Menikmati Diaspora, Merayakan Keberagaman
oleh Ekky Imanjaya

Gebrakan trio Garin Nugroho-Budi-Irawanto-Philiph Cheah agaknya perlu diamati dan direnungkan para sineas Indonesia. Ketiganya sukses, untuk kedua kalinya, menggelar festival kelas dunia di Jogjakarta. Mereka (berperan sebagai Presiden, Direktur, dan Kurator) memperkaya festival film negeri ini dengan menggelar 2nd Jogja-Netpac Asian Film Festival. Hal ini lebih penting ketimbang sibuk “menyelamatkan” Festival Film Indonesia.

Pada 29 Juli-2 Agustus 2007 lalu, kota budaya Jogjakarta merayakan pesta film Asia. Dan tamu-tamu penting pun hadir: Yasmin Ahmad dari Malaysia yang membawa filmnya, Muhsin, juga Ho Yuhang yang melejit lewat Rain Dogs, dan NgoPhuong Lan (kritikus film Vietnam) yang merilis buku terbarunya, Modern and Nationality in Vietnam's Cinematography. Dari dalam negeri, ada Deddy Mizwar dan Nirina yang mendapatkan penghargaan khusus, dan Garin Nugroho yang meluncurkan film terbarunya, Teak Leaves at the Temple. Mereka bercampur dan bergaul dengan para penggiat perfilman dan penonton umum di Taman Budaya Yogyakarta, Benteng Vredeburg, dan Sinema Lembaga Indonesia Perancis (LIP).

Sesuai dengan misi NETPAC (The Network for the Promotion of Asian Cinema), festival ini berupaya mempromosikan film Asia yang berkiprah di pelbagai festival dan forum internasional, serta menciptakan landasan bagi film terbaik Asia. Satu hal yang tak kurang pentingnya, JAFF juga berikhtiar membuka jalan agar sinema Asia kian dekat dan intim bagi publik Asia sendiri.

Dari segi tema, diaspora diangkat menjadi wacana. Juga diangkat, fenomena revolusi digital dalam pembuatan film, yang membawa pada semangat "low budget, high quality". Sesuai tema tersebut, salah satu fokus pemutaran film adalah pada contoh gerakan estetika kaum perantauan Cina di Malaysia yang sedang naik daun—menang di banyak festival, di antaranya Pusan, Rotterdam, Venesia, Berlin, dan Bangkok. Film karya si mungil Ho Yuhang, Rain Dogs, pun dipilih menjadi penutup. Sedangkan film karya sineas muda Malaysia lainnya, di antaranya Before We Fall in Love Again dari James Lee (yang baru menjadi film terbaik di Festival Film Bangkok) dan Love Conquers All karya Tan Chui Mui juga diputar.

Festival ini memberikan beberapa penghargaan. Crossing The Dust karya Shawkat Amin Korki (Kurdistan) meraih Golden Hanoman Award (film terbaik pilihan juri). Silver Hanoman (untuk film terbaik kedua pilihan juri) disabet oleh Muhsin (Yasmin Ahmad, Malaysia). Geber Award (untuk film terbaik pilihan komunitas film independen) diperoleh 4:30 (Royston Tan, Singapura). Sedangkan Netpac Award (film terbaik pilihan Netpac) jatuh ke pada The Other Half (Ying Liang, China). Penghargaan Gayeng Award (untuk film favorit penonton) dimenangi Dikerjai Preman Part I (Afrizal) dan Blencong Award (untuk film pendek Asia terbaik) dimenangi oleh A Very Boring Conversation (Edwin). Sementara penghargaan Special Jury Prize jatuh ke film Speci Me (Ellen Ramos, Philipina).

Film-film dari negeri sendiri—misalnya Tiga Hari untuk Selamanya (Riri Riza, 2007), Kala (Joko Anwar, 2007), Ketika (Deddy Mizwar, 2006), juga laris manis. Para penonton berdesakan, dan karcis habis beberapa jam sebelumnya. Untunglah, panitia sigap melihat gelagat ini, dan memutuskan untuk menambah jam tayang beberapa film Indonesia.

Ajang ini membuat para penikmat film menikmati keberagaman tema, pilihan estetika, hingga cara bertutur yang berbeda, dari film-film Asia. Juga menambah pengayaan pilihan pada festival yang berbeda dari yang pernah ada.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org