Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) boleh saja membuat penonton terpingkal dan haru sekaligus. Film ini juga sah jika dipandang meneriakkan pesan lantang tentang realitas. Tapi, benarkah itu membuat Alangkah Lucunya kesepian tanpa teman dalam khazanah film Indonesia mutakhir?

Redaktur RumahFilm, Hikmat Darmawan menolak merayakan Alangkah sebagai sekadar sebuah episode lepas dari film Indonesia. Menurutnya, dibaca bersama Laskar Pelangi dan Jermal, film ini ternyata bisa menjelaskan sengkarut pikir bangsa ini dalam mencari jalan masa depan. Sementara Redaktur lain RumahFilm, Ifan Adriansyah Ismail, menggugatkan sesuatu yang disebutnya sebagai “secuplik suara yang terbenam” dalam Alangkah Lucunya lewat sebuah surat yang akrab dan manis.

» Alangkah Lucunya (Negeri Ini): Tanah Airku, Film Ini Tak Lari Meninggalkanmu - Hikmat Darmawan
» Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Secuplik Suara Terpendam - Ifan Adriansyah Ismail

Saia: Musik Kamar yang Berani
Film kedua Djenar Maesa Ayu akan dengan mudah dipahami sebagai film tentang seks. Memang, lebih dari 90% adegan dalam film itu adalah adegan seks dalam beberapa babak. Apalagi, Djenar memainkan sendiri secara total salah satu dari dua tokoh utama permainan seks di film ini. Maka, segeralah beberapa percakapan mencuat di antara para penonton film yang baru diputar untuk kalangan terbatas ini, seperti persoalan ketubuhan dan metafor voyeurism.

Redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, memandang film ini bukanlah “film tubuh”, melainkan “film kamera”. Menurutnya, Djenar tampak berhasil meluluhkan medium film, dan membuka banyak kemungkinan dengan kamera. Kemungkinan-kemungkinan yang tak baru, tapi terasa diabaikan oleh kebanyakan pembuat film Indonesia generasi kini.

Djenar juga berhasil menunjukkan sesuatu yang penting: keberanian untuk membuat alternatif. Dengan membuat filmnya tanpa dialog sedikit pun, Djenar tak kehilangan naratif. Banyak pilihan-pilihan estetis yang berani dalam film ini. Keberanian ini membuat Djenar seorang pembuat film yang tidak tipikal –bahkan jika kita segera mengenali Djenar, juga film ini, sebagai “anak zaman” yang lahir dari sebuah rahim kebudayaan tertentu di negeri ini.

Mata Rabun tapi Hati Celik: An Appreciation of Yasmin Ahmad’s Rabun
In memory of Yasmin Ahmad, Rumah Film republished this article by Hassan Abd. Muthalib, Malaysian filmmaker and animator, as he appreciated compassionately Yasmin’s first film, Rabun. Here, Mr. Muthalib recognized Yasmin’s ability to make a bold statement elegantly, thinly veiled below her seemingly innocent stories.

Politik dan Queen Bee:
Sekali Menyengat, Sesudah itu...?

Queen Bee - Ada celah yang tak terjembatani di antara hiruk pikuk perpolitikan Indonesia dengan hiruk pikuk pesta kaum mudanya. Tampaknya karena menyadari bahwa celah itu akan berakibat buruk dalam jangka panjang, film Queen Bee mencoba menjadi jembatan itu. Sayang Queen Bee masih terbata-bata dalam mencari pijakan. Tampak masih ada kebingungan, bagaimana seharusnya memikat anak muda untuk kembali peduli politik, sementara di sisi lain filmnya sendiri masih tergoda merayakan gaya hidup anak muda yang menjadi sasaran penontonnya. Anehnya, lengkap dengan terseret-seretnya alur cerita, yang membuat film jadi lambat dan tentu saja sangat tidak anak muda. Redaktur kami, Ifan Adriansyah Ismail, tidak merasakan sengatan sang Ratu Lebah. Jikapun memang sang lebah menyengat, semoga saja tidak seperti lebah sungguhan yang sekali menyengat, sesudah itu mati.

Generasi Biru:
Generasi Dalam Bingkai Keliru

Generasi Biru: - Slank adalah salah satu tanda generasi yang penting. Slank dan ”jemaah”-nya lahir dari sebuah keberhasilan deidologisasi dan depolitisasi oleh rezim Orde Baru. Mereka jadi suara moral, tapi bukan dari jenis suara yang sama dengan, misalnya, Munir, yang penuh perlawanan itu. Mereka juga berbeda dari Kantata Takwa. Sayang sekali, menurut redaktur kami, Eric Sasono, film Generasi Biru gagal menangkap apa yang membuat Slank penting. Sutradara Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dossy Omar (segmen dokumenter) terjebak dalam sebuah ”kekacauan demi kekacauan itu sendiri.” Keterjebakan itu, bagi Eric, lahir dari sebuah salah baca terhadap Slank. Dan kesalahan membaca itu, mengundang hadirnya catatan lain. Ini genting, jika kita setuju Eric, karena membaca Slank adalah membaca sebuah generasi.

Posisi Ideologis dan Representasi:
Perempuan Berkalung Sorban, Membela atau Merusak Nama Islam?

Perempuan Berkalung Sorban - Film ini telah menuai protres! Sebagian menggugat, sebagian membela, berkenaan dengan representasi Islam yang provokatif dalam film itu. Redaktur RumahFilm, Ekky Imanjaya, mencoba membedah film ini dari dasar, lewat penelusuran status ideologis dan metode representasi yang dilakukan film ini (dan filmmaker-nya).


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org