
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Jelangkung 3: Yodi (Andrew Roxbrough) ditinggalkan di tepi jalan oleh dua sahabatnya, Patra (Reza Pahlevi) dan Kris (Mita Griselda). Ia bagai anak domba berteriak kepada kawanannya ‘ada srigala!’ dan ketika srigala benar-benar datang, tak satupun percaya padanya. Si anak domba itu ditinggalkan oleh kawanannya. Malang bagi Yodi. Srigala benar-benar datang kepadanya. Peristiwanya terjadi sesudah ia dan dua sahabatnya menonton film Jelangkung, film keluaran tahun 2001 yang disutradarai Jose Purnomo dan Rizal Mantovani. Yodi tak percaya takhyul. Ia keturunan bule dan memuja pikiran yang logis. Maka ia tak percaya bahwa deretan bangku kosong di bioskop adalah tumbal untuk film itu. Yodi pun memaksa duduk di deretan bangku yang kosong itu. Dan lalu ia bernasib sial. Berbeda dengan nasib Angga Dwimas Sasongko dan Ginatri S. Noer. Pada 2001, dua sahabat ini juga menonton film Jelangkung. Tujuh tahun kemudian mereka berkesempatan membuat sekuel salah satu film paling monumental dalam soal perolehan penonton dalam sejarah perfilman Indonesia itu. Ginatri menulis naskahnya dan Angga menyutradarai. Dan mereka memilih membuat film tentang Film Jelangkung yang mereka tonton itu. Maka Jelangkung 3 ini adalah sebuah dongeng tentang hubungan penonton film dengan filmnya. Baik cerita maupun subteks film ini sama-sama adalah soal hubungan penonton dengan filmnya. Sebetulnya ketika Ginatri dan Erwin Arnada (produser) membuat cerita dari legenda urban baru ini, mereka sudah mengambil risiko. Legenda urban yang dimaksud adalah bangku bioskop kosong pada saat pemutaran film horor yang dikosongkan untuk tumbal, atau untuk diduduki hantu yang disyuting. Mitos ini masih seumur jagung, dan lahir di lingkungan yang kecil: lingkungan penonton film horor, mungkin tepatnya lingkungan penonton Jelangkung pertama. Risiko sudah sangat besar dengan pilihan terhadap inside-mythos (atau inside-joke) ini. Nah, apakah dongeng dari para penonton film Jelangkung ini berhasil? Dengan syarat seketat tadi, mudah diduga: tak semua orang mau percaya mitos seperti ini. Namun bisa jadi mitos seperti ini masih laku untuk penonton film Jelangkung, termasuk pemunculan si anak kecil botak yang sama sekali tak menyeramkan bagi penonton yang belum menonton Jelangkung sebelumnya. Mungkin sutradara film ini benar-benar percaya pada film Jelangkung, sehingga ia bertaruh begini. Atau ia tak terlalu mengerti film horor. Angga Dwimas (film panjang pertamanya berjudul Foto, Kotak dan Jendela) tampak luput terhadap banyak hal. Pertama, ia tak menggali lebih jauh karakter Yodi yang sombong dan termakan paranoidnya sendiri. Padahal karakter ini bisa jadi kecohan yang sangat kuat di ujung film. Penjelasan dengan dialog tak cukup mengantar informasi karakter seperti itu. Lihatlah betapa membingungkan adegan ketika Yodi memutuskan untuk membanting jelangkung itu sesudah dapat petunjuk dari Tuan Rius (Jose Rizal Manua). Kedua, petunjuk yang selalu diberikan oleh Angga pada saat hantu bakal muncul. Alih-alih memberi atmosfer, ia malah menghilangkan aspek kejutan film itu. Film horor memang bukan semata-mata bermodal ngagetin penonton. Tapi ketika penonton diminta bersiap sebelum dikagetkan, tak ada poin lagi dalam mengagetkan mereka, bukan? Lagipula jangan lupa bahwa film horor yang seram justru adalah ketika ia berhasil menakut-nakuti pada saat paling tak terduga. Lihat saja miniseri TV It yang menjadi film horor sangat seram dengan menggunakan rumus ini. Bayangkan bahwa unsur seram dalam film It dibangun oleh tokoh badut di siang hari! Pujian patut diberikan pada penata musik. Pada bagian-bagian transisi antar adegan, musik yang mengiringi punya selera tinggi. Sayangnya, musik karya debutan Bagus Pratama ini sama sekali tak pas dengan cerita dan penceritaan kedodoran ini. Seharusnya musik ini dibuat untuk mengiringi cerita dengan kompleksitas karakter semisal film Talented Mr. Ripley. Sekalipun demikian, hasil kerja para anak muda berusia awal 20-an ini jauh dari memalukan. Keberanian produser untuk berinvestasi pada mereka patut dihargai. Sekalipun para pekerja kunci di film ini sudah mengerjakan film panjang sebelumnya, mereka jelas masih terhitung pemula dalam membuat film panjang untuk penonton luas macam begini. Jelangkung 3 seolah memberi pelajaran: para penonton yang kini sedang membuat film favorit mereka sendiri akan berkembang dan belajar banyak.
Jelangkung 3 |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |