As I lay Dying (Ho Yuhang). Sumber: www.filmfestivalrotterdam.nl

37th International Film Festival Rotterdam
Malaysia Hatrik!
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

Senin siang itu (28/1), Ho Yuhang muncul di De Doelen, pusat dari International Film Festival Rotterdam (IFFR), dengan gaya kesehariannya yang penuh senyum, rendah hati, dan seléngé’an. Rupanya dia masih mengenal Rumahfilm, karena pernah mewawancarainya di Jogja-Netpac Asia Film Festival pertengahan 2007. Tapi, bukankan banyak orang yang menyatakan, termasuk desainer produksi Flower in the Pocket Gan Siong King, bahwa Yuhang tidak bakal datang ke Rotterdam?

Rupanya ia hadir diundang panitia IFFR. Selain karena bertugas menjadi juri Dioraphte Award, film Yuhang, As I Lay Dying, menjadi salah satu juara Tiger Awards competition kategori film pendek, bersama Ah, Liberty! ( Ben Rivers, Inggris , 2007), dan Observando el Cielo (Jeanne Liotta, AS, 2007). Sutradara Rain Dogs itu dianggap menang dengan penilaian “For its picture perfect framings, its smooth and sure handed embrace.

Hari berikutnya, dua kemenangan besar diraih oleh sutradara muda Liew Seng Tat, juga dari Malaysia. Bersama dengan Wonderful Town (Aditya Assarat, Thailand , 2007) dan Go with Peace Jamal (Ma Salama Jamil , Omar Shargawi, Denmark , 2008), filmnya Flower in the Pocket meraih penghargaan tertinggi Tiger Award. Seng Tat dan dua rekannya itu berhak mendapatkan 15 ribu Euro dan hak tayang di televisi publik Belanda.

Dalam penilaian juri, Flower menang karena “...penuh pertimbangan dan penuh pandangan kepedulian pada dunia anak-anak. Aktor-aktornya terpilih secara tepat serta dipandu dan diarahkan dengan selayaknya. Film ini punya ekspresi visual yang menakjubkan”.

Tidak hanya itu, Seng Tat juga mendapatkan 15 ribu Euro dari Prince Claus Fund Film Grant untuk proyek film barunya, In What City Does it Live?.”Kelebihannya ada pada proposalnya yang dengan gamblang menjelaskan cerita dan bisa dibayangkan secara visual nanti filmnya akan jadi seperti apa,” ujar Garin Nugroho, salah satu jurinya. ”Proposal yang deskriptif, tidak berlebihan dalam menjelaskan, tapi juga tidak terlalu kering,” ungkapnya.

Film-film pendek Malaysia yang diputar cukup banyak. Ada satu program, Neighbors, yang merupakan kompilasi dari Malaysia dan Indonesia. Selain Yuhang, ada film Retrace ( Margaret Bong) yang eksperimental, Blue Roof ( Woo Ming Jin) yang kuat dalam mood cerita, dan Shaking the Gods ( Tey Kok Hau) yang mengangkat tradisi ritual Konghucu tanpa menyatakan keterangan apa pun seputar itu.

Sedangkan film Tan Chui Mui, Nobody’s Girl Friend, diputar di program Real Dreams bersama, dua film Asia Tenggara lainnya, Flat Dreams ( Eva Tang, Singapura) dan Like. Real. Love (Duj jit jai, Anocha Suwichakornpong, Thailand).

Gerakan estetika baru Malaysia tak bisa dibendung lagi. Mereka hadir di berbagai festival. Setengah berseloroh, Gan yang adalah teman nongkrong saya di Rotterdam menyatakan bahwa para sutradara sekarang sudah berani memilih dan mengirimkan filmnya festival film di tempat-tempat yang mereka juga ingin kunjungi. “Misalnya ke Argentina, atau Mesir,” ujar Gan. Di Malaysia, mereka tak dianggap “produk dalam negeri”. “Karena kami memakai dialog berbahasa Cina, pemerintah tidak menganggapnya sebagai film Malaysia. Karena itu pajak tontonan tidak dikembalikan, dan pemutarannya di bawah program international screening,” ungkapnya. “Kami kan warga negara Malaysia juga,” imbuhnya. Bahkan, saat di Festival Film Internasional Pusan hendak membuat program fokus Malaysia, pejabat negaranya seolah enggan membantu. “Padahal kami mewakili citra Malaysia,” ujar Gan, setengah mengeluh. Memang, gelombang baru itu didominasi ras China—kecuali Yasmin Ahmad, Amir Muhammad, serta sedikit sineas Melayu (dan India) lainnya—dan rupanya isu ras dan identitas masih kuat di sana. Tapi, mungkin, justru, tekanan dan tantangan itulah yang membuat mereka terus bereksplorasi dan meneriakkan eksistensi diri mereka.

Asia Tenggara

IFFR adalah satu dari sedikit festival film kelas dunia yang memberi ruang bagi filmmaker Asia Tenggara. Bahkan mereka membuat program-program tertentu khusus untuk wilayah ini. Maka hadirlah film-film fitur, pendek, bahkan instalasi dari Thailand, Singapura, Philiphina, tak terkecuali Indonesia.

Thailand sukses lewat Wonderful Town yang meraih Tiger Award. film panjang lainnya adalah film erotis Ploy ( Pen-ek Ratanaruang), dokumenter The Truth Be Told: The Cases Against Supinya Klangnarong ( Pimpaka Towira) dan film horror The Unseeable (Pen choo kub pee, Wisit Sasanatieng).

Para sineas negeri Gajah Putih ini juga meramaikan program seni instalasi bertajuk New Dragon Inn. Apichatpong Weerasethekul menjadi penasehat bagi Pimpaka Towira, Jakrawal Nilthamrong, Akrichalerm Kalayanamitr, dan Koichi Shimizu untuk instalasi interaktif, Black Air. Ada Krasob ( Nitipong Thinthupthai), Middle-Earth (Mutchim Lok, Thunska Pansittivorakul), Nimit (Meteor, Apichatpong Weerasethakul), The Planet ( Uruphong Raksasad), dan The Rocket ( Uruphong Raksasad).

Sedangkan film pendek mereka diwakili oleh Hero ( Thaweesak Srithongdee) dan A Voyage of Foreteller ( Jakrawal Nilthamrong).

Ada 5 film panjang dari Philiphina. Yang paling menonjol tentu saja John Torres dengan Years When I Was a Child Outside (Taon noong ako’y anak sa labas) yang berlaga di kompetisi utama. Film panjang lainnya, Drumbeat (Tambolista, Adolfo Alix jr), Philippine Bliss (Khavn), dan Standing Up ( Waise Azimi).Yang menarik, Death in the Land of Encantos (Kagadanan sa banwaan ning mga engkanto) dari Lav Diaz berdurasi 540 menit!

Singapura punya 881 ( Royston Tan, ia juga menjadi juri Tiger Awards), dan Lucky 7 (Qi ying pian) karya keroyokan Sun Koh, K Rajagopal, Boo Junfeng, Brian Gothong Tan, Chew Tze Chuan, Ho Tzu Nyen, Tania Sng. Untuk film pendek, ada Allen Ginsberg Gives Great Head, (X Ho), Grand Ma (Ah Ma, Anthony Chen), Fast Dream, dan Sin Sai Hong (Royston Tan).

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam keadaan itu, film-film Indonesia bagai berada di sarang macan , seperti pernah saya tulis di situs ini.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org