Politik dan Queen Bee:
Sekali Menyengat, Sesudah itu...?

Queen Bee - Ada celah yang tak terjembatani di antara hiruk pikuk perpolitikan Indonesia dengan hiruk pikuk pesta kaum mudanya. Tampaknya karena menyadari bahwa celah itu akan berakibat buruk dalam jangka panjang, film Queen Bee mencoba menjadi jembatan itu. Sayang Queen Bee masih terbata-bata dalam mencari pijakan. Tampak masih ada kebingungan, bagaimana seharusnya memikat anak muda untuk kembali peduli politik, sementara di sisi lain filmnya sendiri masih tergoda merayakan gaya hidup anak muda yang menjadi sasaran penontonnya. Anehnya, lengkap dengan terseret-seretnya alur cerita, yang membuat film jadi lambat dan tentu saja sangat tidak anak muda. Redaktur kami, Ifan Adriansyah Ismail, tidak merasakan sengatan sang Ratu Lebah. Jikapun memang sang lebah menyengat, semoga saja tidak seperti lebah sungguhan yang sekali menyengat, sesudah itu mati.

Generasi Biru:
Generasi Dalam Bingkai Keliru

Generasi Biru: - Slank adalah salah satu tanda generasi yang penting. Slank dan ”jemaah”-nya lahir dari sebuah keberhasilan deidologisasi dan depolitisasi oleh rezim Orde Baru. Mereka jadi suara moral, tapi bukan dari jenis suara yang sama dengan, misalnya, Munir, yang penuh perlawanan itu. Mereka juga berbeda dari Kantata Takwa. Sayang sekali, menurut redaktur kami, Eric Sasono, film Generasi Biru gagal menangkap apa yang membuat Slank penting. Sutradara Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dossy Omar (segmen dokumenter) terjebak dalam sebuah ”kekacauan demi kekacauan itu sendiri.” Keterjebakan itu, bagi Eric, lahir dari sebuah salah baca terhadap Slank. Dan kesalahan membaca itu, mengundang hadirnya catatan lain. Ini genting, jika kita setuju Eric, karena membaca Slank adalah membaca sebuah generasi.

Posisi Ideologis dan Representasi:
Perempuan Berkalung Sorban, Membela atau Merusak Nama Islam?

Perempuan Berkalung Sorban - Film ini telah menuai protres! Sebagian menggugat, sebagian membela, berkenaan dengan representasi Islam yang provokatif dalam film itu. Redaktur RumahFilm, Ekky Imanjaya, mencoba membedah film ini dari dasar, lewat penelusuran status ideologis dan metode representasi yang dilakukan film ini (dan filmmaker-nya).

Pintu Terlarang:
Kamera sebagai Jarak Mutlak

Pintu Terlarang - Awal tahun ini, Joko Anwar mengeluarkan karya terbarunya, Pintu Terlarang. Film-film Joko, walau belum tentu menarik penonton sangat banyak, selalu jadi bahan pembicaraan menarik. Kali ini, ia menegaskan minatnya pada film-film slasher, seperti telah tampak dalam Kala dua tahun lalu. Pintu Terlarang juga merambah soal-soal yang ”nyata” dan ”tak nyata”. Tapi, yang sangat menarik bagi redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, adalah gagasan Joko tentang kamera dalam film ini.

Takut:
Faces of Fear

Takut - Ini adalah kumpulan film pendek bergenre horor, yang –seperti disuratkan judulnya– menelusuri rasa takut. Penjelajahan itu dilakukan oleh Tapi, Anda juga akan menemukan kejutan dalam cara Ifan Adriansyah Ismail, redaktur Rumahfilm.org, mengulas Takut.


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org