
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]()
Catatan dari Festival Film Cannes ke 62: 13 Mei 2009 Kehebohan dan kegilaan itu kemudian dimulai di berbagai sudut kota Cannes. Sepanjang jalan terlihat antrian panjang dimana-mana. Mulai dari antrian menunggu taksi di stasiun, antrian para tamu didepan hotel menunggu diladeni oleh porter, antrian dikedai es krim yang sangat laku karena matahari bersinar terik-teriknya, antrian para moviegoers, mofiebuffs, atau apapun namanya didepan Palais Du Cinema hingga antrian di depan pintu akreditasi festival di lantai -1 Palais. Kartu akreditasi satu persatu mulai menemukan pemiliknya. Ada yang turun pangkat, ada yang naik, dan ada juga yang masih setia diposisi semula. Contohnya adalah saya. Kartu biru masih belum rela posisinya digeser. Tapi seorang apartement-mate saya naik pangkat dari biru ke pink tahun ini. Menjadi satu-satunya pangkat biru diantara para pink, itu berarti saya harus melakukan segalanya lebih dulu. Istilah rekan saya ‘motor penggerak’ untuk memulai hari. Mulai dari sarapan lebih pagi, meninggalkan rumah lebih dulu, mengantri paling depan, tapi menunggu lebih lama. Tapi paling tidak, saya tidak mendapat kartu kuning. And life is beautiful. Lebih baik berpikiran positif terus. Ingat pesan nenek moyang. Resepnya cuma satu: bangun pagi banyak rejeki. Maka, mengutip seperti kata bapak penjaga pintu diruang akreditasi: Welcome to the festival and enjoy the films! Dan karena ini di Perancis, maka menjawab dalam bahasa Perancis tentu lebih afdol: Ah…merci et bien sur, Monsieur! Well, seperti biasa, di hari pertama tidak banyak pilihan film yang tersedia. Hanya ada film animasi UP dari seksi out of competition yang disutradarai Pete Docter dan Spring Fever dari seksi kompetisi utama karya Lou Ye si anak nakal dari China. Film UP akan meresmikan dimulainya pesta film prestisius ini dan diputar di teater utama Palais, Grand Theatre Lumiere lengkap dengan ritual berjalan diatas karpet merah yan melegenda itu. Saya jelas tidak berminat untuk repot-repot mengenakan gaun dan sepatu berhak tinggi hanya untuk nonton film. Apalagi film animasi yang seminggu lagi bakal rilis di bioskop-bioskop. Karena itu saya memilih untuk menonton Spring Fever akan diputar di teater Salle Debussy, bioskop kedua terbesar di kompleks Palais. Ingat Lou Ye? Itu loh yang pernah bikin ngamuk pemerintah China karena Summer Palace, film yang pertama kali mengangkat kenangan peristiwa tragedi Tiananmen masuk seksi kompetisi festival film Cannes tahun 2006 lalu. Film yang membuka lagi peristiwa memalukan bagi China itu dilarang peredarannya oleh pemerintah dan terpaksa dikeluarkan dari seksi kompetisi setelah ada ‘negosiasi politis’. Tidak hanya itu Lou Ye kemudian menerima ‘hadiah’ berupa larangan membuat film selama 5 tahun di China . Tapi Lou Ye tidak akan dapat julukan ‘sutradara bandel’ kalau hanya akan menunggu sampai masa hukumannya berakhir. Belum lagi 5 tahun, Lou Ye sudah kembali ke Cannes dengan film terbarunya ini, Spring Fever yang dibuat sembunyi-sembunyi di kota Nanjing . Tentu saja Spring Fever tak lepas dari elemen-elemen ciri khas Lou Ye: topik kontroversial –kali ini tentang gay yang sepertinya jadi topik favorit sutradara-sutradara Asia belakangan ini--, kehidupan urban kontemporer China yang disorot ‘telanjang’, teknik kamera hand-held (kamera pegang) yang gelisah, tata suara yang tak mulus, dan tidak terlalu peduli pada komposisi . Secara teknis, Lou Ye tidak banyak peningkatan. Kalaupun ada yang berubah mungkin adalah keputusannya untuk lebih fokus pada cerita personal karakter-karakternya. Kalau Summer Place cukup luas dengan menggabungkan kisah personal dengan sejarah politik, di Spring Fever, Lou Ye memilih untuk fokus pada jalinan kisah cinta yang rumit dengan emosi yang intens sambil mengambil referensi kutipan puisi-puisi penyair China ditahun 30an, Yu Dafu. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |