
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
|
Brian Yuzna Akan Sutradarai Film Monster dan Luar Angkasa Indonesia
Ide itu punya kaki, kata intelektual publik Soedjatmoko. Dan, ternyata, selain ide, semangat juga. Ini dibuktikan oleh Brian Yuzna, sutradara (di antaranya sutradara film Bride of Re-Animator), penulis skenario, dan produser film, khususnya yang bergenre fantasi. Bersama San Fu Maltha (salah satu pendiri A-Film Belanda, produser Zwarte Boek karya Paul Verhoeven), ia memproduksi Takut (Faces of Fear), antologi 6 film pendek horor dan thriller yang di antaranya disutradarai Riri Riza (Titisan Naya, 2008) dan Rako Prijanto (Show Unit, 2008), dan memuat film Dara (Mo Bersaudara) yang sudah melanglang buana ke berbagai festival dunia. Film antologi itu akan menjadi pembuka pada Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFF), alias Screamfest kedua, di Jakarta, 14-23 November nanti. “Indonesia banyak talenta, tapi harus dikemas” ujarnya. Ia memberi contoh Shanty, yang main dalam The List (Robby Entarnto, 2008). “Shanty sudah menjadi bintang. Dunia hanya perlu untuk menemukannya” pujinya. Genre fantasi, khususnya horror, memang sudah menjadi hidup Brian. “Itu genre yang saya suka!”. Kepada Rumahfilm, ia bercerita kalau waktu muda ia suka melihat film-film jenis itu, hingga adegan demi adegan bersemayam di otaknya. “Misalnya, setelah nonton Psycho, saya tak berani mandi pancuran selama 3 pekan!”. Ia lantas ia terobsesi oleh kematian dan seksualitas. Ia pun berkarya di genre fantasi. Kini, ia melirik Indonesia sebagai basisnya berkarya.Tidak hanya menyebarkan ide dan semangat serta menjadi produser, penulis skenario Honey I Shrunk the Kids itu juga berencana membuat film monster dengan latar belakang dan pekerja film Indonesia. “Saya sendiri yang akan menyutradarai. Judulnya Amphibia. Kisahnya tentang kalajengking laut raksasa yang menyerang Jermal. Targetnya, Januari! ”. Tak cukup hanya itu, “Setelah itu, saya akan membuat sci-fi, tentang luar angkasa!”. Dan semuanya berbasis di Indonesia. Tapi, bisakah genre fantasi seperti film monster, fiksi sains, slasher, dan gore bisa berkembang di negeri ini? “Pertanyaan itu juga dilontarkan teman-teman di Spanyol saat saya ke sana. Mereka sangat yakin tidak akan laku kalau membuat film fantasi seperti zombie”. Sebagai langkah kongkret, Brian mendirikan Fantastic Factory pada 1999 bersama Julio Fernandez (sebuah divisi dibawah perusahaan film Barcelona Filmax). Proyek itu bertujuan untuk membuat film yang sederhana dan berbujet rendah untuk pasar internasional dan dalam bahasa Inggris, serta mengembangkan bakat-bakat lokal. Hasilnya? “Sudah nonton REC?”, ujar Brian, menyebut judul film yang menjadi salah satu film unggulan program Night of Terror di Amsterdam Film Festival yang sedang diputar di Blitz Megaplex. “Nah, sutradaranya adalah salah satu orang yang berhasil saya provokasi” ujarnya sambil terkekeh. Kini, Spanyol sudah banyak memproduksi film bergenre fantasi. “Kini pertanyaan yang sama hadir saat saya ke Italia dan Jerman. Dan saya memberi contoh Spanyol sebagai kisah sukses”. Apa rahasia suksesnya? “Orisinal dan marketable “ ujarnya, mantap. “Saya berminat untuk membuat dan memasarkan film-film yang disukai oleh arus utama, tidak hanya tersegmentasi di pencinta film cult”. Untuk unsur orisinalitas, ia percaya Indonesia adalah Negara yang kaya akan tradisi yang luar biasa. Tapi masalahnya selama ini, film-film itu tidak dibuat untuk kualitas ekspor. “Contohnya, nasi goreng bisa dicari di mana-mana di sini. Tapi kenapa tidak ditemukan di restoran Los Angeles misalnya? Apa karena tidak enak? Bukan! Tapi karena tidak dipersiapkan untuk kualitas eksport. Jadi teknis, pengemasan, juga penting, misalnya sound effect. Cerita juga.” Ujarnya, bermetafor. Masalah lain lagi adalah fakta bahwa sesuatu yang mengerikan bagi orang Indonesia belum tentu mengerikan bagi Barat. “Karena tidak ada penjelasan dalam cerita”. Misalnya tentang Pocong, atau Jelangkung, tentu akan menakutkan bagi orang Indonesia, karena sudah paham dengan hal-hal supranatural itu. “Tapi perlu penjelasan di dalam cerita yang lebih detil apa dan mengapa hantu-hantu itu kepada penonton Barat. Orang Barat perlu dibuat mengerti dan nyaman, tanpa harus menyingkirkan hal-hal unik keindonesiaan.” Itulah yang membedakannya dengan film sejenis 1980an seperti Leak (Tjut Djalil, 1980) yang banyak diedarkan di luar negeri dengan label Mondomacabrodvd dan Troma Entertainment. Karena itu, ia jalan terus. Ide dan semangat itu ditularkan ke sineas muda Indonesia dimulai dari memproduseri Takut, dilanjutkan dengan Amphibia dan ide-ide gila lainnya. “Kalau satu sudah memulai, biasanya yang lain akan mengikuti”.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |