34th International Independent Film Festival Brussel (IIFFB)
Selamat Untuk Nia Dinata !
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org

Ketika nama Nia Dinata disebut sebagai sutradara terbaik pada International Independent Film Festival Brussel yang ke 34, semua yang hadir pada malam itu tertegun sejenak. Festival yang berlangsung sejak 6 – 11 November 2007, di Grand Salle Centre Culturel Jacques Franck, Brussel, itu memang dipenuhi wajah-wajah Asia, tapi bukan Indonesia. Pada umumnya mereka berasal dari Thailand, Philipina, Burma, dan Kamboja. Selebihnya berasal dari India, Belgia, Maroko, dan Turki.

Banyak yang bingung. Siapa Nia Dinata? Barulah ketika filmnya disebut, L’amour en Partage (terjemahan Prancis untuk Berbagi Suami) asal Indonesia, penonton kemudian memberikan aplaus meriah. Maklum, film itu memang salah satu film favorit yang banyak dibicarakan oleh penonton di festival ini. Salah seorang juri bahkan mengaku menjagokan Berbagi Suami sebagai film terbaik. Tapi gelar itu jatuh pada Bangkok Love Story, karya Poj Arnon asal Thailand.

Berbagi Suami memang istimewa. Menurut Ketua Dewan Juri, Dan Cukier, Nia dianggap berhasil memperkenalkan sebuah isu yang sebetulnya sangat lokal tapi sekaligus universal (yang selalu jadi favorit di festival ini). Masuknya film Berbagi Suami juga termasuk istimewa. Film karya Nia Dinata ini ditemukan di saat-saat terakhir. Ketika itu, Direktur Program IIFB, Robert Malengreau sedang kebingungan mencari film Indonesia. “Saya ingin film yang menyorot masalah aktual, yang bisa memperkenalkan audiens Eropa pada Indonesia,” kata Malengreau kala itu. Ada sejumlah judul film yang ditawarkan Rumahfilm.org pada waktu itu.

Tapi seperti yang sering dikeluhkan oleh Malengreau, akses ke film Indonesia termasuk sulit. Pertama karena memang dia belum punya network (jaringan kerja) dengan para pembuat film independen Indonesia. Malengreau hanya mengenal Garin Nugroho. Tapi Garin sudah masuk sutradara kelas A di Eropa. Dari segi biaya, Malengreau mengaku belum sanggup memutar film-film Garin.

Persoalan kedua, menurut Malengreau adalah karena pembuat film Indonesia tidak banyak yang tertarik untuk mengirimkan filmnya ke festival ini. Kalaupun ada, juga bukan dengan kualitas yang diinginkan. Tak seperti Thailand, Philipina, dan Kamboja yang selalu jadi pengunjung tetap. Raja Kamboja Norodom Sihamoni, misalnya, sudah 10 tahun belakangan ini mengirim film-film dokumenter terbarunya di festival yang mulai diadakan pertama kali pada 1974 ini.

Meski kecil, festival ini menawarkan sesuatu yang cukup unik. Setiap tahun, penyelenggaranya akan memilih Pays-Vedette atau negara yang akan menjadi fokus festival. Tahun ini misalnya, Pays-Vedette adalah India dengan tema Revelation: The New Passions of Auteur in Indian Cinema. Tema ini ingin menunjukkan bahwa film-film India tidak hanya terdiri dari adegan sepasang kekasih di taman, main umpet-umpetan sambil bernyanyi dengan suara yang mendayu-dayu. Sinema di India punya wajahnya yang lain, yaitu para pembuat film independen di luar kemewahan Bollywood.

Selain memutar film-film independen dari India, festival ini juga dibuka dengan memperkenalkan kebudayaan India yang lain, mulai dari tari-tarian hingga ke makanan khas tradisional. Beberapa pengunjung, misalnya, baru kali itu mencicipi makanan khas India. Nah, menurut Malengreau, sudah beberapa tahun belakangan ini, ia berusaha mencari film Indonesia dan beberapa kali berniat menjadikan Indonesia sebagai Pays-Vedette.

Secara tak sengaja, Malengreau melihat cuplikan film Berbagi Suami dan akhirnya mendapatkan copy film itu. Ternyata memang Berbagi Suami mampu menggelitik keingintahuan penonton. Beberapa mengaku baru pertama kali itu menonton film Indonesia. Banyak yang tak menyangka bahwa ada praktek poligami di Indonesia. Penonton dari Asia juga langsung merasa sangat akrab dengan apa yang mereka lihat di Berbagi Suami.

Malam itu, usai mengumumkan Nia Dinata yang mendapatkan Prix De La Meillure Realisation (Award For Best Direction), Malengreau langsung mengumumkan, bahwa tahun depan Pays-Vedette untuk International Independent Film Festival Brussel yang ke 35 adalah Indonesia!

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan buka link berikut

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org