The Jakarta International Film Festival 2007
A Mighty Heart:
Melunakkan Kekerasan

oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

Mengapa Angelina Jolie?

Mau tak mau, pertanyaan ini terbetik sebelum dan selama saya menonton film ini. Angelina Jolie adalah salah satu makhluk paling seksi saat ini. Di Festival Film Cannes 2007, tempat A Mighty Heart diluncurkan pertama kali ke publik dunia, Jolie dipuja sebagai perempuan paling banyak difoto saat ini (jika klaim ini benar, Jolie telah menggusur Lady Di). Menurut J. Hoberman di situs Village Voice, Google mewadahi lalulintas 358.000 (masih bertambah) gambar Jolie. Saya tambahkan, kebanyakan adalah foto telanjang atau setengah telanjang Jolie. Dan kini ia hadir dalam sebuah film tentang salah satu tragedi nyata paling mengguncang Barat pasca 9/11 2001, yang disutradarai Michael Winterbottom.

Banyak yang menganggap bahwa Winterbottom adalah sutradara terpenting dari Inggris saat ini. Ia jelas sedang di jalan menuju kebesaran. Rentang minatnya luas, dan selalu provokatif. Mulai drama periode klasik Jude The Obscure; penelanjangan kenyataan perang Balkan pada Welcome To Sarajevo; kisah futuristik tentang kloning dalam Code 46; kisah seorang impresario rock dalam 24 Hours Party People; seks-seks-musik-seks-seks dalam 9 Songs; adaptasi novel ganjil (dianggap sebagian kritikus sebagai pelopor novel posmodern) dengan cara ganjil dalam Tristram Shandy: A Cock & Bull Story; serta dua film tentang perang antiterorisme: In This World dan The Road To Guantanamo. Saat ini, ia sedang menyiapkan sebuah film horor di Italia, Genova. Di sela-sela, ia meneruskan pengambilan gambar untuk drama seorang terhukum lima tahun penjara yang filmnya diproyeksikan akan selesai pada 2012.

Singkatnya, Winterbottom adalah sosok purna seorang man of this world –seorang yang serbasadar dan serbaterlibat dengan segala gerak-gerik dunia apa adanya saat ini. Kebanyakan orang hanya memandang atau mengalami satu-dua ceruk dunia. Bush hanya tahu sudut pandang neo-konservatisme. Paris Hilton hanya tahu pesta. Michael Moore hanya tahu Amerika brengsek. Harun Yahya dan para pengikutnya hanya “tahu” evolusi adalah konspirasi zionis Yahudi. Richard Dawkins hanya tahu bahwa sains itu atheis dan “baik”, dan agama selalu “dungu” dan “jahat”. Winterbottom, dengan kameranya, menatap dan merekam pesta dan penjara, perang dan billboard, kenyataan dan mitos, sastra dan propaganda, jihad dan pengumbaran seks.

Dan kini ia mengangkat memoar Mariane Pearl, A Mighty Heart, yang menutur masa-masa penculikan suaminya, Daniel Pearl, kepala biro Asia Wall Street yang tinggal di Karachi, Pakistan. Sejak perpisahan biasa di suatu siang –Daniel akan melakukan wawancara dan Mariane yang sedang hamil lima bulan akan belanja; hingga lima minggu kemudian –setelah penantian dan pencarian suaminya yang ternyata diculik– Mariane mendapat kabar bahwa suaminya telah dipenggal dan pemenggalannya direkam dalam video.

Ini adalah kisah nyata yang bukan hanya masih dekat waktu kejadiannya, tapi juga sangat kuat “aura” kenyataannya. Dan kita mendapati Angelina-“Tomb Rider”-Jolie di pusat film. Ada beberapa kemungkinan kenapa Winterbottom membahayakan integritas kenyataan film ini dengan memasang Jolie. Kemungkinan pertama, paling gamblang, ini adalah proyek Brad Pitt –suami Jolie. Pitt memegang hak memfilmkan buku Mariane Pearl, dan Mariane yang kenal pribadi Brangelina ingin Jolie memerankan dirinya.

Tapi kenapa Winterbottom mau juga? Kemungkinan kedua, Winterbottom ingin berkomunikasi dengan publik luas. Jolie adalah sebuah kompromi agar pesan tentang kenyataan dunia pasca-9/11 adalah sebuah dunia yang kompleks dan keras bisa meruah ke penonton film “umum”. Kemungkinan ketiga, Winterbottom ingin melunakkan kenyataan tragedi Pearl.

Pemenggalan Pearl yang disiarkan lewat internet ke seluruh dunia adalah sebuah pencacatan ruang visual kita. Kejadian ini menciptakan sebuah realitas “baru” (sebetulnya, Pearl hanyalah sebuah tahap dalam sekian lama proses kelahiran realitas baru itu) –realitas di mana setiap saat bisa terjadi kekerasan disajikan dalam kamera candid, dan jadi tontonan khalayak lonely-virtual-crowd.

Zaman dulu, hukuman mati secara publik hanya ditonton oleh kerumunan yang berada satu tempat dengan penghukuman mati itu. Ada euforia bersama, ada penebusan dan persembunyian, dalam kerumunan demikian. Tapi cobalah bayangkan siapa yang bisa menonton pemenggalan Daniel Pearl? Seorang remaja, di sebuah pelosok kota entah, bisa menontonnya sendirian di dalam kamarnya.

Winterbottom menolak menampilkan adegan pemenggalan itu, bukan hanya karena tepa selira atau rasa kepantasan. Ia, sengaja atau tidak, menampilkan sebuah poin: inilah bahasa filmis untuk “memalingkan tatapan” terhadap kekerasan yang memaksakan kenyataannya di ruang visual kita. Apa gunanya? Ah, atau lebih tepat, apa maknanya? Nah, ingat-ingatlah bahwa salah satu bahasa tubuh paling dasariah untuk mengucilkan (memberi sangsi sosial) pada seseorang adalah dengan memalingkan wajah kita dari orang pelaku salah itu.

A Mighty Heart tak memalingkan diri dari kenyataan-kenyataan lain. Winterbottom, lepas dari modal cukup besar bagi film ini karena tuah nama Brangelina, mempertahankan modus kerjanya dengan kamera digital yang dipegang-tangan, awak kecil, dan pengaturan setting minimal atau malah tak ada sama sekali. Ini memungkinkan pendekatan kamera yang selalu bergerak, menangkap rasa tempat yang otentik dari Karachi –juga tempat-tempat lain di Pakistan, dan lain-lain– yang pada awal kisah disebut sebagai salah satu kota “paling besar dan padat di dunia”. Hanya beberapa kali kamera terdiam, saat menyorot Jolie.

Dengan pendekatan kamera tak mau diam ini, dengan meraup sebanyak mungkin footage ruang dan adegan dalam kamera digital tanpa tatacahaya ini, Winterbottom meletakkan cuil-cuil kenyataan banyak sisi. Kapten polisi yang memimpin operasi pencarian Pearl, dimainkan dengan wajar oleh Irrfan Khan, adalah contoh sisi banyak itu. Ia kalem, mampu menyimpan kemarahan dan frustasinya, tapi mampu menampar seorang saksi ngeyel dan menanyai dengan tenang seorang tersangka yang digantung tangannya, telanjang, dan berkali-kali merintih karena genitalnya disetrum.

Apakah penyiksaan ini sebuah contoh kebiadaban? Anehnya, dalam film ini, tidak juga. Sang kapten adalah Pakistan itu sendiri: selamanya dalam ketegangan politik global, terjebak di garis depan benturan (ideologi, psikis, hingga fisik) antarperadaban, dan terpaksa hidup dalam lingkaran kekerasan. Lalu tengoklah dunia yang direkam Winterbottom sebagai latar tragedi Pearl ini. Collin Powel yang mewakili imperium Amerika, Syeikh Omar yang kharismatis dan penuh keyakinan atas jalan kekerasan yang ia pilih, menteri Pakistan yang moronik, petugas FBI yang sama moroniknya, tak lupa pembantu yang hanya mengepel, mencuci piring, dan punya seorang anak balita yang lucu di rumah Mariane, semua ada. Semua ditempatkan sebagai kenyataan yang setara.

Film ini tak ingin mendramatisasi dunia kompleks yang keras ini. Seperti Mariane/Jolie sekeras mungkin menyimpan segala amuk kecamuk perasaan di tengah tragedi ini. Suatu ketika, karena frustasi menggerumuk di dada, Mariane ke pekarangan belakang rumah sewaannya, dan menangis. Tubuhnya berguncang sejenak. Tapi segera ia berbalik, dan melihat si balita putra pembantu sedang bermain dan bengong melihat Mariane. Mariane menelan tangisnya, tersenyum wagu, bicara pada si anak. “Sorry, it’s silly.” Seluruh personil yang terlibat pun ditekan pada posisi yang sama. Masing-masing punya cara tanggap yang berbeda pada perkembangan situasi, tapi tak ada teriakan dramatis.

Sampai kabar itu tiba, itulah sekali-kalinya yang dramatis pecah di film ini. Suaminya dipastikan telah mati. Mariane/Jolie meneriakkan kesedihannya, begitu mentah, begitu putus asa –lolongan sukma, jika kita ingin “ke-Rendra-Rendra-an”.

Mulanya, saya sempat mengalami kesukaran menelan adegan ini. Tapi kemudian saya mengapresiasinya: Jolie, kita lupa, adalah aktor watak yang mumpuni. Bukan hanya pada saat dramatis itu, tapi juga pada cara bicaranya sejak awal sebagai Mariane. Cara ia memancarkan kasih pada Daniel (Dan Futerman, yang juga penulis naskah film Capote) dalam bahasa tubuh yang kecil-kecil. Memang yang kecil-kecil itulah yang menguatkan tekstur film ini: bagaimana si balita putra pembantu memoncongkan bibirnya minta dicium Mariane; bagaimana Mariane punya problem kencing; bagaimana banjir di Karachi kok mirip banjir di Jakarta....

Saya kemudian mengapresiasi pemasangan Jolie sebagai Mariane. Film ini memusatkan diri pada Mariane. Sebagaimana pesan bukunya, film ini ingin mengidealkan harapan. Idealisasi itu rupanya bekerja begini: di tengah segala kenyataan kekerasan itu, ada sebuah sosok hampir-tak-nyata, seorang bintang film –Angelina Jolie.

Dengan begini, harapan bukan hanya jadi sesuatu yang nyaris tak nyata tapi layak diinginkan. Harapan pun lantas jadi sexy.***

A MIGHTY HEART

Diputar di JIFFEST: Dec 8/Djakarta Theater 1/21:30 – Dec 11/DJK 1/19:00 –Dec 13/DJK 2/21:45

Sutradara: Michael Winterbottom.

Pemeran: Angelina Jolie, Dan Futerman, Irrfan Khan, Will Paton.

108 menit. Color. 35 mm. USA/UK, 2007.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org