source: Alangkah's FB account

Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Secuplik Suara Terpendam
oleh Ifan Adriansyah Ismail
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

[kepada yang Pipit hormati, Bang Samsul, di pos kamling]

Bang Samsul yang baik, Pipit pengen banget nanya: sebetulnya sesalah apa sih tindakan kita?

Sebelumnya sori, jangan kaget ya kalau Pipit kirim-kirim surat. Bukan apa-apa, daripada terus-terusan ngirim kuis tapi nggak pernah menang, mendingan Pipit kirim surat curhatan ini ke Bang Samsul. Pasti lebih bermanfaat.

Bang, Pipit ingin sekali menengok ulang kisah kita. Ya, yang belakangan diangkat ke film oleh Bang Haji Deddy Mizwar dengan judul Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (Pipit singkat jadi Alangkah saja). Rasanya masih penasaran.

Jelas, Pipit senang melihat akhirnya hadir film yang memiliki pernyataan kuat dan jujur tentang realita pahit negeri ini. Coba, selain Alangkah mana ada film lain yang mau mengangkat kisah dan karakter semacam Bang Muluk (Reza Rahadian) yang mau susah payah mengelola uang hasil pendapatan copet jalanan? Mana lagi ada film yang akhirnya mengakui, seperti kata seorang teman Pipit, bahwa “lawan dari kemiskinan itu adalah keadilan, bukan kemakmuran pribadi”? Lucu aja sih, film-film yang mengajarkan pencapaian pribadi dengan embel-embel materi itu jadi terasa cupu banget, apalagi ketika mereka semua seolah melupakan aspek ketidakadilan dan kezaliman yang memiskinkan negeri ini. Film ini berbeda. Pipit bangga.

Memang, seperti halnya kita berdua, (meski sarjana) Bang Muluk 'kan pengangguran, sehingga dorongan awal dia membantu anak jalanan itu siapa tahu juga nggak mulia-mulia amat. Tapi tidak masalah. Pipit yakin, seiring waktu, karakter kita bertiga akan berkembang dalam proyek pengentasan kemiskinan jangka panjang ini. Pipit senang ketika Bang Muluk digambarkan mengajak kita berdua ikut mendidik anak-anak itu. Bang Samsul (di Alangkah diperankan Asrul Dahlan) mengajar mereka pendidikan dasar, dan Pipit (Ratu Tika Bravani) mengajar agama. Berkat ajakan Bang Muluk, Pipit tidak lagi menghabiskan waktu mengirim kuis-kuis tidak berguna, dan Bang Samsul tidak lagi menganggur main gaple di pos kamling. Belum lagi kemunculan Bang Jarot (Tio Pakusadewo) yang jadi juragan para copet itu Pipit lihat karakternya digambarkan menarik: penjahat, tapi ternyata nggak sejahat itu juga, dan ternyata diam-diam menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik. Jadi penonton masih bisa simpati.

Pipit sebenarnya sempat heran, dengan tema seserius ini, kok Bang Deddy Mizwar mengarahkannya ke komedi ya? Tapi nggak papa sih. Lagi pula Bang Musfar Yasin yang menulis skenarionya jago. Beliau selalu bisa saja membuat tema serius jadi terkesan lepas dan tetap cerdas.

Yang agak berat Pipit relakan adalah verbalisme berlebihan film ini. Betapa cerewetnya film ini Pipit rasakan di beberapa tempat. Sepertinya istilah “koruptor” harus terus-terusan diucapkan dengan tegas. Di saat skenario film sedang berjalan segar, adaaa saja momen-momen yang bernuansa petuah dan mengutuk menyelinap masuk. Pipit sempat berpikir jahat, ucapkan saja ‘koruptor’ 1000 kali! Tapi, astaghfirullah, masa Pipit mau mengeluh terhadap petuah Bang Deddy Mizwar? Kan beliau yang memerankan Pak Makbul ayahnya Bang Muluk, bersama-sama Slamet Rahardjo yang jadi ayahnya Pipit dan Jaja Miharja sebagai calon mertua Bang Muluk. Pipit lihat, dalam Alangkah tiga tokoh tua ini adalah gambaran kesederhanaan yang lurus dan jujur, mungkin nurani terbersih di film ini, dengan pengetahuan agama yang lurus.

Bicara soal agama, tadinya Pipit sempat bertanya-tanya, apa didikan agama yang ala kadarnya dari Pipit bisa serta merta membuat anak-anak yang sudah nyaman jalan hidupnya itu –meskipun salah– jadi lurus? Apa didikan Bang Samsul serta merta membuat mereka jadi baik? Apa rencana Bang Muluk yang ingin membelokkan profesi mereka menjadi pengasong tidak bermasalah dengan anak-anak itu, yang pendapatannya pasti mendadak turun drastis? Memang kelak terbukti, tindakan kita yang agak naif ini jadinya bermasalah bukan di filmnya, tapi pada upaya kita sendiri yang maunya mengentaskan mereka itu.

Apa lagi konflik di filmnya meruncing dengan datangnya trio haji tua itu ke tempat kerja kita. Jelaslah mereka tidak terima dengan cara kita mendidik anak-anak itu yang mau tidak mau harus berjalan justru dengan uang hasil copet itu. Awalnya. Di sinilah problem etisnya dimulai. Di satu sisi ada nilai yang lurus: barang yang diperoleh dengan haram tidak bisa diterima. Titik. Di sisi lain, ini sebuah keapabolehbuatan. Semacam necessary evil yang harus kami tempuh untuk mengentaskan para pencopet. Jadi, Bang Samsul, nanti-nantinya juga tidak, kan? Bukankah Allah maha memaklumi? Kalau tidak begini, lalu bagaimana?

Bang Samsul yang baik, di sinilah Pipit mulai merasa tidak nyaman, mungkin persis seperti yang Bang Samsul rasakan.

Pada momen ketiga haji itu tahu duduk perkara, Pipit merasa bahwa film sudah berjalan cukup lama, dan saat itu berpikir, “nah ini dia momen sedihnya Alangkah. Sepertinya baru setengah jalan nih. Bagaimana kita keluar dari masalah ini?” Tapi yang lalu bikin Pipit kaget, kok lantas ceritanya tuntas?

Pipit sebetulnya tidak punya masalah dengan akhir kisah yang tidak bahagia. Alangkah berhak mengakhiri kisahnya dengan catatan getir tentang sulitnya menerapkan kebajikan di tengah realitas yang kejam. Malah Pipit pun masih rela jika Alangkah sekalian berbelok menjadi kisah fantastis-utopis-klise-kodian ala Hollywood (misalnya dari “momen sedih” mereka menemukan jalan keluar baru, dan anak-anak jalanan itu punya masa depan cerah semua). Atau di ujung lain, Pipit juga sama relanya jika upaya kita bertiga berakhir tragis, mungkin karena digerebek, ditangkap semua, tewas atau apalah. (malah Pipit dengar, pernah ada rencana Musfar Yasin membuat Glen –pentolan “terganas” di kelompok copet itu– berniat membunuh Jarot? Apa benar?)

Nyatanya, dalam Alangkah, Pipit dan Muluk digambarkan justru bungkam clep klakep ketika para orang tua menyatakan kekecewaannya. Pipit sadar, di titik ini terjadi perbenturan nilai etis yang tidak mudah diselesaikan. Ayah Pipit bersama Pak Makbul tidak bisa disalahkan, karena mereka hidup dalam nilai kejujurannya yang sederhana, tidak terbiasa dengan pertarungan etis, dan karena itu wajar mereka kecewa berat. Di sisi lain, kita bertiga beroperasi dalam koridor realitas yang menyusahkan. Pipit merasa dua pandangan ini memang bagaikan minyak dan air, dan merasa Alangkah hebat karena bisa menyajikan problem sepelik ini.

Hanya saja, Bang Samsul, Pipit tidak urung merasa, pilihan verbalisme dalam Alangkah sepertinya menyebabkan timbangan etisnya mendadak berat sebelah. Pipit jadi ragu untuk memaafkan verbalisme Alangkah. Dengan banjir petuah, tiba-tiba perbenturan dua pandangan etis itu seakan-akan mudah diselesaikan. Tiba-tiba kita yang anak-anak muda ini bukan lagi lawan yang seimbang (secara etis) bagi orang-orang tua itu. Alangkah tidak menggambarkan kita sebagai anak-anak yang merasa bersalah karena membuat orang tua sedih, meskipun ada perbedaan nilai. Alangkah seperti menggambarkan kita menjadi anak-anak yang merasa bersalah karena memang berada di posisi yang salah. Dengan vonis bahwa uang kita adalah uang haram, terasa ada penghakiman yang bagaikan palu godam, begitu saja menyudahi kisah.

Gara-gara itu, Pipit agak sulit menerima bahwa kekecewaan para haji dalam Alangkah itu sebagai penggambaran realita. Baiklah, baiklah. Realitanya mungkin begitu. Hak Pipit untuk memprotesnya. Tapi apakah penghakiman itu diam-diam menjadi sikap film ini? Pipit bisa mengerti kalau itu sikap Pak Makbul. Tapi masa itu sih sikap Bang Deddy? Lebih-lebih, adalah ironi karena palu godam itu datang justru ketika upaya kita bertiga di film sudah berada pada titik balik, ketika anak-anak jalanan itu mulai bisa bekerja jujur.

Sebetulnya dalam kelokan kisah yang lebih netral, kekecewaan para haji tua yang lurus dan sederhana itu bisa dipahami. Tapi, cobalah tengok adegan ketika mereka meratap sedih di surau menyesali barang haram yang mereka terima. Pipit mendengar sendiri ada penonton di bioskop tertawa tertahan melihat adegan ini. Tertawa? Kurang ajar sekali! Mungkin memang ada masalah serius dengan sikap orang jika adegan bertobat ditertawakan. Tetapi, bukankah dalam Alangkah kedua haji yang jujur itu diposisikan –entah disadari atau tidak– menjadi antagonis pembawa palu godam di tengah pertarungan nilai? Pilihan ini yang sangat mengganggu Pipit. Pipit kasihan kepada posisi para haji itu dan sempat mengomel menyesali pilihan para kreatornya.

Bang Samsul, apa Pipit berlebihan jika berharap bahwa dari titik inilah seharusnya perjuangan dimulai, dan bukannya menyerah? Maka itu Bang, Pipit salut sekali kepada Abang yang masih terus menggugat dan bertarung dalam arena pertarungan nilai itu. Protes Pipit kepada Ayah (“Pipit sudah besar, kalau dosa tanggung sendiri...”) tidak ada apa-apanya, meski masih bisa diperhitungkan sebagai pertarungan etika yang tersisa. Namun apalah daya, jika dalam Alangkah sikap kita –yang sebenarnya juga sikap film ini– ironisnya terpaksa takluk oleh sikap menghakimi yang lebih kuat.

Pipit mengerti bahwa Abang yang tidak diperlihatkan memiliki orang tua akhirnya justru menerima getah yang paling pahit: kembali jadi pengangguran tidak berguna di ujung gang. Apalah arti protes Pipit kepada Ayah dibanding nasib Abang. Selain itu, ketiadaan orang tua Abang justru memperkuat praduga bahwa kami berdua menyerah hanya karena tekanan sosok “bapak” belaka, kalau mau sedikit Freudian (jangan lupa perhatikan, bahwa sosok “ibu” dalam Alangkah digambarkan sama sekali tidak berguna).

Dari sinilah Pipit menggugat. Bagaimana mungkin film yang menyodorkan permasalahan etis yang menggugah justru ternyata mementahkan dirinya sendiri begitu saja? Tidak adanya upaya menyelesaikan konflik yang kadung terbangun, meninggalkan rasa-tinggalan yang agak masam, bahwa Alangkah gelagapan dan terkesan menghindar dari menyelesaikan problem etika yang diajukannya sendiri.

Memang sih, pada akhirnya pilihan adegan di akhir film ini sangat bijak. Ketika Bang Muluk memutuskan keluar dari mobil dan membela anak-anak itu, Pipit tahu, adegan itu maknanya kuat: tidak ada kata menyerah. Bang Muluk –bersama-sama dengan para pembuat film– memutuskan untuk melanjutkan perjuangan. Pada titik itulah memang terlihat betapa menyebalkannya negeri ini, dan betapa kita tetap tidak boleh menyerah.

Hanya saja, Bang Samsul, Pipit masih berharap, Alangkah lebih berani menghadapi problem etisnya sendiri, atau minimal, jika tidak mau menggurui dengan sok menawarkan solusi, tidak usah terkesan terlalu menghakimi-lah. Kalau pun maunya menggambarkan realita benturan nilai, treatment-nya jangan mengesankan itulah sikap filmnya dong.

Tapi apa daya, filmya sudah selesai, dan mau tidak mau, Pipit lihat ada kesan menyerahnya. Kita jangan menyerah, Bang. Semoga Bang Samsul mau membalas surat Pipit. Setelah ini, masih banyak yang harus dilakukan selain main gaple dan mengirim kuis TV.

Salam perjuangan,
Pipit

* * *

Post-scriptum:
Di tengah permainan gaple kita, Samsul tercenung seusai membaca surat itu. Permainan gaple terhenti, lalu aku dan sang doppelgänger berbicara bisik-bisik.

“Bos,” kata doppelgänger sial itu. “Perhatikan tidak, Pipit itu ternyata mirip sekali dengan bos.”
“Mirip bagaimana?”
“Kirim kuis tidak pernah dapat. Dari jaman majalah Bobo, Ananda, Hai sampai ke kuis Jari-jari, bos kirim kuis ‘kan tidak pernah menang.”
“Gundulmu.”
“Hahaha. Eh, bos perhatikan juga tidak, karakter Jarot itu?”
“Hmm. Iya. Tahu nggak, kupikir dia punya potensi menarik. Foto putri dan istrinya yang entah di mana itu, bersama lukisan ka’bah, bukan sekadar menunjukkan kontradiksi bandit yang beratribut saleh. Lebih dari itu, malah menunjukkan sisi lain Jarot yang jangan-jangan memiliki problem tertentu yang kita tidak tahu, mungkin di masa lalu, yang memaksanya berprofesi seperti sekarang...”
“Bukan itunya! Bos lihat kan dia selalu menghindar menyebut siapa dua ‘pria berambut cepak’ (sesuai credit title) yang melindungi sekaligus meminta jatah dari bisnisnya itu?”
“Oh, yang itu. Kenapa emang?”
“Ternyata sampai sekarang pun kita masih kesulitan ya, menyodorkan fakta keras yang sudah umum di masyarakat. Kenapa tidak bilang saja mereka itu...”

Buru-buru kubekap dia sebelum mengoceh lebih, lalu kukirim ke Pulau Buru. Ternyata, Samsul masih belum selesai terisak setelah membaca surat itu, padahal aku baru dari Pulau Buru.

* * *

Resensi lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org