
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() anyone could speak their mind
65 th Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica
Setiap kali melewati Movie Village, selalu saja ada pemandangan ini: orang berkumpul didepan sebuah papan. Ekspresi mereka kala memandang papan ini begitu penuh warna: cekikikan, serius, saling berbisik, menunjuk-nunjuk, geleng-geleng kepala, mengkerutkan kening, dan banyak lagi. Aktivitas ini berlangsung hampir setiap waktu. Pagi hari ketika saya menuju Palazzo del Cinema, orang-orang sudah berkumpul didepan papan itu. Siang saat ingin rehat di Movie Village, lagi-lagi papan itu sudah dikerubungi orang. Sore waktu ingin minum kopi di warung, panitia sudah sibuk menempel-nempel kertas dengan kepala bertuliskan Ridateci I Soldi! Malam saat usai menonton film terakhir pun, orang-orang seperti merasa wajib untuk menengok papan itu. Awalnya saya pikir, papan itu untuk iklan lowongan pekerjaan yang biasanya banyak bertebaran sepanjang musim panas. Jadi saya tidak begitu peduli. Apalagi hampir semua tulisan di papan itu ngoceh dalam bahasa Italia, jelas saya tidak berminat. Tapi lama-lama saya penasaran juga. Makin hari, papan itu makin penuh dan tidak hanya berisi tulisan tapi juga gambar dan kadang-kadang komik strip. Suatu ketika, saat sedang menanti pemutaran film Jay karya sutradara Filipina Francis Xavier Pasion di program Orizzonti, seorang pria gondrong asyik cekikikan dengan temen se-geng-nya sambil memamerkan sebuah foto dalam kamera poketnya. Saya yang paling tidak tahan kalau melihat orang ngerumpi akhirnya ikutan nimbrung. Untungnya, orang Italia memang suka sekali bercerita. Film-film dari gerakan neorealis termasuk yang paling rajin menampilkan ciri utama orang Italia ini: suka bicara dengan suara lantang dengan tempo sangat cepat sampai memperlihatkan urat leher mereka. Saya pikir, orang-orang macam itu hanya ada dalam film. Ternyata, karakter orang Italia memang seperti dalam film-film itu. Kembali ke soal ngerumpi tadi, tak disangka hanya dari sebuah pertanyaan singkat saya: “mmm, itu apa sih Pak?”, saya kemudian mendapat segudang informasi tentang papan yang bikin saya penasaran tiap hari itu. Tidak hanya dari si pria gondrong, tapi juga dari teman-temannya yang tidak segan-segan bercerita panjang lebar. Pria gondrong, yang mengingatkan saya dengan figur Hulk Hogan yang hobi membanting-banting orang itu, bercerita tentang foto yang diambil dari papan di Movie Village. Dalam foto itu sebuah tulisan ‘galak berteriak’: MULLER TI RIVOGLIAMO A FARE YOGHURT !. “Ini artinya kurang lebih, Muller kembalilah membuat yoghurt!”. (Muller = Marco Muller, Direktur Venice film Vestival). Kabarnya memang banyak yang kecewa dengan program film-film pilihan di seksi kompetisi tahun ini. Dan lontaran kekecewaan tentu saja dilapiaskan kepada penanggung jawab program. Nah, bagi mereka yang kecewa, tersedia sebuah ‘wadah mengeluh’ yang menampung semua keluhan yang berhubungan dengan Mostra. ‘Wadah keluhan’ berbentuk papan yang dipajang di Movie Village inilah yang terkenal dengan nama papan Ridateci I Soldi. Dinding Ridateci I Soldi atau biasa juga disebut Wall Of Shame adalah sebuah program independen yang dibuat oleh sekelompok kritikus Italia. Mottonya adalah semua orang bisa mengkritik. Entah itu film, program, acara, atau apa saja. Tapi tentu saja sasaran utama adalah kritik film-film yang ditonton oleh penonton selama festival berlangsung. Disarankan setiap orang yang ingin menulis di Wall of Shame membuat tulisannya singkat, padat, to the point, dan jelas dalam bentuk apa saja. Entah itu tulisan, komik strip, atau gambar selama bisa muat di selembar kertas A4 berkop surat Ridateci I Soldi itu. Siapa saja yang ingin menulis kritik bisa langsung datang didepan papan ini, mengambil kertas berkop Ridateci yang selalu tersedia di meja, menulis, menyerahkannya kepada panitia yang langsung memasangnya dipapan. Satu-satunya syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menulis disini adalah mencantumkan alamat email dan nama asli. Meski terlihat sebagai program ‘lucu-lucuan’, sebetulnya Ridateci I Soldi ini sangat serius digarap oleh pembuatnya. (Sayangnya, hingga saat ini, saya tidak pernah sempat bertemu langsung dengan Gianni Ippoliti, sang penggagas Ridateci). Pada akhir setiap festival, program kritik yang baru berusia 10 tahunan ini akan memilih finalis dan pemenang kritik terbaik dengan memberikan sebuah piala kayu yang juga diberi nama Ridateci I Soldi Coppa 2008 Codacons. Ridateci I Soldi ! – yang ternyata jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti Kembalikan Uang Kami ! – juga bukan nama yang dipilih asal-asalan. Tidak seperti festival film lainnya yang cenderung menjual tiket dengan harga murah selama festival, Film Festival Venesia justru menjadikan ajang ini sebagai ajang komersil. Meski terbuka untuk umum, festival ini menjual tiket dengan harga yang sungguh gila – dan bikin saya menganga – untuk film-film yang belum ketahuan betul mutunya. Penentuan harga juga sangat tergantung dari waktu dan tempat menonton yang dipilih. Untuk sebuh film yang diputar di Sala Grande, misalnya. Waktu tayang jam 11.00 pagi dan jam 14.00 si ang harga tiket 10 euro (kalikan dengan Rp. 14.000; 1 Euro = 14.000 rupiah). Menjelang sore jam 16.30, harga naik menjadi 15 Euro. Semakin malam, jam 19.00 – waktu prime time dimana seluruh cast and crew dari sutradara, aktor, artis hingga produser duduk ditengah-tengah penonton – harga tiket melambung menjadi 40 Euro. Menjelang tengah malam waktu tayang jam 22, harga turun menjadi 28 Euro dan jam tayang 24.00 harga kembali jadi 15 Euro. Ini untuk harga tiket per film. Kalau mau yang lebih afdol, panitia menawarkan tiket abonemen yang harganya hampir sama dengan cicilan rumah saya sebulan. Untuk tiket yang lebih murah tersedia di Pala Biennale yang rata-rata harga tiketnya 8 Euro per film di waktu senggang, dan 16 Euro diwaktu prime time. Dengan abonemen, harga tiket menjadi 160 Euro untuk penonton diatas 26 tahun dan 130 euro untuk penonton dibawah 26 tahun. Bandingkan dengan bioskop-bioskop kelas A di Eropa seperti Kinepolis, Pathe atau UGC, yang harga tiketnya rata-rata berkisar 8 Euro per film untuk penonton diatas 26 tahun atau abonemen berkisar antara 15 hingga 19 euro per bulan dan bisa nonton sepuasnya. Dengan harga tiket yang bikin pening itu, jelaslah penonton selalu berharap menonton film dengan kualitas A. Jika ternyata film yang ditonton tidak sesuai harapan, maka Ridateci I Soldi siap menerima limpahan uneg-uneg. Tidak heran jika setiap hari papan ini selalu dikunjungi orang, baik itu hanya sekedar ingin melihat komentar pedas terbaru atau juga ingin menambah makian yang semakin hari semakin bertumpuk. Kita tentu bisa maklum, dengan patokan harga tiket yang tidak bersahabat, sementara film yang ditonton juga tak layak, maka jangan salahkan penonton jika mereka berteriak lantang: Ridateci I Soldi !. Favorit Ridateci I Soldi Tahun Ini Menurut teman baru saya, Simona Tell yang sudah 8 tahun menjadi pengunjung tetap Mostra, setiap tahun selalu saja ada film-film favorit yang jadi bahan gunjingan di Ridateci. Tahun ini, menurut statistik, film Shirin karya terbaru Abbas Kiarostami-lah yang paling banyak ‘dituntut’. Saya sendiri suka dengan Shirin yang menggunakan konsep ‘menonton penonton menonton’ ini. Maka penonton pun disuguhi berbagai macam ekpresi dari 114 penonton (diantaranya Juliette Binoche) yang sedang menonton pertunjukan drama The Story of Khosrow and Shirin, adaptasi dari puisi kuno tentang cinta segitiga abad ke 12 karya penyair Nezami Ganjevi. ‘Menonton penonton menonton’ tentu saja bukan ide baru. Ingmar Bergman misalnya pernah mencoba ide ini dalam Trollflojten (The Magic Flute) tahun 1975 yang diadaptasi dari karya musik Mozart. Kurang lebih 10 menit pertama The Magic Flute ‘hanya’ mengamati reaksi penonton terhadap apa yang terjadi dipanggung. Abbas Kiarostami melakukan ini sepanjang 92 menit dalam Shirin. Sebanyak 114 penonton yang merupakan artis-artis film dan teater jelas sebuah pilihan ‘licik’. Kita tidak pernah tahu, apakah ekspresi itu adalah reaksi spontan atau ‘ekspresi buatan’. Dan disinilah menariknya menonton mereka ‘berakting’. Tapi rupanya, Shirin membuat banyak orang kegerahan dan paling banyak dibahas di Ridateci. Untuk Shirin, ada yang menggambar penonton gantung diri, ada pula yang menonton sambil makan es krim saking bosannya, dan banyak lagi ‘makian’ yang tidak saya mengerti. Selain Shirin, yang banyak di ‘cela’ adalah film terbaru Barbet Schroeder, Inju La Bete dans L’ombre. Untuk film ini, saya setuju dengan para pemrotes di Ridateci. Inju diniatkan sebagai film misteri thriller tapi tak sanggup menjadi misterius dan tak mampu menjadi thriller. Olahan ceritanya seperti Alfred Hitchcock yang sedang kehabisan ide. Film ini hanya ingin ‘jualan’ keeksotisan kehidupan seorang Geisha dengan mencomot referensi dari berbagai film antara lain Kill Bill, V for Vendetta, dan entah apalagi. Tapi saya baru menyadari berbagai referensi film ini, justru karena melihat salah satu gambar yang terpampang di Ridateci. Maka untuk film Inju La Bete dans L’ombre, saya pun termasuk yang berteriak: Ridateci I Soldi !!!.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |