Ketika Ringgo Tidak Lagi Menjerit…
oleh Ifan Adriansyah Ismail
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

…adalah ketika dia tampil dalam film terbaru Monty Tiwa, Kalau Cinta Jangan Cengeng (Cengeng). Ya, ketika peran-peran Ringgo Agus Rahman nyaris mencapai titik typecast, kali ini ia tampil melawan arus: berperan dalam drama serius. Kali ini, jangan harap Anda akan mendengar jeritan kalut yang sudah jadi ciri khas akting Ringgo di film-film komedi sebelumnya.

Cengeng bercerita tentang seorang selebriti bernama Boy (Ringgo) yang berusaha menebus masa lalunya sebagai pengguna narkoba. Saat itu, ia menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa keluarga seorang gadis bernama Yani (Marshanda). Ketika Boy yang kini telah bertobat bertemu Yani, cerita mulai bergerak maju. Di satu sisi ada Boy yang telah berhenti ‘memakai’ dan berkhotbah tentang buruknya narkoba. Di sisi lain, ada Yani yang berubah jadi ‘pemakai’, tapi pada prinsipnya dia adalah korban kelakuan Boy di masa lalu. Di sinilah Boy mulai berkonflik, terutama dengan dirinya sendiri.

Monty Tiwa mengakui bahwa ada unsur personal dalam filmnya kali ini. Kisahnya dicampur dari pengalaman pribadi di sekitarnya. Tapi ia seakan mewanti-wanti. “Film yang personal kemungkinannya ada dua. Kalau nggak bagus banget ya jelek banget,” ujarnya. Film yang personal memang membutuhkan penggarapan yang peka. Salah penanganan sedikit saja, ceritanya dalam bahaya terjerumus ke perangkap racauan pribadi yang alih-alih menimbulkan empati, malah menjauhkan penonton.

Membesut film dramanya yang pertama, Monty mengaku terbebani. Bahkan otoritasnya sebagai pengambil keputusan terganggu oleh kekagumannya sendiri terhadap dua penulis skenarionya, Sinar Ayu Massie dan Titien Wattimena. Proses bongkar pasang alur cerita kerap terjadi karena “terlalu banyak yang bagus”.

Di sinilah tampaknya ketidaktegasan Monty berakibat fatal. Subplot cerita yang melibatkan Ahmad (Dwi Sasono) tergarap hanya sampai di tengah jalan, dan malah menimbulkan problem baru yang tak terselesaikan di layar. Selain itu, momen-momen dramatis juga tersebar di beberapa tempat yang tak perlu, sehingga bila digrafikkan, dramatika kisahnya sebetulnya datar, dengan geronjalan di sana-sini.

Dan Monty memang tak mengelak. “Gua ini sutradara plin-plan,” katanya. Ketika disinggung tentang kesuksesannya menyutradarai Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (Maaf), Monty mengatakan bahwa menyutradari komedi bisa dilakukannya tanpa beban. Bahkan, meskipun dia mengaku melanggar semua prinsip-prinsip dasar sinematografi, Maaf dibuat dengan santai dan jujur. Terbukti, khalayak menerima.

Eksperimen Monty dalam drama kali ini tampaknya memang berat. Lalu adakah hubungannya dengan keputusan untuk menggunakan aktor-aktor di luar peran kebiasaan mereka? “Gua pengen mereka ikut merasakan penderitaan gua,” katanya setengah bercanda. Baginya, memang sulit untuk mengeluarkan aktor-aktor yang perannya sudah tipikal menjadi sesuatu yang lain. Hal itu sangat terasa pada Marshanda, yang terbiasa dengan peran-peran baik hati di sinetron. Bahkan dalam perannya di film ini, masih terlihat jelas sisa doktrin akting a la sinetron, bahwa akting bagus itu berarti berteriak.

Menempatkan Agus Ringgo dan Marshanda di dalam peran yang tidak biasa bisa dibilang eksperimen yang berani. Namun, masih perlu dipertanyakan lagi, adakah keputusan itu tidak justru memperberat beban film yang bahkan sudah menanggung beban pesan anti-narkoba ini?

Pada akhirnya, yang mungkin akan menggelitik calon penonton adalah fakta bahwa aktor-aktornya memainkan peran yang tidak biasa. Apakah ini menjadi eksperimen yang berharga, atau hanya menjadi bahan obrolan infotainment minggu ini, waktu akan membuktikan. Yang jelas, film ini menjadi tonggak ketika Ringgo tidak lagi berteriak, sementara Marshanda masih saja berteriak.

Semoga tidak perlu menyisakan Monty Tiwa dan penonton yang terpekur bengong menyaksikan mereka.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org