
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Suster N
SUSTER N adalah sebuah film horror yang mengambil salah satu dari sekian versi kisah mengenai hantu Suster Ngesot yang beredar di masyarakat. Pemilihan judul yang ditetapkan sejak bulan Januari 2007 dengan memakai huruf N tersebut memang disengaja untuk memberikan pertimbangan artistik dan efek misterius yang menggoda rasa ingin tahu pemirsa. Huruf N dalam film ini kemudian menjadi kunci karena merupakan inisial nama seorang perawat dari jaman pendudukan Belanda di sebuah vila pinggiran kota Bandung, awal mula kisah film ini berasal. Keistimewaan film Suster N adalah pendekatan yang dilakukan untuk film ini yang tidak sepenuhnya mengikuti pakem komersil film horor pada umumnya yang cenderung vulgar dalam sudut-sudut pengambilan gambarnya. Sutradara Viva Westi memberi sentuhan yang lebih “feminin” dengan cukup dominan disini. Perlu juga diketengahkan bahwa persiapan film ini berlangsung cukup maksimal dalam waktu yang memadai. Dibandingkan film layar lebar sejenis yang dibuat secara instan, film Suster N dibuat dengan perencanaan yang cukup matang. Masa persiapan (pre-production) berlangsung selama 3 bulan lebih. Lamanya waktu yang dibutuhkan selama merancang film ini terutama untuk kepentingan riset dari tim artistik (misalnya mengenai busana seragam perawat pada jaman pendudukan Belanda yang ternyata tidak selalu berwarna putih, melainkan juga berwarna kuat seperti merah marun dan bahkan hitam) dan penggarapan lokasi yang cukup terpencil, yaitu di sebuah bangunan tua di puncak bukit, di kota Subang, Jawa Barat. Penggarapan desain kostum dan memorabilia dari jaman pendudukan Belanda yang menjadi setting dari film ini dilakukan oleh seniman-seniman muda dari Institut Kesenian Jakarta. Di film ini Ardina Rasti yang berperan sebagai gadis indigo dengan fenomena sixth sense ditampilkan dengan kostum bergaya gothic yang seru sedangkan Wulan Guritno yang berperan sebagai perawat dirancangkan beberapa seragam perawat dari jaman pendudukan Belanda yang khas. Proses pengambilan gambar juga berlangsung selama sekitar satu bulan, jangka waktu yang cukup memadai (bila dibandingkan dengan film-film sejenis yang masa syutingnya hanya sekitar 7 hari kerja saja). Demikian juga kegiatan Post Productionnya antara lain , penataan musik, sound effect, dan editing dilakukan secara maksimal dan tidak diburu-buru oleh tenggat waktu “kejar tayang”.
Brief Synopsis : Seorang perawat yang cantik, Wulan (Wulan Guritno) yang tinggal tak jauh dari Villa Rose melamar menjadi penanggungjawab panti yang hendak dibuka tersebut. Wulan membawa serta para pembantu untuk mengurus villa dan seluruh penghuninya. Masalah mulai mengemuka ketika Maya (Ardina Rasti) juga mendadak muncul di Villa Rose. Maya adalah adik Joe yang nyentrik dan misterius. Sarah mulai merasakan keganjilan-keganjilan namun tak ada orang lain yang merasakan hal serupa. Kematian adalah hal yang lumrah di sebuah panti jompo, bukan? Namun, benarkah demikian yang sebenarnya terjadi? Atau adakah sebuah rahasia kelam dari masa lalu yang menghantui kekinian Villa Rose? Serta N, inisial nama siapakah itu? Sarah bertekad mengungkap semuanya, karena ia harus berpacu dengan waktu, sebelum semuanya menjadi benar-benar terlambat.
Profil ( Cast & Crew ) Sebelumnya, Viva pernah menulis skenario sinema lepas Jangan Panggil Aku Cina (2003) yang juga bertema Imlek. Dia pun menulis skenario Malam Pertama tayangan SCTV. Viva sempat menjadi Asisten sutradara Garin Nugroho untuk film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja ( 2002). Tahun lalu film Serambi yang digarap 4 sutradara termasuk Viva Westi, masuk Cannes Film Festival. Sutradara perempuan lulusan IKJ ini juga menggarap film televisi Janji Bidadari yang mendapat 7 nominasi piala Vidia dalam Festival Film Indonesia 2006. “Cerita perempuan itu tidak pernah habis,” ujar Viva Westi mengenai tema perempuan yang kerap ia pilih. Sutradara yang tengah menyiapkan film layar lebar terbarunya--yang mengambil genre horror--ini menambahkan bahwa ia ingin menggambarkan perempuan yang identik dengan ketegaran dalam karya-karyanya. Lebih jauh Westi, demikian ia disapa, menjelaskan sikapnya tersebut dilatar belakangi oleh fakta banyaknya permasalahan yang semestinya bisa diselesaikan tapi terhambat oleh, antara lain, banyak kebijakan dan UU yang tidak berpihak pada kaum perempuan. “Sebagai seniman, ini adalah kontribusi saya untuk menyuarakannya dalam bentuk film.”
2. REGINA ANINDITA
3. VIDA SYLVIA
4. NANA BAYEK
Daftar Lengkap Cast & Crew
II. Crew :
|
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |