
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Kawin Kontrak: Film ini amoral. Saya tidak sedang memberi penghakiman moral, tapi semata menggambarkan keadaan. Kawin Kontrak, karya Ody C. Harahap (Bangsal 13, Selamanya) produksi MVP Pictures ini memang, sengaja atau tidak, menciptakan sebuah dunia dengan moral vacuum atau kekosongan moral. Film ini terlihat sangat ingin mengadaptasi American Pie, dengan latar tempat di sebuah desa di kawasan Puncak, Jawa Barat. American Pie memang sangat eksplisit. Tapi jebulnya, komedi seks yang sangat populer di Amerika itu toh menyimpan kehangatan moralistik yang menarik. Tak seperti film ini. Kemungkinan besar, ini tak disengaja. Kekosongan moral dalam Kawin Kontrak bukan karena memang ditiadakan atau dihancurkan, seperti misalnya dalam film-film John Waters (Pink Flamingo, atau Cecil B. DeMented). Tampak ada upaya membingkai komedi seks ini dengan semacam moral. Premis dasar cerita ini adalah, tiga orang lulusan SMU yang terobsesi pada seks ingin menyalurkan keinginan mereka tanpa melanggar aturan agama (Islam) yang melarang seks di luar nikah. Solusinya? Gampang, kata film ini. Kawin kontrak saja. Apalagi, kawin kontrak sudah jadi industri di Puncak, Bogor, sana. Tapi ini secara tak sengaja –mungkin karena para pembuat film ini agak abai terhadap persoalan hukum Islam– premis ini justru menihilkan bingkai moral itu. Lembaga pernikahan direduksi menjadi lembaga senggama. Lebih dari itu, “alasan moral” ini hanya jadi properti, jadi alasan (mengada-ada) agar film ini ada, agar komedi seks itu terjadi. Kenapa “alasan” ini terasa mengada-ada? Karena alasan ini dihadirkan nyaris tanpa problemasi. Satu-satunya problem dari industri “kawin kontrak” ini sekadar bahwa tak selamanya lembaga kawin kontrak memberikan penyaluran seks yang dihasratkan. Gampangnya, tak selamanya kawin kontrak memuaskan secara seksual. Oh, tentu ada “pelajaran moral” juga ketika ternyata si Tuan Arab yang hendak mengawini Isa (Dinda Kanyadewi) adalah seorang Arab palsu (aslinya, orang Tanah Abang), penjahat (ia menjual istri-istri yang ia kawini ke negeri-negeri Arab) –dan selayaknya film pop bin pop, maka penjahat harus kalah dan jagoan harus menang. Oke, itu semacam moral juga. Tapi dalam konteks kawin kontrak, “moralitas” ini sama sekali tak menyentuh atau menyalahkan lembaga itu. Malah, ketika di akhir cerita “sang jagoan” menemukan cintanya, seolah film ini berkata: mungkin saja menemukan cinta sejati dalam kawin kontrak. Betul, Rama (Dimas Aditya –pemain yang mestinya jadi bintang dengan on screen personality yang kuat, dan agak tersia-sia di film ini) dan Isa agaknya mengidealkan kawin “betulan” seperti Pak Kepala Desa (Unang –menunjukkan komedian matang di film ini) dan istrinya (Mieke Amalia –pemain yang berbakat untuk bermain watak yang, juga, tersia-sia dalam film ini). Oke, tak apa jika memang sikap yang dipilih adalah demikian. Tapi moral-moral simplistik yang serbatabrakan itu mengakibatkan tak ada satu pun nilai moral yang bisa tegas dipegang dalam film ini. Sebuah moral vacuum yang tak disengaja, tanpa perhitungan dan penalaran mendalam. Sebuah pendangkalan. Tapi, film ini punya sisi amoral lain yang, menurut saya, lebih serius. Terus terang, hati ini serasa teriris-iris ketika melihat betapa dunia desa didesak ke belakang sekadar jadi latar bagi orang-orang kota melakukan permainan mereka. Ah, di sini saya jadi melakukan penghakiman moral terhadap film ini. Apa boleh buat. Film ini penuh stereotipe tentang “desa” dan “orang desa”. Stereotipe yang dipelihara untuk melayani kebutuhan hiburan penonton bioskop dan DVD. Pemandangan indah desa ala mooi indie (Indonesia permai, sebuah citra visual kaum penjajah londo tentang Indonesia), selalu dihadirkan dengan soundtrack mendayu, dan biasanya mengawali adegan romantis Rama dan Isa. Para petani, penambak ikan lele, hanya jadi properti untuk latar bagi cerita. Mereka tak diberi suara. Yang diberi suara hanyalah mereka yang telah dikartunkan: Kepala Desa dan istri, Kang Sono (Lukman Sardi) sang makelar, serta janda-janda seksi yang jadi komoditi desa Suka Sararean (dari bahasa Sunda, artinya: “suka tidur-tiduran”). Kawin kontrak tidak dihadirkan sebagai sebuah masalah sosial, tapi jadi premis sangat diperlukan untuk komedi seks ini. Selain Isa (itu pun tidak meyakinkan) yang menegaskan ada masalah ekonomi yang melatari kesediaannya kawin kontrak, nyaris seluruh penduduk desa digambarkan memang punya kecenderungan mengumbar seks. Desa Suka Sararean ini sungguh istimewa, karena cukup kaya referensi dalam hal seks (ada lesbian, ada janda sekal yang terbiasa dengan permainan seks seperti di film-film blue, ada Mak Epot dan istri kepala desa yang tampak leluasa melakukan oral seks). Tapi ini kan komedi? Ini sekadar “hiburan”, apa mesti dipandang serius begitu? Ya, tapi ini komedi at the expand of dunia desa. Ini komedi yang menertawakan orang-orang desa. Ya, memang dua tokoh pendamping yang datang dari kota –Dika (Herichan) dan Jodi (Ricky Harun)– juga ditertawakan? Ya, tapi mereka juga digambarkan sebagai “korban” orang desa itu. Dua perempuan yang mereka kawini menipu atau mengerjai mereka. Stereotipe macam begini, pengabaian kenyataan bahwa wong deso adalah manusia juga, sekaligus penghindaran dari pembahasan isu sosial seputar kawin kontrak, buat saya, adalah sebuah dosa tersendiri. Tapi, Anda mungkin bertanya: bagaimana nilai film itu sendiri, di luar segala aspek di luar film tersebut? Pilihan yang ada, saya kira, adalah menilai capaian film ini sebagai komedi seks. Penilaian saya: film ini tak terlalu lucu.*** Kawin Kontrak |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |