
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]()
Catatan I dari Festival Film Cannes ke 62 Krisis ekonomi di seluruh dunia? Hmmm. Beberapa event penting nampaknya tidak mengenal kata krisis dalam perbendaharaan katanya. Beberapa diantaranya yang bisa saya sebutkan dengan jelas: pemilu di Indonesia dan festival film Cannes yang tahun ini berusia 62 tahun. Tanpa perlu panjang lebar, alasannya jelas dengan fakta yang terpampang didepan mata. Lihat saja. Ditengah krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia ditambah lagi dengan tragedi lokal yang bertubi-tubi, para peserta ‘pesta demokrasi’ di Indonesia itu menghambur-hamburkan duit ke angkasa tanpa beban. Nah, seperti juga yang terjadi di ‘pesta perfilman’ di Cannes. Krisis ekonomi juga bikin pusing semua pemimpin negeri-negeri di Uni Eropa. Masing-masing sibuk memikirkan jalan keluar karena rakyat sudah mulai gerah. Demo dimana-mana. Mulai dari demo karyawan yang dipecat, kenaikan upah gaji buruh sampai pelajar dan mahasiswa yang minta biaya pendidikan yang sudah minimal itu –setidaknya jika dibandingkan dengan biaya pendidikan yang melunjak di Indonesia—diminimalisir. Tapi itu semua tidak membuat rakyat perfilman berhenti berbondong-bondong untuk memeriahkan pesta film di kota kecil pesisir Cotê d’Azur itu. Krisis jelas tidak membuat penyelenggara festival kedodoran mencari dana untuk membiayai pesta kebanggaan mereka itu. Salah satu yang paling jelas adalah, backpack !. Yup. Paket katalog, notebook, dan buklet sekitar informasi film yang hadir tahun ini dikemas dalam tas punggung, tidak lagi tas gantung seperti tahun-tahun sebelumnya –setidaknya selama saya mengunjungi festival ini--. Biaya membuat tas punggung dengan banyak kantong itu tentunya lebih mahal dari biaya tas gantung sederhana. Bukti lainnya: pengunjung yang membludak. Ukurannya bisa dilihat di stasiun kereta Cannes. Polisi dikerahkan untuk mengatasi gelombang pendatang yang datang dari berbagai penjuru dengan kereta api. Ini tentu saja belum termasuk yang datang lewat bandar udara Nice. Saya sempat tertegun sejenak melihat panjangnya antrian yang menunggu taksi begitu keluar dari pintu utama stasiun yang mengalahkan ukuran panjang gedung stasiun Cannes sendiri. Belum lagi para tamu khusus yang dijemput juga dengan mobil khusus dari hotel-hotel berbintang. Tapi, seperti juga ‘pesta demokrasi’ di Indonesia yang nampak meriah dan sibuk menyembunyikan hal-hal tak menyenangkan, begitu pula yang terjadi di setiap gemerlap panggung dunia hiburan. Selalu ada cerita di balik layar yang tidak akan nampak oleh mata pengunjung biasa. Dan ini tentu saja karena keahlian programmer-programmer Cannes untuk menyediakan ‘umpan lezat’ bagi masyarakat film. Karena itu, mari kita nikmati saja Festival Film Cannes yang sudah makin tua ini, sambil mencari tahu dalam 12 hari kedepan mengapa Cannes tidak pernah kehabisan daya tariknya. Bienvenue à Cannes!!! |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |