The Elite Squad (Tropa de Elite)

Mata Turistik Sutradara, dan Lain-lain
oleh Eric Sasono, Ekky Imanjaya, Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

Heaven in Insanity

Sutradara: Dria Soetomo, 2008

SUBJEK INI MENARIK, kata sutradara Dria Soetomo, dengan mata berbinar, ketika ia ditanya kenapa membuat film ini.

Katakanlah memang menarik, melihat manusia dirantai atau tidur di samping kotoran mereka sendiri yang dikerubungi ribuan lalat; atau melihat orang bertelanjang bulat dimandikan dengan air semprotan selang. Tapi, apakah Dria juga peduli pada manusia di tempat penampungan orang-orang bermasalah mental ini?

Ia sempat mengikuti Watmo ditangkap di rumahnya, dirantai, dan dimasukkan ke dalam tempat yang mirip kandang sapi itu. Namun ia tak mengabarkan bagaimana Watmo sesudah keluar lagi dari penampungan itu. Seakan semua selesai dalam sebuah perjalanan pendek yang supefisial ini, sekalipun kita tahu hidup selalu punya kompleksitas yang lebih rumit daripada yang digambarkan Dria, seorang jurnalis TV.

Presentasi Dria berhasil membawa humor di sana sini, tapi pendekatannya kelewat turistik –kamera dibawa untuk sebuah pengalaman baru penonton– ketimbang mengajak penonton mengikuti kehidupan yang punya denyutnya sendiri. Padahal, Dria punya kameraman yang luar biasa sensitif dalam menangkap kisah.

Gerak kamera bisa begitu mengejutkan dan tampak berempati. Struktur film ini juga sangat rapi, karena editing yang patuh pada ritme. Persoalan film dokumenter berdurasi 25 menit ini adalah sikap Dria yang masih seperti kebanyakan jurnalis TV: datang, rekam, dan pergi. Mirip seperti anak-anak SMU Al-Azhar yang sangat jitu ditangkapnya mengunjungi penampungan itu seakan sedang mengunjungi kebun binatang.

Jika Dria ingin berhasil lebih jauh sebagai pembuat film, ia harus mulai dari kepedulian, bukan ketertarikan, apalagi jika sekadar penugasan. (Eric Sasono)

Wonderful Town

Sutradara: Aditya Assarat

Banyak orang bilang, dunia begitu indah di mata orang yang sedang jatuh cinta. Hal itu berlaku juga di Takua Pa, kota kecil yang sedang pemulihan akibat tsunami. Seorang arsitek dari Bangkok hadir untuk membangun kembali wilayah itu dan saling jatuh cinta dengan gadis lokal yang menjaga hotel tempat ia menginap. Masalahnya, ia berhadapan dengan masyarakat yang frustrasi dan belum pulih dari trauma tsunami, dan kebanyakan pengangguran. Gangguan demi gangguan terjadi, dan dituturkan dengan birama yang pelan namun syahdu. Visual, seperti jemuran tertiup angin bahkan lanskap sekali pun, berbicara kuat. Begitu puitis dan kontemplatif. Ini adalah, memakai istilah Yasmin Ahmad, a feeling movie. Jadi, lebih asyik jika film yang cukup personal dan minim dialog ini ditonton dengan rasa, bukan dengan dengan pikiran. (Ekky IJ)

The Elite Squad (Tropa de Elite)

Sutradara: Jose Padilha

Jangan pandang enteng sutradara debutan dan/atau dokumenter. Jose Padilha, yang baru membesut satu dokumenter, membuat film fitur pertamanya dan langsung mendapatkan Beruang Emas di Berlinale 2008, serta 8 penghargaan lainnya, mengalahkan film sekelas There Will be Blood, Katyn (Andreza Wajda), Happy-Go Lucky, atau Song of Sparrows. Mungkin karena produsernya adalah Fernando Meirelles (City of God). Bercerita tentang kacaunya kota Rio de Janeiro pada 1997, yang dikuasai oleh bandar narkoba dan aparat korup. Sri Paus akan mengunjungi tempat itu, dan Kapten Nacimento harus membersihkan tempat-tempat yang akan dilaluinya dari benda haram itu. Intrik demi intrik dan pertempuran kopassus-gangster terjadi, sementara para karakternya juga punya masalah pribadi masing-masing. Intinya: Kopassus juga manusia. Pendekatan realis membuat penonton menjelajahi kawasan perumahan kumuh bertingkat (ingat Incredible Hulk?) hingga praktik jual beli narkotika dan perjanjian rahasia polisi dengan para kriminal. (EIJ)

The Convert

Sutradara: Panu Aree & Kong Rithdee

June dan Ake adalah sebuah kisah cinta, dan lebih. June adalah gadis budha yang beralih ke Islam karena akan menikah. June kenal Ake 4 hari. Ake mengenal telah June 4 tahun. Kalau sekadar menyimak omongan Ake, ini kisah cinta gombal. Hari gini, masih ada yang bungah karena cinta? Tapi lihatlah Ake, anak band di Bangkok yang mendadak sangat Islami, dan meyakini bahwa menikahi June adalah panggilan Tuhan. Lihat June, tertatih melafal syahadat. Mereka miskin, “bisnis” mereka mentok. Boleh jadi, banyak hal yang mereka jalani masih sumir dari segi fiqh dan teologi, atau dari segi akal sehat biasa. Tapi, ini adalah kisah keikhlasan. Sebuah dokumenter Thailand yang tak gemerlap sama sekali. Ketika June dan Ake sowan ke kedua keluarga besar, kok adat Thailand mirip Betawi, ya? Jadinya, keikhlasan mereka yang mengharukan itu terasa dekat dengan kita. (Hikmat Darmawan)

Teakleaves on The Temple

Sutradara: Garin Nugroho

Jika Anda suka Opera Jawa, Anda akan suka bahwa dokumenter terbaru Garin ini punya kebermainan yang lebih. Jika Anda tak suka Opera Jawa, Anda setidaknya akan mendapat kemewahan menyelami bagaimana komunitas kampung di lereng Merapi bercakap-cakap dengan Jazz kelas dunia. Garin menelusuri pertanyaan-pertanyaan tentang apakah seni, apakah hidup demi seni, dan apakah musik –jantung dari film ini. Lebih dari itu, Garin menekuri: bagaimanakah mendokumentasi penelusuran bunyi. Musik bukan sekadar bunyi, tapi bunyi yang tersusun. Penyusunan itu jelas mengan-dung ide tertentu. Itulah yang ditelusuri Garin. Dan ia berhasil. Film ini. lebih dari sekadar sebuah rutin merekam perjalanan kreatif para seniman di lereng Gunung Merapi bekerjasama dengan Trio Mazzola, Geisser, Jones yang penganut free jazz. Film ini adalah meditasi hubungan bunyi-ruang-kita. Dan kita pun berjumpa sebuah Indonesia yang kaya warna. Misalnya, si Ismanto, pematung gempal berkaos Superman, cengar-cengir bicara seni dan kehidupan. (HD)

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org