Klik gambar untuk memperbesar

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62: 14 Mei 2009
Hari ke-2: Lupa Makan Itu Biasa
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

Niat untuk menonton film sebanyak-banyaknya yang bisa ditonton kadang mengabaikan prioritas penting lainnya. Gara-gara melihat nama penting didaftar film hari ini, rasanya tak mungkin melewatkan film mereka. Lihat saja daftar hari ini dan catatan pinggirnya:

8.30
Grand Théâtre Lumière
Compétition
Fish Tank 2h04
Andrea Arnold

(selesai sekitar jam 10.34. Masih ada waktu sekitar 30 menit untuk antri di film selanjutnya. Agak telat untuk kartu biru. But why not try?)

11.00
Salle Debussy
Un Certain Regard
Kazi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh
(No One Knows About Persian Cats) 1h46
Bahman Ghobadi

(selesai sekitar 12.46. Press Con Lou Ye jam 12.30. Tidak mungkin keburu. Foto Lou Ye terpaksa tidak ada. Tapi ada alternatif. Ngambil di situs festival. Cukup waktu untuk antri film berikutnya)

13.30
Salle Debussy
Un Certain Regard
Kuki Ningyo (Air Doll) 2h05
Hirokazu Kore-eda

(selesai sekitar 15.35. Cukup waktu mengantri film selanjutnya)

16.30
Salle Debussy
Compétition
Bak-Jwi (Thirst) 2h13
Park Chan-Wook

Saya berhasil melewati itu semua dengan sukses, artinya mengantri tanpa perlu menghadapi tulisan ‘Complet Full’ saat giliran saya tiba. (Ini pernah terjadi saat mengantri untuk nonton No Country For Old Men-nya Coen bersaudara tahun 2007 lalu). Sampai usai menonton Bak Jwi nya Park Chan Wook yang pernah bikin Oldboy itu. Semua baik-baik saja. Diluar matahari masih bersinar walau waktu sudah menunjukkan angka 18.33.

Tapi kemudian, sampai diluar Salle Debussy, badan mulai goyah, tangan mulai gemetar, kaki kaki terlihat bengkak dan didalam perut saya ada mahluk mungil menendang-nendang protes. Barulah teringat, saya lupa makan siang! Apalagi usai menonton filmnya Park Chan Wook, anda tahu kan sutradara ini. Thirst jauh lebih serem dari Oldboy. Serem dalam arti lebih berlumur-lumur darah muncrat, soalnya ini cerita tentang vampir walaupun tanpa taring. Jadilah makin bikin badan saya dingin sampai gemetar.

Tapi menonton film memang pantas diperjuangkan. Diatas segala kemegahan karpet merah, diantara hiruk-pikuk kegiatan festival dari hari kehari, ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur walaupun dalam taraf tertentu akhirnya bisa membahayakan. Lupa akan prioritas penting lainnya. Tapi sebetulnya ini semua bisa diatasi. Kuncinya hanya satu: jangan lupa menyusupkan biskuit, coklat, cemilan kecil serta sebotol kecil air. Jadi anda tidak perlu repot memikirkan makan siang.

Dari pinggiran Inggris hingga ke Underground Iran

Ok. Let’s talk about movies. Saya suka sekali dengan Fish Tank karya sutradara perempuan asal Inggris, Andrea Arnold. Fish Tank mengikuti tradisi realisme sosial yang sudah terlebih dulu dirintis oleh para senior seperti Ken Loach atau Dardenne bersaudara. Kita semua tahu, tidak mudah menjadi gadis berusia 15 tahun yang hidup dengan ibu –a single mother--, dan seorang adik perempuan, tapi tanpa figur ayah.

Mia, remaja 15 tahun itu, seperti kuda liar tanpa pemilik yang bingung akan berlari ke arah mana. Sampai suatu ketika, figur laki-laki dewasa masuk kekehidupannya dalam wujud Connor (Michael Fassbender) kekasih sang ibu. Hadirnya Connor membuat Mia merubah cara pandang terhadap dirinya sendiri. Storyline yang terdengar klise tapi Andrea Arnold membuat Fish Tank menjadi objek observasi tentang hubungan dinamis –walau tidak harmonis-- antar karakter-karakternya.

Lalu film terbaru dari Bahman Ghobadi, Kasi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh (No One Knows About Persian Cats) di seksi Un Certain Regard, juga tak kalah menarik. Film ini banyak dikritik karena mencampur aduk dokumenter dan fiksi, dan bahwa musik-musik latarnya membosankan, dan aktor-aktornya berakting kaku, dan lain-lain. Saya bilang: so what?.

Campur aduk bagi saya tidak masalah selama layak tonton. Musik-musiknya memang musik-musik yang umum didengar dimana-mana. Ada rap, pop rock, rock alternatif, sampe musik tradisional. Tapi kemudian, No Knows kemudian jadi menarik karena memperkenalkan sebuah sisi lain yang belum pernah diangkat sebelumnya oleh sineas Iran. Tentang kehidupan dan perjuangan para musisi underground untuk bisa bebas memainkan musik karya mereka dibawah tekanan rezim yang ketat membatasi kreatifitas.

