Klik gambar untuk memperbesar

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62: 22 May 2009
Day 9 to 10 : Enak Tidak Enaknya Jadi Ibu Hamil dan Mandi Darah di Cannes
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Cannes

Sejak peristiwa Antichrist, saya bertingkah sok kesal. Saya bilang sok kesal, karena memang ngambeknya cuma setengah hati. Semua orang yang saya ceritakan persoalan ‘COMPLETE FULL’ itu –dan saya tidak segan-segan bercerita kepada siapa saja yang mau mendengarkan, karena gara-gara antri kelamaan kaki saya bengkak kayak kaki badak– semuanya mewanti-wanti saya untuk tidak menonton. (Sudah saya ceritakan sebabnya di catatan sebelumnya).

Nah, gara-gara sibuk ngomel inilah saya lantas mendapat pencerahan dari seorang kawan –karena keseringan antri bareng kami jadi berkawan– jurnalis asal Rusia. Dia mendapat info kalau sebetulnya orang-orang dengan kondisi tertentu bisa mendapat pengecualian dan kemudahan. Kondisi tertentu ini berlaku bagi mereka yang punya kesulitan mengantri karena –antara lain– cacat bawaan, cacat karena kecelakaan sehingga, mereka yang berusia lanjut, dan ibu hamil. Mereka dengan kondisi tertentu ini –tak peduli warna kartu– tak perlu mengantri dan disediakan pintu khusus persis disamping teater.

Saya nyaris tidak percaya ada pengecualian seperti itu di Cannes. Perancis gitu loh! Tapi saya tergoda untuk mencoba juga. Dan berhasil! Whoahhhh, serasa melayang di udara. Saya nyaris menangis karena terharu. Apalagi ketika diijinkan masuk teater lebih dulu sebelum para kartu putih. Bahkan dengan senyum super ramah, para penjaga pintu dan penjaga di dalam teater mempersilahkan saya duduk di mana saja saya mau. Akhirnya saya jadi ngelunjak.

Boleh duduk di tempat paling tinggi? Boleh! Boleh duduk di barisan paling luar? Oh, boleh! Boleh bawa minuman? Oh, tentu saja boleh. Boleh ngemil? Silahkan! Bahkan di Salle du Soixantieme, teater tambahan non permanen di salah satu teras Palais, saya disediakan tempat duduk sambil menunggu pintu dibuka. Whoahhhh, uenaaakk tenan! Kenapa tidak dari hari pertama ya saya tahu soal info ini. Aihhh kalau begini caranya, saya jadi ingin hamil lagi untuk Cannes tahun depan. Hehehe.

Sejak itu, saya tidak perlu mengantri lagi. Cukup datang ke pintu khusus itu. Langsung masuk dan duduk ongkang-ongkang kaki sambil menunggu mereka yang baru dipersilahkan masuk. Tapi saya malah jadi kangen dengan teman-teman mengantri saya. Karena dengan mengantri, banyak informasi dan cerita-cerita menarik beredar dan bisa jadi inspirasi bahan tulisan. Hmmmm…, manusia memang tidak pernah puas!

Selain Antichrist, hari ini saya mendapat peringatan lagi untuk tidak menonton film Drag Me To Hell karya Sam Raimi.

Jadi hari ini saya hanya menonton A L’Origine (In The Beginning) karya Xavier Giannoli di seksi kompetisi. Saya sih suka film ini, tapi belum bisa menjelaskan kenapa. Kalau menurut teori, film yang bagus adalah film yang bisa bercerita dengan baik dan mulus ditunjang berbagai factor –akting yang baik, dialog yang mengalir, dan pesan yang ingin disampaikan bisa dimengerti. Nah, film ini memenuhi semuanya.

Kemudian lanjut menonton film Karaoke karya Chris Chong dari Malaysia di Director’s Fortnight. Katanya, ini film Malaysia pertama yang masuk program ini sepanjang sejarah berdirinya. Dan rasanya saya harus menonton film ini lagi sebelum bisa memberikan pendapat saya.

Setelah Karaoke, saya lanjut menonton The Time That Remains karya Elia Suleiman. Banyak momen bagus. Tapi otak saya sudah mampet dan nyaris tak mampu lagi mencerna film yang saya tonton.

Apalagi usai menonton filmnya Gaspar Noe, Enter The Void di seksi kompetisi. Seperti juga Irreversible film Noe sebelumnya, Enter The Void banyak bermain-main dengan angle kamera plus kamera yang melayang-layang di udara. Penuh adegan seks dan tubuh-tubuh berdarah pula. Tapi yang paling bikin saya pusing adalah adegan aborsi yang di-shoot dengan detail, lengkap dengan janin yang dibiarkan tergeletak di atas nampan rumah sakit. Adegan ini bahkan lebih seram dari adegan di 3 Months, 3 Weeks and 2 Days-nya Cristian Mungiu.

Sayangnya, saya termasuk gelombang pertama yang menonton film ini mengingat saya mendapat kemudahan –karena hamil—untuk selalu didahulukan. Film ini diputar pertama kali untuk pers dalam jumlah terbatas di teater yang lebih kecil sehingga kapasitas penontonnya juga terbatas. Jadilah saya tidak mendapat peringatan terlebih dahulu dari kawan-kawan yang biasanya rajin memberi info.

Dan situasi makin parah saat saya mencoba menonton The Silent Army karya Jean Van De Velde di Un Certain Regard. Film yang mengingatkan saya dengan adegan-adegan kekerasan di The Last King of Scotland ini sebetulnya sudah banyak dibuat. Berkisah tentang anak-anak yang dipaksa bergabung dengan tentara di negeri-negeri berkonflik di Afrika. Sayang saya lupa judul-judulnya.

Di 10 menit pertama, The Silent Army sudah menunjukkan adegan seorang anak yang dipaksa memotong leher ayahnya sendiri. Lalu beruntun adegan parang-parangan, sehingga saya terpaksa keluar ruangan. Saya sudah cukup mual melihat darah dan manusia terpotong, mulai dari Thirst, A Prophet, Kinatay, Mother, Vengeance, Tsar, Enter The Void, hingga The Silent Army ini. Untungnya saya tidak menonton Antichrist dan Drag Me To Hell. Belum terhitung film Quentin Tarantino yang terkenal hobby bermain darah.

Mengingat para juri tahun ini didominasi perempuan, saya jadi penasaran apa yang mereka diskusikan tentang adegan-adegan sadis berlumur-lumur darah ini. Rasanya, inilah tahun yang paling banyak menghadirkan adegan potong memotong dan paling banyak menghabiskan darah di Cannes. Maka karpet merah pun makin merah.

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org