
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Kornel Mundruczo (kiri) ![]()
Festival De Cannes 2008
“Saya benci festival film ini, saya benci orang-orangnya,” kata seorang wartawan. Namanya tidak akan saya sebut, tapi ia orang Perancis. Kami bertemu di acara konferensi pers film Serbis, karya Brillante Mendoza. Jumpa pers itu sepi dari wartawan karena bersamaan dengan pemutaran film Indiana Jones and The Kingdom Of The Crystal Skull. Padahal, Serbis adalah film yang banyak diperdebatkan. Hampir semua media tenar seperti Screen, Variety, The Hollywood Reporter memberi Serbis satu bintang atau malah nol. Tapi hampir semua media independen dari Perancis (seperti Metro, LeSoir) maupun dari luar Perancis sepakat memberi 4 bintang. Tapi soal pilihan, orang-orang tampaknya lebih memilih mengelu-elukan Harrison Ford daripada aktor dan artis di film Brillante Mendoza ini. Pagi berikutnya, saat menunggu screening film Le Silence De Lorna karya Luc dan Jean-Pierre Dardenne, sejumlah wartawan masih juga membicarakan Serbis. Para pembela Serbis -- yang entah kebetulan atau tidak -- berasal dari negara-negara 'minor' seperti Romania, atau Chekoslovakia dengan pedas berkomentar menuduh media-media besar sebagai 'mereka yang tak tahu pergeseran dalam dunia cinema' atau 'orang bayaran industri'. Sementara penentang Serbis dengan sinis bilang 'film macam apa itu? tak punya nilai estetis sama sekali'. Walau menggunakan gaya yang sebetulnya tidak lagi baru (ala Dogma 95), Serbis memang bikin shock karena segi tata suara, pengambilan gambar dan akting plus editingnya yang kasar. Tapi justru disitulah --- menurut saya -- kekuatan film ini. Entah kebetulan atau tidak, nyaris semua pendukung Serbis rata-rata berasal dari golongan muda sedangkan penentangnya berasal dari golongan tua. Perbedaan pendapat soal film memang lumrah. Bahkan kami di RumahFilm pun tidak selalu seragam selera soal film. Setiap orang punya selera film masing-masing. Tapi yang membuat saya lumayan setuju dengan wartawan Perancis yang kutipannya muncul di awal artikel ini adalah 'ketidakadilan' penyelenggara festival film Cannes dalam memperlakukan film-film kompetisi yang masuk kategori 'kecil' dari negeri-negeri 'minor' (negeri-negeri dengan kondisi industri film yang loyo). Padahal kalau mau adil, harusnya semua film kompetisi diperlakukan sama, diputar dengan komposisi yang sama dan waktu yang sama. Contoh paling jelas adalah susunan jadwal ritual 'la montée des marches' di Grand Theater Lumiere. Semua film-film 'kecil' ditempatkan di sore hari saat para bintang sedang siap bersolek untuk ritual di 'prime time' yaitu pada screening antara jam 18.30 (untuk film panjang), 19.30, 21.00 hingga 22.00. Sementara film-film 'kecil' ini (pada umumnya independen dengan kru yang tak dikenal) selalu ditempatkan di jam 16.00, yang merupakan waktu paling panas dimana orang lebih suka berlindung sambil makan es krim. Saya ingat tahun lalu tim SecretSunshine yang terdiri dari sutradara Chang Dong Lee, aktor Ho- Song Kang dan artis Jeon Do Yeon harus berdiri menunggu lama diujung karpet merah karena tak ada seorang fotografer pun yang berada ditempat. Sesuai ritual, setiap momen, setiap tamu harus difoto didepan tangga. Kala itu, Secret Sunshine menjadi dayang-dayang untuk film Ocean's Thirteen. Dan wajah Jeon Do Yeon terbakar merah karena panas. Nyaris tidak ada bintang di jam ini yang menyebabkan tak ada antusiasme dan hanya satu dua fotografer yang berada ditempat. Tahun ini, Serbis, 24City nyaZia Jangke, Delta karya Kornel Mundruczo (Hungaria), My Magic karya Eric Khoo (Singapura) menambah banyak contoh ketidak adilan itu. Konferensi Pers Serbis diadakan bersamaan dengan pemutaran Indiana Jones and The Kingdom of The Crystal Skull. Konferensi pers Delta diadakan bersamaan dengan pemutaran film karya Clint Eastwood, Changeling. Otomatis, semua wartawan lebih memilih menonton Indiana Joes dan film karya Eastwood. Di acara karpet merah, film-film kecil ditempatkan pada saat matahari sedang terik-teriknya dan sering disandingkan (seperti dayang-dayang) dengan film 'besar' di waktu prime time. Delta karya Kornel Mundruczo dipasang sebelum pemutaran Changeling karya Clint Eastwood. La Mujer Sin Cabeza karya Lucrecia Martel dipasang sebelum pemutaran Che karya Steven Soderbergh. Dan kebiasaan ini berlangsung dari tahun ke tahun. Yang paling menyakitkan hati adalah slot prime time di grand theater yang justru diberikan kepada film-film Out Of Competition (Kung-Fu Panda, Indiana Jones, Vicky Cristina Barcelona) yang merupakan keluaran Hollywood. Kenapa harus menempatkan film-film itu di prime time sementara film-film seksi kompetisi harus mengalah di tempatkan di panas terik? Atau kalau mau lebih seru, kenapa tidak menempatkan Kung-Fu Panda dan Indiana Jones di slot yang sama sehingga ketahuan, tenar mana Harrison Ford atau Angelina Jolie? Atau kalau mau lebih berani, kenapa tidak menempatkan film Perancis Un Conte De Noel (yang penuh bintang-bintang Perancis papan atas) dengan Changeling nya Clint Eastwood yang memasang Angelina Jolie? Dan kita bisa melihat penonton lebih memilih siapa, Angelina Jolie atau Catherine Deneuve? Bukankah nama-nama mereka adalah jaminan massa?. Tapi Cannes tidak berani melakukan itu; Meski sangat bangga dengan auteur theory-nya, toh Cannes tetap tidak bisa menghindar dari 'ketagihan'nya akan bintang. Dan untuk ini, hanya Hollywood lah yang bisa menyediakan. Tanpa bintang, tak akan ada teriakan histeris. Tanpa bintang tak akan ada yang namanya 'festival fever'. Tapi konsekuensinya, Hollywood pun minta jatah. Sejarah memang selalu akan berulang. Sejak awal ketika Cannes masih berupa festival kecil di era perang dunia kedua, Amerika memang sudah memegang 'ekor' Perancis dengan membuat perjanjian ekonomi yang kemudian juga berdampak pada industri film. Salah satu isi perjanjian itu adalah jika Perancis ingin tetap mendapat dukungan ekonomi dari Paman Sam, maka Perancis harus menaikkan jumlah kuota untuk distribusi film-film Hollywood. Dalam buku berjudul Cannes: Inside The World's Premier Film Festival yang ditulis oleh Kieron Corless dan Chris Darke, disebutkan bahwa selama masa pendudukan Jerman, film-film Amerika dilarang beredar di Perancis hingga masa pendudukan berakhir (sekitar 4 tahun). Dan ketika kesempatan akhirnya datang, Amerika tidak segan-segan mengancam tidak akan menandatangani perjanjian bantuan ekonomi jika Perancis tidak memenuhi permintaan itu. Tidak heran jika diawal-awal terselenggaranya festival ini, Cannes dijejali film-film Hollywood. Dan itu berlanjut bahkan hingga sekarang. Walaupun Perancis sering bangga karena punya Festival Cannes yang 'katanya' lebih mengutamakan art for art's sake, dan sering mengejek Amerika sebagai 'budak industri film', toh mereka tidak bisa menghapus dominasi Hollywood. Cerita ini bisa jadi pengalaman jika tahun depan, atau suatu hari nanti ada film Indonesia di seksi kompetisi utama. Intinya, para 'minor' memang harus sabar, karena Festival Film Cannes toh adalah festivalnya Perancis, jika anda tahu maksud saya. OK, mari ngobrol soal film lagi. Pagi ini lagi-lagi Jean-Pierre dan Luc Dardenne membuat saya kagum. Mereka masih konsisten dengan gaya dan tema yang sering mereka angkat dalam film-filmnya. Salah satu dari sedikit yang mengoleksi 2 Palem Emas ini hadir di Cannes dengan film terbarunya Le Silence De Lorna (The Silence Of Lorna). Saya selalu menyukai kesederhanaan film-film Dardenne bersaudara ini. Premis filmnya sendiri sangat menarik tentang 'white marriage'. Seorang imigran Albania yang menikah dengan seorang junkie demi mendapatkan status warga negara Belgia. White marriage memang sedang menjadi masalah yang cukup bikin pusing pemerintah Belgia belakangan ini. Jean Pierre dan Luc punya bakat untuk mengolah cerita ini tanpa letupan-letupan tapi pelan-pelan mengundang simpati dan emosi untuk karakter-karakternya. Dan yang paling penting, mereka berdua tidak mempersulit masalah demi memanjangkan durasi film. Beberapa orang memprediksi, The Silence Of Lorna punya potensi mencatat nama Dardenne brothers sebagai penerima 3 Palem Emas. Lalu hari ini ada Tokyo Sonata di seksi Un Certain Regard karya Kurosawa Kiyoshi yang biasanya bikin film horor. Kiyoshi tampaknya tidak hanya ahli menakut-nakuti orang lewat horornya tapi juga bisa menyentuh lewat drama keluarga. Saya pasti akan menonton film ini lagi untuk memperhatikan hal-hal detail. Menonton banyak film secara maraton sungguh tidak semudah yang dibayangkan. Perasaan bercampur aduk, film sebelumnya masih dalam pencernaan otak ketika film selanjutnya sudah menyodorkan informasi baru lagi. Setelah Tokyo Sonata, lanjut menonton Two Lovers karya James Gray di seksi kompetisi. Sutradara muda ini tahun lalu juga masuk seksi kompetisi lewat film We Own The Night. Sayang, Two Lovers tidak menunjukkan peningkatan berarti dari segi penyutradaraan. Ceritanya pun klise. James Gray rupanya sedang ingin mengolah resep lama Hollywood yang sudah ditinggalkan beberapa tahun belakangan ini. Cinta segitiga, antara cowok 'aneh' dengan gadis populer yang bermasalah dan gadis baik-baik yang siap dikawini. Film ini jelas bukan favorit saya. Hmm...film memang soal selera. *** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |