Klik gambar untuk memperbesar

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62: 18 May 2009
Day 6: Antichrist, Kembalinya sang Agen Provokator, dan Eric Cantona
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

“The worst thing for me would be that my film didn’t provoke anything”. Itu kata-katanya Lars Von Trier yang saya kutip dari buku Trier on Von Trier yang diedit oleh Stig Bjorkman, dihalaman yang saya lupa. Makanya, saya tidak heran, ketika Antichrist membuat heboh masyarakat perfilman Cannes hari ini. Dan Cannes memang adalah tempat yang tepat bagi Lars untuk membuat provokasinya berdampak luas. Selain itu, kita tentu tidak lupa, Lars adalah anak kesayangan Festival Film Cannes.

Lars Von Trier (saya singkat LVT saja biar mudah) memang pantas disebut agen provokator. Bayangkan, Antichrist-nya yang diputar tadi malam –dan bikin saya ketemu lagi dengan papan "Complete Full" itu—langsung bikin berang banyak orang. Sayangnya saya tidak bisa komentar tentang filmnya sendiri. Jadi saya menyimak jalannya konferensi pers itu sekadar karena penasaran. Dan saya yakin, kalau saja tidak ada penjaga, mungkin LVT sudah digebuki rame-rame.

Pertanyaan pertama yang diajukan pagi itu dengan nada berang kurang lebih seperti ini : “Anda maunya apa sih bikin film ini. Anda harus bertanggungjawab menjelaskan kepada saya dan juga kepada yang hadir disini, kenapa Anda harus bikin film yang tak bermutu ini,” kata wartawan itu dengan nada tak enak. LVT yang didampingi Willem Dafoe dan Charlotte Gainsbourg dua bintang utamanya dalam Antichrist itu dengan wajah bingung sempat terdiam.

Lalu dengan enggan LVT menjawab: “Well, kenapa saya harus menjustifikasi film saya? Saya tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada Anda. Saya bikin film yang saya mau, dengan uang saya sendiri, dan saya tidak merasa perlu untuk bertanggungjawab kepada siapa-siapa,” katanya enteng. Voila…, makin ramelah ruang pers. Pertanyaan-pertanyaan menyerang datang bertubi-tubi. Dan setiap kali itu pula, jawaban LVT seperti minyak tanah yang dituang ke bara api.

Sampai di satu titik gerah, dengan enteng LVT bilang: “Well you know, God is not the best God in the world. But me, I’m the best director in the world”. Nyaris semua yang hadir tercengang. Ada yang menganggapnya lucu, tapi ada juga yang menanggapinya serius dan memilih keluar dari ruangan meninggalkan kursi dan pintu yang ditutup berdentum. Bisa dipastikan, kalimat itu akan jadi headline di mana-mana besok.

Sekali lagi, sayangnya saya tidak bisa berkomentar tentang Antichrist dan saya sendiri tidak tahu apakah LVT the best director in the world. Tapi saya tahu, film-filmnya seperti Dancer in the Dark, Dogville, Manderlay, Breaking The Waves, Europa, Epidemic, The Element Of Crime, Idioterne (semuanya pernah masuk seksi kompetisi di Cannes) memang adalah film-film yang tidak bisa sekadar dibilang film bagus. It’s beyond that.

Dan tidak salah kalau ada yang berani bilang bahwa LVT adalah sutradara jenius. Saya setuju. LVT selalu menciptakan bahasa dan hal-hal baru dalam filmnya. Saya tidak bisa menuliskan dengan detil karena saya bukan kritikus dan tidak punya cukup banyak perbendaharaan kata-kata teknis untuk menulis film. Tapi jika Anda menonton film-filmnya, Anda pasti tahulah maksud saya.

Dan Antichrist –seperti yang saya pernah baca di koran—adalah hasil dari depresi hebat dan tak terjelaskan yang dialami LVT selama beberapa tahun terakhir ini. Menurut pengakuannya, LVT banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, nyaris gila dan berhari-hari hanya terpekur menatapi langit-langit kamarnya. “Part of the road to recover was reinventing the horror film in the form of Antichrist,” katanya. “ I have spent all my energy on making this bird fly –aka Antichrist—what’s up next, I don’t know. First I have to survive Cannes. It can be terrible but it is part of the job”.

Ada yang bilang, LVT sebetulnya cuma pura-pura depresi, dan entah kenapa, pada umumnya yang bilang begini adalah wartawan-wartawan Amerika. “Itu kan bagian dari aktingnya dia, biar filmnya makin heboh,” kata bisik-bisik di ruang pers. Saya sih tidak tahu dan tidak ingin membuat analisis tentang LVT. Yang saya tahu, LVT ternyata tidak seperti yang terlihat di foto-foto yang ada di majalah atau di internet. Di foto-fotonya, dia terlihat seksi, berwibawa dan agak angkuh. Ketika bertemu dengan LVT langsung, ternyata orangnya rikuh, agak kagok, dan tersenyum malu-malu kala diminta melambai untuk foto atau tanda tangan.

Kalau melihat LVT seperti itu, saya jadi tidak punya gambaran, seberapa gila film Antichrist itu sebetulnya. Dengar-dengar sih adegan kekerasannya sudah tidak bisa dijelaskan. Apalagi adegan mutilasi (ampun deh…, ada mutilasi segala!) yang katanya tidak terdeskripsikan dengan kata-kata karena tidak ada kata yang tepat. Saya jelas makin penasaran dengan kehebohan itu. Tapi saya akan menunggu, karena hari ini sudah ada 17 orang yang mewanti-wanti saya untuk tidak menonton film itu selagi hamil. Pfuffff…, LVT bisaaaa ajaaa!

Mencari Eric Cantona dan Mussolini
Hari ini akhirnya ada juga film yang mendapat applause paling meriah dan bahakan tawa paling nyaring. Beberapa hari ini, penonton sepertinya bête dengan film-film serius sehingga jarang menanggapi. Tapi kali ini, mereka sepertinya mendapat pencerahan saat menonton film terbaru Ken Loach, Looking for Eric yang ada di seksi kompetisi.

Ini mungkin untuk pertama kalinya dalam karir Ken Loach sebagai sutradara film yang mengkhususkan diri di arena realisme sosial. Loach yang film-filmnya juga mondar mandir masuk kompetisi di Cannes membuktikan bahwa dia punya selera humor dan bisa bikin film humor tanpa menanggalkan sentuhan khasnya yang sangat peka terhadap kehidupan masyarakat kalangan bawah.

Kisah Looking For Eric juga tidak berat. Adalah Eric Bishop, tukang pos penggemar berat Eric Cantona yang punya masalah keluarga dan tidak percaya diri yang berlebihan. Suatu kali saat nyimeng, Eric Bishop kedatangan sang King Eric yang diperankan sendiri oleh Eric Cantona. Mulailah hubungan ‘pertemanan’ mereka terjalin dan sedikit demi sedikit Eric si tukang pos yang tidak pede ini mulai percaya, bahwa kepercayaan diri bisa terbangun tidak hanya dari status sosial atau pekerjaan yang lebih intelek.

Looking For Eric yang terasa ringan ini jadi punya kedalaman karena kepekaan Ken Loach menangkap detail-detail kehidupan tukang pos serta kegilaan para fans Manchester United. Bahkan saat film ini memanas ketika Eric tukang pos menghadapi masalah keluarga, film ini tidak kehilangan kendali dan tidak terjerumus masuk jurang melodrama. Asyiknya lagi, Loach bisa membangun chemistry yang pas antara King Eric dan Eric si tukang pos. Rasanya inilah film wajib tonton bagi para penggemar MU.

Film menarik lainnya di seksi kompetisi adalah karya terbaru Marco Bellochio, Vincere. Kalau tahun lalu ada dua film Italia di seksi kompetisi utama (Gomorra dan Il Divo), tahun ini Vincere adalah satu-satunya. Vincere berkisah tentang Ida Dalser, istri pertama Benito Mussolini yang berjuang mendapatkan pengakuan keabsahan pernikahan dan putra mereka. Kisah Ida Dalser ini versi lain kehidupan pribadi Benito Mussolini yang jauh berbeda dari versi resmi pemerintah fasis saat itu.

Selama memegang tampuk pemerintahan Italia, Mussolini berusaha menghapus Ida Dasler dan putra mereka Benito Albino Mussolini dari catatan masa lalunya. Ketika Dasler menolak untuk ‘dihapus’, ia dan putranya akhirnya malah berakhir tragis di rumah sakit jiwa. Bellochio memasukkan footage-footage asli (kalau tidak salah namanya superimpose ya?) peristiwa-peristiwa bersejarah dan juga pidato-pidato Mussolini selama memerintah. Dengan teknik ini, Vincere jadi terasa lebih nyata dan sangat mendukung struktur film ini. Tapi beban terberat tentu saja harus ditanggung oleh Giovanna Mezzogiorno yang berperan sebagai Ida Dasler. Dan untungnya, Mezzogiorno mampu menanggung beban itu dan kemungkinan akan mendapat gelar artis terbaik tahun ini. We’ll see later!

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org