
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
65 th Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica
Ribuan kilometer jalan yang sudah saya tempuh, melewati berbagai rintangan demi sebuah festival film. Dan inilah saya: kotor dan berdebu setelah menyetir selama 3 hari 3 malam melintasi 3 negara, demi untuk berdiri di depan perkampungan film Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica di Venesia-Lido, Italia. Mmm...saya memang agak mendramatisir. Sebetulnya, saya girang setengah mati tapi tak sanggup untuk melompat ke udara. Kalau bisa, saya ingin teriak: RumahFilm terdaftar di festival film tertua di dunia ! Film Festival Venesia yang ke-65! Saya bahkan tidak keberatan dengan pengurus akreditasi yang selalu salah menyebut RumahFilm dengan ‘Rrrrroouhmah Film’ atau ‘RyuhmahFilm’ dengan R yang super kencang. Seperti saya yang juga salah mengucapkan 'terima kasih dan selamat tinggal' dengan 'Gracias, Buon Giorno'. (Gracias: terima kasih dalam bahasa Spanyol dan buon giorno berarti Hello). Satu-satunya kata Italia yang sering saya praktekkan memang hanya 'buon giorno' (baca: bonjorno) karena selalu terkenang-kenang dengan Anna Magnani di film Mamma Roma-nya Pasolini. Di film itu, Magnani dengan suara cempreng lantang sering berteriak buon giorno ! Jadi selama ini, buon giorno bagi saya adalah kata untuk segala sapaan: selamat pagi, siang, malam, selamat tinggal, dan selamat-selamat lainnya. Setelah menerima akreditasi pers, saya menyapa setiap orang dengan buon giorno bagi mereka yang baru tiba. Buon giorno. Buon giorno. Buon giorno!. Sehari sebelumnya… Berada di Film Festival Venesia berarti harus berhadapan dengan pilihan sulit: memilih Venesia atau festival film? Tidak seperti kota Cannes yang membosankan – kecuali festival filmnya – Venesia seperti kota impian yang nyata. Menakjubkan mungkin satu-satunya kata yang pas. “A Romantic city frozen in time” ini adalah kota antik yang dibangun diatas air, dikelilingi oleh air, dan mungkin salah satu kota terunik didunia. Venesia berbeda dengan kota-kota yang dikelilingi air seperti Amsterdam, atau Brugge. Kota yang dibangun sekitar abad ke-6 ini benar-benar memanfaatkan air disekelilingnya sebagai sarana transportasi dan sirkulasi. Boleh percaya boleh tidak, tidak ada mobil di Venesia. Semua mobil harus diparkir diluar kota Venesia dan setiap orang masuk ke kota kelahiran musisi Antonio Vivaldi ini dengan naik kereta atau kapal. Maka pilihan transportasi di dalam kota Venesia hanya sedikit: naik kapal, naik sepeda atau jalan kaki. Ambulans pun ambulans kapal. Polisi juga dilengkapi dengan kapal. Angkutan bagasi dari stasiun kereta ke dalam kota juga dengan kapal. Karena itu, sejak dibangun di abad ke-6, nyaris tidak ada perubahan berarti di kota ini. Dengan kondisi bebas kendaraan bermotor, ditambah dengan tata kotanya yang cantik, elegan sekaligus misterius dan mirip labirin, membuat godaan untuk menyusuri kota ini sungguh-sungguh kuat. Sama menggiurkan dengan godaan untuk menonton film-film keluaran baru dari sutradara-sutradara kelas A. Tapi apa daya tugas menanti. Satu-satunya cara untuk menahan godaan adalah mencoba untuk tidak peduli dengan tawa riang gadis-gadis remaja dengan rok pendek dan tank top, atau mencoba cuek dengan para 'young lovers' yang seperti sedang ikut lomba reality show 'the most romantic couple' atau mencoba tidak iri dengan pasangan kakek nenek yang bergenggam tangan mesra. Toh, saya punya masalah sendiri: beradaptasi dengan air. Kesalahan pertama saya mengunjungi festival film di Venesia ini adalah soal tempat. Awalnya saya pikir, sesuai namanya Film Festival Venesia pasti akan berlangsung di dalam kota Venesia dan saya bisa berjalan kaki ke pusat festivalnya. Ternyata: “Festival itu di Lido,” kata pengurus hotel tempat saya menginap. Mmm...Lido itu apa dan dimana? “Lido itu dipulau lain, tuh disana,” katanya sambil menunjuk jejeran kerlap kerlip lampu nun jauh ditengah kepungan air. Saya langsung lemas dan jadi teringat pulau Khayangan di kota Makassar, kota kelahiran saya. Walaupun saya bisa dibilang sebagai 'anak pulau', saya paling takut air. Dalam hal berenang, saya hanya bisa gaya lompat botol, alias asal nyemplung dan jarang bisa mengapung. Padahal satu-satunya cara murah untuk sampai ke Lido adalah dengan naik bus air yang disebut Vaporetto. Atau kalau saya anak orang kaya, saya bisa menyewa helikopter yang tentu saja tidak mungkin karena nama bapak saya bukan Hilton atau Al Fayed. Kesalahan kedua adalah mengira bahwa Vaporetto seperti bus jurusan Pasar Minggu – Blok M. Asal nomernya benar, pasti tiba ditempat tujuan. Hari pertama yang saya niatkan khusus untuk mengurus hal-hal administrasi dan bertemu dengan beberapa delegasi festival jadinya kandas karena hal sepele, salah naik jurusan Vaporetto. Akhirnya saya seperti bola pingpong, naik turun pemberhetian Vaporetto tapi tidak pernah sampai di Lido yang katanya hanya 45 menit dari tempat saya. Akhirnya, saya kembali ke tempat awal saya naik Vaporetto dan hingga sekarang merasa dunia seperti oleng kekiri dan kekanan. Maka, akibat kesalahan ini, film pembuka festival film Venesia yang namanya resminya adalah 65 th Mostra Internazionale d'Arte Cinematografica, Burn After Reading karya Coen bersaudara pun lewat sudah. Tapi masih banyak film yang bakal diputar di sini. Di akhir tulisan ini, saya tuliskan daftar film yang akan diputar di seksi kompetisi di Festilav Film Venesia ini. Menyusuri Mostra di Lido Orang pertama yang saya temui dan terlihat akrab di festival Venesia ini tak lain adalah Gertjan Zuilhof. Programmer festival film Rotterdam ini berdiri sendirian di ruang akreditasi yang masih kosong. Ia mengeluh karena proses akreditasinya tak kunjung beres, dan itu berarti dia belum bisa mulai menonton film. Tapi dengan bersemangat, Gertjan bercerita tentang kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu ke berbagai tempat di Indonesia antara lain ke Belitung, Pelabuhan Ratu dan Jogjakarta. Setelah selesai bertukar cerita, saya mulai mengeksplorasi area Mostra – yang bisa juga berarti eksebisi – yang baru pertama kali ini saya kunjungi. Wilayah Mostra Del Cinema terletak ditengah-tengah pulau Lido. Suasana yang penuh turis dan cuaca panas terik yang menyengat membuat saya teringat dengan pulau Bali. Satu hal yang bisa dipelajari adalah soal strategi penyelenggaraan festival di pulau yang terpencil ini. Selain bus air yang lalu lalang setiap 15 menit dari Venesia – Lido, tersedia juga bus khusus dari stasiun bus air ke area festival yang berhenti persis didepan gerbang Mostra. Selebihnya, sejak dari gerbang Mostra, nyaris tidak ada kendaraan bermotor lagi kecuali mobil-mobil mewah dari sponsor yang mengantar para bintang dan tamu ke karpet merah. Walaupun Venesia adalah area bebas kendaraan bermotor, di Lido peraturan ini tidak berlaku meskipun kendaraan bermotor di pulau ini bisa dihitung dengan jari. Saya membayangkan, kalau saja kita bisa memanfaatkan salah satu pulau di Kepulauan Seribu khusus untuk festival film internasional, pastinya akan asyik sekali. Aduh... hari ini, saya nyaris tertabrak sepeda karena keasyikan menghayal. Didalam wilayah Mostra ada beberapa gedung utama dan sejumlah area khusus. Dari gerbang, area pertama dinamai movie village dimana beberapa tenda dibangun dan digunakan sebagai tempat penjualan tiket untuk publik, cafe dan restoran serta kegiatan-kegiatan informal lainnya bagi para moviegoers. Sejumlah sponsor juga membangun tenda di tempat ini. Setelah melewati movie village yang lebih merupakan wilayah 'bongkar pasang', disampingnya ada gedung kotak besar bergaya 30-an yang dinamai Palazzo del Casino. Di gedung inilah pusat kegiatan non-menonton-film berlangsung, seperti pengurusan akreditasi, Press room dan segala hal yang berhubungan dengan media, gedung pertemuan, press conference, kantor komisi film, ruang industri, dan sebagainya. Karena luas ruang yang mencengangkan dan skala yang melebihi ukuran normal, Palazzo del Casino terasa kosong dan lapang meski disekat-sekat dan dibagi menjadi banyak ruang-ruang kecil. Di lantai satu bahkan bisa dimodifikasi menjadi sebuah sinema kecil, Sala Perla – berkapasitas 450 kursi – berdampingan dengan ruang pertemuan dan area sirkusi utama gedung. Setelah Palazzo del Casino yang terlihat menjulang, disampingnya adalah gedung Palazzo Del Cinema yang didesain seperti kotak jangkrik memanjang dengan sebuah 'lubang' yang berfungsi sebagai jalan masuk. Disinilah pusat menonton film di Mostra. Gedung kotak jangkrik ini terdiri dari 4 teater: Sala Grande sebagai teater utama – kapasitas 1078 kursi – dan 3 teater yang lebih kecil: Sala Volpi, Sala Zorzi, dan Sala Pasinetti dengan kapasitas masing masing kurang lebih 150-an kursi. Di Palazzo del Cinema ini juga berkantor para petinggi festival, mulai dari Presiden Mostra, Direktur, dan programmer festival. Dibelakang Palazzo del Cinema ada PalaLido yang kapasitasnya jauh lebih besar dari Sala Grande –kurang lebih 1300 kursi. Kapasitasnya yang jauh lebih besar dari Sala Grande membuat PalaLido sering dijadikan sebagai tempat pemutaran film untuk pers dan dan publik sekaligus. Agak jauh terpisah dari dua gedung utama ini adalah Hotel The Westin Excelsior, tempat awal diselenggarakannya festival film pertama kali di tahun 1932 yang kala itu diberi titel Esposizione d'Arte Cinematografica. Film pertama yang diputar ketika itu adalah Dr. Jekyll and Mr. Hyde karya Rouben Mamoulian. Hari ini, Excelsior – panggilan akrab hotel klasik ini – digunakan sebagai tempat menginap para tamu terhormat, tempat berkumpul para jetster dan eksekutif dari perusahaan film multinasional, dan sejenisnya. Nun jauh agak terpencil dari keramaian itu adalah PalaBiennale – 1700 kursi – yang merupakan teater dengan kapasitas paling besar diantara semua teater di Mostra. PalaBiennale yang dibangun dengan menggunakan struktur tenda ini sebetulnya adalah gedung teater sementara sampai Palazzo del Cinema – yang akan segera dirombak dengan menggunakan desain arsitek perancis Rudy Ricciotti – selesai dimodifikasi dan diperbesar dengan kapasitas kursi lebih dari 2100. Keluhan soal lokasi dan gedung Palazzo del Cinema – dibangun tahun 1938 – yang dianggap tidak lagi bisa mengakomodasi festival film ini bukan hal baru. Karena itu, pihak festival memutuskan untuk merombak Palazzo ini dengan desain yang lebih kontemporer dan kabarnya akan menyaingi desain gedung Festival Film Roma yang dikerjakan oleh arsitek ternama Renzo Piano. Rencananya, Palazzo del Cinema dengan wajah yang telah dipermak ini akan diresmikan pada tahun 2011 mendatang. Konon, permak wajah Palazzo del Cinema ini bukan melulu karena efektifitas, tapi soal gengsi. Maklum, Italia tidak mau kalah dengan Perancis. Gedung Palais du Cinema Cannes mungkin memang jelek dari segi wajah tapi sangat efisien dan efektif dari segi fungsi. Nah, Palazzo del Cinema Venice diniatkan akan mengungguli sepupu jauhnya itu dari berbagai sisi. Film yang diputar di seksi kompetisi di Festival Film Venesia yang ke-65 ini adalah sebagai berikut:
|
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |