
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
|
Catatan dari 35 th Festival International du Film Indépendant
Sebetulnya, ada beberapa kritikus film Indonesia yang seharusnya diundang tahun ini. Sebagian untuk menjadi pembicara dalam masterclass dan workshop, selebihnya akan ditunjuk untuk menjadi juri di kompetisi internasional. Tapi, karena janji dari pihak KBRI untuk mendatangkan mereka dibatalkan, jadilah saya yang ketiban pulung, didaulat untuk menjadi juri. Saya tidak pernah membayangkan untuk menjadi juri. Menurut saya, menjadi juri itu seperti juga hakim atau pengacara, berpotensi banyak dosa. Tapi saya suka bergosip dan dengan menjadi juri saya punya sumber langsung untuk mendapat banyak bahan. Apalagi setelah pihak panitia kalang kabut mencari pengganti untuk jadi pembicara di masterclass dan workshop. Saya pun tidak tega menolak ketika direktur festival, Robert Malengreau dengan bercanda mengancam akan mendeportasi saya jika tidak bersedia menjadi salah satu juri. Meskipun ada etika dalam penjurian –seperti juga etika menjadi pengacara—untuk tidak membeberkan proses penjurian, tapi toh festivalnya sudah lewat dan saya bukan bagian dari asosiasi juri. Jadi saya tidak merasa perlu punya rahasia. Komposisi juri yang sudah makan asam garam menjadi juri di berbagai festival menegaskan posisi saya sebagai juri ‘dadakan’. Para juri terdiri dari Guy Braucourt (Prancis, mantan programmer Cannes Film Festival), Philippe Graff (Belgia, Art Director di banyak film-film produksi Belgia Prancis), Steve Montal (USA, direktur pendidikan dan special program dari American Film Institute), Reda Benjelloun (Maroko, Direktur dan programmer film untuk jaringan TV2 Maroko), Aung Ko (Birma, aktor dan juga representasi Aung San Suu Kyi di Prancis), Jean Pierre Van Tieghem (Belgia, kritikus film dan profesor dari Institut Cinema Brussels), serta Jacques Mener (juga kritikus senior asal Belgia). Dengan nama-nama dan jabatan itu, saya tidak perlu banyak komentar. Cukup tersenyum dan mengangguk kalau setuju, menggeleng kalau tidak, dan angkat tangan ketika presiden juri memutuskan voting. Selebihnya, saya banyak mendengar dan melihat. Gampang dan cepat. Seingat saya, pada saat round table juri berlangsung, hanya dua kali saya terpaksa angkat suara. Pertama, untuk Opera Jawa dan kedua, untuk film dokumenter Playing Between Elephants. Sejak awal, beberapa juri keberatan terhadap Opera Jawa karya Garin Nugroho yang disandingkan dengan film-film lain. Semuanya sama-sama sepakat, Opera Jawa, secara kualitas jauh di atas rata-rata dan ‘lain sendiri’. Apalagi setiap juri menyebut nama Garin layaknya menyebut nama teman lama, sangat akrab. “Kasihan sutradara-sutradara muda lainnya,” kata salah seorang juri. Di round table tahap pertama pun, para juri memutuskan untuk menggeser Opera Jawa keluar dari kandidat penghargaan utama. Alternatifnya adalah memberikan penghargaan yang lebih kecil untuk aktor atau artis terbaik. Pasangan Artika Sari Dewi dan Eko Supriyanto serta Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti dipertimbangan untuk penghargaan ini. Namanya juga laki-laki (kecuali saya), tentu saja mereka memilih Artika Sari Dewi daripada Eko Supriyanto. Dan agar penghargaan merata, aktor terbaik kemudian diberikan kepada aktor di film lain. Untuk dua penghargaan utama (film terbaik dan penyutradaraan terbaik), ada 4 film yang menjadi calon utama. Autumn Ball karya Veiko Ounpuu (Estonia), 3 Hari Untuk Selamanya karya Riri Riza (Indonesia), Torotot karya Maryo J De Los Reyes (Filipina) serta Playing Between Elephant karya Aryo Danusiri (Indonesia). Setelah melewati perdebatan panjang, dan berakhir dengan voting, Playing Between Elephant kemudian tergeser untuk masuk kategori dokumenter saja. Dengan berbagai argumen, calon utama kemudian menipis menjadi dua, antara Autumn Ball dan 3 Hari Untuk Selamanya. Dua film inipun terpaksa diping-pong kesana kemari untuk memutuskan yang mana film terbaik dan yang mana penyutradaraan terbaik. Seorang juri berkomentar bahwa meski keduanya sama-sama berkutat dengan upaya pemahaman karakter, 3 Hari adalah ‘a feel good movie’ sementara Autumn Ball adalah ‘depressing movie’, Banyak lagi argumen lain, sampai akhirnya seorang juri kemudian melontarkan alasan bahwa 3 Hari Untuk Selamanya punya kelemahan yang sangat jelas. Pertama, ini road movie yang sangat Amerika (ingat, festival ini di Eropa dan presiden jurinya sangat anti film Amerika). Alasan kedua cukup menggelikan: karena Peugeot berseliweran sepanjang film. Untuk kategori inipun, juri terpaksa voting lagi. Hasilnya, 3 Hari ‘terpaksa’ hanya mendapat penghargaan untuk penyutradaraan terbaik. Sementara itu, di seksi film pendek, dua film Indonesia, Dalam Diamkarya Athpal S. Paturusi dan Seperti Ikan karya Moonaya ikut kompetisi bersama dengan 24 film pendek lainnya. Salah seorang juri menganggap Dalam Diam bisa dipertimbangkan karena nuansa dan dekorasi settingnya. Sayangnya, film ini tergeser di tahap awal pencalonan. Lalu, Seperti Ikan sempat masuk calon untuk penghargaan Tomorrow’s Cinema Award, tapi terpental di tahap kedua. Di program dokumenter, selain Playing Between Elephants, ada Standby karya Mischa Hedinger (Swiss), Les Anges de La Piste karya Rémy Ricourdeau (Prancis, Cina), Song Sung Blue karya Greg Kohs (USA), We Saw Such Things karya James Ponsoldt (USA), dan Megumi karya Mirjam Van Veelen (Belanda, Jepang). Usai menonton semua film di kategori film dokumenter, tak banyak ‘perlawanan’ berarti ketika presiden juri bertanya: “Siapa yang setuju Elephant jadi film dokumenter terbaik?”. Semua juri pun angkat tangan tanpa ragu-ragu.*** Daftar Lengkap Penerima Penghargaan 35 th Festival International du Film Indépendant Grand Award (Film Terbaik) Sugisball (Autumn Ball) by Veiko Ounpuu (Estonia) Best Direction Award (Penyutradaraan terbaik) Riri Riza for 3 Days To Forever (Indonesia) Best Asian Movie Award (Film Asia Terbaik) Brutus by Tara Illenberger (Philipines) Best Actor Award Yul Servo in the film Torotot and Brutus (Philipines) Best Actress Award Artika Sari Dewi in the film Opera Jawa (Indonesia) Special Award of The Jury Les Jardins de Samira by latif Lahlou (Maroc) Best Script Award Abdel Hay Adeeb for the film The Baby Doll Night (Egypte) Best Short Film Award Porque Hay Cosas Que Nunca Se Olvidan by Lucas Figueroa (Espagne) Tomorrow’s Cinema Award Dmytro Suholytky-Sobchuk and Stanislav Danylyshyn for the film Otrotstvo (Ukraine) Best Documentary Award Playing Between Elephant by Aryo Danusiri (Indonesia) |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |