Balibo: Melawan Sensor Melawan Lupa
oleh kontributor RumahFilm, Andy Boediman

Awalnya adalah status Facebook milik Santoso, pendiri Kantor Berita Radio KBR68H. Selasa malam (01/11/09) ia menulis, “film tentang Balibo batal diputar di Blitz karena tidak lolos sensor. Hari gini masih ikut LSF ? Ayo, siapa yang mau nonton film itu, kita putarkan di Utan Kayu”.

Santoso yang juga pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) gundah. Malam itu ia gagal menonton film Balibo karya sutradara Robert Connolly di Blitz Megaplex, Grand Indonesia Jakarta. Pemutaran yang diselenggarakan Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) itu mendadak dibatalkan karena tak mendapat ijin dari Lembaga Sensor Film (LSF). Pengurus AJI Ezki Suyanto lantas bergerak cepat mencari film itu dan memberikannya kepada Santoso. Jadilah, dua hari kemudian film itu diputar di Teater Utan Kayu atas kerjasama KBR68H dengan AJI.

Sejak Kamis sore, kedai Komunitas Utan Kayu mulai disesaki pengunjung. Sensor justru menjadi iklan gratis. Kabar menyebar cepat lewat media massa, Facebook, milis, SMS, dan dari mulut ke mulut. Pelarangan justru membuat orang ingin tahu, kenapa film ini dilarang. Pengunjung bervariasi. Ada Sidney Jones pembela hak asasi manusia (HAM) yang belakangan lebih dikenal sebagai pakar terorisme, Johnson Pandjaitan dan Ade Rostina Sitompul, aktivis yang dulu aktif mengadvokasi pelanggaran HAM di Timor-timur, hingga Widodo Sutyo bekas penerjemah resmi presiden Soeharto yang dengan terheran-heran bertanya kepada rekan saya “Kok film ini bisa diputar di Utan Kayu, siapa yang memberi ijin ?”

Komedian Eko Patrio yang kini menjadi anggota DPR dari PAN tidak kelihatan, meski sehari sebelumnya kepada detik.com ia berjanji akan datang menonton. Venna Melinda, artis yang menjadi anggota parlemen dari Partai Demokrat juga tak hadir. Sehari sebelumnya saat diwawancara wartawan soal sensor LSF, Venna balik bertanya “Balibo yang di Filipina ya ?”

Malam itu, komunitas Utan Kayu dijejali seratusan lebih penonton. Karena membludak di luar perkiraan, teater tak mampu menampung. Akhirnya panitia terpaksa memasang layar tambahan di kedai Utan Kayu. Ternyata, itupun belum cukup, Balibo akhirnya diputar kembali untuk menampung penonton yang terus berdatangan.

Balibo adalah thriller politik yang diangkat dari kisah nyata terbunuhnya lima wartawan TV Australia pada Oktober 1975. Greg Shackleton, Tony Stewart dan Gary Cunningham dari Channel 7 dan Brian Peters dan Malcolm Rennie dari Channel 9 hilang saat meliput peristiwa invasi Indonesia di desa Balibo, yang terletak di perbatasan Indonesia dengan Timor-Portugis.

Roger East (diperankan oleh Anthony LaPaglia) adalah wartawan tua perokok berat dan peminum alkohol yang pernah dikeluarkan dari dinas militer karena dianggap punya potensi kelainan jiwa. Niat untuk bersantai di sisa hidupnya berubah setelah ia bertemu Jose Ramos Horta (diperankan oleh Oscar Isaac) yang membujuknya untuk menjadi kepala Kantor Berita pertama di Timor-Portugis. Roger awalnya menolak. Tapi dia akhirnya menerima tawaran setelah Horta memberitahu bahwa ada lima wartawan yang hilang di Balibo dan kasusnya disembunyikan oleh pemerintah Australia.

Film ini menampilkan upaya Roger East menyelidiki keberadaan lima wartawan TV Australia di Balibo. Di antara kisah pencarian Roger East, penonton disuguhi rangkaian flashback mengenai apa yang terjadi pada kelima wartawan TV yang hilang. Film ini juga menggambarkan adanya persaingan antara Channel 7 dengan Channel 9 Australia yang berlomba ingin mengabadikan peristiwa invasi. Ada sikap naif dan sembrono melihat para wartawan muda di wilayah yang sangat berbahaya itu. Tapi pada adegan lain, kita jadi mengerti alasan mereka bertahan tak lain karena kemanusiaan. Pada salah satu adegan, Greg Shackleton ditanya oleh laki-laki tua “Kenapa Indonesia menginvasi kami ? kenapa negara lain diam saja ?” Pertanyaan itu menghantui Shackleton dan justru membuat tekadnya merekam invasi Indonesia semakin kuat. Ia marah karena negaranya (Australia-red) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diam saja melihat apa yang terjadi.

Dalam adegan lain, Roger East dan Ramos Horta yang sedang berada di hutan ditembaki oleh helikopter Indonesia. Roger East saat itu juga langsung takut dan ingin pulang ke negaranya. Horta lantas bilang “Lihat, mereka (tentara Indonesia-red) menembaki kita dengan helikopter mahal buatan Amerika yang dibeli dengan poundsterling dari Inggris, dan mereka tahu keberadaan kita di hutan ini karena informasi dari intelijen pemerintah anda (Australia-red), sama seperti ketika mereka memberitahu Indonesia soal keberadaan para wartawan (di Balibo-red)”.

Keseluruhan detail film ini didasarkan atas keterangan 7.824 saksi mata kepada Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) Timor Leste. Dengan data itu, sang sutradara ingin membawa penonton sedekat mungkin dengan peristiwa Balibo. Pemilihan lokasi, pakaian hingga dialek dibuat mirip dengan aslinya.

Operasi militer bersandi “Flamboyan” yang terjadi pada Oktober 1975 digambarkan pada adegan menjelang dan saat tragedi Balibo. Sekelompok tentara yang “dipimpin” pasukan elit RPKAD masuk ke Timor-Portugis lewat Balibo setelah melepas seragam dan menggantinya dengan pakaian ala turis. Demikian pula keberadaan enam kapal Indonesia yang terlihat dari benteng Portugis di Balibo. Operasi “Seroja” diperlihatkan dalam adegan parasut yang melayang-layang memenuhi udara kota Dili pada pagi hari 7 Desember 1975. Adegan ini mirip dengan penggambaran para saksi mata peristiwa itu. Demikian pula eksekusi atas para perempuan di dermaga yang terjadi pada hari kedua operasi “Seroja”.

Dalam adegan penembakan Balibo, ada seorang pemimpin tentara Indonesia yang mengenakan baju safari terang, syal warna hitam dan topi koboi berwarna coklat tua. Sosok ini –sebagaimana dijelaskan periset film ini, Dr. Colin Fernandes dalam situs pribadinya– merujuk pada Kolonel Dading Kalbuadi yang saat itu menjadi komandan operasi militer Indonesia. Mungkin, inilah satu-satunya adegan yang berbeda dari kenyataan, karena pada saat penembakan terjadi, Kolonel Dading tidak ada di sana. Justru Kapten RPKAD Yunus Yosfiah yang mengaku ada di Balibo pada Oktober 1975, namun Yunus bilang dia tak bertemu wartawan saat itu.

Pada bagian adegan eksekusi di dermaga, ada seorang petinggi militer Indonesia berpakaian safari cerah sedang melakukan inspeksi dengan pengawalan ketat. Insiden itu terjadi pada 8 Desember 1975 atau hari kedua pendudukan. Pada saat itu, Mayor Jenderal LB Moerdani sebagai penanggungjawab operasi tiba di Dili. Dengan mengenakan baju safari warna putih, Mayjend. Benny Moerdani berkeliling kota melakukan pemeriksaan dengan pengawalan ketat.

Inilah film sejarah politik yang digarap dengan detail yang sangat mengagumkan. Sang sutradara sukses membangun rangkaian drama yang berpuncak pada adegan tragis pembantaian di dermaga Dili, 8 Desember 1975. Akting para pemain sangat meyakinkan, terutama Oscar Isaac yang sangat pas memerankan Ramos Horta muda yang flamboyan tapi punya pendirian dan keyakinan sangat kuat soal kemerdekaan Timor.

Lewat film ini, sang sutradara Robert Conolly sebenarnya sedang mengkritik keras sikap pemerintah Australia yang menutup mata atas pembantaian Balibo dan invasi Indonesia terhadap Timor Leste, 39 tahun silam. Apakah pemerintah Australia marah atas kritik itu? sampai saat ini tak ada laporan soal pelarangan Balibo di negeri asalnya.

Justru di Indonesia film ini tak lolos sensor. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada surat resmi dari LSF mengenai alasan pelarangan. Diduga, keberatan utama LSF karena dalam film ini tentara Indonesia digambarkan berprilaku sangat brutal. Tapi, umur sensor LSF hanya berlaku dua hari: Selasa malam dilarang, Rabu penggalangan anti sensor melalui Facebook, dan Kamis malam film ini sudah diputar di Utan Kayu.

Malam itu, usai pemutaran Balibo dunia tak berubah: Indonesia tidak runtuh dan tak ada yang defisit dalam rasa kebangsaan saya. Tapi malam itu saya dan seratusan orang lain yang menonton tahu bahwa keputusan menginvasi Timor Leste adalah salah dan kebrutalan perang tak boleh terjadi.

Melawan sensor, meminjam penyair Milan Kundera, adalah bagian dari perjuangan melawan lupa. Kita tak ingin sejarah kelam itu hilang (dengan sengaja) dari ingatan. Senin 7 Desember ini adalah peringatan 39 tahun invasi Indonesia ke Timor Leste. Kita tak ingin melupakan, kita ingin mengingatnya supaya kita tidak mengulanginya.

* * *

Penulis adalah Jurnalis TEMPO TV & Pengurus AJI Indonesia

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org