Darna Mampir ke Pusan
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

 

Sekadar mengingatkan, Darna (diperankan oleh Nia Zulkarnain dan Lidya Kandow) bisa dibilang Wonder Woman dari Indonesia dan dianggap meniru superhero bernama sama dari Philiphina. Musuh besarnya adalah Maria siluman ular yang bisa berubah menjadi siapa saja, diperankan oleh (diperankan Ria Irawan dan Dian Ariestya). Sedangkan karakter Dodi, tokoh pria utama, diperankan Ryan Hidayat dan Donny Nurhadi. Pemain lainnya adalah A Hamid Arieff, Rina Hasim, Koesno Soedjarwadi, dan Nani Widjaja.

“Gue tahu Darna bakal diputar di Pusan itu waktu liat di website dan katalognya PIFF,” ujar Mouly. Hari itu, Mouly yang mendapat jatah menonton 4 film dalam sehari sedang belum ada rencana, dan bertemu dengan tim Babi Buta yang Ingin Terbang, Edwin dan Meiske “Dede” Taurisia saat hendak menonton. Edwin lantas mencetuskan ide: "Kapan lagi coba nonton Lydia Kandou di bioskop?". Akhirnya mereka memesan empat tiket. “ Tapi kayaknya saat hari-H si Edwin ada something came up, gak jadi nonton”. Maka, Edwin pun melewati masa menikmati Darna melawan ular berkepala manusia. “Kalau gue yang suka Wonder Woman, ingin tahu superhero itu dalam versi Indonesianya,” tutur Zeke. “Dan di film itu Wonder Womannya sopan, tertutup,” imbuhnya.

Hari itu 7 Oktober pukul 13.30, penonton tidak begitu padat, cuma setengah ruangan bioskop, sekitar seratus orang. “Ada beberapa bule dan salah satunya ketiduran di belakang gue,” kata Mouly. “Tapi the film has its moments kok. Setidaknya buat gue. Hilarious banget. Apalagi pas shot kaki genderuwo di awal film”. Zeke juga menyatakan scene itu cukup berkesan. “Kaki raksasa, bapaknya siluman ular, hadir di sana, terus menendang rumah. Dan tiba-tiba diganti dengan suasana lagu musikal dari Nia Zulkarnain tentang kesengsaraan hidupnya di pom bensin Semanggi,” ujar Zeke yang sedang menggarap empat lagu bersama Emil Naif dan Anda Bunga untuk Pintu Terlarang karya Joko Anwar, serta scoring Mo Macabre (Malam Maut, Mo Bersaudara) yang dibintangi Daanish, Sigi, dan Julia Estelle.

Bagaimana kesan-kesan setelah menonton? “Hiburan yang absurd!” jelas Mouly, singkat. Bagi mereka, secara kualitas film itu tidak istimewa, malah terkesan jelek, dan kelihatan bohongan dan palsu banget. “But that's the art of it, hahaha” sambungnya. Zeke menambahkan, “Cupu deh. Walau pun diolah di laboratorium Tokyo, tapi kayaknya lab yang cupu,”. Bahkan dari awal mereka sudah tertawa-tawa sendiri. Tapi justru itu pula keistimewaan film itu. “ Istimewanya sih yah kita bisa lihat sinema kita pada zaman itu kurang lebih seperti apa,” ujar Mouly. Bagi penonton, film ini sudah dianggap berstatus cult.

Adegan akhir juga membekas di pikiran Zeke dan Mouly.”Darna ngalahin si genderuwo. Genderuwonya jatuh gitu kan nimpa jembatan, yang keliatan banget palsunya Dan ada shot tangannya nimpa mobil VW-VWan kodok kuning gitu terus tiba-tiba mobil tersebut nyetrum. Si genderuwo kesetrum dan tiba-tiba kebakaran. Cukup spektakuler sih!” ungkap Mouly. Di akhir kisah, Zeke menyatakan beberapa penonton berdiri dan bertepuk tangan.

Sebenarnya temanya cukup klise dan agak gombal: cinta segitiga. Kisah cinta Darna dan musuhnya yang memperebutkan Dodi. Zeke bisa merasakan pesan yang sarat dengan ideologi masa lalu: agar dalam mencari jodoh harus memperhatikan bibit bobot bebet. Satu lagi yang dicatat Zeke: ungkapan dan peribahasa 1980an. Yang paling diingat, antara lain:” Masak dipilih gabahnya baru dibeli berasnya”, kata Dodi menimpali nasihat ibunya soal jodoh. Atau, “Bersahabat bukan berarti bercinta”. Dan yang tak kalah kocaknya: “Salam hati manis-manis, jabat hati erat-erat,”.

Bagaimana dengan masa kini? Industri film memang sedang naik, tapi belum ada juga yang bertema superhero. “Mungkin belum ada biayanya kalau mau bikin yang proper. Atau belum ada idenya yang sesuai. Indonesia sendiri kan belum punya superheronya sendiri yang nggak nyontek dari mana-mana” ujar Mouly yang kurang setuju dengan tradisi latahan dan hanya mengekor Barat. “Film superhero pasti laku, dan bisa dibuat komersil” Zeke optimis. Ia ingat, pernah ada film animasi dari Bandung berjudul Saga dari penulis Gundala Putra Petir, memakai gaya capture motion, tapi tak terwujud.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org