Kuntilanak 3:
Trilogi Pertama di Indonesia

Siaran Pers

Bertualang selama 20 hari di dalam hutan, melawan suhu dingin hingga 12 derajat Celcius, menelusuri wajah hutan dari helikopter yang berkeliling di ketinggian 100 meter dari rimbun pepohonan tertinggi, Kuntilanak 3 yang sedang dalam tahap post-production semakin bersiap untuk kembali meneror jutaan penggemar horor di Indonesia.

Dirilis 28 Februari 2008 mendatang, semangat MVP Pictures semakin tinggi untuk membuktikan bahwa Kuntilanak 3 bersama dua prequelnya adalah film dengan unsur horor terbaik yang pernah ada di Indonesia, mulai dari pengkarakteran yang semakin berkembang, lokasi yang bervariasi, hingga unsur-unsur horor yang tensinya semakin meninggi.

Tim kreatif Kuntilanak 3 terus mencari lokasi macam apa yang bisa menimbulkan efek seram melebihi rumah tua, kuburan, lubang pembuangan mayat, ruangan penyiksaan. Gelapnya hutan dan kerapatan pohon raksasa akhirnya terpilih untuk menjadi setting cerita akhir dari trilogi Kuntilanak ini.

“Di Indonesia, hutan mana yang enggak punya ‘cerita’?” ujar sang sutradara, Rizal Mantovani (Jelangkung, Jatuh Cinta Lagi, Kuntilanak 1, Kuntilanak 2).

“Hutan dengan suasananya yang gelap dan dingin disebut sebagai tempat bersemayam banyak mahluk lembut, termasuk Kuntilanak yang suka dengan pepohonan,” tambah Rizal.

Eksplorasi kengerian Kuntilanak 3 tidak hanya sebatas hutan saja. Kekejian teluh Kuntilanak membawa Julie Estelle (Alexandria, Kuntilanak 1, Selamanya, Kuntilanak 2), Imelda Therine (Quickie Express) , Laura Antoinetta, Mandala Shoji (Enam), dan Reza Pahlevi (Jelangkung 3) mempertahankan nyawa masing-masing di kegelapan gua, hingga gemuruh air terjun yang dahsyat.

“Penampakan Kuntilanak makin seram, dan kekejamannya makin tanpa ampun,” terang Julie Estelle yang meraih nominasi aktris terbaik di Festival Film Jakarta 2007 lewat film Selamanya... Tokoh Samantha yang diperankan Julie juga semakin kuat dan semakin teguh untuk membuat perhitungan dengan Mbah Putri yang penampakannya bahkan lebih seram dari Kuntilanak peliharaannya.

Dendam kematian Agung kekasihnya, membawa Samantha menghadapi keangkeran hutan yang menjadi benteng gaib desa Ujung Sedo hingga bertemu dengan empat orang anggota tim SAR, Darwin, Herman, Petra dan Asti, sedang menyisir hutan untuk mencari temannya yang hilang tanpa jejak. Petualangan empat anak muda tangguh ini akhirnya harus bersatu dengan misi gaib Samantha, bersama-sama menghadapi berbagai keganjilan hutan dan kebuasan Kuntilanak yang mematikan.

“Yang bikin aku semangat di Kuntilanak 3 ini adalah komitmen untuk selalu meningkatkan kualitas. Mulai dari kualitas cerita, kengerian, perkembangan karakter sampai ke hal-hal teknis pembuatan film. ” komentar Julie. Skenario Kuntilanak 3 dirancang untuk menghadirkan adegan-adegan horor tingkat tinggi yang dieksekusi dengan detil oleh Rizal Mantovani dan crew-nya. Satu unit helikopter disewa Rizal untuk mendapatkan gambaran hutan yang menakutkan, sekaligus untuk menciptakan kemegahan adegan kedatangan empat anggota tim SAR.

“Adegan dengan helikopter ini adalah adegan paling megah yang pernah ada di film horor Indonesia,” ujar Mandala Shoji yang memerankan Darwin, salah satu anggota tim SAR. Tidak hanya megah, Rizal Mantovani juga membuat adegan-adegan sulit dengan sangat akurat.

“Ada satu adegan dimana salah satu karakter harus loncat dari atas air terjun setinggi lebih dari 50 meter. Untuk adegan-adegan seperti ini ada ahlinya yang sengaja didatangkan khusus untuk menjamin keselamatan pemain,” ujar Laura Antoinetta yang dalam Kuntilanak 3 meluangkan waktunya khusus untuk berlatih menggunakan golok.

“Semua usaha ini diadakan untuk membuat sebuah film horor yang memang layak bikin ngeri, dan yang paling penting layak tonton dan karenanya orang tidak merasa percuma datang ke bioskop untuk Kuntilanak 3” ujar Rizal Mantovani mengomentari kesungguhan produksinya kali ini.

Film yang baik bertahan selamanya. Jangan lewatkan kengerian Kuntilanak 3 mulai tanggal 28 Februari 2008 di bioskop-bioskop Indonesia.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org