
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
Festival De Cannes 2008
Sumpah, saya tidak tahu kalau Blindness karya Fernando Meirelles masuk dalam daftar seksi kompetisi. Berulang-ulang saya memelototi daftar awal film dalam seksi kompetisi yang diumumkan dan saya terima pada 23 April lalu. Hasilnya, nihil. Hal seperti ini memang bukan masalah besar, tapi saya harus minta maaf dan memperbaiki berita saya beberapa waktu lalu. Selain itu, saya ingin bergosip sedikit. Film dadakan diseksi kompetisi seperti ini bisa berarti dua hal, filmnya terlambat memenuhi tenggat atau ada alasan politis. Film seksi kompetisi yang terlambat memenuhi tenggat karena alasan teknis adalah hal yang biasa di Festival Film Cannes. Tahun lalu misalnya, The Man From London karya Bela Tarr, baru selesai edit 3 hari setelah dimulainya festival. Bedanya, The Man From London memang sudah diminta jauh-jauh hari dan sudah dicantumkan dalam daftar sejak awal. Ataukah alasan politis? Nah, ini yang seru. Biasanya, para produser atau distributor yang tahu betul cara memanfaatkan 'celah-celah' suka memanas-manasi pihak Cannes dengan bilang “Ini sudah diminta Venice loh (Venice Film Festival – red.)” Venice memang selalu jadi nama yang menyakitkan telinga para programmer di Cannes. Dari cerita para wartawan senior, saya dengar bahwa Thierry Fremaux, Direktur Program Cannes pernah dikritik karena menolak Vera Drake karya Mike Leigh, sutradara independen asal Inggris. Fremaux rupanya emoh kena bujukan dan tak mempan dengan 'ancaman' bahwa film itu sudah dilirik Venice. Hasilnya, Vera Drake memenangkan Piala Singa Emas, piala tertinggi di Venice Film Festival tahun 2004, dan Cannes terpaksa gigit jari. Apapun alasannya sebuah film dipilih, kualitas film-film yang masuk kompetisi Cannes tetap tidak bisa diragukan. Toh, intrik-intrik ini hanya dimainkan di 'khayangan' sana. Kita-kita ini hanya menikmati saja apa yang disuguhkan. Blindness --yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jose Saramago-- tetaplah film yang layak ditunggu. Belum lagi kehadiran bintang-bintang berkelas seperti Julianne Moore, Mark Ruffalo, Danny Glover dan Gael Garcia Bernal. Meski ada beberapa hal yang agak menganggu saya, tapi Fernando Meirelles – sutradara City Of God, The Constant Gardener-- sudah berhasil memvisualkan novel itu dengan sangat baik sambil tetap menggunakan 'tulisan tangan'nya. Berharap Sean Penn, Dapat Nathalie Portman Saya sudah bertekad bulat: saya harus ngobrol dengan Sean Penn! Bagi saya, Penn adalah salah satu cowok paling cool. Apapun akan saya lakukan untuk ngobrol 10 menit saja. Karena itu, acara bertemu para juri --yang dikepalai Sean Penn-- sudah tercatat dalam agenda sejak kemarin. Usai menonton Blindness, saya sudah tidak bergerak dari ruang pers. Sayangnya, ketika Sean Penn 'mampir' diruang pers, saya kelamaan terpesona dan terpaku. Akhirnya saya keduluan beberapa wartawan radio, yang langsung dengan sigap memagari Penn seakan milik sendiri. Tak diduga, justru Nathalie Portman yang tersenyum manis didepan saya. Sayangnya cewek manis ini tidak mau buka rahasia tentang rahasia penjurian. Pertanyaan saya soal kuota dan 'bagi-bagi' penghargaan agar 'merata' hanya dijawab dengan balik bertanya, “Oh, really ?”. Entah Nona Portman sedang mempraktekkan akting 'innocent'-nya yang terkenal itu atau memang belum tahu. Wajah innocent-nya toh tak mempan buat saya. Sekali lagi, saya ingin ngerumpi sedikit. Boleh percaya boleh tidak, sebelum memberikan penjurian, para juri akan diwanti-wanti agar tidak 'menumpuk' hadiah di satu film. Sangat jarang terjadi sebuah film mendapat dua penghargaan. Tentu saja ada pengecualian, tapi saya tidak akan membukanya sekarang. Toh, festival ini baru saja dimulai dan masih banyak yang akan terjadi. Yang terlihat agak kesal adalah Anchalee Chaiwarporn. Dalam komposisi juri ada Apichatpong Weerasethakul, sutradara kebanggaan Thailand. Weerasethakul adalah sineas Asia Tenggara kedua setelah Christine Hakim yang diminta untuk duduk dikursi kehormatan sebagai juri. Lagi-lagi karena ketatnya sistem kasta, Anchalee tak sempat mengikuti konferensi pers, dan hanya menonton dari luar. “Tak ada satupun yang bertanya kepada Apichatpong,” kata Anchalee kesal. Rupanya rasa solidaritasnya bangkit. Saya juga tentu akan merasakan hal yang sama jika ada sutradara Indonesia 'dicuekin'. Kekesalan Anchalee bertambah ketika kami berdua akan menonton film di seksi kompetisi lainnya, Waltz With Bazir karya Ari Folman asal Israel. Seperti biasa, prosesi panjang dimulai sejak antri hingga akhirnya pintu dibuka. Dari segi sistem keamanan, Festival Film Cannes sebetulnya agak kampungan dan ketinggalan jaman. Bayangkan, tas setiap jurnalis harus digeledah, dibuka satu-satu, oleh dua orang secara manual. Kalau tak ada antrian panjang, mungkin pemeriksaan model ini tidak masalah. Tapi dengan antrian meliuk-liuk dan proses pemeriksaan yang membutuhkan waktu 2 – 3 menit untuk setiap wartawan, jelas mengesalkan. Belum lagi proses menyerahkan kamera di anjungan khusus. Anchalee yang harus mengeluarkan kamera dan memasukkannya lagi tentu butuh waktu, sementara penjaga seperti dikejar setan –mungkin juga karena panik melihat antrian. Akhirnya pertengkaran kecil terjadi. “Memangnya siapa yang akan memotret didalam dengan kamera sebesar ini? Yang perlu kalian perhatikan justru kamera-kamera saku,” kata Anchalee kepada penjaga yang juga tidak bisa berbahasa Inggris itu. Kelakuan tak sopan para penjaga pintu ini memang bukan sekali dua kali terjadi. Dan menurut Anchalee, hal-hal inilah yang menjadi salah satu alasan Philip Cheah berhenti mengunjungi Cannes. “Kita diperlakukan seperti kriminal,” kata Anchalee pedas; Beginilah Cannes! Dengan segala kemewahannya, Cannes dipagari benteng-benteng dalam berbagai bentuk. Mulai dari aturan main hingga penjaga pintu. “Saya akan menulis surat keluhan kepada Christine Aimé,” kata Anchalee lagi. Aimé adalah kepala bagian pers dan komunikasi Cannes. Kita lihat hasilnya nanti. Di luar sana, karpet merah sudah digelar, dan peristiwa 'la monteé des marches' (berjalan diatas karpet merah) yang melegenda itu sedang berlangsung. Cathedral Of Cinema sudah mulai dibuka, dan ritual tahunan itupun dimulai.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |