Trophy Bufallo (Vanni Jamin)

Kerbau, Punk, Istri Ngidam
oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

Dari tiga film pendek yang diputar pada malam pembukaan Festival Film Pendek Konfiden 2007, Sabtu malam, 17 November 2007, dua adalah fiksi dengan warna kedaerahan kental dan satu adalah dokumenter bersifat sketsa dunia urban. Ketiganya berhasil meletupkan tawa renyah para penonton acara pembukaan.

Film fiksi pertama, Trophy Buffalo dari sutradara Vanni Jamin, mengambil setting di Padang dan bahkan sepenuhnya berbahasa Padang (dengan subtitel Inggris). Adegan dibuka dengan perjalanan orang-orang menuju sebuah lapangan. Fokus pada seorang ayah (bertampang mirip sekali Larry Guzman) dan seorang anak usia SD, Pandi, yang sedang membawa kerbau. Rupanya, ini adalah jelang sebuah tarung kerbau tahunan.

Established shot yang lancar: kita segera tahu, para tokoh utama film ini. Pencahayaan terang, walau tak istimewa tapi cukuplah rapi. Dan, hanya beberapa detik film dibuka, tiba-tiba kamera ‘melayang’ ke atas, dari shot punggung-punggung orang menuju suatu tempat langsung mengambil pandangan dari atas pohon untuk menampakkan sebuah lapangan ramai nun di depan sana. Wah, saya pikir, film ini jelas punya semangat “profesional” dan bukan “gerilya”.

Semangat ini terasa terus, sepanjang film berdurasi 18:22 menit itu. Pandi yang tampak segan ke pertandingan itu, mengkhawatirkan si Borgol, kerbau ayahnya. Pandi melihat lawan si Borgol, dan pemiliknya: seorang ayah, dan seorang anak sebaya Pandi, si Ida yang manis. Pemeran ayah Ida sungguh menarik: wajahnya mampu merangkum rentang emosi yang luas, bahkan tanpa harus ia berkata apa-apa. Tapi, sayangnya, ia bukan pemeran utama film ini.

Dengan lancar, film ini membangun plot. Editing juga terasa cerkas. Bukan hanya Pandi, tapi kakek Pandi (yang dengan trick penyuntingan sederhana, bisa tampak sakti karena bisa hilang dan muncul di luar kontinuitas ruang-waktu “rasional”) pun keberatan. Sang kakek berpesan, ikuti kata hatimu, Pandi. Masalahnya: ayah Pandi, yang 9 tahun berturut-turut selalu menang atas keluarga Ida dalam tarung kerbau itu, merasa bahwa inilah jalan satu-satunya menjaga kehormatan keluarga. Pandi, mengikuti kata hatinya: mengajak Ida mengakali agar tak ada lagi darah (kerbau) yang tumpah. Cerita yang manis, dan berhasil disampaikan dengan manis.

Lebih manis, bahkan gombal, adalah karya Eddie Cahyono, Jalan Sepanjang Kenangan. Ketika beberapa kali sisipan dua tokoh utama film ini, Slamet dan Susi, berbicara kepada kamera di atas becak, mengungkapkan pikiran mereka seiring perkembangan cerita, Arief Ash Shiddiq (redaktur Visual Art) nyeletuk pada saya: “Wah, Harry Met Sally banget, ya.” Ini pujian. Sekaligus sebuah gambaran yang tepat, apa aspirasi film berdurasi 30 menit ini. Tak lain, film ini ingin menjadi komedi romantik ala Yogya.

Eddie terhitung sutradara muda yang sudah matang di film pendek. Ia adalah bagian dari komunitas Fourcolors Film, yang kini termasuk papan atas dalam ranah film pendek kita saat ini. Ciri mereka: perhatian penuh pada capaian teknis cerita, mau pun teknis pengambilan gambar dan fotografi. Seperti mereka ungkapkan pada beberapa forum diskusi, mereka ingin membuat film yang “enak ditonton”. Capaian teknis yang jadi obsesi mereka itu dikerahkan untuk mencapai ideal sebuah film yang “enak ditonton” tersebut.

Jalan Sepanjang Kenangan tersaji sebagai komedi romantik yang asyik. Sejak adegan pembukaan, yang sebetulnya “adegan ranjang”, suasana sudah kocak. Barangkali tampang si Slamet yang ndeso tapi juga dead pan (lempang), barangkali kekenesan Susi yang berlebihan tapi terasa tulus, dialog sederhana yang jitu terasa sampai dengan tepat, menohok syaraf lucu di benak penonton. Slamet diperankan oleh Adi Marsono (yang juga menyanyikan lagu-lagu keroncong-dangdut yang jadi soundtrack film ini; Susi diperankan Kotty Kityakara. Dari scene awal, terasa sudah, kedua pemeran ini tepat belaka casting mereka, dan ada kimia yang baik di antara mereka. Mereka hanya agak tak meyakinkan di adegan mengharukan pada akhir cerita.

Begitulah, cerita bergulir. Slamet yang dulu tukang becak dan kini PNS (Pegawai Negeri Sipil), seharian harus memenuhi kerewelan Susi yang selalu memakai alasan sedang ngidam. Ini jelas Indonesiawi sekali –karena ngidam itu tak ada dalam literatur ilmiah, tapi hanya ada dalam ilmu rumah tangga Nusantara. Susi ngidam berjalan-jalan keliling Yogya (dan membuka peluang film ini jadi film resmi Pemda Yogya yang menarik sekali) dan harus naik becak yang dikayuh Slamet dengan pakaian PNS-nya. Seharian, Slamet harus ngopeni (mengurusi) kerewelan Susi.

Dari premis sederhana ini, berkembang sebuah upaya merenungi, dengan humor, pasang dan surut hubungan suami-istri. Dari pertanyaan awal yang rupanya tak akan hilang sampai bertahun-tahun pernikahan, “mengapa dia memilih saya?” (“Mengapa Susi memilih saya daripada si superviser es teler di mal itu?”); atau, “apakah dia membohongiku? Mengapa?”; sampai pertanyaan genting, “mengapa dia kini berubah?” dan “apakah kita sanggup bertahan?”

Dipandang dari kacamata feminisme atau kepekaan gender, film ini tampak terlalu doyong pada sudut pandang lelaki. Bisa jadi, bias gender, apa boleh buat, belum dapat diatasi sungguh-sungguh dalam kebanyakan film kita. Jalan Sepanjang Kenangan masih memandang perempuan sebagai pihak yang harus di-emong, di-among, dihadapi dengan sabar karena merepotkan. Apalagi, toh, itu semua demi si jabang bayi. Perempuan adalah istri yang diasuh, dan adalah ibu yang harus dimuliakan.

Tapi ini sekadar komedi-romantik. Tanpa hendak mengabaikan masalah bias gender itu, saya pikir kita tak bisa melupakan bahwa memang poin film ini tak lain dari hendak mengajak tertawa. Eddie tampak telah menguasai berbagai siasat naratif dan siap untuk tujuan itu. Sisipan monolog, pembabakan cerita jadi empat bagian dengan judul-judul menggelitik, latar nyanyian yang memberi aksen kelucuan, dialog-dialog yang bernas, lokal, dan sesekali sketsa sosial yang aktual.

Dalam sebuah adegan, Slamet ragu masuk ke mal yang dulunya jadi tempat pacaran mereka. Lalu, shot Slamet dan Susi duduk di becak yang menghadap mal itu, bengong karena seperti kata Slamet, “wah, kalau diperhatikan, mal ini ternyata besar sekali, ya.” Sebagaimana seharusnya sebuah komedi-romantik, sketsa itu tiba-tiba membelok pada pertengkaran domestik tentang superviser es teler dan, akhirnya, apa makna mereka menikah.

Tak pelak, ini film hiburan. Seperti juga Trophy Buffalo yang manis itu. Dan itulah mengapa saya merasa ada sesuatu yang patut disayangkan: tak ada satu pun produser film hiburan ternama yang datang ke acara ini. Kedua film ini mestinya berada dalam sphere film hiburan mainstream (arus utama). Keragaman tema yang sesungguhnya bisa sangat menarik, siasat naratif aneka rupa yang masih bisa digali terus, hingga penggarapan teknis dalam skenario, pengadeganan, dan seni pemeranan seperti yang ditampakkan oleh Trophy Buffalo dan Jalan Sepanjang Kenangan, bisa memberi variasi menyegarkan buat film arus utama kita. Pembuat film pendek macam Vanni dan Eddie perlu diberi peluang untuk melanjutkan fase kreatif mereka di aras film panjang arus utama, sebelum mereka membusuk dalam dunia film pendek.

Seandainya para konglomerat film hiburan kita melihat bahwa bahkan film dokumenter berambisi seni macam Anarchist Cookbook for Beginners karya Dimas Jayasrana pun bisa memancing tawa lepas yang gemuruh. Tentu saja dokumenter bergaya verité ini berambisi seni. Dari judul yang agak terlalu mengintimidasi itu saja, ambisi ini sudah tegas. Dan dengan sedikit menyelami, terbaca pula subteks utama film: sebuah mosaik kehidupan urban –dan pluralisme (bahwa “Punk juga manusia”).

Film ini dimulai dengan asyik. Seseorang membuka “mata” sebuah kamera digital dalam KRL Bogor-Jakarta. Suara-suara tumpang tindih, sesekali ada suara orang mengamen (dan, bersama suara ngamen lain nantinya, dicatat sebagai latar musik oleh “anonimus”).“Mata” kamera itu jelalatan dalam gerbong. Sepertinya, niat awal “mata” kamera itu dibuka hanyalah iseng yang tak berlebih, karena jelajatan kamera itu agaknya masih sebatas dalam tas dan tak terlalu leluasa menyapukan pandangan ke dalam seluruh gerbong.

Tiba-tiba, di tengah tumpang tindih suara itu, ada suara off screen yang menegur. Nadanya tajam, suara lelaki, dan suara itu bertanya: lu lagi ngapain? Pertanyaan yang mendesak, dan ada suara off screen juga, menjawab bahwa ia sedang “mengambil suara” untuk digunakan kemudian. Lalu, pertanyaan-pertanyaan seperti mengancam itu berubah menjadi kesepakatan untuk merekam si empunya suara. Dan kamera pun menatapnya: dua orang pemuda Punk, dengan dandanan Punk dan gaya bicara Punk.

Terjadilah percakapan setengah candid dengan salah satu pemuda Punk itu, Mario, dengan sesekali temannya yang lebih banyak mesem menimpali. “Gue Rio dari Shaolin Temple!” Melihat gaya mohawk bertengger di kepala Rio, jawaban itu tentu terasa lucu. Tapi rupanya Shaolin Temple adalah nama band-nya. Dan memang, dalam Punk, sebermula adalah musik. Rio meminta direkam pendapatnya, “gue cuma mau bilang, nih...musik pop itu ...anjing! Tahu nggak?”

Lalu, Rio dari Shaolin Temple bermonolog dengan patah-patah, penuh percaya diri sekaligus sedikit canggung (dua kali, Rio merasa tak puas dengan wawancaranya, dan meminta, “eh, edit...edit bagian itu....!”), tentang musik, cinta, dan negara. “Kalau gue jadi presiden nih...gue akan ...akan...bikin pabrik tahu!”

Dengan segala ke-sangar-an itu, toh Rio masih memanggil presiden atau pejabat tinggi dengan sapaan “pak” ketika diminta memberi pesan pada para petinggi negara ini. Pak, begitu kurang lebih pesan Rio, gue cuma mau mengingatkan ...masih banyak orang miskin di negara kita ini, Pak! Kalau kita membaca ulasan memikat dari Profesor Saya Siraishi dalam Pahlawan Belia (terbitan KPG), tampak bahwa “bapak” adalah sebuah konstruksi ideologi yang diciptakan penguasa untuk mengukuhkan hirarki kekuasaan secara kultural dalam masyarakat Orde Baru. Sungguh mengharukan, melihat sang Punk KRL Bogor-Jakarta ini, dalam segala tampilan pemberontaknya, masih menggunakan kata “Pak” untuk menyapa pejabat. Atau, mungkin, ini adalah kesadaran parodi dari Rio?

Entahlah, kita tak akan pernah tahu. Film ini memang memilih menjaga jarak dari Rio. Walau kameranya nyaris selalu dengan intim menatap secara close up wajah Rio, tapi kamera tak ingin tahu lebih dari yang ia dapatkan kebetulan dalam gerbong itu. Saya sejak awal memang bertanya-tanya, apakah si pemegang kamera akan turun sesuai tujuan atau meneruskan perjalanan kemana pun Rio pergi?

Kamera (yang, dalam keterangan film, ternyata dipegang oleh Dimas sendiri) ternyata memilih turun di stasiun Cikini, membiarkan Rio dan kawannya melanjutkan perjalanan ke entah stasiun mana. Gejala tak ingin mendalami, membatasi hanya pada temuan yang ada saja, pernah saya lihat pula dalam beberapa karya dokumenter bertema urban dari Forum Lenteng pada 2006 lalu. Saya bertanya soal ini, dan jawaban teman-teman Forum Lenteng ketika itu, kami tak ingin membuat film dokumenter “bergaya National Geographic”. Walau jawaban ini tak memuaskan, saya jadi paham betapa tegasnya pilihan untuk tak mau mendalami objek pengamatan ini. Dengan kata lain, ini adalah pilihan estetis. Di baliknya, mungkin ada sebuah wacana dan diskusi panjang (mungkin juga tidak).

Yang jelas, kamera/Dimas merasa cukup dengan Rio ketika sang kamera harus turun seperti rencana semula. Memang, temuan di perjalanan itu adalah sebuah keberuntungan. Tapi cukuplah. Ah, kapankah sebuah laku seni dianggap selesai dan purna? Ini pertanyaan yang menghantui Goenawan Mohamad ketika ia merancang komposisi pertunjukan tari dan musik dari syair-syairnya, bersama musisi avant garde Toni Prabowo. Kapankah sebuah objek dirasa cukup, selesai, dalam sebuah dokumenter? Bagaimana menetapkan kecukupan itu?

Kamera di stasiun Cikini mengambil waktu sejenak melihat kereta berjalan lagi, membawa Rio pergi entah ke mana. Barangkali untuk selamanya tak akan ada lagi pertemuan dengan Rio (dan temannya). Dan Rio, yang tumbuh jadi karakter lucu-menggemaskan selama 18 menit waktu nyaris real time dokumenter ini, dengan serius (dan karenanya jadi lucu) memberi tanda cium jarak jauh dari pintu kereta. Penonton tertawa. Festival telah dimulai.

Selamat berfestival!***

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org