
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Happy-Go-Lucky Jiffest 10 2008
Where in The World is Osama bin Laden? Sutradara: Morgan Spurlock Morgan adalah penganut Michael Moore dalam dokumenter: sutradara adalah pembuat film, jadi tak apa jika ia mencipta peristiwa untuk dokumenternya. Maka film jadi pernyataan paling gamblang, propaganda, esai. Tapi, Morgan lebih rileks, lebih rendah hati dari Moore. Dengan cengiran-nya, Morgan memutuskan akan memburu Osama, demi anaknya yang akan lahir mendapat dunia yang aman. Tentu saja ini misi main-main. Tapi Morgan serius keliling dunia. Yang ia jumpai adalah sebuah dunia yang kaya: dunia Islam yang penuh manusia, dan Barat yang sedang kesulitan oleh prasangka-prasangka mereka sendiri. Dengan berbagai siasat visual yang lumayan kreatif, film dengan pesan serius ini sungguh jenaka. (HD) Worlds Apart (To Verdener) Sutradara: Niels Arden Oplev Bagaimana jika seorang remaja SMA nan lugu penganut madzhab agama radikal jatuh cinta dengan pemuda atheis? Tradisi Kristen-Barat punya Saksi Jehovah. Jemaat madzhab ini begitu kaku: haram tranfusi darah, haram memakai HP, dll. Termasuk haram berpacaran dengan non-jamaah. Hukuman akan diterapkan dengan keras bagi pendosa. Sara, si gadis, harus menghadapi pergumulan iman melawan perasaan dan realitas kota Denmark. Konflik demi konflik disuguhkan dengan tajam. Pantaslah film ini mewakili Denmark untuk film asing terbaik Academy Award 2009. Di Indonesia, fenomena serupa acap menyeruak, tapi apa boleh buat, kita cuma bisa membuat sekelas Mengaku Rasul: Sesat. (Ekky Imanjaya) Captain Abu Raed Sutradara: Amin Matalqa Abu Raed yang berjenggot putih ini bekerja sebagai janitor di bandara. Suatu hari ia pulang dengan memakai topi pilot, dan jadilah ia Kapten Abu Raed bagi anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya. Ia tak perlu waktu lama untuk jadi pusat perhatian anak-anak itu. Abu Raed yang kesepian dan anak-anak yang haus cerita adalah magnet yang saling tarik menarik dengan erat. Cerita Abu Raed ini ternyata tak bisa membuat seluruh anak itu keluar dari persoalan hidup mereka. Dalam film yang bisa saja dijadikan sebagai propaganda anti domestic-violence ini, sutradara Amin Matalqa membawa kisah Yordania modern. Posisi sentral laki-laki dan harga dirinya, kemiskinan dan alkohol, adalah paduan tepat bagi kisah yang bakal menjadi sebuah film drama klasik kontemporer ini. (Eric Sasono) Susuk Sutradara: Naieim Ghalkil & Amir Muhammad Suzanna bangkit lagi. Dengan kekuatan ilmu hitam, ia berkelebat, terbang memangsa manusia, memuaskan dahaganya. Darah muncrat, kepala terpotong, usus terburai, dan daging korbannya dimakan mentah-mentah dengan pisau dan garpu--seperti memakan beef steak. Ini agar ia tetap menjadi diva. Ini adalah Suzanna asal Malaysia (walau, kata Amir Muhammad, memang mengacu ke Suzanna kita itu), salah satu karakter utama Susuk. Efek spesial menonjol di sini. Tapi yang paling utama adalah cara bertutur yang sangat kuat dan menimbulkan dampak kejutan dahsyat di ujung kisah. Tak hanya bertujuan untuk menakuti semata, film ini juga memaparkan fenomena ritual perdukunan kuna Nusantara (mantranya berbahasa Jawa!) di kalangan selebriti, dan kekerasan dalam rumah tangga. (Ekky Imanjaya) Happy-Go-Lucky Sutradara: Mike Leigh Poppy (Sally Hawkis) adalah seorang yang humoris dan ingin memandang positif segala masalah hidup dan ingin menghibur banyak orang khususnya yang terlibat kesulitan. Namun bagi orang-orang di sekitarnya, ia terkesan menyebalkan karena ia menganggap enteng masalah dan meremehkan orang lain. Adegan yang sulit dilupakan adalah saat-saat ia belajar mengemudi privat bersama Scott (Eddie Marsan) Keduanya beradu akting dengan alami dan mengesankan. Saya tak bisa melupakan ajaran Scott yang membentak-bentakkan satu teori orisinalnya: “Enrahah!” Akting Sally Hawkins tidak hanya memukau penonton, tapi juga para juri di Festival Film Berlinale 2008, sehingga menobatkannya jadi aktris terbaik. Sekali lagi, Mike Leigh berhasil menyelami sifat-sifat manusia. “Enrahah!”(Ekky Imanjaya). |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |