Laskar Pelangi :
Fiksi dan Alkemi

oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

1. Pengarang tak mati-mati?

Seusai menonton Laskar Pelangi khusus untuk produser dan beberapa wartawan, Yos Rizal dari Tempo bertanya pada Riri Riza, “Kenapa di film, tokoh Pak Harfan dimatikan? Di bukunya, kan tak jelas, ya, dia mati atau apa.” Riri menjawab, “Supaya ada dramatic point. Soalnya, kalau tidak begitu, kurang dramatis.” Pada saat itulah, saya menyadari satu hal: film ini mengembalikan status fiksi cerita Laskar Pelangi.

Novelnya, kita tahu, laris manis. Menurut pengakuan Putut Widjanarko di TV-One pada Lebaran lalu, bukunya telah mencapai 700 ribu eksemplar. Kalau dibandingkan dengan angka rata-rata penjualan buku kita yang paling di kisaran 2000-3000 eksemplar, tentu saja ini luar biasa. Orang boleh menunjuk promosi dan upaya pemasaran yang gencar menyumbang kelarisan itu, di samping tentu unsur isi.

Nah , dalam berbagai kegiatan promosi itu, sang pengarang, Andrea Hirata, sungguh menonjol ke hadapan publik. Kehadiran Andrea ini punya efek yang jarang disadari: status fiksi novel ini menjadi kabur. Tokoh utama dalam novel ini adalah Ikal, Lintang, dan Mahar. Dan dalam berbagai event, jelas belaka bahwa Ikal = Andrea. Sang pengarang sendiri, selalu mengaburkan status fiksi novelnya itu dengan mengakui banyak hal dalam novel itu sebagai pengalaman nyatanya waktu kecil.

Apalagi kemudian muncul sosok Ibu Muslimah di televisi dan berbagai mimbar. Segala tanggapan dan pujian muncul. Ibu Mus telah menerapkan prinsip multiple intelligence lah. Ibu Mus adalah lambang semangat pendidikan Muhammadiyah lah. Bagus-bagus sih, semua. Tapi, sebagai novel, kita semakin ragu apakah Laskar Pelangi adalah benar “novel” (yang, dalam makna generik, berarti sebuah prosa fiksi yang panjang).

Lantas, apakah Laskar Pelangi adalah memoar? Ini pun tak mudah. Andrea jelas menerapkan banyak jurus melebih-lebihkan. Ia pun tidak mengikuti kaidah-kaidah penulisan memoar secara ketat, dalam arti ada juga ia memanfaatkan hak prerogatif penulis fiksi dalam Layar Pelangi. Penerbit dan berbagai lembaga perbukuan, seperti rubrik resensi di koran atau majalah, juga tetap mengategorikan Laskar Pelangi ini sebagai “novel” dan “fiksi”.

Nyatanya, Andrea sendiri tak keberatan banyak perubahan dilakukan, diada-adakan, terhadap Laskar Pelangi untuk kepentingan filmnya. Di samping “mematikan” Pak Harfan, perubahan itu juga mencakup adanya tokoh-tokoh baru yang tak ada di buku, yakni tokoh Pak Bak ri (Rifnu Wikana), Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo), dan Pak Mahmud (Tora Sudiro). Termasuk, yang paling gamblang, pilihan pemeran Ikal dewasa pada Lukman Sardi. Seorang penonton mengeluh di TV-One, betapa filmnya “di bawah ekspektasinya”. Kenapa? Terutama karena melihat Ikal kok dimainkan Lukman Sardi. “Barangkali karena saya sudah mengenal Andrea sih, ya....”

Maka, demikianlah, status fiksi Laskar Pelangi dikembalikan dengan gigih dan kukuh oleh filmnya. Demikian pula tampak betapa para pembaca bukunya kesulitan untuk menerima status fiksi yang dikuatkan Riri dan Salman Aristo (penulis skenario) plus Mira Lesmana (produser).

2. Semacam alkemi, dan keberuntungan Riri

Mengapa saya “kurang kerjaan” menyoal status fiksi Laskar Pelangi? Karena bukunya memesona banyak orang justru karena kehadiran yang bukan-fiksi dalam pergerakan buku ini. Andrea yang ramah, yang bisa bicara memikat, yang menjadi model poster sebuah kisah sukses (anak kampung di pelosok Indonesia yang berhasil kuliah di Prancis!). Semakin sukses penjualan buku ini, semakin memesona sosok sukses Andrea. Semakin memesona sosok sukses Andrea, semakin memesona lah bukunya.

Kehadiran sang pengarang sebagai sosok sukses ini menjadi esensial bagi kesuksesan buku ini. Status fiksional yang kabur dari Laskar Pelangi jadi esensial bagi sesuatu yang sangat penting dalam buku ini: harapan.

Buku ini, lebih dari apa pun, adalah cerita tentang sebuah semangat untuk tak menyerah. Tak menyerah dalam kekalahan, dalam menghadapi kemiskinan akut. Penting bagi pelestarian semangat ini, setidaknya kalau dilihat dari respon kebanyakan pembaca, bahwa keberhasilan Ikal bukanlah fiksi. Dengan demikian, harapan menjadi lebih kuat.

Namun, buku ini tiba di tangan Riri Riza dan Mira Lesmana. Dynamic Duo generasi pembuat film Indonesia pasca-Reformasi ini punya ciri atau sifat khas: selalu mencemaskan realisme. Kita tunda dulu perdebatan tentang apa itu “realisme” dalam film. Kita fokus dulu pada sebuah keberuntungan ini: Riri Riza cenderung bermenung dalam film-filmnya, menghindari ledakan-ledakan, dan suka pada yang personal –dan ia kepincut novel Andrea.

Ini adalah sebuah keberuntungan, karena pertemuan Riri (dan Mira) yang serba-menahan diri dan Andrea yang gemar berbahasa melambung ternyata menghasilkan sebuah film yang pas. Di antara keduanya, ada Salman Aristo, penulis skenario, yang merupakan campuran antara ledakan-ledakan semangat dan kesukaan pada perenungan-perenungan.

Ini adalah sebuah keberuntungan, karena dengan segala paduan itu, Riri Riza berhasil menelurkan sebuah karya yang mengandung semacam alkemi. Terasalah alkemi itu jika kita memandang polah anak-anak SD Muhammadiyah Ga ntong itu: mereka begitu alamiah, begitu jitu sebagai karakter masing-masing. Alkemi itu terasa juga dalam setiap scene yang melibatkan Slamet Rahardjo, seolah aktor senior ini selalu meruapkan pancingan agar aktor lainnya optimal berseni-peran.

Ada alkemi dalam adegan Slamet Rahardjo dan Ikranegara berjumpa pada satu scene. Ada alkemi dalam hubungan antara gambar dan musik yang ditata ciamik pasangan Titi Sjuman dan Wong Aksan. Ada alkemi antara film itu dan theme song oleh Nidji. Ada alkemi antara kamera, matahari, dan segala mise-en-scéne dalam film ini. Ada banyak bagian mengandung alkemi yang membuat film ini bisa bicara kepada banyak orang (update terakhir yang penulis tahu, 19 Oktober 2008, sekitar 2,5 juta penonton –dan di mana-mana masih terjadi antrean dan kehabisan tiket untuk menonton film ini). Ada alkemi antara film ini dan penontonnya.

(Dari berbagai laporan yang saya terima, baik ketika mempersiapkan laporan tentang film ini untuk Madina no. 11, penonton sangat terlibat dengan apa yang terjadi di layar –tertawa, tercekat haru bahkan tak sedikit yang menangis, dan lantas bertepuk tangan saat film ini selesai. Ayat-ayat Cinta yang sampai tulisan ini dibuat masih memegang rekor fenomenal perolehan penonton itu pun tak sampai membuat banyak penontonnya bertepuk tangan. Dalam percakapan sehari-hari yang saya temui, ada cukup banyak orang yang menonton lebih dari sekali. Sedikit catatan soal kaitan dengan Ayat-ayat Cinta: Laskar Pelangi, di satu sisi, sebetulnya adalah juga sebuah film Islam –Islam yang pelangi, yang lebih mewakili orang kebanyakan ketimbang Ayat-ayat Cinta.)

Ada alkemi yang menyebabkan terbit rasa memiliki yang tinggi dari para penonton terhadap film ini. Riri beruntung karena telah melahirkan sebuah “film Indonesia”, dalam arti didaku sebagai milik bersama para penonton Indonesia.

3. Ikranegara memuji Riri.

Tentu saja, kata “beruntung” bisa segera ditampik. Riri telah bekerja bukan hanya keras, tapi juga penuh perhitungan. “Saya tak bisa lagi membuat film semacam Gie, yang panjangnya 2,5 jam sehingga dalam sehari hanya bisa diputar tiga kali,” kata Riri dalam wawancara dengan Madina. Ia juga bercerita, betapa versi jadi Laskar Pelangi ini mulanya memang 3 jam, tapi dengan hati-hati harus disisir lagi agar bisa sampai versi 2 jam yang ditayangkan itu, tanpa mengorbankan banyak hal.

“Penuh perhitungan” dalam gaya kerja Riri dan Mira Lesmana bukan berarti ada perencanaan rapi dan ketat, dan tak bisa diubah-ubah sejak semula. Justru sebaliknya, Riri (dan Mira, sambil terus didampingi Salman) berubah-ubah menghaluskan cerita, adegan, dan struktur kekisahan saat diedit.

Gaya kerja begini yang dipuji tinggi-tinggi oleh Ikranegara, pemeran Pak Harfan –suara nurani dan kearifan dalam film ini. Ketika saya tanya soal persiapan adegan bareng Ikranegara dan Slamet Rahardjo, yang saya ibaratkan Robert DeNiro dan Al Pacino dalam Heat, Ikra tertawa.

“Memang sejak di TIM (Taman Ismail Marzuki) dulu, kami sudah bersaing. Kami kan datang dari dua mazhab akting yang beda. Slamet bermazhab Teater Populer-nya Teguh Karya. Saya,” kata Ikra, “dari mazhab Teater Kecil-nya Arifin C. Noor. Jadi, waktu akan syuting, saya juga bersiap-siap, dan ingin tahu akan jadi apa adegan itu. Tapi, di sini saya memuji Riri.”

Ikranegara, yang sambil tersenyum mengaku tak akan mau main film kalau naskahnya jelek, menceritakan betapa Riri mengulang-ulang adegannya bareng Slamet itu. Bukan karena adegan itu gagal. Pertama, mereka menyelesaikan master shot adegan itu. Lalu Riri meminta mengulangi, karena ingin menangkap detail nuansa ekspresi dari kedua pemain. Begitu, sampai tertangkap semua dan lengkap detail yang diinginkan Riri.

4. Riri dan jarak itu.

Laskar Pelangi adalah sebuah film tentang kemiskinan akut, masalah besar bangsa ini hingga kini. Tapi, film ini tidak lahir dari sebuah perlawanan. Ifan mengatakan, film ini lahir dari sebuah nostalgia –nostalgia akan kemiskinan yang telah berhasil ditinggalkan. Kalau dirunut dari bukunya, cerita ini lahir bahkan dari sebuah waham sukses.

Waham sukses (dan obsesi ingin sukses) macam begini sangat laris di Indonesia, selama beberapa dekade belakangan. Kita belum berjalan terlalu jauh dari Orde Baru, rupanya. Dalam konsep pembangunan trickle down effect (cucuran ke bawah) seperti yang diterapkan Orba, kepemilikan atau keberlimpahan uang adalah esensial dalam hidup warga.

Dalam konsep ini, obat kemiskinan adalah kekayaan –bukan pemerataan, atau keadilan. Pemerataan dipaksa jadi persoalan sederhana “tunggu giliran, dan pada saatnya, tadahlah cucuran dari atas”. Keadilan dipaksa jadi kata yang abstrak.