Tentang akting. Well, semua orang tahu, Bahman Ghobadi nyaris tidak pernah memakai aktor-artis professional. Semua musisi yang ditemui di film ini adaah musisi undergorund beneran kecuali beberapa non-profesional aktor yang ditempatkan dalam format dokumenter. Film ini pun disyut sambil ‘main kucing-kucingan’ dengan otoritas setempat. Dengan semua keterbatasan itu, dilengkapi dengan dialog-dialog ringan yang mengalir seperti obrolan di warung kopi, No One Knows menjadi film yang sangat kritis tapi sekaligus tidak kehilangan energi humornya.

Boneka Sex dan Vampir Bersalib Tanpa Taring

Hirokazu Kore-eda adalah salah satu filmmaker yang punya sentuhan tidak biasa dalam setiap film-filmnya. Nyaris tidak ada perbedaan antara film dokumenternya (without memory), film drama (Nobody Knows), hingga film semi-drama-fantastisnya (After Life). Ditangan Kore-eda, semua film-film itu punya sentuhan kesederhanaan yang nyaris magis menggunakan material-material nyata dan bukan olahan CGI. Hal yang sama pun ada dalam film terbarunya Kuki Ningyo (Air Doll).

Kuki Ningyo berkisah tentang Nozomi, seorang (atau sebuah) boneka sex yang tiba-tiba menemukan nafas kehidupan dalam arti harfiah maupun dalam arti sebenarnya. Peralihan Nozomi dari boneka udara menjadi manusia dipresentasikan dengan ‘simple’ tanpa efek-efek rumit. Nozomi adalah ‘milik’ seorang pria kesepian yang menjadikan Nozomi sebagai ‘istri’. Lepas dari konotasi mesum boneka sex, Kore-eda justru membuat Air Doll sebagai media meditasi untuk mempertanyakan lagi esensi hidup manusia lewat sosok Nozomi.

Ketika Nozomi menemukan hati, ia mulai bertanya mengapa ia kosong, mengapa ia ada, kapan ia ulang tahun, siapa yang menciptakannya. Sejumlah pertanyaan itu membawanya pada keinginan yang lebih manusiawi, ia ingin hidup seperti manusia lainnya. Ia ingin mencintai, ia ingin bisa merasakan, ia ingin menjadi tua. Nozomi tidak ingin kosong lagi, ia tidak ingin hanya berisi udara.

Diantara keinginannya untuk tidak kosong, Nozomi malah mendengarkan banyak pengakuan dari orang-orang yang ditemuinya. Bahwa hidup mereka kosong dan menyedihkan. Selain ingin merefleksikan kondisi psikologis masyarakat modern sekarang, Nozomi juga adalah proyeksi budaya konsumtif yang makin tak terbendung dikalangan masyarakat urban. Dengan sedih, Nozomi mendapati bahwa ia ternyata hanya ‘berharga’ tidak lebih dari 6000 yen dan bisa diganti ketika pemompa udaranya rusak. (tunggu review lebih lengkapnya)

Kita semua tahu karya-karya Park Chan Wook seperti Oldboy (mendapat Grand Prix di Cannes tahun 2003), Lady Vengeance, Sympathy for Mr. Vengeance dan salah satu film dalam Three Extremes. Chan Wook selalu saja berhasil membuat saya merem melek setiap kali menonton film-filmnya. Dan film terbarunya Thirst membuat saya memecahkan rekor terbanyak merem.

Thirst berkisah tentang seorang pastor taat dengan niat mulia untuk membantu umatnya menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya. Karena itu ia setuju untuk menjadi kelinci percobaan sebuah vaksin temuan baru. Percobaan itu malah membuatnya horny tak terkira, haus darah tak terbendung hingga kemampuan ilmu meringankan tubuh yang membuatnya bisa melayang-layang diudara.

Lepas dari kemampuan film ini membuat saya mual-mual dan memaksa saya menutup mata berkali-kali, Thirst bertabur satir yang menyentil agama dan manusia-manusia hipokrit. Ini membuat Thirst jauh berbeda dari film-film vampir romantis macam Interview With The Vampire dan Bram Stocker’s Dracula.

Selain itu, Chan Wook juga membuang semua atribut-atribut vampir yang selama ini sudah jadi ‘seragam’ vampir: cowok tampan, gigi taring, kastil seram, kelelawar, cermin, bawang putih, tusukan tepat dijantung, apalagi salib yang dipercaya bisa mengusir vampir…semua itu tak akan ditemukan dalam vampir ala Chan Wook. Vampir ini malah memakai salib kemana-mana karena pekerjaannya sehari hari adalah pastor. ***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org