Klik gambar untuk memperbesar

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62: 16 Mei 2009
Day 4: Scorsese Menyelamatkan Film, Won Bin dan Penjara Perancis
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

Kemarin sore, Martin Scorsese tiba-tiba muncul di Palais Du Cinema. Agak mengejutkan atau saya yang memang tidak memperhatikan jadwal, entahlah. Tapi yang penting, dia datang melenggang dan masuk ke ruang pers dengan anteng. Padahal project film terbarunya, biopic tentang Frank Sinatra, belum selesai. Jadi saya pikir, dia hanya akansay hello, sekedar basa-basi untuk promosi.

Saya salah duga. Oom Marty datang untuk berkampanye tentang sebuah proyek yang lebih dari sekedar membuat film. Memulihkan dan mengawetkan master dan kopi film-film yang terancam punah karena perawatan yang tak layak. Scorsese yang mendirikan World Cinema Foundation ini memulai proyek reservasi gara-gara menonton film The Seven Year Itch karya Billy Wilder yang dibuat tahun 1955 dalam kondisi tak lagi sesuai dengan warna aslinya. Warna kopi film ini memudar karena pita seluloid yang terkena sindrom asam pengawet. Saya sendiri tidak mengerti bahasa teknisnya. Tapi Anda tahulah maksud saya.

Nah, Scorsese tentu saja shock, dan sejak itu mulai berkampanye untuk mengumpulkan dana demi menyelamatkan setiap inci seluloid. “Kita tentu tidak ingin kopi film-film ini hanya jadi tumpukan pita berbau cuka lalu dibikin salad,” katanya bersemangat di depan pers. Scorsese mengaku sudah mengajak beberapa rekannya seperti Brian DePalma, Steven Spielberg, Paul Schrader, serta Coppola untuk ikut dalam proyek ini.

Proyek penyelamatan film-film ini juga tidak hanya akan dibatasi untuk film-film buatan Amerika saja tapi juga untuk film-film diseluruh dunia dan sudah memulainya di Brazil, Turki, Dubai, Korea Selatan, dan akan menyusul yang lain. Dan Martin Scorsese pun mendapat applause meriah! Ternyata, Marty makin tua makin bijaksana.

Kisah Won Bin di Cannes
Awalnya saya tidak mengerti kenapa para penggemar film dan drama Korea dalam lingkar pertemanan saya yang tidak luas itu rame-rame mengirim SMS dengan isi yang nyaris seragam: “Jangan lupa foto dan tanda tangan Won Bin ya! ”. Bahkan adik saya pun ikut-ikutan mengirim pesan. Hmmmm…, saya bingung, mereka tahu darimana Won Bin bakal ada di Cannes?

Barulah hari ini saya sadar, setelah menonton film Mother karya Bong Joon Ho di seksi Un Certain Regard. Saya nyaris tidak mengenali Won Bin, aktor Korea cakep yang pernah bikin saya tergila-gila di masa puber. Di film ini ia berperan sebagai cowok dengan mental agak terbelakang yang punya ibu yang super protektif.

Saya ingat, Tan Chui Mui, sutradara film Malaysia itu pernah bilang, “Aktor artis Korea adalah aktor artis terbaik di dunia sinema Asia. Mereka bisa jadi karakter apa saja dengan sangat meyakinkan,” katanya. Dan saya teryakinkan. Apalagi setelah menyaksikan film Thirst karya Park Chan Wook serta Mother-nya Bong Joon Ho ini.

Tapi saya pikir, semua juga kembali lagi kepada sutradaranya. Won Bin dan Kim Hye Ja –artis setengah baya langganan peran ibu dalam drama-drama Korea—bisa berakting dengan sangat baik karena arahan yang tepat dari Joon Ho. Dengan Mother –serta sebelumnya The Host dan Memories of Murder— Joon Ho jelas ditakdirkan untuk menjadi auteur yang akan tercatat dalam sejarah perfilman Korea Selatan.

Hari ini, masyarakat Perancis –secara umum– seperti mendapat ‘hadiah’ dari filmmaker-nya sendiri , Jacques Audiard. Sutradar a Perancis kelahiran tahun 1952 ini, hadir di seksi kompetisi dengan karya terbarunya A Prophet. Sayangnya saya tidak punya banyak perbendaharaan kata bahasa Indonesia untuk bisa mendeskripsikan film ini dengan tepat.

Film ini mengejutkan karena ini mungkin film Perancis yang bisa dicerna dengan mudah tapi sulit untuk dimasukkan kategori genre. Thriller, fantastic, crime, ghost, drama…, atau apapunlah namanya, yang dari segi kualitas dan intensitas akan sulit mencari perbandingannya di dunia film Perancis.

Secara narasi dan visual, A Prophet mampu merangkum filosofi, spiritual serta masalah sosial yang merupakan representasi Perancis saat ini. Untuk memotret wajah masyarakat dan kebanalannya, Audiard mengambil penjara sebagai contoh kasus. Audiard cukup berani mengambil resiko ditengah banyaknya stereotype penjara yang diciptakan oleh film-film Amerika. Dari penjara inilah, Audiard ingin bicara banyak hal. Sayangnya, saya tidak punya waktu untuk membahas film yang menarik ini sekarang. Mungkin lain kali ketika saya punya banyak waktu untuk berpikir. Maaf.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org