diwawancara kerja, dan berangkat kerja dalam diam setiap pagi –kecuali sesekali ia batuk-batuk berat. Di tempat kerja, ia diam-diam mencatat pengaduan para calon klien (mereka semua bercerita dengan menghadap kamera, dengan pengacara pewawancara nyaris tak pernah terlihat dan hanya suara mereka terdengar off screen).

Zeng lebih banyak diam, termasuk saat menerima pacarnya, Deng Gang, yang penjudi dan pecundang sejati, pulang pagi dan muntah-muntah karena mabuk. Ketika ibunya, salah satu dari kelompok penari beranggotakan para nenek berbaju merah yang menari untuk perayaan ultah komunisme Cina, mendesaknya untuk dijodohkan. Ia pun hanya diam ketika ayahnya yang telah hilang 10 tahunan tiba-tiba muncul lagi. Dari diam ke diam, terhampar pernik-pernik kehidupan sehari-hari yang membangun sebuah dunia utuh: kota Zigong –tepatnya, kota Zigong-nya Zeng (atau, Zigong-nya Liang?).

Jalan-jalan sunyi pagi dan malam hari. Penari striptease setengah hati. Zhang Ziyi sebagai ikon kecantikan popular (Zeng bolak-balik dipuji “manis”, mirip Zhang Ziyi). Sebuah kios penjahit di pojok jalan yang berubah menjadi tempat judi mah jong. Orang-orang yang bisa menghilang begitu saja. Para perempuan yang menginginkan perceraian dengan motif yang unik. Pengusaha muda yang mencari istri seperti mencari sapi atau gelang emas. Lalu tiba-tiba, dalam malam yang biasanya sunyi, sebuah suara ledakan mendentum di jauhan.

Kamera Liang merekam itu semua dengan kalem, stoic, sama sekali tidak cerewet. Kamera itu hanya merekam, tak berkomentar apa pun. Kita sedang memang dibawa Liang jauh-jauh dari Hollywood, langsung masuk ke jantung Cina yang sedang berubah.

Ini adalah film ke-2 Liang. Film yang dalam diamnya sebetulnya amat menohok. Film ini diedarkan lebih banyak lewat DVD. Pemerintah Cina, kata Liang, tak tertarik pada film-film berbujet rendah macam ini.

Liang adalah bagian dari sebuah generasi baru pembuat film yang dientaskan oleh revolusi digital. Revolusi ini bermata dua. Di satu sisi, piranti digital bisa membawa kita ke dunia yang amat artificial, dibuat-buat. Di sisi lain, piranti digital justru bisa merekam dunia nyata sementah-mentahnya. Lihatlah kegandrungan menyiarkan video bikinan sendiri di youtube.com. Juga bangkitnya pendekatan cinema verite seperti dalam film-film generasi baru Malaysia (yang diwakili oleh, antara lain, Yuhang, Yasmin Ahmad, James Lee, dan lain-lain), Thailand, termasuk Yin Liang dari Cina ini.

Yang amat menentukan dalam surga kemudahan membuat film di era digital ini adalah ide. Pergumulan gagasan tentang bagaimana seorang pembuat film memahami dunia, bagaimana ia merenungi seluk-beluk medium film, bagaimana ia mengolah berbagai ide tentang manusia untuk sampai pada idenya sendiri tentang manusia yang akan ia tampilkan di layer.

Tanpa olah ide itu, tak mungkin Liang mampu memberi jarak pada kenyataan yang ia tatap. Tanpa jarak yang cukup, komentar sosial dalam The Other Half akan tumpul belaka –dan adegan liris di akhir film hanya akan jadi kegenitan gambar biasa, yang sering kita temui dalam film-film Arya Kusumadewa atau Nan T. Achnas.***

Sutradara: Yin Liang

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org