Kemakmuran, keberlimpahan sumber daya, jadi tujuan, nilai utama, dan akan menyelesaikan segala. Bahkan jika keberlimpahan itu hanya berpusat dan berputar pada segelintir orang di negeri ini saja. Yang penting, kemakmuran/keberlimpahan itu ada, dan segala yang lain akan diselesaikan dengan sendirinya.

Ideologi semacam ini, yang sering tersesap diam-diam ke dalam definisi-definisi “sukses individu” kaum kelas menengah kita, seringkali mengganggu cerapan kelas menengah kita dalam memahami masalah kemiskinan. Kemiskinan kadang jadi eksotis, atau jadi sesuatu yang steril dari pemahaman struktural. Kemiskinan seringkali tampak tak berdaging dan tak bernyawa, semacam kotoran yang bisa dengan mudah disapu ke bawah karpet.

Atau, bagi beberapa yang mencoba tetap menjaga integritas mereka, kemiskinan yang tak dipahami secara langsung atau intim akan dicukupkan sebagai latar atau diletakkan di alam bawah sadar. Ada kecemasan bahwa lebih dari itu akan jatuh jadi propaganda atau berkhutbah.

Dan memang demikianlah juga Riri. Ia tak ingin berkhutbah, atau berpropaganda. Ia juga bukan tipe berfilsafat terlalu dalam, jika kita melihat film-filmnya. Ia, bagaimana pun, hanya ingin membuat film yang bersifat personal. Itulah mengapa ia tampak wagu dalam Gie, ragu memilih antara yang epik atau yang personal dalam biopik itu.

Itulah mengapa ia tampak selalu berjarak dari masalah Indonesia kiwari yang sedang dihajar bencana, korupsi, kebangkrutan sistem ekonomi, lumpur Lapindo, krisis lingkungan hidup di seluruh kepulauan; jarak yang membuat film-filmnya bisa dipandang “steril” seperti tampak dalam Untuk Rena dan Tiga Hari Untuk Selamanya. Agak sukar membayangkan Riri membuat film macam Langitku Rumahku (Slamet Rahardjo, 1989) yang punya kesadaran kelas cukup tinggi itu (dulu, dalam gurau pada teman, saya memberi subjudul buat film itu “Kecil-kecil jadi Marxis”).

Itulah juga mengapa saya merasa patut merayakan film ini. Di sini, Riri menyusup langsung ke masalah kemiskinan. Ia mendekam berlama-lama di masalah mengerikan itu. Ia tak melawan, karena bukan begitu sifatnya. Ia merenungi, mencari-cari pelangi dari pelosok miskin itu. Ia memilih untuk tak melawan, tapi mengajak bertahan sampai nasib memberi peluang (atau tidak). Jangan menyerah, begitu pesan Andrea dalam bukunya. Dan pesan itu diwujudkan dengan baik sekali, lebih baik dari novelnya, lewat sosok Lintang. Jangan menyerah, walau kaukalah –begitulah seolah sosok Lintang berkata.

Lintang yang kalah, tak bisa lanjut bersekolah dan tetap miskin hingga dewasa, ternyata tak pernah menyerah. Semangatnya ia wariskan: anaknya ia minta bersekolah, bagaimana pun keadaannya. Ini adalah pesan yang tepat-masa. Pesan yang jadi kuat karena konteks Indonesia senyatanya memang sedang kalah dalam banyak hal.

Tapi, (mestinya) jelas pula, pesan ini bukanlah akhir masalah. Pendekatan Riri (juga Andrea) dalam memandang kemiskinan di Indonesia jelaslah masih bisa disoal. Tapi, pandangan itu cocok untuk saat ini.

5. Akhirul Kalam.

Laskar Pelangi bukanlah film terbaik Riri Riza. (Film terbaik Riri, sampai saat ini, adalah Eliana, Eliana.) Tapi, sejauh ini, Laskar Pelangi adalah film Riri yang paling istimewa. Sebuah film yang membuat kita merasa enak, a feel good movie.

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org