Finishing the Game

Dari Cinemasia 2008
Banjir Film Asia di Rialto
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

 

Suasana di bioskop Rialto, bilangan Ceintuurbaan, Amsterdam, agak lain dari biasanya. Sejak 2 April lalu, orang-orang bule berkerubung di sinema alternatif itu, bercampur dengan wajah-wajah oriental. Mereka sedang menikmati dan mengapresiasi ajang festival dua tahunan Cinemasia. Festival ini terpusat di Rialto.

Tema utama kali ini adalah Booming Asia, di antaranya seputar diaspora. “Kami ingin mengangkat tema tentang representasi komunitas orang Asia di benua lain seperti Eropa, “ ujar Doris Yeung, sang direktur festival kepada RumahFilm. “Banyak sekali cerita tentang kelompok minoritas Asia, misalnya di Belanda, yang tentunya berbeda dengan di negeri asal,” ungkapnya. Doris juga menyatakan bahwa batasan definisi film Asia juga sudah pada tahap lintas-budaya dan lintas batasan dari definisi “film Asia” yang sudah baku.

Karena itu, tidak heran, banyak film seputar melintas batas ini, yang mengingatkan kita pada Pachinko and Everyone’s Happy dari Harry Dagoe Soeharyadi, atau 6.30 dan Bunian. Misalnya saja film pembuka Finishing The Game: The search for a new Bruce Lee (Justin Lin, USA). Film itu adalah mockumentary yang cerdas, kocak, dan kental dengan musik yang penuh dengan efek wah (“cekuek cekuek”) dan gaya visual 1970an tentang pencarian pemeran pengganti Bruce Lee yang wafat sebelum menuntaskan The Game of Death. “Dan begitulah stereotipe bintang film Asia di Hollywood zaman itu,” kata Doris.

Atau di Dark Matter (Chen Shi-zheng, USA / China), sebuah film tentang mahasiswa S3 bidang Fisika yang genius namun hidup penuh prihatin. Kita juga akan disuguhi bagaimana kehidupan orang rantau lengkap dengan keseharian (misalnya memasak seadanya, bergaul sesama anak kos, atau pendekatan dengan gadis bule) dan benturan budaya (“Mengapa bintang filmnya selalu bilang ‘I am coming’, memangnya mau pergi ke mana?” tanya Liu Xing saat melihat film porno di teve kabel, contohnya). Film yang semakin mendekati akhir semakin depresif ini dan dibintangi Meryl Streep ini memenangi Alfred P. Sloan Feature Film Prize di Festival Sundance tahun lalu.

Contoh lainnya adalah Daisy (Andrew Lau, Korea) yang dibuat oleh sutradara Hongkong dengan bintang film Korea (si imut Jeon Ji-Hyung) dan disyut sepenuhnya di Belanda. Atau Le voyage du ballon rouge dari sutradara Taiwan Hou Hsiao Hsien dibintangi oleh Juliette Binoche dan aktor Prancis lainnya.

Kegiatan kongkret lainnya adalah Cinemasia Filmlab yang dimulai sejak 2006. Para sutradara muda blasteran Asia-Eropa diminta untuk mengajukan ide film pendek, dan lantas tim dari Cinemasia (Yan Ting Yuen, Djie Han Thung, dan Doris Yeung -- akan membimbing mereka untuk membuatnya. “Program ini untuk merangsang produksi film tentang orang Asia di Eropa atau dari sutradara keturunan Asia di sini,” ujar Doris.

Salah satunya adalah Tati Wirahadiraksa yang menjadi finalis lewat Images from Another World. Wanita berdarah Belanda-Bandung ini mengangkat tema tentang pencarian identitas warga Cina dengan cara mentransformasikan kaligrafi lima elemen Cina ke dalam tarian Hiphop. Dengan satu gulung kaligrafi Cina dan 3 penari selama 2 hari Tati bersama krunya mencoba bereskperimen tanpa skrip dan hasilnya adalah sebuah budaya hybrid. “Saya lama bergaul secara Eropa di sini. Tapi begitu berkaca, saya melihat sesuatu yang bukan Asia, tapi bukan pula Eropa, sesuatu yang berbeda”, ungkap Nita Lim, sang kaligrafer, yang menjadi naratornya.

Dengan latar belakang teater multikultural, Tati membuat improvisasi. “Kendalanya adalah, teater, tarian, dan kaligrafi adalah medium yang sama sekali berbeda” ungkap Tati kepada RF.

Film-film lainnya yang dipilih oleh tim kurator juga kelas dunia. Sebut saja Flower in the Pocket (Liew Seng Tat, Malaysia) yang berjaya di International Film Festival Rotterdam dan Megane (Naoko Ogigami, Jepang) yang sukses di Berlinale International Film Festival tahun ini. Juga The Most Distant Course (Lin Jin Jie, Taiwan) yang puitis dan pemenang Special Jury Award di Taipe Film Festival, serta Getting Home, road movie surealis karya Zhang Yang (Cina) yang menjadi film terkuat di festival ini.

“Saya memulai festival ini dari awal, kecil-kecilan dulu, pada 2004. Saat itu baru sekitar 5 film,” tutur Doris. “Sekarang masih dua tahunan, tapi nanti bertahap akan menjadi tahunan” imbuhnya. “Awalnya adalah ingin mendukung komunitas Asia-Eropa di Belanda dan memberi ruang bagi kisah-kisah kami di sini”.

Dari pengamatan RF, Cinemasia berjalan dengan sederhana, dengan pengunjung yang yang tersegmentasi namun penuh antusias menonton dan mengapresiasi. “Dari tahun ke tahun makin banyak yang berminat pada film Asia dan festival ini,” jelas Doris.

Film yang ditampilkan berasal dari Jepang, India, Taiwan, Korea, Philiphina, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Bagaimana dengan Asia Barat? “Kalau Negara-negara Arab dan Iran kami tidak anggap Asia, tapi Timur Tengah” Doris menjelaskan. Sayang sekali, banyak film (beberapa tidak diinfokan di buku acara) yang diputar dengan terjemahan bahasa Belanda, sehingga penonton non-Belanda kesulitan mengikuti jalan cerita—kecuali pada film-film yang secara audio visual kuat seperti Blood Brothers (Alexi Tan) dan Getting Home,.

Dalam pesta kali ini, ada dua film Indonesia yang diputar di hari terakhir, Kala (Joko Anwar) dan Quickie Express (Dimas Djayadiningrat). Untuk film pendek, ada The Matchmaker dari Cinzia Puspita Rini. John Badalu menjadi kurator tamu sejak 2004. “Saya berkawan dengan John sejak 4 tahun lalu, dan beberapa kali saya ke Jakarta, jadi sedikit banyak tahu tentang sinema Indonesia,” kata Doris. Dijadwalkan Joko Anwar selaku sutradara Kala dan penulis skenario Quicky Express akan hadir dan berdiskusi dengan penonton. Mengapa Joko? “Karena saya penggemar berat Joko sejak Janji Joni,” terang Doris. Dukungan dari KBRI juga hadir, dengan menyediakan tiket pesawat dan wisma KBRI di Wassenar sebagai akomodasi.

Sebelumnya, pernah diputar Arisan! pada 2004 yang mengundang sutradara Nia Dinata. Sedangkan Petualangan Sherina (Riri Riza), Virgin ( Hanny R. Saputra) dan

Detik Terakhir ( Nanang Istiabudi) hadir pada 2006, bersama film-film pendek seperti Still ( Lucky Kuswandi), Lens (Djie Han Thung, Indonesia/Belanda), dan G embos (Vanni Jamin). “Bagi yang ingin berpartisipasi untuk festival mendatang, bisa kontak saya” pesan Doris sebelum menutup wawancara.

Setelah ini, Kala akan diputar di Lantaren Rotterdam dan Plaza Futura Eindhoven, sedangkan Quicky Express di Louis Hartlooper Complex Utrecht bersama film-film penting lainnya. Bagaimana reaksi penonton Amsterdam dan sekitar terhadap film-film dari tanah air? Tunggu laporan berikutnya.

Sebelum film diputar, di Rialto selalu diputar tentang program New Malaysian Cinema yang akan digelar 29 Oktober hingga 2 November. Sebuah iklan yang bikin iri sineas Indonesia, mengingat di Belanda banyak sekali warga Indonesia yang bermukim dan bersekolah, dan sudah layak untuk membuat festival (kecil-kecilan) sendiri. Kalau Festival Film Negara Balkan atau Himalaya saja ada, mengapa kita tidak?***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org